Bacaan: Mazmur 67:1–8
Tema: “Tanah Telah Memberi Hasilnya, Tuhan Allah Memberkati Kita”
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Setiap hari manusia hidup dari kemurahan Tuhan. Kita bernapas karena Tuhan memberi hidup. Kita makan karena Tuhan memelihara bumi. Kita bekerja karena Tuhan memberi kekuatan. Kita menikmati hasil tanah, hasil laut, hasil pekerjaan, hasil usaha, hasil pelayanan, dan hasil perjuangan keluarga karena Tuhan masih berkenan memberkati kehidupan manusia.
Namun sering kali manusia lupa bahwa semua yang dinikmati bukan hanya hasil kemampuan sendiri. Ketika panen berhasil, manusia mudah berkata, “Ini karena saya rajin bekerja.” Ketika usaha berkembang, manusia mudah berkata, “Ini karena saya pandai mengatur.” Ketika keluarga diberkati, manusia mudah merasa bahwa semua itu terjadi karena kekuatan, pengalaman, relasi, atau kepintaran sendiri. Padahal firman Tuhan mengingatkan bahwa di balik tanah yang memberi hasil, ada Tuhan Allah yang memberkati.
Tema kita hari ini berbunyi: “Tanah Telah Memberi Hasilnya, Tuhan Allah Memberkati Kita.” Tema ini mengajak kita melihat bahwa hasil tanah bukan hanya perkara pertanian, panen, atau makanan. Hasil tanah adalah tanda pemeliharaan Tuhan. Tanah yang menghasilkan mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak pernah berhenti memelihara ciptaan-Nya. Tuhan memberi hujan, musim, matahari, kesuburan, kekuatan bekerja, hikmat mengelola, dan kesempatan menikmati hasil.
Baca Juga: Renungan Mazmur 67:1–8, Tanah Telah Memberi Hasilnya, Tuhan Allah Memberkati Kita
Tetapi Mazmur 67 tidak hanya berbicara tentang berkat untuk dinikmati sendiri. Mazmur ini mengajarkan bahwa berkat Tuhan memiliki tujuan yang lebih besar. Tuhan memberkati umat-Nya supaya jalan-Nya dikenal di bumi dan keselamatan-Nya dikenal di antara segala bangsa.
Dengan kata lain, berkat Tuhan selalu mengandung panggilan. Kita diberkati untuk menjadi berkat. Kita menerima supaya dapat berbagi. Kita menikmati hasil supaya dapat bersaksi. Kita mengalami pemeliharaan Tuhan supaya hidup kita memuliakan nama-Nya.
Dalam keadaan dunia sekarang, firman ini sangat relevan. Banyak orang menghadapi kesulitan ekonomi, perubahan musim, gagal panen, harga kebutuhan yang naik, kerusakan lingkungan, ketidakadilan sosial, dan kecemasan akan masa depan. Ada petani yang bekerja keras tetapi hasilnya tidak seperti yang diharapkan.
Ada nelayan yang bergumul dengan laut yang tidak menentu. Ada pekerja yang takut kehilangan pekerjaan. Ada keluarga yang hidup pas-pasan. Di tengah semua itu, Mazmur 67 mengajak kita untuk tetap mengakui bahwa Tuhan adalah sumber berkat, tetapi juga mengajak kita bertanggung jawab atas berkat yang Tuhan percayakan.
Tanah yang memberi hasil tidak boleh membuat kita serakah. Tanah yang memberi hasil harus membuat kita bersyukur. Berkat yang Tuhan berikan tidak boleh membuat kita sombong. Berkat Tuhan harus membuat kita semakin takut akan Dia, semakin adil kepada sesama, semakin peduli kepada yang lemah, dan semakin bertanggung jawab terhadap ciptaan Tuhan.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan
Kitab Mazmur adalah kumpulan doa, pujian, ratapan, pengakuan iman, nyanyian syukur, dan kesaksian umat Tuhan. Di dalam Mazmur, kita menemukan berbagai pengalaman manusia di hadapan Allah. Ada mazmur yang lahir dari sukacita, ada yang lahir dari penderitaan, ada yang lahir dari ketakutan, ada yang lahir dari pengampunan, dan ada yang lahir dari kesadaran bahwa Tuhan adalah Raja atas seluruh bumi.
