Bacaan: 1 Tawarikh 29:10–19
Tema: “Kekayaan Dan Kemuliaan Berasal Dari Tuhan Allah”
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, dalam kehidupan manusia, kekayaan dan kemuliaan sering menjadi sesuatu yang sangat dikejar. Banyak orang bekerja keras untuk memperoleh harta, jabatan, nama baik, pengaruh, penghormatan, dan kenyamanan hidup.
Tidak salah bekerja keras, tidak salah mengembangkan usaha, tidak salah memiliki cita-cita, dan tidak salah menikmati berkat Tuhan. Namun yang berbahaya adalah ketika manusia mulai merasa bahwa semua yang dimilikinya adalah hasil kekuatannya sendiri, seolah-olah Tuhan tidak berperan dalam hidupnya.
Ketika seseorang mulai berkata dalam hati, “Ini semua karena saya hebat, karena saya pintar, karena saya kuat, karena saya berpengaruh,” maka perlahan-lahan hati manusia dapat jatuh dalam kesombongan.
Firman Tuhan hari ini membawa kita kepada doa Raja Daud di hadapan seluruh jemaah Israel. Daud berada pada masa akhir hidup dan pemerintahannya. Ia tidak diizinkan Tuhan membangun Bait Suci, tetapi ia mempersiapkan bahan-bahan, harta, dan dukungan bagi Salomo, anaknya, yang kelak akan membangun rumah Tuhan.
Daud bersama para pemimpin dan umat Israel memberi persembahan dengan sukacita untuk pekerjaan rumah Tuhan. Namun di tengah kelimpahan persembahan itu, Daud tidak meninggikan diri.
Ia tidak berkata, “Lihatlah betapa besarnya pemberian kami.” Ia tidak berkata, “Kerajaan ini kuat karena kepemimpinanku.” Ia tidak berkata, “Harta ini berasal dari kemampuanku.” Sebaliknya, Daud berdoa dan mengakui bahwa segala kebesaran, kekuatan, kejayaan, kemuliaan, kemenangan, kekayaan, dan kehormatan berasal dari Tuhan.
Inilah inti tema renungan kita: “Kekayaan Dan Kemuliaan Berasal Dari Tuhan Allah.” Tema ini mengingatkan bahwa manusia bukan pemilik mutlak atas segala sesuatu. Manusia hanya pengelola. Semua yang kita miliki adalah titipan Tuhan.
Rumah, pekerjaan, usaha, pendidikan, kesehatan, keluarga, jabatan, pelayanan, talenta, waktu, dan hidup itu sendiri berasal dari Tuhan. Karena itu, sikap yang benar bukan kesombongan, melainkan syukur; bukan kerakusan, melainkan kemurahan hati; bukan pemujaan terhadap harta, melainkan penyerahan kepada Tuhan.
Di zaman sekarang, tema ini sangat relevan. Kita hidup dalam dunia yang sering mengukur harga diri manusia dari apa yang dimiliki. Orang dipandang berhasil jika punya uang, rumah bagus, kendaraan, jabatan, pakaian tertentu, atau pengaruh sosial.
Media sosial sering memperkuat budaya pamer, sehingga manusia mudah membandingkan hidupnya dengan orang lain. Banyak orang ingin terlihat berhasil, bahkan ketika hatinya kosong dan keluarganya rapuh.
Firman Tuhan hari ini mengajak kita kembali kepada dasar iman yang benar: kekayaan dan kemuliaan sejati bukan berasal dari manusia, tetapi dari Tuhan Allah. Jika Tuhan memberi, manusia harus bersyukur. Jika Tuhan mempercayakan, manusia harus mengelola. Jika Tuhan memberkati, manusia harus memakai berkat itu untuk kemuliaan-Nya.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan
Kitab 1 dan 2 Tawarikh dalam Alkitab Ibrani merupakan satu kesatuan. Kitab ini menuliskan kembali sejarah umat Israel, mulai dari silsilah Adam sampai kepada kerajaan Daud dan keturunannya. Jika Kitab Samuel dan Raja-raja banyak menyoroti perjalanan politik, kegagalan raja-raja, dan kehancuran kerajaan, Kitab Tawarikh lebih menekankan penyembahan kepada Tuhan, Bait Suci, garis keturunan Daud, pelayanan orang Lewi, dan pemulihan identitas umat Allah.
