Bacaan: Galatia 3:15–29
Tema: “Kamu Semua Adalah Satu Di Dalam Kristus Yesus”
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, salah satu persoalan besar dalam kehidupan manusia dari dahulu sampai sekarang adalah perpecahan. Manusia mudah sekali membangun tembok pemisah. Ada tembok suku, budaya, status sosial, pendidikan, ekonomi, jabatan, jenis kelamin, warna kulit, latar belakang keluarga, denominasi gereja, bahkan perbedaan cara berpikir dan cara beribadah.
Kadang manusia merasa lebih tinggi dari orang lain hanya karena ia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain. Ada yang merasa lebih rohani karena latar belakang pelayanan. Ada yang merasa lebih penting karena punya jabatan. Ada yang merasa lebih terhormat karena memiliki harta. Ada yang merasa lebih benar karena berasal dari kelompok tertentu.
Dalam kehidupan gereja pun, perpecahan bisa terjadi. Ada orang yang membedakan sesama berdasarkan keluarga mana, wilayah mana, tingkat pendidikan apa, pekerjaan apa, kemampuan ekonomi berapa, atau sudah lama melayani atau belum. Ada orang yang merasa lebih dekat dengan Tuhan karena tradisinya, kebiasaannya, atau kedudukannya dalam jemaat. Padahal firman Tuhan dengan jelas berkata bahwa di dalam Kristus Yesus, semua orang percaya adalah satu.
Tema kita hari ini berbunyi: “Kamu Semua Adalah Satu Di Dalam Kristus Yesus.” Tema ini bukan hanya kalimat indah untuk diucapkan dalam ibadah. Tema ini adalah dasar iman Kristen yang sangat penting.
Kesatuan orang percaya bukan dibangun di atas kesamaan suku, kesamaan status, kesamaan pendidikan, kesamaan ekonomi, atau kesamaan kepribadian. Kesatuan orang percaya dibangun di atas Kristus Yesus. Kita menjadi satu bukan karena kita sama dalam segala hal, tetapi karena kita sama-sama menerima anugerah Allah melalui iman kepada Kristus.
Dalam Galatia 3:15–29, Rasul Paulus menjelaskan bahwa keselamatan tidak diperoleh melalui hukum Taurat, melainkan melalui janji Allah yang digenapi di dalam Kristus. Paulus menegaskan bahwa semua orang yang percaya kepada Kristus adalah anak-anak Allah.
Mereka telah dibaptis dalam Kristus dan mengenakan Kristus. Karena itu, tidak ada lagi orang Yahudi atau Yunani, hamba atau orang merdeka, laki-laki atau perempuan dalam arti sebagai dasar untuk merasa lebih tinggi atau lebih rendah di hadapan Allah. Semua satu di dalam Kristus Yesus.
Ini sangat relevan dengan kehidupan sekarang. Dunia sering mengajarkan bahwa manusia bernilai karena prestasi, kekayaan, penampilan, kelompok, atau pengaruhnya. Tetapi Injil berkata bahwa nilai terdalam manusia ditemukan dalam Kristus. Dunia membangun kelas-kelas sosial, tetapi Kristus membentuk satu tubuh. Dunia menciptakan persaingan identitas, tetapi Kristus memberi identitas baru. Dunia memisahkan, tetapi Kristus menyatukan.
Karena itu, melalui khotbah ini kita diajak untuk memeriksa hati. Apakah kita sungguh melihat sesama orang percaya sebagai saudara di dalam Kristus? Apakah kita masih membeda-bedakan orang berdasarkan status, ekonomi, suku, pendidikan, gender, atau kedudukan? Apakah gereja kita menjadi tempat yang merangkul, atau justru tempat yang membuat orang merasa tidak layak? Apakah kita hidup sebagai satu tubuh Kristus, atau masih mempertahankan tembok-tembok lama yang telah diruntuhkan oleh Injil?
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Surat Galatia ditulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat-jemaat di wilayah Galatia. Jemaat ini sedang menghadapi persoalan serius. Setelah Paulus memberitakan Injil bahwa keselamatan adalah anugerah Allah melalui iman kepada Yesus Kristus, muncul kelompok tertentu yang mengajarkan bahwa orang percaya bukan Yahudi harus menaati hukum Taurat, termasuk sunat, supaya sungguh-sungguh menjadi bagian dari umat Allah. Mereka seolah-olah berkata bahwa iman kepada Kristus belum cukup. Orang harus menambahkan identitas dan praktik tertentu agar diterima sepenuhnya.
