Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Bacaan dan Renungan untuk Umat Katolik, Hari Sabtu 18 Juli 2026, Bacaan I Mikha 2:1-5, Bacaan Injil Matius 12:14-21

Fandy Gerungan • Rabu, 15 Juli 2026 | 14:30 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Pekan Biasa XV (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I Mikha 2:1-5

Celakalah orang-orang yang merancang kedurjanaan dan yang merencanakan kejahatan di tempat tidurnya; yang melakukannya di waktu fajar, sebab hal itu ada dalam kekuasaannya;

yang apabila menginginkan ladang-ladang, mereka merampasnya, dan rumah-rumah, mereka menyerobotnya; yang menindas orang dengan rumahnya, manusia dengan milik pusakanya!

Sebab itu beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya, Aku merancang malapetaka terhadap kaum ini, dan kamu tidak dapat menghindarkan lehermu dari padanya; kamu tidak dapat lagi berjalan angkuh, sebab waktu itu adalah waktu yang mencelakakan.

Pada hari itu orang akan melontarkan sindiran tentang kamu dan akan memperdengarkan suatu ratapan dan akan berkata: "Kita telah dihancurluluhkan! Bagian warisan bangsaku telah diukur dengan tali, dan tidak ada orang yang mengembalikannya, ladang-ladang kita dibagikan kepada orang-orang yang menawan kita."

Sebab itu tidak akan ada bagimu orang yang melontarkan tali dengan undian di dalam jemaah TUHAN.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Tuhan

Mazmur 10:1-2.3-4.7-8.14

Mengapa Engkau berdiri jauh-jauh, ya TUHAN, dan menyembunyikan diri-Mu dalam waktu-waktu kesesakan?

Karena congkak orang fasik giat memburu orang yang tertindas; mereka terjebak dalam tipu daya yang mereka rancangkan.

Karena orang fasik memuji-muji keinginan hatinya, dan orang yang loba mengutuki dan menista TUHAN.

Kata orang fasik itu dengan batang hidungnya ke atas: "Allah tidak akan menuntut! Tidak ada Allah!", itulah seluruh pikirannya.

Mulutnya penuh dengan sumpah serapah, dengan tipu dan penindasan; di lidahnya ada kelaliman dan kejahatan.

Ia duduk menghadang di gubuk-gubuk, di tempat yang tersembunyi ia membunuh orang yang tak bersalah. Matanya mengintip orang yang lemah;

Engkau memang melihatnya, sebab Engkaulah yang melihat kesusahan dan sakit hati, supaya Engkau mengambilnya ke dalam tangan-Mu sendiri. Kepada-Mulah orang lemah menyerahkan diri; untuk anak yatim Engkau menjadi penolong.

Bacaan Injil Matius 12:14-21

Lalu keluarlah orang-orang Farisi itu dan bersekongkol untuk membunuh Dia.

Tetapi Yesus mengetahui maksud mereka lalu menyingkir dari sana. Banyak orang mengikuti Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya.

Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia,

supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya:

"Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa.

Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan.

Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang.

Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i bacaan hari ini memperlihatkan dua wajah manusia yang sangat berbeda. Di satu sisi ada orang-orang yang menggunakan kekuasaan demi kepentingan diri sendiri. 

Mereka merancang cara untuk mengambil hak sesama, memanfaatkan kelemahan orang lain, dan menganggap bahwa selama mereka mampu melakukannya, semuanya sah. Akibatnya bukan hanya harta yang hilang, tetapi juga martabat manusia yang terluka. 

Tuhan tidak tinggal diam terhadap ketidakadilan seperti itu. Ia mengingatkan bahwa setiap tindakan yang lahir dari keserakahan pada akhirnya akan membawa konsekuensi.

Dalam Injil, kita melihat sikap yang sangat kontras pada diri Yesus. Saat menghadapi orang-orang yang ingin mencelakakan-Nya, Ia tidak membalas dengan kemarahan ataupun kekerasan. 

Sebaliknya, Ia tetap melanjutkan karya kasih-Nya dengan menyembuhkan mereka yang datang kepada-Nya. Ia tidak sibuk mempertahankan gengsi atau membuktikan diri lebih kuat daripada para penentang-Nya. 

Kekuatan-Nya justru tampak dalam kelembutan, kesabaran, dan belas kasih. Sering kali dunia mengajarkan bahwa orang yang kuat adalah mereka yang mampu menguasai, memenangkan perdebatan, atau membuat orang lain tunduk. 

Namun Yesus menunjukkan ukuran yang berbeda. Orang yang sungguh kuat adalah mereka yang mampu mengampuni, menolong, dan tetap berbuat baik bahkan ketika diperlakukan tidak adil. 

Kekuatan sejati bukanlah menghancurkan yang lemah, melainkan mengangkat mereka agar dapat kembali berdiri. Renungan ini juga mengajak kita melihat kehidupan sehari-hari. 

Barangkali kita tidak pernah merampas ladang atau rumah orang lain, tetapi kita bisa saja mengambil "hak" sesama dengan cara yang lebih halus. Kita mungkin mengambil nama baik seseorang melalui gosip. 

Mengambil kesempatan orang lain karena iri hati, atau memanfaatkan jabatan demi keuntungan pribadi. Keserakahan tidak selalu berbentuk harta; kadang ia muncul sebagai keinginan untuk selalu menang, selalu dihargai, atau selalu menjadi pusat perhatian.

Sebaliknya, Yesus mengundang kita menjadi pribadi yang menghadirkan harapan. Banyak orang di sekitar kita sedang rapuh: mereka yang sedang kecewa, kehilangan semangat, terluka oleh kata-kata, atau merasa gagal. 

Kehadiran kita seharusnya tidak menambah beban mereka, tetapi menjadi tanda kasih Allah yang memulihkan. Satu sapaan yang tulus, satu pengampunan, satu bantuan kecil, atau kesediaan mendengarkan dapat menjadi jalan Tuhan menyembuhkan hati seseorang.

Marilah kita memohon rahmat agar dijauhkan dari hati yang dikuasai keserakahan dan kesombongan. Semoga kita semakin menyerupai Kristus, yang menggunakan setiap kuasa dan kemampuan-Nya bukan untuk menguasai orang lain. 

Melainkan untuk menghadirkan kasih, keadilan, dan harapan bagi semua orang. Dengan demikian, hidup kita sungguh menjadi cerminan wajah Allah yang lembut sekaligus adil di tengah dunia. (*)

Editor : Fandy Gerungan
renungan katolik Renungan