Kitab Tawarikh kemungkinan besar disusun dalam konteks umat Israel sesudah pembuangan. Umat Allah pernah mengalami kehancuran Yerusalem, Bait Suci dihancurkan, dan mereka dibuang ke Babel. Ketika mereka kembali, mereka perlu diingatkan siapa mereka di hadapan Tuhan.
Mereka bukan hanya bangsa yang pernah gagal, tetapi umat perjanjian yang dipanggil kembali untuk menyembah Tuhan dengan setia. Karena itu, penulis Tawarikh menekankan pentingnya ibadah, Bait Suci, kepemimpinan yang taat, dan kesetiaan kepada Allah.
1 Tawarikh 29 berada pada bagian akhir kehidupan Daud. Daud telah mempersiapkan pembangunan Bait Suci, meskipun Tuhan menetapkan bahwa Salomo yang akan membangunnya. Daud mengumpulkan bahan-bahan, memberi persembahan dari hartanya sendiri, mengajak para pemimpin memberi dengan sukarela, dan seluruh umat bersukacita karena mereka memberi dengan tulus hati kepada Tuhan. Setelah itu, Daud menaikkan doa pujian yang sangat indah, yang menjadi bacaan kita hari ini.
Doa Daud dalam 1 Tawarikh 29:10–19 adalah doa yang sangat teologis. Daud mengakui kebesaran Tuhan, kedaulatan Tuhan, kepemilikan Tuhan atas segala sesuatu, dan keterbatasan manusia. Daud menyadari bahwa meskipun umat memberi banyak persembahan, sebenarnya mereka hanya mengembalikan kepada Tuhan apa yang sudah berasal dari Tuhan. Inilah spiritualitas yang sangat dalam: memberi bukanlah tindakan untuk membuat Tuhan berutang kepada kita, melainkan tindakan syukur karena kita telah lebih dahulu menerima dari Tuhan.
Tema “Kekayaan Dan Kemuliaan Berasal Dari Tuhan Allah” memiliki makna yang luas. Pertama, tema ini menegaskan bahwa Tuhan adalah sumber segala sesuatu. Tidak ada satu pun yang kita miliki yang tidak berasal dari Dia. Kedua, tema ini menegaskan bahwa manusia harus rendah hati. Jika semua berasal dari Tuhan, tidak ada tempat untuk menyombongkan diri. Ketiga, tema ini menegaskan tanggung jawab pengelolaan.
Karena harta, kemampuan, dan hidup adalah titipan Tuhan, semuanya harus digunakan sesuai kehendak-Nya. Keempat, tema ini menegaskan pentingnya memberi dengan sukacita. Daud dan umat memberi bukan karena terpaksa, melainkan karena mereka sadar bahwa Tuhan lebih dahulu memberkati mereka. Kelima, tema ini mengingatkan bahwa kemuliaan sejati bukanlah pujian manusia, tetapi hidup yang memuliakan Tuhan.
Dalam konteks sekarang, tema ini menantang kita untuk memeriksa cara kita memandang uang, jabatan, pelayanan, dan keberhasilan. Apakah kita melihat semua itu sebagai milik pribadi yang bebas dipakai sesuka hati, atau sebagai titipan Tuhan yang harus dipertanggungjawabkan?
Apakah kekayaan membuat kita semakin rendah hati, atau justru semakin sombong? Apakah jabatan membuat kita semakin melayani, atau semakin ingin dihormati? Apakah keberhasilan membuat kita semakin bersyukur kepada Tuhan, atau semakin lupa kepada-Nya?
Pembahasan Ayat demi Ayat
Pada ayat 10, Daud memuji Tuhan di depan seluruh jemaah dan berkata, “Terpujilah Engkau, ya TUHAN, Allahnya bapa kami Israel, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya.” Daud memulai doanya bukan dengan permintaan, tetapi dengan pujian.
Ia tidak memulai dengan membicarakan besarnya persembahan umat, tetapi dengan membesarkan nama Tuhan. Ini menunjukkan hati Daud yang benar. Bagi Daud, pusat dari seluruh peristiwa itu bukan manusia yang memberi, melainkan Tuhan yang layak dipuji.