Mazmur 67 termasuk mazmur pujian dan doa berkat. Mazmur ini mempunyai nuansa ibadah yang kuat. Umat Tuhan berdoa supaya Allah mengasihani dan memberkati mereka. Namun permohonan berkat itu tidak berhenti pada kepentingan umat sendiri. Pemazmur meminta berkat supaya jalan Tuhan dikenal di bumi dan keselamatan Tuhan dikenal di antara segala bangsa.
Mazmur ini sangat dekat dengan berkat imam dalam Bilangan 6:24–26, yaitu: “TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau; TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.” Dalam Mazmur 67, doa berkat itu diperluas menjadi doa misi. Umat Tuhan tidak hanya ingin diberkati, tetapi ingin supaya melalui berkat itu bangsa-bangsa mengenal Tuhan.
Dalam Perjanjian Lama, tanah memiliki makna yang sangat penting. Tanah adalah tempat hidup, tempat menanam, tempat membangun keluarga, tempat umat menikmati pemeliharaan Allah. Bagi Israel, tanah bukan hanya aset ekonomi, tetapi pemberian Tuhan. Karena itu, ketika tanah memberi hasil, umat diajak mengakui bahwa Tuhan sedang memberkati mereka.
Namun Mazmur 67 tidak hanya berbicara tentang Israel. Mazmur ini berkali-kali menyebut bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa. Ini menunjukkan bahwa berkat Allah tidak boleh dipahami secara sempit. Tuhan memberkati umat-Nya supaya semua bangsa mengenal-Nya. Umat Tuhan menjadi saluran berkat bagi dunia.
Tema “Tanah Telah Memberi Hasilnya, Tuhan Allah Memberkati Kita” memiliki beberapa makna penting. Pertama, tema ini mengajak kita mengakui Tuhan sebagai sumber berkat. Tanah dapat diolah manusia, tetapi kehidupan berasal dari Tuhan. Kedua, tema ini mengajak kita hidup dalam syukur. Hasil yang kita terima tidak boleh membuat kita sombong, tetapi harus membawa kita merendahkan diri di hadapan Tuhan.
Ketiga, tema ini mengajak kita hidup dalam keadilan. Hasil tanah harus dikelola dengan benar, bukan hanya dinikmati oleh yang kuat, sementara yang lemah dilupakan. Keempat, tema ini mengajak kita menjadi saksi. Berkat Tuhan atas hidup kita harus membuat orang lain melihat kebaikan Tuhan.
Jadi, Mazmur 67 menghubungkan berkat dengan misi, hasil tanah dengan pujian, kelimpahan dengan keadilan, dan syukur dengan tanggung jawab. Inilah pesan yang sangat penting bagi gereja masa kini. Gereja tidak hanya dipanggil berdoa, “Tuhan, berkatilah kami,” tetapi juga harus bertanya, “Tuhan, untuk apa Engkau memberkati kami?”
Jika Tuhan memberkati keluarga kita, bagaimana keluarga kita menjadi berkat? Jika Tuhan memberkati pekerjaan kita, bagaimana pekerjaan kita menjadi kesaksian? Jika Tuhan memberkati tanah dan alam, bagaimana kita menjaga ciptaan-Nya?
Pembahasan Ayat demi Ayat
Ayat 1
Ayat pertama berisi keterangan: “Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi. Mazmur. Nyanyian.”
Keterangan ini menunjukkan bahwa Mazmur 67 dipakai dalam ibadah umat. Mazmur ini bukan hanya doa pribadi seseorang, tetapi nyanyian umat yang dinyanyikan bersama. Umat Tuhan datang dalam ibadah untuk memohon berkat, mengakui kemurahan Tuhan, dan menyatakan bahwa Tuhan layak dipuji oleh semua bangsa.
Keterangan “dengan permainan kecapi” menunjukkan bahwa pujian kepada Tuhan dilakukan dengan kesungguhan dan keindahan. Musik menjadi sarana untuk membawa hati umat memuliakan Allah. Tetapi yang utama bukan alat musiknya, melainkan hati umat yang menyembah Tuhan dengan benar.
Dalam konteks gereja sekarang, ayat ini mengingatkan bahwa ibadah tidak boleh hanya menjadi kegiatan rutin. Ketika kita datang beribadah, menyanyi, berdoa, dan mendengar firman, kita sedang mengarahkan hidup kepada Tuhan. Ibadah yang benar tidak hanya membuat kita merasa diberkati, tetapi juga membentuk kita menjadi umat yang siap menjadi berkat.
