Bacaan: Mazmur 67:1–8
Tema: “Tanah Telah Memberi Hasilnya, Tuhan Allah Memberkati Kita”
Saudari-saudari W/KI yang dikasihi Tuhan, dalam kehidupan sehari-hari kita sering melihat dan merasakan berkat Tuhan melalui hal-hal yang sederhana. Kita bisa makan, bekerja, mengurus keluarga, melayani, dan menjalani hidup karena Tuhan masih memelihara kita. Makanan yang tersedia di meja bukan hanya hasil uang yang kita miliki, tetapi juga hasil dari tanah yang memberi hasil, hujan yang turun, matahari yang bersinar, petani yang bekerja, nelayan yang melaut, dan banyak orang yang dipakai Tuhan untuk menopang kehidupan kita.
Sering kali kita menganggap semua itu biasa. Ketika makanan tersedia, kita lupa bersyukur. Ketika pekerjaan berjalan baik, kita merasa itu karena kemampuan sendiri. Ketika keluarga dicukupkan, kita lupa bahwa semua itu adalah berkat Tuhan. Padahal firman Tuhan mengingatkan bahwa tanah dapat memberi hasil karena Tuhan Allah memberkati kita.
Mazmur 67 mengajak kita untuk melihat berkat Tuhan dengan hati yang benar. Ketika tanah memberi hasil, kita tidak boleh hanya melihat panennya, makanannya, atau keuntungannya. Kita harus melihat Tuhan yang bekerja di balik semuanya. Tuhanlah yang memberi hidup. Tuhanlah yang memberi kekuatan. Tuhanlah yang memberi kesempatan. Tuhanlah yang memberkati tanah, pekerjaan, keluarga, dan pelayanan kita.
Baca Juga: Materi Khotbah Mazmur 67:1–8, Tanah Telah Memberi Hasilnya, Tuhan Allah Memberkati Kita
Baca Juga: Renungan Mazmur 67:1–8, Tanah Telah Memberi Hasilnya, Tuhan Allah Memberkati Kita
Tema “Tanah Telah Memberi Hasilnya, Tuhan Allah Memberkati Kita” mengingatkan bahwa berkat Tuhan bukan hanya untuk dinikmati sendiri. Berkat Tuhan harus membuat kita bersyukur, semakin dekat kepada Tuhan, peduli kepada sesama, dan menjaga ciptaan Tuhan. Kita diberkati supaya menjadi berkat. Kita menerima supaya dapat berbagi. Kita menikmati pemeliharaan Tuhan supaya hidup kita menjadi kesaksian bagi orang lain.
Bagi W/KI, tema ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Banyak perempuan mengatur kebutuhan keluarga, menyiapkan makanan, mengelola keuangan rumah tangga, mendidik anak-anak, menopang suami, merawat orang tua, bekerja, dan melayani di gereja. Semua itu membutuhkan hikmat, kesabaran, dan kekuatan dari Tuhan. Karena itu, firman ini mengajak kita untuk tidak hanya sibuk mengurus banyak hal, tetapi juga belajar melihat kebaikan Tuhan dalam setiap hal yang kita kerjakan.
Saudari-saudari W/KI yang dikasihi Tuhan
Kitab Mazmur adalah kumpulan doa, pujian, nyanyian, ratapan, dan ucapan syukur umat Tuhan. Di dalam Mazmur, kita bisa menemukan banyak pengalaman manusia di hadapan Tuhan. Ada mazmur yang berisi sukacita, ada yang berisi kesedihan, ada yang berisi permohonan pertolongan, ada yang berisi pengakuan dosa, dan ada juga yang berisi pujian karena Tuhan memberkati umat-Nya.
Mazmur 67 adalah mazmur pujian dan doa berkat. Dalam mazmur ini, umat Tuhan memohon supaya Allah mengasihani dan memberkati mereka. Tetapi yang menarik, mereka tidak meminta berkat hanya untuk diri sendiri. Mereka meminta supaya melalui berkat itu, jalan Tuhan dikenal di bumi dan keselamatan Tuhan dikenal di antara segala bangsa.
Dengan kata lain, berkat Tuhan tidak boleh berhenti pada diri kita sendiri. Jika Tuhan memberkati keluarga kita, keluarga kita harus menjadi kesaksian. Jika Tuhan memberkati pekerjaan kita, pekerjaan itu harus dilakukan dengan jujur dan benar.
