Bacaan: 1 Tawarikh 29:10–19
Tema: “Kekayaan Dan Kemuliaan Berasal Dari Tuhan Allah”
Saudari-saudari W/KI GMIM yang dikasihi dan diberkati Tuhan, dalam kehidupan sehari-hari kita sering berhadapan dengan urusan mengatur, menjaga, memakai, dan membagi berkat Tuhan. Banyak perempuan mengelola kebutuhan rumah tangga, mengatur belanja, memikirkan makanan keluarga, mendampingi pendidikan anak-anak, menopang suami, merawat orang tua, bekerja di luar rumah, menjalankan usaha, melayani di gereja, dan mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat. Semua tugas itu membutuhkan kekuatan, hikmat, kesabaran, ketelitian, dan hati yang dekat dengan Tuhan.
Dalam dunia sekarang, kekayaan dan kemuliaan sering menjadi ukuran keberhasilan. Orang dianggap berhasil jika memiliki rumah bagus, pekerjaan baik, usaha maju, anak-anak sukses, penampilan terhormat, status sosial tinggi, dan kehidupan yang tampak nyaman. Media sosial juga sering membuat manusia mudah membandingkan hidupnya dengan orang lain.
Ada yang merasa kurang karena melihat hidup orang lain tampak lebih berhasil. Ada yang menjadi sombong karena merasa hidupnya lebih baik. Ada yang menjadi lelah karena terus mengejar pengakuan. Ada yang merasa harga dirinya ditentukan oleh apa yang dimiliki dan bagaimana orang lain melihat dirinya.
Baca Juga: Materi Khotbah 1 Tawarikh 29:10–19, Kekayaan Dan Kemuliaan Berasal Dari Tuhan Allah
Baca Juga: Renungan 1 Tawarikh 29:10–19, Kekayaan Dan Kemuliaan Berasal Dari Tuhan Allah
Firman Tuhan hari ini mengajak kita melihat hidup dengan cara yang berbeda. Dalam 1 Tawarikh 29:10–19, Raja Daud mengucapkan doa pujian kepada Tuhan setelah umat Israel memberi persembahan untuk pembangunan Bait Suci. Daud berada pada masa akhir hidupnya.
Ia tidak diizinkan Tuhan membangun Bait Suci, tetapi ia mempersiapkan bahan-bahan dan menyerahkan tugas itu kepada Salomo, anaknya. Pada saat itu, banyak persembahan diberikan dengan sukacita. Secara manusia, Daud dapat membanggakan dirinya. Ia dapat berkata bahwa ia raja besar, pemimpin hebat, dan telah mengumpulkan banyak kekayaan bagi rumah Tuhan. Namun Daud tidak melakukan itu.
Daud justru merendahkan diri di hadapan Tuhan dan berkata bahwa segala kebesaran, kekuatan, kejayaan, kehormatan, kemuliaan, kekayaan, dan kuasa berasal dari Tuhan. Bahkan persembahan yang diberikan umat kepada Tuhan pun sebenarnya berasal dari tangan Tuhan sendiri. Inilah pengakuan iman yang sangat penting: manusia tidak pernah menjadi pemilik mutlak atas apa yang dimilikinya. Manusia hanyalah pengelola. Semua berasal dari Tuhan, dipakai di hadapan Tuhan, dan pada akhirnya harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan.
Tema “Kekayaan Dan Kemuliaan Berasal Dari Tuhan Allah” mengajak W/KI untuk melihat berkat dengan hati yang benar. Jika Tuhan memberi rumah, pekerjaan, keluarga, penghasilan, kesehatan, talenta, kesempatan melayani, dan pengaruh dalam masyarakat, semuanya bukan alasan untuk sombong, melainkan alasan untuk bersyukur.
Jika Tuhan mempercayakan kemampuan mengelola keluarga, mendidik anak, memimpin pelayanan, atau menjalankan usaha, itu bukan untuk meninggikan diri, tetapi untuk memuliakan Tuhan dan menjadi berkat bagi sesama.
Saudari-saudari W/KI GMIM yang dikasihi dan diberkati Tuhan,
Kitab 1 dan 2 Tawarikh pada awalnya merupakan satu kesatuan dalam Alkitab Ibrani. Kitab ini menuliskan kembali sejarah umat Israel, terutama dari sudut pandang ibadah, Bait Suci, garis keturunan Daud, pelayanan orang Lewi, dan kesetiaan umat kepada Tuhan. Jika Kitab Samuel dan Raja-raja banyak mencatat perjalanan politik kerajaan Israel dan Yehuda, termasuk dosa dan kegagalan para raja, Kitab Tawarikh memberi perhatian besar kepada penyembahan, pemulihan umat, dan pentingnya hidup di hadapan Allah.
