Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Bacaan dan Renungan untuk Umat Katolik, Hari Rabu 15 juli 2026, Bacaan I Yesaya 10:5-7.13-16, Bacaan Injil Matius 11:25-27

Fandy Gerungan • Selasa, 14 Juli 2026 | 09:53 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Perayaan Wajib St. Bonaventura (Warna Liturgi Putih)

Bacaan I Yesaya 10:5-7.13-16

Celakalah Asyur, yang menjadi cambuk murka-Ku dan yang menjadi tongkat amarah-Ku!

Aku akan menyuruhnya terhadap bangsa yang murtad, dan Aku akan memerintahkannya melawan umat sasaran murka-Ku, untuk melakukan perampasan dan penjarahan, dan untuk menginjak-injak mereka seperti lumpur di jalan.

Tetapi dia sendiri tidak demikian maksudnya dan tidak demikian rancangan hatinya, melainkan niat hatinya ialah hendak memunahkan dan hendak melenyapkan tidak sedikit bangsa-bangsa.

Sebab ia telah berkata: "Dengan kekuatan tanganku aku telah melakukannya dan dengan kebijaksanaanku, sebab aku berakal budi; aku telah meniadakan batas-batas antara bangsa, dan telah merampok persediaan-persediaan mereka, dengan perkasa aku telah menurunkan orang-orang yang duduk di atas takhta.

Seperti kepada sarang burung, demikianlah tanganku telah menjangkau kepada kekayaan bangsa-bangsa, dan seperti orang meraup telur-telur yang ditinggalkan induknya, demikianlah aku telah meraup seluruh bumi, dan tidak seekorpun yang menggerakkan sayap, yang mengangakan paruh atau yang menciap-ciap."

Adakah kapak memegahkan diri terhadap orang yang memakainya, atau gergaji membesarkan diri terhadap orang yang mempergunakannya? seolah-olah gada menggerakkan orang yang mengangkatnya, dan seolah-olah tongkat mengangkat orangnya yang bukan kayu!

Sebab itu Tuhan, TUHAN semesta alam, akan membuat orang-orangnya yang tegap menjadi kurus kering, dan segala kekayaannya akan dibakar habis, dengan api yang menyala-nyala.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 94:5-6.7-8.9-10.14-15

Umat-Mu, ya TUHAN, mereka remukkan, dan milik-Mu sendiri mereka tindas;

janda dan orang asing mereka sembelih, dan anak-anak yatim mereka bunuh;

dan mereka berkata: "TUHAN tidak melihatnya, dan Allah Yakub tidak mengindahkannya."

Perhatikanlah, hai orang-orang bodoh di antara rakyat! Hai orang-orang bebal, bilakah kamu memakai akal budimu?

Dia yang menanamkan telinga, masakan tidak mendengar? Dia yang membentuk mata, masakan tidak memandang?

Dia yang menghajar bangsa-bangsa, masakan tidak akan menghukum? Dia yang mengajarkan pengetahuan kepada manusia?

Sebab TUHAN tidak akan membuang umat-Nya, dan milik-Nya sendiri tidak akan ditinggalkan-Nya;

sebab hukum akan kembali kepada keadilan, dan akan diikuti oleh semua orang yang tulus hati.

Bacaan Injil Matius 11:25-27

Pada waktu itu berkatalah Yesus: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil.

Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu.

Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i ada satu hal yang sering tanpa sadar menguasai hati manusia: keinginan untuk merasa paling hebat. Ketika berhasil, kita mulai berpikir bahwa semua itu terjadi semata-mata karena kerja keras, kepandaian, atau kemampuan diri sendiri. 

Perlahan-lahan rasa syukur berubah menjadi kesombongan, dan hati yang tadinya terbuka bagi Tuhan menjadi tertutup oleh rasa puas terhadap diri sendiri.

Bacaan pertama memperlihatkan bagaimana kekuasaan dapat membuat seseorang lupa diri. Apa yang semula hanya menjadi sarana di tangan Tuhan justru menganggap dirinya sebagai pusat segala sesuatu. 

Kesombongan membuatnya merasa tidak membutuhkan siapa pun, bahkan mengabaikan bahwa segala kemampuan dan kesempatan yang dimiliki berasal dari Allah. 

Pada akhirnya, kesombongan itu membawa kehancuran, sebab Tuhan tidak pernah membiarkan manusia menjadikan dirinya lebih besar daripada Sang Pencipta.

Sebaliknya, dalam Injil, Yesus memperlihatkan jalan yang sama sekali berbeda. Ia mengajak kita melihat bahwa kedekatan dengan Allah tidak ditentukan oleh seberapa banyak pengetahuan, jabatan, atau prestasi yang kita miliki. 

Yang terutama adalah hati yang sederhana, rendah hati, dan mau belajar. Orang yang merasa sudah tahu segalanya sering kali sulit mendengar suara Tuhan. Namun, mereka yang datang dengan kerendahan hati justru lebih mudah mengenali kehadiran-Nya dalam kehidupan sehari-hari.

Kerendahan hati bukan berarti merendahkan diri atau menganggap diri tidak berharga. Kerendahan hati adalah kesadaran bahwa semua yang kita miliki merupakan anugerah. 

Talenta, kecerdasan, kesehatan, pekerjaan, bahkan kesempatan untuk berbuat baik adalah pemberian Tuhan yang dipercayakan kepada kita untuk melayani, bukan untuk meninggikan diri.

Di zaman sekarang, godaan untuk menyombongkan diri semakin besar. Media sosial sering membuat orang berlomba-lomba menunjukkan pencapaian, kekayaan, atau popularitas. 

Tidak sedikit orang akhirnya mengukur nilai dirinya dari jumlah pengikut, pujian, atau pengakuan orang lain. Padahal, di hadapan Tuhan, yang paling berharga bukanlah penampilan luar, melainkan hati yang tulus dan mau mengandalkan-Nya.

Marilah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah keberhasilan membuatku semakin dekat dengan Tuhan atau justru semakin merasa tidak membutuhkan-Nya?. 

Apakah aku masih mudah bersyukur atas setiap berkat, atau diam-diam mulai menganggap semuanya adalah hasil usahaku sendiri?.

Semoga hari ini kita belajar menjadi pribadi yang rendah hati. Saat kita menyadari bahwa Tuhan adalah sumber segala yang baik, kita akan lebih mudah bersyukur, lebih ringan melayani sesama. 

Kita lebih terbuka menerima bimbingan-Nya. Hati yang rendah bukanlah hati yang lemah, melainkan hati yang cukup lapang untuk dipenuhi oleh kasih Allah.(*)

 

Editor : Fandy Gerungan
renungan katolik Renungan