Daud menyebut Tuhan sebagai Allahnya bapa Israel. Ini mengingatkan umat bahwa Tuhan yang mereka sembah adalah Tuhan yang setia dari generasi ke generasi. Tuhan yang memelihara Abraham, Ishak, Yakub, dan Israel adalah Tuhan yang sama yang memelihara Daud dan umat pada zamannya. Dengan demikian, pujian Daud tidak terlepas dari sejarah karya Allah. Ia menyadari bahwa kehidupannya dan kerajaan Israel berdiri di atas kesetiaan Tuhan sejak dahulu.
Bagi kita, ayat ini mengajarkan bahwa sebelum menghitung berkat, kita harus terlebih dahulu memuji Sang Pemberi berkat. Banyak orang datang kepada Tuhan hanya dengan daftar permintaan, tetapi lupa memuji Tuhan karena siapa Dia.
Doa yang dewasa tidak hanya berisi “Tuhan, berikanlah,” tetapi juga “Tuhan, terpujilah Engkau.” Dalam keluarga, pekerjaan, dan pelayanan, kita perlu membangun kebiasaan memulai segala sesuatu dengan pujian kepada Tuhan.
Pada ayat 11, Daud berkata, “Ya TUHAN, punya-Mulah kebesaran dan kejayaan, kehormatan, kemasyhuran dan keagungan, bahkan segala-galanya yang ada di langit dan di bumi!” Ayat ini adalah pengakuan tentang kedaulatan Allah. Daud menyebut kebesaran, kejayaan, kehormatan, kemasyhuran, keagungan, dan segala sesuatu di langit dan di bumi sebagai milik Tuhan. Artinya, tidak ada wilayah kehidupan yang berada di luar kepemilikan Tuhan.
Daud adalah raja besar. Ia memiliki kekuasaan, kemenangan, pasukan, istana, harta, dan nama besar. Namun ia tidak menganggap semua kemuliaan itu sebagai miliknya. Ia mengembalikan segala kemuliaan kepada Tuhan.
Ini sangat berbeda dari banyak pemimpin dunia yang merasa jabatan dan kemasyhuran adalah miliknya sendiri. Daud memahami bahwa kemuliaan manusia hanya bersifat sementara, sedangkan kemuliaan Tuhan kekal.
Dalam kondisi sekarang, ayat ini menegur budaya pencitraan dan kesombongan. Banyak orang mengejar kehormatan manusia, ingin dikenal, ingin dipuji, ingin dihargai, dan ingin terlihat berhasil. Bahkan dalam pelayanan gereja pun, manusia dapat tergoda mencari nama.
Firman Tuhan mengingatkan bahwa segala kehormatan sejati milik Tuhan. Jika kita diberi jabatan, pakailah untuk melayani. Jika diberi talenta, pakailah untuk memuliakan Tuhan. Jika diberi pengaruh, pakailah untuk membangun, bukan untuk meninggikan diri.
Pada ayat 12, Daud berkata, “Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari pada-Mu dan Engkaulah yang berkuasa atas segala-galanya.” Inilah inti tema kita. Daud menyatakan bahwa kekayaan dan kemuliaan berasal dari Tuhan.
Ia tidak menyangkal adanya kerja keras manusia, tetapi ia menempatkan kerja keras itu dalam kerangka pemeliharaan Allah. Manusia dapat bekerja, tetapi Tuhan yang memberi kekuatan. Manusia dapat memimpin, tetapi Tuhan yang memberi kesempatan. Manusia dapat memiliki harta, tetapi Tuhanlah sumber segala berkat.
Daud juga berkata bahwa di tangan Tuhan ada kekuatan dan kejayaan, dan Tuhan berkuasa membesarkan serta mengokohkan segala-galanya. Ini berarti posisi, kekuasaan, dan keberhasilan manusia tidak berdiri sendiri. Tuhan berkuasa mengangkat dan merendahkan. Tuhan berkuasa memberi dan mengambil. Tuhan berkuasa meneguhkan dan mengguncangkan. Karena itu, orang percaya tidak boleh membangun hidup hanya di atas kekayaan dan kemuliaan duniawi.
Ayat ini sangat relevan dalam dunia yang materialistis. Banyak orang mengukur keberhasilan dari kekayaan. Banyak keluarga bertengkar karena harta. Banyak orang mengorbankan kejujuran demi uang. Banyak pemimpin mengejar kemuliaan pribadi.