Kita tidak datang kepada Tuhan hanya untuk meminta hasil, tetapi juga untuk mempersembahkan hidup. Kita tidak hanya meminta tanah memberi hasil, tetapi juga belajar memakai hasil itu sesuai kehendak Tuhan. Ibadah harus mengubah cara kita melihat berkat, pekerjaan, tanah, alam, dan sesama.
Ayat 2
Pemazmur berkata: “Kiranya Allah mengasihani kita dan memberkati kita, kiranya Ia menyinari kita dengan wajah-Nya.”
Doa ini dimulai dengan permohonan belas kasihan. Umat Tuhan sadar bahwa hidup mereka bergantung pada kemurahan Allah. Sebelum berbicara tentang hasil tanah, pemazmur terlebih dahulu memohon supaya Allah mengasihani dan memberkati. Ini menunjukkan bahwa berkat tidak dimulai dari kemampuan manusia, tetapi dari kasih karunia Allah.
Kalimat “menyinari kita dengan wajah-Nya” menggambarkan perkenanan Allah. Wajah Allah yang bersinar berarti Allah hadir, memperhatikan, mengasihi, dan berkenan kepada umat-Nya. Dalam dunia Alkitab, jika wajah raja bersinar kepada seseorang, itu berarti orang itu menerima perkenanan. Demikian juga, jika wajah Allah bersinar atas umat-Nya, maka umat hidup dalam kasih dan perlindungan Tuhan.
Ayat ini mengajarkan bahwa manusia membutuhkan lebih dari sekadar hasil bumi. Kita membutuhkan wajah Tuhan. Kita dapat memiliki tanah yang luas, panen yang banyak, pekerjaan yang baik, dan uang yang cukup, tetapi jika hidup jauh dari Tuhan, hati tetap kosong. Berkat terbesar bukan hanya hasil yang kita terima, tetapi kehadiran Tuhan yang menyertai hidup kita.
Dalam kehidupan sekarang, banyak orang mengejar berkat tetapi melupakan Sang Pemberi berkat. Orang ingin berhasil, tetapi tidak mau hidup dekat dengan Tuhan. Orang ingin usaha maju, tetapi tidak mau hidup jujur.
Orang ingin keluarga diberkati, tetapi tidak membangun doa dan kasih. Firman Tuhan mengingatkan bahwa yang kita butuhkan pertama-tama adalah belas kasihan Allah dan wajah-Nya yang menyinari hidup kita.
Ayat 3
Pemazmur melanjutkan: “Supaya jalan-Mu dikenal di bumi, dan keselamatan-Mu di antara segala bangsa.”
Inilah tujuan dari berkat. Umat Tuhan meminta berkat bukan hanya supaya hidup mereka nyaman, tetapi supaya jalan Tuhan dikenal di bumi. Ini sangat penting. Berkat tidak boleh berhenti pada diri kita. Berkat harus menjadi kesaksian.
“Jalan-Mu” menunjuk kepada cara Tuhan bertindak, kehendak Tuhan, kebenaran Tuhan, dan karya Tuhan dalam dunia. “Keselamatan-Mu” menunjuk kepada pertolongan, pembebasan, pemulihan, dan karya keselamatan yang berasal dari Allah. Pemazmur ingin supaya semua bangsa mengenal jalan dan keselamatan Tuhan.
Ayat ini menegur kita yang sering berdoa hanya untuk kepentingan diri sendiri. Kita berdoa supaya diberkati, tetapi lupa bertanya untuk apa kita diberkati. Kita meminta usaha berhasil, tetapi apakah keberhasilan itu membuat orang lain melihat Tuhan? Kita meminta keluarga diberkati, tetapi apakah keluarga kita menjadi kesaksian kasih Tuhan? Kita meminta gereja bertumbuh, tetapi apakah pertumbuhan gereja membawa dampak bagi masyarakat?
Tuhan memberkati Abraham supaya melalui dia semua kaum di muka bumi mendapat berkat. Prinsip yang sama berlaku bagi umat Tuhan. Kita diberkati supaya menjadi berkat. Jika berkat Tuhan hanya membuat kita semakin egois, maka kita belum memahami tujuan berkat. Berkat Tuhan harus membuka hati, bukan menutup tangan.
Ayat 4
Pemazmur berkata: “Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu, ya Allah; kiranya bangsa-bangsa semuanya bersyukur kepada-Mu.”