Kitab Tawarikh sangat mungkin ditulis dan disusun untuk umat Israel sesudah masa pembuangan. Mereka pernah mengalami kehancuran Yerusalem, Bait Suci dihancurkan, kerajaan runtuh, dan umat dibuang ke Babel. Ketika mereka kembali, mereka membutuhkan penguatan iman. Mereka perlu diingatkan bahwa mereka bukan hanya bangsa yang pernah gagal, tetapi umat Tuhan yang dipanggil kembali untuk menyembah, melayani, dan hidup dalam perjanjian Allah.
Karena itu, penulis Tawarikh menampilkan Daud sebagai raja yang sangat memperhatikan ibadah dan rumah Tuhan. Walaupun Daud tidak membangun Bait Suci, ia mempersiapkan segala sesuatu bagi Salomo. Ia mengumpulkan bahan-bahan, memberi persembahan dari hartanya sendiri, mengajak para pemimpin memberi dengan sukarela, dan membangun semangat umat untuk mendukung pekerjaan Tuhan.
Bacaan kita berada pada bagian akhir kehidupan Daud. Ini adalah momen yang sangat penting karena terjadi peralihan dari Daud kepada Salomo. Daud tidak hanya menyerahkan proyek pembangunan kepada Salomo, tetapi juga membawa umat kepada pengakuan iman bahwa semua yang mereka miliki berasal dari Tuhan. Di tengah kelimpahan persembahan, Daud mengarahkan perhatian umat bukan kepada manusia yang memberi, tetapi kepada Allah yang lebih dahulu memberi.
Makna tema “Kekayaan Dan Kemuliaan Berasal Dari Tuhan Allah” sangat dalam. Pertama, tema ini menegaskan bahwa Allah adalah pemilik segala sesuatu. Manusia tidak memiliki apa pun secara mutlak. Kedua, tema ini mengajarkan kerendahan hati. Jika semua berasal dari Tuhan, maka tidak ada alasan untuk sombong.
Ketiga, tema ini mengajarkan pengelolaan yang bertanggung jawab. Karena semua titipan Tuhan, maka harta, waktu, jabatan, talenta, keluarga, dan pelayanan harus dipakai sesuai kehendak-Nya. Keempat, tema ini mengajarkan kemurahan hati. Orang yang sadar bahwa ia menerima dari Tuhan akan lebih mudah memberi dengan sukacita. Kelima, tema ini mengingatkan bahwa kemuliaan sejati bukanlah pujian manusia, tetapi hidup yang memuliakan Tuhan.
Bagi W/KI, tema ini sangat nyata. Banyak perempuan memegang peran penting dalam mengelola berkat di rumah, dalam pelayanan, dan dalam masyarakat. Ada yang mengatur keuangan keluarga, mengelola usaha kecil, mengurus persembahan pelayanan, memimpin kegiatan gereja, mendidik anak-anak, dan membantu banyak orang.
Firman ini mengajak supaya semua tanggung jawab itu dijalani dengan hati yang takut akan Tuhan. Jangan sampai berkat membuat kita sombong. Jangan sampai kemampuan mengelola membuat kita merasa paling berjasa. Jangan sampai pelayanan menjadi tempat mencari nama. Semua harus kembali kepada Tuhan.
Pembahasan Ayat demi Ayat
Pada ayat 10, Daud memuji Tuhan di depan seluruh jemaah dan berkata, “Terpujilah Engkau, ya TUHAN, Allahnya bapa kami Israel, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya.” Daud memulai doanya dengan pujian. Ini penting, sebab saat itu umat baru saja memberi persembahan yang sangat besar untuk pembangunan rumah Tuhan. Secara manusia, Daud dapat memulai dengan memuji kemurahan hati umat atau keberhasilannya menggerakkan bangsa. Namun ia tidak memulai dari manusia. Ia memulai dari Tuhan.