Firman Tuhan berkata bahwa kekayaan dan kemuliaan berasal dari Tuhan. Jika berasal dari Tuhan, maka harus dikelola sesuai kehendak Tuhan. Kekayaan bukan untuk kesombongan. Kemuliaan bukan untuk memuja diri. Semua harus dikembalikan kepada Tuhan dalam syukur dan ketaatan.
Pada ayat 13, Daud berkata, “Sekarang, ya Allah kami, kami bersyukur kepada-Mu dan memuji nama-Mu yang agung itu.” Setelah mengakui bahwa semua berasal dari Tuhan, respons Daud adalah syukur dan pujian. Syukur adalah sikap yang benar dari manusia yang sadar bahwa ia hanya penerima. Orang yang bersyukur tidak merasa berhak atas semuanya. Orang yang bersyukur sadar bahwa hidup adalah anugerah.
Syukur Daud muncul di tengah persembahan yang besar. Ketika banyak harta dikumpulkan untuk Bait Suci, Daud tidak berkata, “Terima kasih kepada kami karena kami telah memberi banyak.” Ia berkata, “Kami bersyukur kepada-Mu.”
Daud memahami bahwa kemampuan memberi pun berasal dari Tuhan. Ini sangat penting. Bahkan ketika kita memberi persembahan, menolong orang, melayani gereja, atau melakukan kebaikan, kita tidak boleh sombong, sebab kemampuan untuk memberi juga berasal dari Tuhan.
Dalam kehidupan gereja, ayat ini menegur sikap memberi yang ingin dipuji. Ada orang yang memberi tetapi ingin namanya disebut. Ada yang melayani tetapi ingin dihargai. Ada yang membantu tetapi ingin dianggap berjasa. Daud menunjukkan bahwa memberi kepada Tuhan harus disertai syukur, bukan kesombongan. Kita memberi karena Tuhan sudah lebih dahulu memberi kepada kita.
Pada ayat 14, Daud berkata, “Sebab siapakah aku ini dan siapakah bangsaku, sehingga kami mampu memberikan persembahan sukarela seperti ini? Sebab dari pada-Mulah segala-galanya dan dari tangan-Mu sendirilah persembahan yang kami berikan kepada-Mu.”
Ayat ini adalah salah satu pernyataan paling indah tentang kerendahan hati dan teologi persembahan. Daud bertanya, “Siapakah aku ini?” Ia tidak merasa besar di hadapan Tuhan. Ia sadar bahwa dirinya dan bangsanya hanya dapat memberi karena Tuhan lebih dahulu memberi.
Kalimat “dari tangan-Mu sendirilah persembahan yang kami berikan kepada-Mu” mengajarkan bahwa persembahan bukan memberi sesuatu yang Tuhan tidak punya. Persembahan adalah mengembalikan kepada Tuhan apa yang sudah berasal dari Tuhan. Ini mengubah cara kita memandang pemberian.
Ketika kita memberi persembahan, kita tidak sedang membuat Tuhan berutang kepada kita. Ketika kita memberi untuk gereja, pelayanan, atau orang miskin, kita tidak sedang menjadi pemilik berkat. Kita hanya mengelola dan mengembalikan sebagian dari apa yang Tuhan percayakan.
Ayat ini sangat penting untuk kehidupan modern. Banyak orang sulit memberi karena merasa semua miliknya adalah hasil kerja sendiri. Ada yang berkata, “Saya yang susah payah mencari uang, mengapa harus memberi?” Firman Tuhan mengingatkan bahwa kekuatan bekerja pun dari Tuhan. Nafas dari Tuhan. Kesempatan dari Tuhan. Kesehatan dari Tuhan. Karena itu, memberi adalah tindakan iman yang mengakui bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan.
Pada ayat 15, Daud berkata, “Sebab kami adalah orang asing di hadapan-Mu dan orang pendatang sama seperti semua nenek moyang kami; sebagai bayang-bayang hari-hari kami di atas bumi dan tidak ada harapan.” Daud mengakui kefanaan manusia.
Walaupun ia seorang raja besar, ia sadar bahwa hidup manusia hanya sementara. Manusia adalah pendatang di bumi. Hari-harinya seperti bayang-bayang. Kekayaan, jabatan, dan kemuliaan dunia tidak dapat menghapus kenyataan bahwa hidup manusia singkat.