Ayat ini menunjukkan kerinduan yang luas. Pemazmur tidak hanya ingin Israel bersyukur, tetapi semua bangsa bersyukur kepada Allah. Tuhan bukan Allah satu suku atau satu kelompok saja. Tuhan adalah Allah seluruh bumi. Karena itu, pujian kepada-Nya harus bergema dari semua bangsa.
Pengulangan kalimat ini menunjukkan kesungguhan doa pemazmur. Ia ingin agar bangsa-bangsa mengenal Tuhan dan memuji-Nya. Ini adalah semangat misi. Umat Tuhan tidak boleh hidup tertutup dalam berkatnya sendiri. Umat Tuhan harus memiliki hati bagi dunia.
Dalam konteks gereja masa kini, ayat ini mengingatkan bahwa gereja tidak boleh hanya sibuk dengan dirinya sendiri. Gereja tidak boleh hanya memikirkan gedung, kegiatan, dan kenyamanan internal. Gereja dipanggil menjadi saksi bagi masyarakat. Gereja harus mendoakan bangsa-bangsa, melayani sesama, memberitakan Injil, dan menunjukkan kasih Tuhan melalui tindakan nyata.
Jika Tuhan memberkati kita, maka orang lain harus dapat melihat kebaikan Tuhan melalui hidup kita. Jika Tuhan memberkati jemaat, maka masyarakat sekitar harus merasakan dampaknya. Jika Tuhan memberi hasil kepada tanah kita, maka hasil itu seharusnya melahirkan syukur yang mengalir kepada pelayanan dan kasih kepada sesama.
Ayat 5
Pemazmur berkata: “Kiranya suku-suku bangsa bersukacita dan bersorak-sorai, sebab Engkau memerintah bangsa-bangsa dengan adil, dan menuntun suku-suku bangsa di atas bumi.”
Ayat ini memberi alasan mengapa bangsa-bangsa harus bersukacita. Mereka bersukacita karena Allah memerintah dengan adil. Tuhan bukan hanya pemberi berkat, tetapi juga Raja yang memerintah dengan kebenaran. Ia menuntun bangsa-bangsa di atas bumi.
Keadilan Allah sangat penting dalam Mazmur 67. Tanah memberi hasil, tetapi hasil itu harus dikelola dalam keadilan. Panen melimpah tidak berarti apa-apa jika hanya dinikmati oleh sebagian orang, sementara yang miskin tetap lapar.
Usaha berhasil tidak menjadi kesaksian jika pekerja diperlakukan tidak adil. Kekayaan alam tidak membawa berkat jika masyarakat kecil justru menderita karena kerusakan lingkungan.
Dalam dunia sekarang, banyak masalah terjadi karena berkat tidak dikelola dengan adil. Tanah memberi hasil, tetapi petani tetap miskin. Laut memberi ikan, tetapi nelayan kecil tetap bergumul. Tambang memberi keuntungan, tetapi lingkungan rusak dan masyarakat sekitar menanggung akibatnya. Pekerja menghasilkan keuntungan, tetapi tidak selalu mendapat upah yang layak. Firman Tuhan mengingatkan bahwa Allah yang memberkati adalah Allah yang adil.
Karena itu, jika kita berdoa meminta berkat, kita juga harus bersedia hidup dalam keadilan. Jangan meminta Tuhan memberkati usaha, tetapi menjalankan usaha dengan menipu. Jangan meminta Tuhan memberkati panen, tetapi merusak tanah dan air.
Jangan meminta Tuhan memberkati rumah tangga, tetapi memperlakukan anggota keluarga dengan tidak adil. Berkat Tuhan harus berjalan bersama kebenaran dan keadilan.
Ayat 6
Pemazmur mengulang: “Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu, ya Allah; kiranya bangsa-bangsa semuanya bersyukur kepada-Mu.”
Pengulangan ini menegaskan bahwa tujuan akhir dari berkat adalah pujian kepada Tuhan. Semua bangsa dipanggil bersyukur kepada Allah. Berkat tidak boleh membuat manusia memuji dirinya sendiri. Berkat harus membawa manusia memuliakan Tuhan.
Manusia sering mencuri kemuliaan Allah. Ketika berhasil, ia ingin dipuji. Ketika diberkati, ia ingin dikagumi. Ketika panen melimpah, ia merasa dirinya hebat. Namun pemazmur mengarahkan pujian hanya kepada Allah.