Jika Tuhan memberkati pelayanan kita, pelayanan itu harus membawa orang semakin mengenal Tuhan. Jika Tuhan memberkati tanah dan alam, maka kita harus menjaga tanah dan alam itu dengan bertanggung jawab.
Dalam kehidupan umat Israel, tanah sangat penting. Tanah adalah tempat mereka hidup, menanam, bekerja, membangun keluarga, dan mengalami pemeliharaan Tuhan. Ketika tanah memberi hasil, itu bukan hanya tanda bahwa alam bekerja, tetapi juga tanda bahwa Tuhan memberkati umat-Nya.
Bagi kita sekarang, “tanah” dapat dipahami lebih luas. Bagi petani, tanah adalah kebun atau sawah. Bagi nelayan, laut adalah tempat memperoleh hasil. Bagi pekerja, kantor atau tempat kerja adalah tempat mencari nafkah.
Bagi pedagang, usaha adalah tempat memperoleh rezeki. Bagi ibu rumah tangga, rumah adalah tempat mengelola berkat Tuhan bagi keluarga. Semua tempat di mana kita bekerja dan menerima hasil dapat menjadi tanda pemeliharaan Tuhan.
Karena itu, tema ini mengajak kita untuk hidup dalam syukur. Kita tidak boleh sombong ketika diberkati. Kita tidak boleh serakah ketika mendapat hasil. Kita tidak boleh lupa kepada Tuhan ketika hidup dicukupkan. Sebaliknya, kita harus semakin rendah hati, semakin bersyukur, semakin peduli kepada sesama, dan semakin bertanggung jawab dalam mengelola berkat Tuhan.
Pembahasan Firman
Ayat 1 menyebutkan bahwa mazmur ini adalah nyanyian untuk pemimpin biduan dengan permainan kecapi. Artinya, Mazmur 67 dipakai dalam ibadah umat Tuhan. Umat menyanyikannya bersama-sama sebagai doa dan pujian kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa ucapan syukur bukan hanya urusan pribadi, tetapi juga bagian dari kehidupan bersama sebagai umat Tuhan.
Bagi W/KI, ini mengingatkan bahwa ibadah harus membentuk cara hidup kita. Kita datang ke gereja bukan hanya untuk menyanyi dan berdoa, tetapi untuk diperbarui oleh Tuhan. Setelah beribadah, kita pulang ke rumah dengan hati yang lebih bersyukur, lebih sabar, lebih peduli, dan lebih siap menjadi berkat bagi keluarga serta sesama.
Pujian kepada Tuhan tidak hanya terdengar melalui suara kita saat menyanyi. Pujian juga terlihat melalui cara hidup kita. Ketika kita berbicara dengan lembut, mengurus keluarga dengan kasih, bekerja dengan jujur, melayani dengan tulus, dan menolong orang lain, hidup kita sedang menjadi pujian bagi Tuhan.
Ayat 2 berkata, “Kiranya Allah mengasihani kita dan memberkati kita, kiranya Ia menyinari kita dengan wajah-Nya.” Ini adalah doa yang sangat indah. Pemazmur meminta belas kasihan dan berkat Tuhan. Ia sadar bahwa manusia tidak dapat hidup hanya dengan kekuatan sendiri. Kita membutuhkan kasih Tuhan, pertolongan Tuhan, dan penyertaan Tuhan.
Kalimat “menyinari kita dengan wajah-Nya” berarti Tuhan menunjukkan kasih, perhatian, dan perkenanan-Nya kepada umat-Nya. Berkat terbesar bukan hanya makanan yang cukup, uang yang cukup, atau pekerjaan yang baik. Berkat terbesar adalah ketika Tuhan hadir dan menyertai hidup kita.
Bagi W/KI, doa ini dapat menjadi doa setiap hari. Kita dapat berdoa, “Tuhan, kasihanilah keluarga kami. Berkatilah pekerjaan kami. Terangilah rumah kami dengan wajah-Mu. Beri kami hikmat, kesabaran, dan hati yang penuh syukur.” Doa seperti ini menolong kita untuk tidak hanya mencari berkat, tetapi juga mencari Tuhan yang memberi berkat.