Daud menyebut Tuhan sebagai Allahnya bapa Israel. Ini berarti Daud mengingat kesetiaan Tuhan dari generasi ke generasi. Tuhan yang memelihara Abraham, Ishak, Yakub, dan seluruh umat Israel adalah Tuhan yang sama yang memelihara Daud dan bangsanya. Daud menyadari bahwa hidupnya tidak berdiri sendiri. Ia adalah bagian dari sejarah panjang kasih setia Tuhan.
Bagi W/KI, ayat ini mengajak kita memulai segala sesuatu dengan pujian kepada Tuhan. Ketika keluarga diberkati, pujilah Tuhan. Ketika anak-anak berhasil, pujilah Tuhan. Ketika usaha berjalan baik, pujilah Tuhan. Ketika pelayanan berkembang, pujilah Tuhan. Jangan pertama-tama berkata, “Ini karena saya hebat mengatur,” tetapi katakan, “Terpujilah Tuhan yang memelihara.” Pujian menjaga hati kita tetap rendah di hadapan Allah.
Pada ayat 11, Daud berkata bahwa punya Tuhanlah kebesaran, kejayaan, kehormatan, kemasyhuran, dan keagungan, bahkan segala-galanya yang ada di langit dan di bumi. Ia juga berkata bahwa Tuhanlah yang empunya kerajaan dan yang tertinggi sebagai kepala atas segala sesuatu. Ini adalah pengakuan bahwa Allah berdaulat atas seluruh ciptaan dan seluruh kehidupan.
Daud adalah raja besar. Ia memiliki kehormatan, kekuasaan, pasukan, istana, dan nama besar. Namun ia tahu bahwa semua kemuliaan manusia hanyalah sementara. Kemuliaan sejati adalah milik Tuhan. Kerajaan yang ia pimpin pun bukan miliknya secara mutlak. Tuhanlah pemilik kerajaan itu. Daud hanya dipercayakan untuk memimpin pada waktunya.
Dalam kehidupan sekarang, manusia sering mengejar kemuliaan diri. Orang ingin dikenal, dipuji, dihargai, dan dihormati. Bahkan dalam pelayanan gereja pun manusia bisa tergoda mencari nama. Ada yang ingin pelayanan berjalan baik, tetapi diam-diam juga ingin dipuji. Ada yang memberi bantuan, tetapi ingin diakui. Ada yang melayani, tetapi kecewa jika tidak disebut. Firman ini mengingatkan bahwa semua kemuliaan milik Tuhan. W/KI dipanggil melayani bukan untuk mencari kemuliaan diri, tetapi untuk memuliakan Tuhan.
Pada ayat 12, Daud berkata, “Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari pada-Mu dan Engkaulah yang berkuasa atas segala-galanya.” Inilah inti tema khotbah ini. Kekayaan berasal dari Tuhan. Kemuliaan berasal dari Tuhan. Kekuatan dan kejayaan ada dalam tangan Tuhan. Tuhan berkuasa membesarkan dan mengokohkan segala sesuatu.
Ini tidak berarti manusia tidak perlu bekerja. Alkitab tidak mengajarkan kemalasan. Daud sendiri bekerja, memimpin, berperang, mengatur, dan mempersiapkan. Namun Daud sadar bahwa kerja manusia tidak pernah terlepas dari anugerah Tuhan. Manusia bekerja, tetapi Tuhan memberi kekuatan. Manusia merencanakan, tetapi Tuhan memberi kesempatan. Manusia mengelola, tetapi Tuhan memberi hasil. Manusia memimpin, tetapi Tuhan memberi kepercayaan.
Bagi W/KI, ayat ini menjadi pengingat dalam mengelola rumah dan berkat. Penghasilan keluarga bukan hanya hasil kerja suami atau kerja sendiri, tetapi berkat Tuhan. Makanan di meja bukan hanya karena uang, tetapi karena Tuhan memelihara. Kesehatan bukan hanya karena kita pandai menjaga diri, tetapi karena Tuhan memberi hidup.
Talenta mengatur, memasak, berdagang, mengajar, merawat, memimpin, dan melayani juga berasal dari Tuhan. Karena itu, jangan sombong. Jangan merendahkan orang yang memiliki lebih sedikit. Jangan menganggap diri lebih mulia karena harta atau kedudukan. Semua berasal dari Tuhan.