Tanah memberi hasil, tetapi Tuhan yang memberkati. Manusia bekerja, tetapi Tuhan yang memberi kekuatan. Usaha berjalan, tetapi Tuhan yang membuka jalan. Pelayanan bertumbuh, tetapi Tuhan yang memberi pertumbuhan.
Ayat ini mengajak kita membangun spiritualitas syukur. Syukur berarti mengembalikan kemuliaan kepada Tuhan. Syukur berarti tidak sombong atas hasil. Syukur berarti sadar bahwa semua yang ada pada kita adalah titipan. Syukur berarti memakai berkat untuk kehendak Tuhan.
Ayat 7
Pemazmur berkata: “Tanah telah memberi hasilnya; Allah, Allah kita, memberkati kita.”
Inilah pusat tema khotbah kita. Tanah memberi hasilnya. Kalimat ini sederhana, tetapi sangat dalam. Tanah yang memberi hasil menunjukkan bahwa kehidupan masih dipelihara. Benih bertumbuh. Musim berjalan. Hujan dan matahari bekerja. Manusia menanam dan mengolah. Semua itu terjadi dalam pemeliharaan Allah.
Pemazmur tidak berhenti pada tanah. Ia langsung berkata, “Allah, Allah kita, memberkati kita.” Artinya, hasil tanah dilihat sebagai tanda berkat Tuhan. Panen bukan hanya hasil kerja manusia, tetapi pemberian Tuhan. Makanan bukan hanya hasil pasar, tetapi tanda pemeliharaan Allah. Rezeki bukan hanya hasil usaha, tetapi anugerah Tuhan.
Namun ayat ini juga mengandung tanggung jawab besar. Jika tanah memberi hasil, tanah harus dijaga. Jika Allah memberkati melalui bumi, bumi tidak boleh dirusak. Jika alam menjadi sarana pemeliharaan Tuhan, manusia harus mengelola alam dengan hormat dan bijaksana.
Kita tidak dapat bersyukur atas hasil tanah sambil merusak tanah. Kita tidak dapat memuji Tuhan atas panen sambil mencemari air, membakar hutan, dan membuang sampah sembarangan.
Dalam konteks saat ini, ayat ini mengajak kita membangun kesadaran ekologis. Tanah yang memberi hasil membutuhkan perawatan. Air harus dijaga. Hutan harus dipelihara. Sampah harus dikelola. Pertanian harus dilakukan dengan bijaksana. Pembangunan harus memperhatikan keberlanjutan. Syukur kepada Tuhan harus nyata dalam cara kita memperlakukan ciptaan.
Ayat ini juga berbicara tentang hasil kerja. “Tanah” dapat dipahami luas sebagai ruang kehidupan tempat Tuhan memelihara kita. Bagi petani, tanah memberi hasil melalui panen. Bagi nelayan, laut memberi hasil melalui ikan.
Bagi pegawai, pekerjaan memberi hasil melalui upah. Bagi pedagang, usaha memberi hasil melalui rezeki. Bagi pelayan, pelayanan memberi hasil melalui pertumbuhan iman. Semua hasil itu harus dikembalikan kepada Tuhan dalam syukur.
Ayat 8
Pemazmur menutup dengan berkata: “Allah memberkati kita; kiranya segala ujung bumi takut akan Dia!”
Ayat ini menegaskan kembali bahwa Allah memberkati umat-Nya, tetapi tujuan akhirnya adalah supaya segala ujung bumi takut akan Dia. “Takut akan Tuhan” berarti hormat, tunduk, kagum, dan mengakui kedaulatan Allah. Ini bukan ketakutan yang membuat manusia lari dari Tuhan, tetapi hormat yang membuat manusia hidup benar di hadapan-Nya.
Berkat seharusnya membawa manusia kepada takut akan Tuhan. Jika berkat membuat kita sombong, berarti kita salah memahami berkat. Jika hasil membuat kita lupa Tuhan, berarti hasil itu telah menjadi berhala. Jika kelimpahan membuat kita tidak peduli kepada orang lain, berarti hati kita tidak sehat.
Berkat yang benar membuat kita semakin rendah hati. Kita berkata, “Tuhan, semua ini dari-Mu.” Berkat yang benar membuat kita semakin takut akan Tuhan. Kita berkata, “Tuhan, ajar aku memakai semua ini sesuai kehendak-Mu.” Berkat yang benar membuat kita menjadi saksi. Orang lain melihat hidup kita dan berkata, “Tuhan sungguh baik.”