Ayat 3 berkata, “Supaya jalan-Mu dikenal di bumi, dan keselamatan-Mu di antara segala bangsa.” Ini menjelaskan tujuan berkat Tuhan. Tuhan memberkati umat-Nya supaya jalan Tuhan dikenal oleh banyak orang. Artinya, ketika kita diberkati, hidup kita harus menjadi kesaksian.
Jika Tuhan memberkati keluarga kita, orang lain harus dapat melihat kasih Tuhan melalui keluarga kita. Jika Tuhan memberkati pekerjaan kita, orang lain harus melihat kejujuran dan tanggung jawab kita. Jika Tuhan memberkati pelayanan W/KI, orang lain harus merasakan kasih, perhatian, dan kebaikan Tuhan melalui pelayanan itu.
Ayat ini menegur kita supaya tidak egois dalam menerima berkat. Jangan hanya berkata, “Tuhan, berkatilah saya,” tetapi juga bertanya, “Tuhan, bagaimana saya dapat menjadi berkat bagi orang lain?” Berkat yang benar tidak membuat kita tertutup, tetapi membuka hati kita untuk peduli dan berbagi.
Ayat 4 berkata, “Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu, ya Allah; kiranya bangsa-bangsa semuanya bersyukur kepada-Mu.” Pemazmur tidak hanya ingin umat Israel bersyukur kepada Tuhan. Ia ingin semua bangsa bersyukur kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa kasih dan berkat Tuhan tidak terbatas hanya untuk satu kelompok.
Bagi W/KI, ayat ini mengajak kita memiliki hati yang luas. Doa kita tidak boleh hanya untuk keluarga sendiri. Kita juga perlu mendoakan jemaat, masyarakat, bangsa, dunia, orang sakit, korban bencana, perempuan yang mengalami kekerasan, anak-anak yang terlantar, orang miskin, dan mereka yang sedang mengalami kesulitan.
W/KI dipanggil menjadi persekutuan yang tidak hanya berkumpul untuk diri sendiri, tetapi juga menjadi berkat bagi banyak orang. Melalui doa, kunjungan, pelayanan kasih, bantuan bagi yang membutuhkan, dan perhatian kepada lingkungan, W/KI dapat membuat orang lain merasakan kebaikan Tuhan.
Ayat 5 berkata bahwa suku-suku bangsa bersukacita karena Tuhan memerintah bangsa-bangsa dengan adil dan menuntun suku-suku bangsa di atas bumi. Ini berarti Tuhan bukan hanya Allah yang memberkati, tetapi juga Allah yang adil. Tuhan menghendaki supaya kehidupan manusia dijalani dalam keadilan.
Hal ini penting, karena berkat tanpa keadilan dapat menjadi masalah. Tanah memberi hasil, tetapi siapa yang menikmati hasil itu? Apakah hanya orang yang kuat dan kaya? Apakah pekerja diperlakukan dengan adil? Apakah orang miskin diperhatikan? Apakah alam dirusak demi keuntungan? Apakah perempuan dan anak-anak mendapat perlindungan?
Bagi W/KI, keadilan dapat dimulai dari rumah dan persekutuan. Dalam keluarga, jangan ada yang terus diperlakukan tidak adil. Jangan ada anak yang selalu dibandingkan. Jangan ada perempuan yang harus memikul semua beban sendirian.
Dalam pelayanan, jangan pilih kasih. Jangan membuat kelompok yang saling menjatuhkan. Jangan merendahkan mereka yang sederhana. Allah yang memberkati adalah Allah yang adil, maka umat-Nya juga harus hidup adil.
Ayat 6 kembali mengulang, “Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu, ya Allah; kiranya bangsa-bangsa semuanya bersyukur kepada-Mu.” Pengulangan ini menunjukkan bahwa pemazmur sungguh ingin semua orang memuji Tuhan. Semua berkat harus kembali menjadi pujian kepada Allah.
Manusia sering ingin dipuji ketika berhasil. Ketika keluarga baik, ketika anak berhasil, ketika pekerjaan lancar, atau ketika pelayanan berkembang, manusia mudah merasa dirinya hebat.
Tetapi firman Tuhan mengingatkan bahwa semua kemuliaan harus dikembalikan kepada Tuhan. Tanah memberi hasil, tetapi Tuhan yang memberkati. Kita bekerja, tetapi Tuhan yang memberi kekuatan. Kita melayani, tetapi Tuhan yang memberi pertumbuhan.