Pada ayat 13, Daud berkata, “Sekarang, ya Allah kami, kami bersyukur kepada-Mu dan memuji nama-Mu yang agung itu.” Setelah mengakui bahwa semua berasal dari Tuhan, Daud bersyukur dan memuji. Syukur adalah sikap yang benar dari orang yang sadar bahwa hidupnya adalah anugerah. Orang yang bersyukur tidak mudah merasa paling berjasa. Orang yang bersyukur tidak mudah iri. Orang yang bersyukur tidak mudah sombong.
Dalam kehidupan perempuan, syukur perlu terus dipelihara. Banyak W/KI memikul banyak tanggung jawab dan mudah merasa lelah. Kadang kita lebih mudah melihat kekurangan daripada berkat.
Kita lebih mudah mengeluh tentang yang belum ada daripada bersyukur atas yang Tuhan berikan. Firman ini mengajak kita membangun hati yang bersyukur. Syukur bukan berarti semua keadaan sempurna, tetapi percaya bahwa Tuhan tetap memelihara.
Syukur juga mengubah cara kita memberi. Jika hati bersyukur, memberi tidak terasa sebagai paksaan. Memberi menjadi sukacita. Melayani menjadi kehormatan. Menolong orang lain menjadi bagian dari rasa terima kasih kepada Tuhan. Sebaliknya, jika hati tidak bersyukur, pelayanan mudah menjadi beban, pemberian terasa rugi, dan hidup dipenuhi keluhan.
Pada ayat 14, Daud berkata, “Sebab siapakah aku ini dan siapakah bangsaku, sehingga kami mampu memberikan persembahan sukarela seperti ini? Sebab dari pada-Mulah segala-galanya dan dari tangan-Mu sendirilah persembahan yang kami berikan kepada-Mu.” Ini adalah ayat yang sangat indah. Daud bertanya, “Siapakah aku?” Seorang raja besar merendahkan diri di hadapan Tuhan. Ia tidak merasa hebat karena dapat memberi. Ia sadar bahwa kemampuan memberi pun berasal dari Tuhan.
Kalimat “dari tangan-Mu sendirilah persembahan yang kami berikan kepada-Mu” mengajarkan bahwa persembahan bukan memberi sesuatu yang Tuhan tidak punya. Persembahan adalah mengembalikan kepada Tuhan sebagian dari apa yang sudah Tuhan berikan. Ini mengubah cara kita melihat pemberian. Kita memberi bukan supaya Tuhan berutang kepada kita. Kita memberi bukan supaya orang memuji kita. Kita memberi karena semua berasal dari Tuhan.
Bagi W/KI, ayat ini sangat praktis. Ketika memberi persembahan, melayani, memasak untuk kegiatan gereja, memberi bantuan kepada yang sakit, mengumpulkan dana pelayanan, atau menolong keluarga yang susah, lakukanlah dengan hati tulus. Jangan berkata, “Saya yang paling banyak memberi.” Jangan merasa pelayanan harus selalu diketahui orang. Tuhan melihat hati. Kemampuan memberi adalah berkat Tuhan. Karena itu, memberi harus dilakukan dengan kerendahan hati.
Pada ayat 15, Daud berkata bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di hadapan Tuhan, sama seperti nenek moyang mereka; hari-hari mereka di atas bumi seperti bayang-bayang dan tidak ada harapan. Daud menyadari bahwa hidup manusia sementara. Walaupun ia raja, ia tetap pendatang di bumi. Hari-hari manusia seperti bayangan yang cepat berlalu.
Kesadaran ini sangat penting untuk menghindarkan manusia dari keterikatan berlebihan kepada harta. Jika hidup hanya sementara, mengapa kita mengorbankan keluarga demi uang? Mengapa kita merusak relasi demi warisan? Mengapa kita iri hati karena orang lain memiliki lebih banyak? Mengapa kita mengejar kemuliaan manusia seolah-olah kita akan hidup selamanya di dunia?
Bagi W/KI, ayat ini mengajak kita memakai waktu dengan bijaksana. Jangan habiskan hidup hanya untuk mengejar hal yang fana. Pakailah waktu untuk mengasihi keluarga, mendidik anak, mendoakan cucu, melayani Tuhan, menolong sesama, dan membangun hal yang bernilai kekal. Rumah, pakaian, uang, dan barang-barang akan ditinggalkan, tetapi kasih, iman, dan kesaksian hidup dapat menjadi warisan yang bertahan.