Ayat ini juga menunjukkan bahwa misi Allah luas sampai ujung bumi. Khotbah tentang tanah yang memberi hasil bukan hanya khotbah pertanian, tetapi khotbah misi. Melalui berkat yang kita terima, dunia harus melihat Tuhan. Melalui cara kita mengelola hasil, dunia harus melihat keadilan Tuhan. Melalui cara kita berbagi, dunia harus melihat kasih Tuhan.
Penutup
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, setelah merenungkan Mazmur 67:1–8, kita melihat bahwa tema “Tanah Telah Memberi Hasilnya, Tuhan Allah Memberkati Kita” bukan hanya berbicara tentang panen atau hasil bumi. Tema ini berbicara tentang iman yang mengakui bahwa Allah adalah sumber segala berkat.
Tema ini berbicara tentang syukur yang tidak berhenti pada kata-kata. Tema ini berbicara tentang tanggung jawab mengelola hasil dengan keadilan. Tema ini berbicara tentang misi, yaitu supaya melalui berkat yang kita terima, jalan Tuhan dikenal di bumi dan keselamatan-Nya dikenal di antara segala bangsa.
Mazmur ini dimulai dengan doa: kiranya Allah mengasihani dan memberkati kita. Doa ini wajar dan benar. Kita memang membutuhkan belas kasihan dan berkat Tuhan. Namun pemazmur tidak berhenti pada kepentingan diri sendiri.
Ia berkata: supaya jalan-Mu dikenal di bumi. Inilah inti pentingnya. Berkat Tuhan memiliki tujuan. Tuhan memberkati bukan supaya kita menjadi egois, melainkan supaya hidup kita menjadi kesaksian.
Tanah yang memberi hasil mengajarkan bahwa Tuhan memelihara kehidupan secara nyata. Tuhan tidak hanya peduli pada hal-hal rohani dalam pengertian sempit. Tuhan juga peduli pada makanan, tanah, musim, pekerjaan, dan kehidupan sehari-hari. Allah yang kita sembah adalah Allah yang memberkati bumi. Karena itu, iman kita juga harus nyata dalam cara kita memperlakukan bumi, pekerjaan, hasil, dan sesama.
Ada beberapa poin penting yang perlu kita bawa pulang dari firman Tuhan hari ini.
Pertama, semua berkat berasal dari Tuhan. Manusia bekerja, tetapi Tuhan yang memberi hidup, kesempatan, kekuatan, tanah, hujan, matahari, dan hasil. Karena itu, jangan sombong atas keberhasilan. Jangan merasa semua terjadi hanya karena kemampuan sendiri. Syukur adalah sikap yang paling benar bagi orang yang menerima berkat.
Kedua, berkat Tuhan memiliki tujuan misi. Kita diberkati supaya jalan Tuhan dikenal. Keluarga yang diberkati harus menjadi kesaksian. Pekerjaan yang diberkati harus menjadi tempat integritas. Gereja yang diberkati harus menjadi terang bagi masyarakat. Berkat yang tidak menjadi kesaksian kehilangan arah rohaninya.
Ketiga, berkat harus dikelola dengan keadilan. Allah memerintah bangsa-bangsa dengan adil. Karena itu, hasil tanah, hasil usaha, dan hasil kerja tidak boleh dikelola dengan ketamakan. Perlakukan pekerja dengan adil. Jangan menipu dalam usaha. Jangan mengambil keuntungan dengan merugikan orang kecil. Jangan membangun kesejahteraan sendiri di atas penderitaan orang lain.
Keempat, tanah yang memberi hasil harus dijaga. Syukur atas hasil bumi harus disertai tanggung jawab terhadap alam. Jangan merusak tanah, air, hutan, dan laut. Jangan membuang sampah sembarangan. Jangan menggunakan sumber daya secara serakah. Orang percaya harus menjadi pemelihara ciptaan, bukan perusak ciptaan.
Kelima, berkat harus mengalir kepada sesama. Seperti Boas yang memberi ruang bagi Rut, orang percaya harus menyediakan ruang bagi mereka yang membutuhkan. Jika Tuhan memberi lebih, belajarlah berbagi. Jika Tuhan memberi kesempatan, pakailah untuk menolong. Jika Tuhan memberi hasil, jangan lupa mereka yang kekurangan.