Bagi W/KI, ini menjadi peringatan supaya tidak sombong atas apa yang kita miliki atau capai. Jika Tuhan memberi kemampuan mengatur rumah, pakailah untuk melayani. Jika Tuhan memberi talenta, pakailah untuk membangun jemaat. Jika Tuhan memberi hasil, pakailah dengan bijaksana. Jangan memakai berkat untuk merendahkan orang lain.
Ayat 7 berkata, “Tanah telah memberi hasilnya; Allah, Allah kita, memberkati kita.” Inilah pusat tema kita. Tanah memberi hasil karena Tuhan memberkati. Panen, makanan, rezeki, pekerjaan, keluarga, pelayanan, dan kesempatan hidup adalah tanda pemeliharaan Tuhan.
Bagi W/KI, ayat ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Banyak perempuan mengelola hasil tanah menjadi makanan bagi keluarga. Kita membeli beras, sayur, ikan, buah, atau bahan makanan lain, lalu mengolahnya untuk orang-orang yang kita kasihi.
Kadang pekerjaan seperti memasak, mengatur belanja, dan menyiapkan makanan dianggap biasa. Padahal di dalamnya ada pelayanan kehidupan. Melalui makanan yang disiapkan dengan syukur, keluarga dapat merasakan pemeliharaan Tuhan.
Tetapi ayat ini juga mengingatkan bahwa tanah harus dijaga. Jika tanah memberi hasil, tanah tidak boleh dirusak. Jika Tuhan memberkati melalui alam, alam harus dirawat. Jangan buang sampah sembarangan. Jangan boros makanan. Jangan cemari air. Jangan rusak tanaman. Jangan memakai berkat alam tanpa tanggung jawab.
W/KI dapat memulai dari rumah. Kurangi sampah plastik. Gunakan makanan dengan bijak. Tanam tanaman di halaman jika memungkinkan. Ajarkan anak-anak membuang sampah pada tempatnya. Hemat air. Jaga kebersihan lingkungan. Semua tindakan sederhana ini adalah bentuk syukur kepada Tuhan yang memberkati melalui tanah dan ciptaan.
Ayat 8 berkata, “Allah memberkati kita; kiranya segala ujung bumi takut akan Dia!” Berkat Tuhan harus membawa manusia semakin takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan berarti menghormati Tuhan, menaati firman-Nya, dan hidup dengan kesadaran bahwa semua yang kita miliki berasal dari Dia.
Jika berkat membuat kita sombong, berarti hati kita perlu diperiksa. Jika hasil membuat kita lupa Tuhan, berarti berkat telah menjadi berhala. Jika kelimpahan membuat kita tidak peduli kepada sesama, berarti kita belum memahami maksud Tuhan memberi berkat.
Bagi W/KI, ayat ini mengajak kita bertanya: Apakah berkat Tuhan membuat kita semakin rajin berdoa? Apakah makanan yang cukup membuat kita semakin bersyukur? Apakah pekerjaan yang baik membuat kita semakin rendah hati? Apakah pelayanan yang berhasil membuat kita semakin memuliakan Tuhan? Berkat yang benar membawa kita semakin dekat kepada Tuhan dan semakin peduli kepada sesama.
Penutup
Saudari-saudari W/KI yang dikasihi Tuhan, setelah merenungkan Mazmur 67:1–8, kita belajar bahwa tema “Tanah Telah Memberi Hasilnya, Tuhan Allah Memberkati Kita” bukan hanya berbicara tentang panen atau hasil bumi. Tema ini berbicara tentang seluruh kehidupan yang dipelihara Tuhan. Makanan di meja, pekerjaan yang memberi nafkah, keluarga yang masih dijaga, pelayanan yang masih berjalan, kesehatan yang masih diberikan, dan kesempatan hidup hari ini adalah tanda bahwa Tuhan Allah memberkati kita.
Firman ini mengajak kita untuk tidak lupa bersyukur. Syukur bukan hanya ucapan dalam doa, tetapi sikap hidup. Orang yang bersyukur tidak mudah sombong. Orang yang bersyukur tidak mudah mengeluh. Orang yang bersyukur tidak melihat berkat sebagai milik pribadi semata, tetapi sebagai titipan Tuhan yang harus dikelola dengan benar.