Pada ayat 16, Daud berkata bahwa segala kelimpahan bahan yang disediakan untuk mendirikan rumah bagi nama Tuhan berasal dari tangan Tuhan dan milik Tuhanlah semuanya. Daud berbicara tentang emas, perak, bahan bangunan, dan segala persiapan untuk Bait Suci. Walaupun manusia mengumpulkannya, Daud mengakui semuanya berasal dari Tuhan.
Ini penting bagi kehidupan gereja. Ketika ada pembangunan, pelayanan, pengumpulan dana, atau kegiatan besar, jangan sampai manusia menjadi sombong. Jangan sampai pelayanan Tuhan menjadi tempat mencari nama. Jangan sampai persembahan menjadi bahan persaingan. Jangan sampai rumah Tuhan dibangun dengan hati yang tidak damai. Semua milik Tuhan, maka semua harus dikelola dengan takut akan Tuhan.
Bagi W/KI yang sering terlibat dalam pelayanan gereja, ayat ini mengingatkan pentingnya ketulusan dan integritas. Jika mengelola dana, lakukan dengan jujur. Jika mengatur kegiatan, lakukan dengan rendah hati. Jika memberi tenaga, jangan mencari pujian. Jika bekerja di belakang layar, percayalah Tuhan melihat. Pelayanan untuk nama Tuhan harus dilakukan dengan hati yang memuliakan Tuhan.
Pada ayat 17, Daud berkata bahwa ia tahu Tuhan menguji hati dan berkenan kepada keikhlasan. Daud mempersembahkan semuanya dengan sukarela dan tulus hati, dan ia melihat umat memberi dengan sukacita. Ayat ini menekankan bahwa Tuhan melihat hati. Manusia melihat jumlah. Tuhan melihat ketulusan. Manusia melihat siapa yang tampil. Tuhan melihat motivasi.
Keikhlasan sangat penting dalam memberi dan melayani. Pemberian besar tetapi penuh kesombongan tidak menyenangkan Tuhan. Pelayanan yang tampak aktif tetapi dilakukan untuk mencari pujian tidak murni di hadapan Tuhan. Sebaliknya, tindakan kecil yang dilakukan dengan hati tulus sangat berharga di mata Tuhan.
Bagi W/KI, ini sangat relevan. Banyak pelayanan perempuan dilakukan tanpa panggung. Ada yang memasak, membersihkan, mengunjungi orang sakit, mendoakan keluarga, mengajar anak, menolong orang susah, dan bekerja diam-diam. Mungkin tidak semua dilihat manusia, tetapi Tuhan melihat hati yang tulus. Jangan lelah melakukan yang baik. Namun jagalah hati supaya pelayanan tidak berubah menjadi keluhan, persaingan, atau alat mencari pengakuan.
Pada ayat 18, Daud berdoa supaya Tuhan memelihara untuk selama-lamanya kecenderungan hati umat yang demikian dan tetap menujukan hati mereka kepada Tuhan. Daud tahu bahwa hati manusia mudah berubah. Hari ini seseorang dapat memberi dengan tulus, tetapi besok bisa menjadi sombong. Hari ini seseorang setia, tetapi besok bisa menjauh. Karena itu, Daud berdoa supaya Tuhan menjaga hati umat.
Ini adalah doa yang sangat penting. Masalah terbesar manusia bukan hanya soal berapa banyak yang dimiliki, tetapi ke mana hati melekat. Hati dapat melekat kepada Tuhan atau kepada harta. Hati dapat dipenuhi syukur atau iri hati. Hati dapat tulus atau penuh kepentingan diri. Karena itu, kita perlu berdoa agar Tuhan menjaga hati kita.
Bagi W/KI, banyak hal dapat mengalihkan hati: kekhawatiran keluarga, kesibukan kerja, keinginan dipuji, persaingan dalam pelayanan, iri hati melihat orang lain, atau kecemasan tentang masa depan. Firman ini mengajak kita berdoa, “Tuhan, jagalah hatiku. Jangan biarkan berkat membuat aku sombong. Jangan biarkan kekurangan membuat aku pahit. Jangan biarkan pelayanan membuat aku mencari nama. Arahkan hatiku kepada-Mu.”
Pada ayat 19, Daud berdoa untuk Salomo, anaknya, supaya Tuhan memberikan hati yang tulus untuk tetap berpegang pada perintah, peringatan, dan ketetapan Tuhan, serta melakukan semuanya dan mendirikan Bait Suci. Daud tidak hanya mempersiapkan bahan bangunan bagi Salomo. Ia juga mendoakan hati Salomo. Ini sangat penting. Pekerjaan besar tidak cukup dengan harta dan fasilitas. Pekerjaan Tuhan membutuhkan hati yang tulus dan taat.