Keenam, berkat harus membawa kita semakin takut akan Tuhan. Jika semakin diberkati kita semakin jauh dari Tuhan, maka berkat telah menjadi berhala. Tetapi jika berkat membuat kita semakin rendah hati, semakin bersyukur, semakin adil, semakin murah hati, dan semakin setia, maka berkat itu telah membawa kita kepada tujuan yang benar.
Implikasi firman ini sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dalam keluarga, ajarkan anak-anak bersyukur atas makanan. Jangan biarkan mereka menganggap makanan hanya hasil uang orang tua. Jelaskan bahwa makanan adalah berkat Tuhan melalui tanah, hujan, petani, nelayan, pekerja, dan banyak orang. Biasakan doa makan bukan hanya formalitas, tetapi pengakuan iman.
Dalam pekerjaan, jalankan tugas dengan jujur. Jika kita diberkati melalui pekerjaan, jangan lupa bahwa pekerjaan itu juga harus menjadi kesaksian. Jangan memakai cara curang. Jangan merugikan orang lain. Jangan menindas pekerja. Jangan menghalalkan semua cara demi hasil.
Dalam gereja, gunakan berkat untuk pelayanan dan kesaksian. Gereja tidak boleh hanya menikmati berkat untuk dirinya sendiri. Gereja harus peduli kepada orang miskin, pendidikan anak-anak, pelayanan kesehatan, bantuan bencana, lingkungan hidup, dan masyarakat sekitar.
Dalam masyarakat, jadilah orang yang membawa keadilan. Jika kita memiliki tanah, usaha, jabatan, atau pengaruh, pakailah itu untuk kebaikan. Jangan menjadi orang yang hanya mengambil hasil dari tanah tetapi tidak memperhatikan mereka yang bekerja di atas tanah itu. Jangan hanya menikmati keuntungan, tetapi pikirkan dampak bagi lingkungan dan generasi berikutnya.
Dalam hubungan dengan alam, jadilah pengelola yang bertanggung jawab. Tanah telah memberi hasilnya, maka tanah harus dirawat. Air telah memberi kehidupan, maka air harus dijaga. Laut telah memberi ikan, maka laut jangan dicemari. Hutan telah memberi keseimbangan, maka hutan jangan dirusak.
Saudara-saudara, marilah kita memeriksa hati. Apakah kita masih melihat berkat sebagai pemberian Tuhan, atau sudah menganggapnya sebagai milik mutlak? Apakah hasil yang kita terima membuat kita semakin bersyukur atau semakin sombong?
Apakah berkat membuat kita semakin murah hati atau semakin tertutup? Apakah tanah yang memberi hasil membuat kita semakin menjaga ciptaan atau justru semakin mengeksploitasinya?
Firman Tuhan hari ini mengajak kita hidup sebagai umat yang diberkati dan menjadi berkat. Jangan berhenti pada kalimat “Tuhan memberkati kita.” Lanjutkan dengan pertanyaan, “Melalui berkat ini, siapa yang dapat kita tolong? Bagaimana nama Tuhan dikenal? Bagaimana keadilan diwujudkan? Bagaimana ciptaan dijaga? Bagaimana hidup kita menjadi kesaksian?”
Marilah kita belajar seperti Boas. Ketika tanahnya memberi hasil, ia tidak menutup ladangnya bagi yang lemah. Ia membuka ruang bagi Rut. Ia memperlakukan orang asing dengan hormat. Ia memakai berkat sebagai sarana kasih. Kiranya kita pun demikian. Ketika Tuhan memberkati keluarga, pekerjaan, kebun, usaha, pelayanan, dan hidup kita, biarlah orang lain juga merasakan kebaikan Tuhan.
Akhirnya, kiranya pengakuan pemazmur menjadi pengakuan kita juga: “Tanah telah memberi hasilnya; Allah, Allah kita, memberkati kita.” Kiranya kita menerima hasil dengan syukur, mengelolanya dengan adil, membagikannya dengan kasih, menjaga tanah dengan tanggung jawab, dan memakai seluruh hidup untuk membuat jalan Tuhan dikenal di bumi.
Kiranya segala ujung bumi takut akan Tuhan, dan kiranya hidup kita menjadi bagian dari kesaksian besar itu.
Amin.
Editor : Clavel Lukas