Tema ini juga mengingatkan bahwa berkat Tuhan mempunyai tujuan. Pemazmur berkata bahwa Allah memberkati supaya jalan-Nya dikenal di bumi dan keselamatan-Nya dikenal di antara segala bangsa. Artinya, W/KI yang diberkati harus menjadi kesaksian. Keluarga yang diberkati harus memancarkan kasih Tuhan. Pelayanan yang diberkati harus membawa orang mengenal Tuhan. Rumah yang diberkati harus menjadi tempat damai, bukan tempat penuh keluhan dan pertengkaran.
Ada beberapa hal penting yang perlu kita pegang.
Pertama, Tuhan adalah sumber segala berkat. Jangan pernah lupa bahwa makanan, pekerjaan, keluarga, pelayanan, dan hidup berasal dari Tuhan. Karena itu, jangan sombong dan jangan merasa semua terjadi karena kemampuan sendiri.
Kedua, syukur harus menjadi gaya hidup. Jangan hanya bersyukur ketika semua berjalan baik. Belajarlah bersyukur dalam hal-hal sederhana: makanan yang cukup, keluarga yang masih ada, kesehatan, pekerjaan, dan kekuatan untuk menjalani hari.
Ketiga, berkat harus membuat kita menjadi berkat. Jika Tuhan memberi lebih, belajarlah berbagi. Perhatikan orang sakit, orang miskin, janda, anak yatim, mereka yang sedang berduka, dan keluarga yang sedang bergumul.
Keempat, berkat harus dikelola dengan adil. Jangan pilih kasih dalam keluarga dan pelayanan. Jangan merendahkan orang yang sederhana. Jangan memakai kemampuan atau kedudukan untuk menekan orang lain.
Kelima, tanah dan ciptaan harus dijaga. Jika Tuhan memberkati melalui tanah, air, tumbuhan, dan alam, maka kita harus merawatnya. Mulailah dari rumah: kurangi sampah, jangan buang makanan, hemat air, tanam tanaman, dan ajarkan anak-anak mencintai ciptaan Tuhan.
Keenam, berkat harus membawa kita semakin takut akan Tuhan. Jika semakin diberkati kita semakin jauh dari Tuhan, kita perlu bertobat. Berkat yang benar membuat kita semakin rendah hati, semakin rajin berdoa, semakin setia beribadah, dan semakin mengasihi sesama.
Bagi W/KI, firman ini sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Ketika memasak untuk keluarga, lakukan dengan syukur. Ketika mengatur belanja, lakukan dengan bijaksana. Ketika bekerja, lakukan dengan jujur. Ketika melayani, lakukan dengan rendah hati. Ketika melihat orang kekurangan, bukalah hati untuk menolong. Ketika melihat lingkungan kotor, jangan hanya mengeluh, tetapi ikut menjaga kebersihan. Ketika anak-anak makan, ajarkan mereka berdoa dan bersyukur kepada Tuhan.
Jangan anggap kecil pekerjaan sehari-hari. Memasak, mengatur rumah, mendoakan keluarga, memberi nasihat, bekerja, melayani, menanam, membersihkan, dan berbagi adalah bagian dari kesaksian iman jika dilakukan dengan hati yang tertuju kepada Tuhan.
Marilah kita belajar dari Rut yang bekerja dengan setia, dari Naomi yang akhirnya melihat pemulihan Tuhan, dan dari Boas yang memakai hasil ladangnya untuk menolong yang lemah. Kiranya hidup kita juga demikian. Ketika Tuhan memberkati kita, orang lain ikut merasakan kebaikan Tuhan.
Akhirnya, kiranya pengakuan pemazmur menjadi pengakuan kita juga: “Tanah telah memberi hasilnya; Allah, Allah kita, memberkati kita.” Kiranya setiap makanan di meja mengingatkan kita pada kasih Tuhan.
Kiranya setiap hasil kerja membuat kita bersyukur. Kiranya setiap berkat membuka hati kita untuk berbagi. Kiranya setiap pelayanan membawa orang mengenal Tuhan. Dan kiranya melalui hidup W/KI, semakin banyak orang bersyukur kepada Allah dan takut akan Dia.
Amin.
Editor : Clavel Lukas