Kesadaran ini sangat penting. Orang yang sadar hidupnya sementara akan lebih bijaksana memakai harta dan waktu. Ia tidak akan menyembah kekayaan. Ia tidak akan mengorbankan keluarga, iman, dan kebenaran demi hal yang fana. Ia tahu bahwa semua akan ditinggalkan. Yang dibawa di hadapan Tuhan bukan harta, tetapi pertanggungjawaban hidup.
Dalam dunia sekarang, banyak orang hidup seolah-olah akan tinggal di bumi selama-lamanya. Mereka menimbun, mengejar, bersaing, dan mengorbankan banyak hal demi harta. Daud mengingatkan bahwa kita hanya pendatang.
Karena itu, pakailah hidup dengan bijaksana. Gunakan kekayaan untuk kebaikan. Gunakan kesempatan untuk melayani. Gunakan waktu untuk mengasihi. Jangan menunggu sampai akhir hidup baru menyadari bahwa banyak hal yang dikejar ternyata tidak kekal.
Pada ayat 16, Daud berkata bahwa segala kelimpahan bahan yang disediakan untuk mendirikan rumah bagi nama Tuhan berasal dari tangan Tuhan dan milik Tuhanlah semuanya. Daud berbicara tentang bahan-bahan pembangunan Bait Suci. Walaupun bahan itu dikumpulkan oleh manusia, Daud tetap mengakui bahwa semuanya berasal dari Tuhan.
Ini menunjukkan bahwa pekerjaan besar bagi Tuhan tidak boleh menjadi alasan manusia menyombongkan diri. Pembangunan rumah Tuhan bukan proyek kebanggaan manusia, tetapi pelayanan kepada Allah. Daud sadar bahwa emas, perak, batu permata, kayu, dan segala bahan tidak mungkin ada tanpa Tuhan. Bahkan proyek rohani pun harus dijalankan dengan kerendahan hati.
Dalam gereja masa kini, ayat ini sangat relevan. Ketika jemaat membangun gedung gereja, mengadakan program pelayanan, membeli perlengkapan, atau mengembangkan pelayanan, jangan sampai semuanya menjadi ajang kesombongan. Jangan sampai pembangunan rumah Tuhan justru diwarnai pertengkaran, gengsi, atau perebutan nama. Semua yang dipakai untuk pelayanan berasal dari Tuhan dan harus dipakai untuk memuliakan Tuhan.
Pada ayat 17, Daud berkata bahwa ia tahu Allah menguji hati dan berkenan kepada keikhlasan. Daud juga berkata bahwa ia mempersembahkan semuanya dengan sukarela dan tulus hati, dan ia melihat umat memberi dengan sukacita. Ayat ini mengajarkan bahwa Tuhan tidak hanya melihat jumlah pemberian, tetapi hati pemberi. Manusia mungkin melihat besar kecilnya persembahan, tetapi Tuhan melihat ketulusan.
Keikhlasan sangat penting dalam memberi dan melayani. Pemberian yang besar tetapi penuh kesombongan tidak menyenangkan Tuhan. Pelayanan yang tampak hebat tetapi dilakukan untuk pujian manusia tidak murni di hadapan Tuhan. Sebaliknya, pemberian sederhana yang lahir dari hati tulus sangat berharga di mata Allah.
Ayat ini menegur kita agar memeriksa motivasi. Mengapa kita memberi? Mengapa kita melayani? Mengapa kita membantu? Apakah karena mengasihi Tuhan atau karena ingin dikenal?
Apakah karena syukur atau karena terpaksa? Apakah karena takut dinilai orang atau karena kerinduan memuliakan Tuhan? Tuhan menguji hati. Karena itu, yang paling penting bukan hanya tindakan luar, tetapi hati yang tulus di hadapan-Nya.
Pada ayat 18, Daud berdoa, “Ya TUHAN, Allah Abraham, Ishak dan Israel, bapa-bapa kami, peliharalah untuk selama-lamanya kecenderungan hati umat-Mu yang demikian ini dan tetaplah tujukan hati mereka kepada-Mu.” Daud tidak hanya bersyukur atas pemberian umat saat itu.
Ia berdoa agar hati umat tetap terarah kepada Tuhan. Daud tahu bahwa semangat rohani dapat memudar. Hari ini orang bisa memberi dengan sukacita, tetapi besok hatinya bisa berubah. Karena itu, Daud memohon supaya Tuhan memelihara hati umat.
