Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Bacaan dan Renungan untuk Umat Katolik, Hari Selasa 14 Juli 2026, Bacaan I Yesaya 7:1-9, Bacaan Injil Matius 11:20-24

Fandy Gerungan • Senin, 13 Juli 2026 | 14:00 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Pekan Biasa XV (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I Yesaya 7:1-9

Dalam zaman Ahas bin Yotam bin Uzia, raja Yehuda, maka Rezin, raja Aram, dengan Pekah bin Remalya, raja Israel, maju ke Yerusalem untuk berperang melawan kota itu, namun mereka tidak dapat mengalahkannya.

Lalu diberitahukanlah kepada keluarga Daud: "Aram telah berkemah di wilayah Efraim," maka hati Ahas dan hati rakyatnya gemetar ketakutan seperti pohon-pohon hutan bergoyang ditiup angin.

Berfirmanlah TUHAN kepada Yesaya: "Baiklah engkau keluar menemui Ahas, engkau dan Syear Yasyub, anakmu laki-laki, ke ujung saluran kolam atas, ke jalan raya pada Padang Tukang Penatu,

dan katakanlah kepadanya: Teguhkanlah hatimu dan tinggallah tenang, janganlah takut dan janganlah hatimu kecut karena kedua puntung kayu api yang berasap ini, yaitu kepanasan amarah Rezin dengan Aram dan anak Remalya.

Oleh karena Aram dan Efraim dengan anak Remalya telah merancang yang jahat atasmu, dengan berkata:

Marilah kita maju menyerang Yehuda dan menakut-nakutinya serta merebutnya, kemudian mengangkat anak Tabeel sebagai raja di tengah-tengahnya,

maka beginilah firman Tuhan ALLAH: Tidak akan sampai hal itu, dan tidak akan terjadi,

sebab Damsyik ialah ibu kota Aram, dan Rezin ialah kepala Damsyik. Dalam enam puluh lima tahun Efraim akan pecah, tidak menjadi bangsa lagi.

Dan Samaria ialah ibu kota Efraim, dan anak Remalya ialah kepala Samaria. Jika kamu tidak percaya, sungguh, kamu tidak teguh jaya."

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 48:2-3a.3b-4.5-6.7-8

Gunung-Nya yang kudus, yang menjulang permai, adalah kegirangan bagi seluruh bumi; gunung Sion itu, jauh di sebelah utara, kota Raja Besar.

Dalam puri-purinya Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai benteng.

Dalam puri-purinya Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai benteng.

Sebab lihat, raja-raja datang berkumpul, mereka bersama-sama berjalan maju;

demi mereka melihatnya, mereka tercengang-cengang, terkejut, lalu lari kebingungan.

Kegentaran menimpa mereka di sana; mereka kesakitan seperti perempuan yang hendak melahirkan.

Dengan angin timur Engkau memecahkan kapal-kapal Tarsis.

Seperti yang telah kita dengar, demikianlah juga kita lihat, di kota TUHAN semesta alam, di kota Allah kita; Allah menegakkannya untuk selama-lamanya. 

Bacaan Injil Matius 11:20-24

Lalu Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekalipun di situ Ia paling banyak melakukan mujizat-mujizat-Nya:

"Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung.

Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada tanggunganmu.

Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Karena jika di Sodom terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini.

Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan dari pada tanggunganmu."

Demikianlah Injil Tuhan

Renungan

Ada kalanya hidup terasa seperti berada di tengah badai. Masalah datang hampir bersamaan: pekerjaan yang tidak pasti, keluarga yang sedang menghadapi konflik, kesehatan yang menurun, atau masa depan yang tampak penuh tanda tanya. 

Ketika semua itu terjadi, rasa takut sering kali mengambil alih hati. Pikiran dipenuhi berbagai kemungkinan buruk, sehingga kita kehilangan ketenangan dan harapan.

Situasi seperti inilah yang dialami Raja Ahas dalam bacaan pertama. Ancaman dari musuh membuat seluruh bangsa diliputi kecemasan. Namun, di tengah suasana yang mencekam itu, Tuhan tidak membiarkan umat-Nya tenggelam dalam ketakutan. 

Ia mengutus nabi untuk mengingatkan bahwa keadaan tidak selalu seburuk yang dibayangkan manusia. Tuhan tetap memegang kendali atas sejarah, sekalipun mata manusia hanya melihat ancaman di depan.

Sering kali kita pun bersikap seperti Ahas. Ketika masalah datang, kita lebih cepat percaya pada rasa takut daripada percaya kepada penyelenggaraan Tuhan. 

Kita sibuk mencari jalan keluar dengan kekuatan sendiri, tetapi lupa membawa persoalan itu ke dalam doa. Akibatnya, hati menjadi semakin gelisah. 

Padahal, iman bukan berarti semua persoalan langsung hilang, melainkan keyakinan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita menghadapi semuanya sendirian.

Dalam Injil, Yesus menegur beberapa kota yang telah mengalami begitu banyak karya Allah, tetapi tidak membiarkan pengalaman itu mengubah hati mereka. Mereka menyaksikan banyak tanda kasih Tuhan, namun tetap hidup seperti sebelumnya. 

Teguran ini menjadi cermin bagi kita. Betapa sering kita juga telah menerima begitu banyak berkat: kesehatan, keluarga, kesempatan bekerja, sahabat yang mendukung, bahkan berkali-kali mengalami pertolongan Tuhan. 

Namun, setelah semuanya berlalu, kita kembali hidup tanpa perubahan yang berarti. Mukjizat terbesar bukanlah ketika persoalan kita selesai, melainkan ketika hati kita diubah. 

Tuhan tidak hanya ingin menyelesaikan masalah kita, tetapi juga membentuk pribadi yang semakin rendah hati, penuh kasih, dan semakin percaya kepada-Nya. Tanpa pertobatan, pengalaman akan kasih Tuhan hanya menjadi kenangan yang cepat terlupakan.

Sebagai orang Katolik, kita dipanggil untuk memiliki iman yang dewasa. Iman yang dewasa tidak diukur dari seberapa sedikit masalah yang kita hadapi, tetapi dari seberapa besar kepercayaan kita kepada Tuhan di tengah masalah. 

Orang yang percaya kepada Tuhan tidak berarti tidak pernah takut, tetapi ia memilih untuk tidak membiarkan ketakutan menguasai hidupnya.

Hari ini, Tuhan mengajak kita melakukan dua langkah sederhana. Pertama, berhenti membesarkan rasa takut dan mulai membesarkan kepercayaan kepada-Nya. 

Kedua, jangan biarkan setiap rahmat yang kita terima berlalu begitu saja. Jadikan setiap pengalaman akan kasih Tuhan sebagai dorongan untuk semakin bertobat dan semakin setia hidup menurut kehendak-Nya.

Semoga ketika badai kehidupan datang, kita tidak kehilangan harapan. Dan ketika Tuhan berkarya dalam hidup kita, semoga hati kita tidak tetap sama, tetapi semakin dibentuk menjadi hati yang penuh iman, syukur, dan kasih. 

Sebab orang yang sungguh percaya kepada Tuhan akan tetap berdiri teguh, sekalipun angin kehidupan bertiup sangat kencang.

Semoga renungan ini dapat membantu umat melihat bahwa iman bukan hanya tentang memohon pertolongan Tuhan, tetapi juga tentang membiarkan setiap karya-Nya mengubah hati dan cara hidup kita setiap hari. (*)

Editor : Fandy Gerungan
renungan katolik Renungan