Bagi keluarga masa kini, ayat ini sangat menegur. Banyak orang tua menyiapkan pendidikan, harta, rumah, dan masa depan ekonomi bagi anak-anak. Semua itu baik. Tetapi jangan lupa mendoakan hati mereka. Jangan hanya ingin anak sukses, tetapi doakan supaya mereka takut akan Tuhan. Jangan hanya bangga anak bekerja, tetapi doakan supaya mereka hidup jujur. Jangan hanya meninggalkan warisan materi, tetapi wariskan iman, doa, dan teladan.
Bagi W/KI sebagai ibu, oma, tante, atau ibu rohani, doa bagi generasi berikutnya sangat penting. Anak-anak membutuhkan hati yang tulus lebih daripada fasilitas yang banyak. Mereka membutuhkan firman lebih daripada hanya nasihat dunia. Mereka membutuhkan teladan iman lebih daripada sekadar warisan barang. Daud mengajarkan bahwa generasi berikutnya harus dipersiapkan melalui doa.
Penutup
Saudari-saudari W/KI GMIM yang dikasihi Tuhan, setelah merenungkan 1 Tawarikh 29:10–19, kita melihat bahwa tema “Kekayaan Dan Kemuliaan Berasal Dari Tuhan Allah” adalah pengakuan iman yang harus membentuk cara kita hidup, memberi, melayani, mengelola rumah tangga, dan memandang diri sendiri.
Daud, seorang raja besar, tidak berdiri di hadapan umat untuk meninggikan dirinya. Ia justru memuji Tuhan dan mengakui bahwa semua yang besar, mulia, kuat, indah, dan berharga berasal dari Tuhan.
Firman ini mengajak kita untuk berhenti melihat berkat sebagai milik mutlak. Semua adalah titipan. Uang, rumah, pekerjaan, anak-anak, keluarga, kesehatan, waktu, talenta, jabatan pelayanan, dan kesempatan hidup semuanya berasal dari Tuhan. Karena itu, pertanyaan penting bukan hanya, “Apa yang saya miliki?” tetapi, “Bagaimana saya memakai apa yang Tuhan percayakan?”
Sebagai W/KI, kita sering berada sangat dekat dengan pengelolaan berkat. Kita mengatur makanan, mengelola keuangan, mendampingi anak, merawat keluarga, bekerja, melayani, dan menolong banyak orang. Semua itu harus dilakukan dengan kesadaran bahwa kita adalah pengelola berkat Tuhan.
Ketika kita mengatur rumah tangga dengan bijaksana, itu pelayanan. Ketika kita memakai uang dengan jujur, itu kesaksian. Ketika kita memberi dengan tulus, itu ibadah. Ketika kita mendidik anak untuk bersyukur, itu warisan iman. Ketika kita melayani tanpa mencari pujian, itu kemuliaan bagi Tuhan.
Ada beberapa poin penting yang perlu kita pegang.
Pertama, Tuhan adalah sumber segala kekayaan dan kemuliaan. Jangan sombong atas apa yang dimiliki. Jika keluarga diberkati, bersyukurlah. Jika pekerjaan berhasil, kembalikan kemuliaan kepada Tuhan. Jika pelayanan berkembang, jangan mencari nama, tetapi muliakan Tuhan.
Kedua, semua yang kita miliki adalah titipan. Karena itu, gunakanlah dengan bertanggung jawab. Jangan boros hanya demi gengsi. Jangan memakai berkat untuk merendahkan orang lain. Jangan menjadikan harta sebagai ukuran nilai diri. Nilai hidup kita bukan ditentukan oleh barang yang dimiliki, tetapi oleh Tuhan yang mengasihi kita.
Ketiga, memberi adalah mengembalikan kepada Tuhan. Daud berkata bahwa dari tangan Tuhan sendirilah persembahan diberikan kembali kepada Tuhan. Maka, ketika kita memberi persembahan, membantu orang, mendukung pelayanan, atau berbagi kepada yang membutuhkan, lakukanlah dengan syukur, bukan dengan keluhan.