Ini sangat penting. Masalah utama manusia bukan hanya kekurangan harta, tetapi arah hati. Hati dapat melekat pada Tuhan atau melekat pada harta. Hati dapat tulus atau penuh kepentingan diri. Hati dapat bersyukur atau serakah. Karena itu, kita perlu berdoa agar Tuhan menjaga hati kita.
Dalam kehidupan sekarang, banyak orang memulai dengan hati tulus tetapi kemudian berubah ketika diberi kekayaan, jabatan, atau kehormatan. Ada yang awalnya rendah hati, lalu menjadi sombong. Ada yang awalnya setia melayani, lalu mencari kuasa. Daud mengajarkan bahwa kita harus meminta Tuhan memelihara hati. Kekayaan dan kemuliaan hanya aman di tangan orang yang hatinya tetap terarah kepada Tuhan.
Pada ayat 19, Daud berdoa untuk Salomo, anaknya, supaya Tuhan memberikan kepadanya hati yang tulus untuk tetap berpegang pada perintah, peringatan, dan ketetapan Tuhan, serta melakukan segala sesuatu dan mendirikan Bait Suci.
Daud tidak hanya mempersiapkan harta untuk Salomo, tetapi juga mendoakan hati Salomo. Ini sangat penting. Daud tahu bahwa membangun Bait Suci membutuhkan bukan hanya bahan dan kekayaan, tetapi hati yang taat kepada Tuhan.
Ayat ini memberi pesan besar bagi orang tua dan pemimpin. Warisan terbesar bukan hanya harta, jabatan, atau proyek yang belum selesai. Warisan terbesar adalah iman, doa, dan hati yang tertuju kepada Tuhan. Daud tidak hanya menyerahkan bahan bangunan kepada Salomo; ia membawa Salomo dalam doa. Ia memohon agar Salomo memiliki hati yang tulus.
Dalam keluarga masa kini, orang tua sering sibuk menyiapkan warisan materi bagi anak, tetapi kurang menyiapkan warisan iman. Kita ingin anak punya pendidikan, pekerjaan, rumah, dan masa depan, tetapi apakah kita mendoakan hati mereka supaya takut akan Tuhan?
Apakah kita mengajar mereka bahwa kekayaan dan kemuliaan berasal dari Tuhan? Apakah kita membentuk mereka menjadi pengelola berkat yang setia? Daud mengajarkan bahwa generasi berikutnya harus dipersiapkan bukan hanya dengan fasilitas, tetapi dengan doa dan iman.
Penutup
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, setelah merenungkan 1 Tawarikh 29:10–19, kita melihat bahwa tema “Kekayaan Dan Kemuliaan Berasal Dari Tuhan Allah” bukan hanya kalimat pengakuan, tetapi dasar kehidupan iman. Daud, seorang raja besar, berdiri di hadapan umat bukan untuk membanggakan dirinya, melainkan untuk memuliakan Tuhan.
Ia mengakui bahwa kebesaran, kejayaan, kehormatan, kemasyhuran, keagungan, kekayaan, dan kemuliaan semuanya berasal dari Tuhan. Bahkan persembahan yang diberikan umat untuk pembangunan rumah Tuhan pun berasal dari tangan Tuhan sendiri.
Firman ini mengajak kita melihat hidup dengan cara yang benar. Kita bukan pemilik mutlak, tetapi pengelola. Kita bukan sumber berkat, tetapi penerima berkat. Kita bukan pusat kemuliaan, tetapi dipanggil memuliakan Tuhan.
Semua yang ada pada kita adalah titipan: uang, rumah, tanah, pekerjaan, jabatan, kesehatan, waktu, talenta, keluarga, pelayanan, dan hidup. Karena itu, pertanyaan penting bukan hanya “berapa banyak yang saya miliki,” tetapi “untuk apa saya memakai apa yang Tuhan percayakan?”
Ada beberapa poin penting yang perlu kita pegang.
Pertama, Tuhan adalah sumber segala kekayaan dan kemuliaan. Tidak ada alasan untuk sombong. Jika kita berhasil, bersyukurlah. Jika kita memiliki lebih, rendahkanlah hati. Jika kita diberi jabatan, pakailah untuk melayani.