Keempat, Tuhan melihat hati. Jangan melayani hanya supaya dilihat orang. Jangan memberi supaya dipuji. Jangan bekerja di gereja untuk mencari pengaruh. Tuhan menguji hati dan berkenan kepada keikhlasan. Lebih baik pelayanan sederhana dengan hati tulus daripada pelayanan besar dengan hati yang mencari nama.
Kelima, hidup ini sementara. Daud berkata bahwa manusia seperti pendatang dan hari-harinya seperti bayang-bayang. Karena itu, jangan habiskan hidup hanya untuk mengejar hal yang akan ditinggalkan. Pakailah waktu untuk mengasihi, berdoa, mendidik, melayani, dan membangun hal-hal yang bernilai kekal.
Keenam, generasi berikutnya harus didoakan. Daud mendoakan Salomo supaya memiliki hati yang tulus dan taat. Demikian juga W/KI dipanggil mendoakan anak-anak, cucu-cucu, pemuda, dan generasi gereja. Jangan hanya menyiapkan harta bagi mereka. Siapkan iman. Jangan hanya bangga jika mereka berhasil secara dunia. Doakan supaya mereka hidup takut akan Tuhan.
Implikasi firman ini sangat nyata. Dalam keluarga, ajarkan anak-anak bahwa semua berasal dari Tuhan. Biasakan berdoa sebelum makan bukan hanya sebagai kebiasaan, tetapi sebagai pengakuan bahwa Tuhan memelihara. Ajarkan anak memakai uang dengan bijaksana. Ajarkan mereka memberi dan berbagi. Jangan membangun gaya hidup yang hanya mengejar penampilan, tetapi bangunlah hidup yang penuh syukur.
Dalam pekerjaan dan usaha, jalankan semuanya dengan jujur. Jangan mencari keuntungan melalui cara yang salah. Jangan menipu, jangan memanipulasi, jangan merugikan orang lain. Kekayaan yang diperoleh dengan cara yang tidak benar tidak memuliakan Tuhan. Lebih baik hidup sederhana tetapi benar daripada terlihat kaya tetapi hati jauh dari Tuhan.
Dalam pelayanan W/KI, melayanilah dengan tulus. Jangan biarkan pelayanan menjadi tempat persaingan, iri hati, atau pencarian nama. Jika dipercayakan memimpin, pimpinlah dengan rendah hati. Jika diberi tugas kecil, lakukanlah dengan setia. Jika tidak dilihat orang, percayalah Tuhan melihat. Jika orang tidak mengucapkan terima kasih, jangan berhenti berbuat baik, sebab Tuhan mengetahui hati yang tulus.
Dalam kehidupan sosial, pakailah berkat untuk menjadi berkat. Perhatikan orang sakit, janda, anak yatim, keluarga yang berkekurangan, dan mereka yang sedang berduka. Jika Tuhan memberi lebih, bukalah tangan. Jika Tuhan memberi waktu, kunjungilah. Jika Tuhan memberi hikmat, nasihatilah dengan kasih. Jika Tuhan memberi tenaga, pakailah untuk melayani.
Saudari-saudari, marilah kita memeriksa hati. Apakah berkat membuat kita semakin rendah hati atau semakin sombong? Apakah pelayanan membuat kita semakin mengasihi atau semakin ingin dihormati? Apakah harta membuat kita semakin bersyukur atau semakin takut kehilangan? Apakah kita mengajarkan anak-anak untuk mencari Tuhan atau hanya mengejar keberhasilan dunia?
Marilah kita belajar dari Daud. Ia memiliki banyak, tetapi tetap rendah hati. Ia memberi besar, tetapi tetap berkata bahwa semua berasal dari Tuhan. Ia mempersiapkan Salomo, tetapi tidak hanya dengan harta; ia mendoakan hati anaknya. Marilah juga belajar dari janda miskin. Ia memberi sedikit menurut ukuran manusia, tetapi besar di mata Tuhan karena hatinya tulus.
Akhirnya, kiranya pengakuan Daud menjadi pengakuan kita juga: kekayaan dan kemuliaan berasal dari Tuhan Allah. Kiranya setiap berkat membawa kita kepada syukur. Kiranya setiap keberhasilan membawa kita kepada kerendahan hati.
Kiranya setiap pelayanan dilakukan dengan tulus. Kiranya setiap keluarga belajar hidup sebagai pengelola berkat Tuhan. Dan kiranya seluruh hidup W/KI menjadi persembahan yang memuliakan nama Tuhan.
Amin.
Editor : Clavel Lukas