Kedua, persembahan adalah pengembalian kepada Tuhan. Kita memberi bukan karena Tuhan kekurangan, tetapi karena kita sadar semua berasal dari Dia.
Ketiga, Tuhan melihat hati. Jumlah pemberian penting, tetapi motivasi jauh lebih penting. Berilah dengan tulus, bukan karena terpaksa, bukan untuk dipuji, dan bukan untuk mencari nama.
Keempat, hidup manusia sementara. Karena hari-hari kita seperti bayang-bayang, jangan habiskan hidup hanya mengejar harta yang fana. Pakailah hidup untuk hal yang bernilai kekal.
Kelima, generasi berikutnya harus didoakan dan dipersiapkan. Warisan iman lebih penting daripada warisan harta.
Implikasi firman ini sangat nyata. Dalam keluarga, ajarkan anak-anak bahwa semua yang dimiliki berasal dari Tuhan. Jangan hanya mengajar mereka bekerja keras, tetapi ajar juga mereka bersyukur dan memberi. Jangan hanya menyiapkan masa depan ekonomi mereka, tetapi doakan hati mereka supaya takut akan Tuhan.
Dalam pekerjaan, gunakan kemampuan dengan jujur. Jangan mencari kekayaan dengan cara yang tidak benar. Kekayaan yang berasal dari ketidakjujuran bukan berkat yang memuliakan Tuhan.
Dalam gereja, melayanilah dengan tulus. Jangan mencari nama dalam pelayanan. Jika memberi, berilah dengan hati yang bersyukur. Jika memimpin, pimpinlah dengan rendah hati. Dalam masyarakat, gunakan kekayaan dan pengaruh untuk membantu, membangun, dan membawa kebaikan.
Firman ini juga menegur kita yang sering merasa berat memberi kepada Tuhan. Kita lupa bahwa semua yang kita genggam berasal dari tangan Tuhan. Kita takut kekurangan jika memberi, padahal Tuhanlah sumber pemeliharaan.
Ini bukan berarti kita harus memberi tanpa hikmat atau mengabaikan tanggung jawab keluarga, tetapi firman ini mengajak kita memiliki hati yang tidak terikat pada harta. Harta adalah alat, bukan tuan. Uang adalah sarana, bukan pusat hidup. Berkat adalah titipan, bukan berhala.
Saudara-saudara, marilah kita memeriksa hati. Apakah kekayaan membuat kita semakin dekat kepada Tuhan atau semakin jauh? Apakah kemuliaan membuat kita semakin rendah hati atau semakin sombong?
Apakah jabatan membuat kita semakin melayani atau semakin ingin dihormati? Apakah persembahan kita lahir dari syukur atau hanya kebiasaan? Apakah anak-anak kita melihat bahwa kita mengakui Tuhan sebagai sumber segala sesuatu?
Marilah kita belajar dari Daud. Ia memiliki banyak, tetapi tidak sombong. Ia memberi besar, tetapi tetap berkata bahwa semua berasal dari Tuhan. Ia mempersiapkan pembangunan Bait Suci, tetapi tetap sadar bahwa rumah itu dibangun untuk nama Tuhan, bukan untuk nama manusia. Ia mendoakan Salomo, karena ia tahu bahwa generasi berikutnya membutuhkan hati yang tulus lebih daripada harta yang banyak.
Marilah juga belajar dari janda miskin. Ia tidak memiliki banyak, tetapi ia memiliki hati yang percaya. Ia memberi dengan tulus. Di mata manusia pemberiannya kecil, tetapi di mata Tuhan sangat besar. Ini mengingatkan kita bahwa semua orang, baik kaya maupun miskin, dipanggil hidup dalam penyerahan kepada Tuhan.
Akhirnya, kiranya tema ini menjadi pengakuan hidup kita: “Kekayaan Dan Kemuliaan Berasal Dari Tuhan Allah.” Kiranya setiap berkat membuat kita semakin bersyukur. Kiranya setiap keberhasilan membuat kita semakin rendah hati.
Kiranya setiap harta yang dipercayakan kepada kita dipakai untuk kebaikan. Kiranya setiap pelayanan dilakukan dengan tulus. Kiranya setiap keluarga belajar mengakui Tuhan sebagai sumber hidup. Dan kiranya seluruh hidup kita menjadi persembahan yang memuliakan nama Tuhan.
Amin.
Editor : Clavel Lukas