Paulus menentang ajaran ini dengan sangat tegas. Bagi Paulus, jika keselamatan masih bergantung pada hukum Taurat, maka salib Kristus kehilangan maknanya. Jika manusia dapat dibenarkan oleh perbuatan hukum, maka Kristus mati dengan sia-sia. Karena itu, Paulus menegaskan bahwa manusia dibenarkan oleh iman kepada Yesus Kristus, bukan karena melakukan hukum Taurat.
Dalam pasal 3, Paulus menjelaskan hubungan antara janji Allah kepada Abraham, hukum Taurat, dan iman kepada Kristus. Ia menunjukkan bahwa janji Allah kepada Abraham diberikan lebih dahulu daripada hukum Taurat.
Hukum Taurat diberikan kemudian, tetapi tidak membatalkan janji Allah. Janji itu menemukan penggenapannya di dalam Kristus. Karena itu, orang yang percaya kepada Kristus menjadi keturunan Abraham dan ahli waris menurut janji Allah.
Ini penting, karena dalam konteks Galatia, ada perdebatan tentang siapa yang benar-benar termasuk umat Allah. Apakah hanya orang Yahudi? Apakah orang bukan Yahudi harus menjadi seperti Yahudi terlebih dahulu? Apakah orang harus mengikuti tanda lahiriah tertentu supaya diterima? Paulus menjawab: di dalam Kristus, semua orang yang percaya menjadi anak-anak Allah. Dasar penerimaan bukan latar belakang etnis, bukan status sosial, bukan hukum Taurat, tetapi iman kepada Kristus.
Tema “Kamu Semua Adalah Satu Di Dalam Kristus Yesus” memiliki makna yang sangat dalam. Pertama, tema ini menegaskan bahwa Kristus adalah dasar kesatuan gereja. Kesatuan bukan dibangun oleh kesamaan manusia, melainkan oleh karya Kristus.
Kedua, tema ini menegaskan bahwa semua orang percaya memiliki martabat yang sama di hadapan Allah. Tidak ada yang lebih tinggi karena suku, status, gender, kekayaan, atau jabatan. Ketiga, tema ini menegaskan bahwa iman kepada Kristus memberi identitas baru.
Identitas lama tidak dihapus dalam arti kita kehilangan keunikan, tetapi identitas lama tidak boleh lagi menjadi dasar kesombongan, permusuhan, atau diskriminasi. Keempat, tema ini memanggil gereja untuk hidup sebagai keluarga Allah yang saling menerima, saling menopang, dan saling membangun.
Dalam kehidupan gereja masa kini, pesan ini sangat penting. Gereja harus berhati-hati agar tidak menjadi tempat yang hanya nyaman bagi kelompok tertentu.
Gereja bukan milik orang kaya saja, bukan milik orang berpendidikan saja, bukan milik orang yang punya jabatan saja, bukan milik satu suku saja, bukan milik laki-laki saja, bukan milik perempuan saja, bukan milik generasi tua saja, dan bukan milik generasi muda saja. Gereja adalah tubuh Kristus, tempat semua orang percaya dipersatukan oleh kasih karunia.
Pembahasan Ayat demi Ayat
Pada ayat 15, Paulus berkata, “Saudara-saudara, baiklah kupergunakan suatu contoh dari hidup sehari-hari. Suatu wasiat yang telah disahkan, sekalipun ia dari manusia, tidak dapat dibatalkan atau ditambahi oleh seorang pun.”
Paulus memakai contoh yang sederhana dari kehidupan manusia, yaitu sebuah perjanjian atau wasiat yang sudah disahkan. Jika suatu perjanjian manusia saja dihormati dan tidak boleh diubah sembarangan, apalagi janji Allah yang jauh lebih kuat dan pasti.
Paulus ingin menunjukkan bahwa janji Allah kepada Abraham tidak dapat dibatalkan oleh hukum Taurat yang datang kemudian. Allah telah berjanji. Janji Allah tidak berubah karena keadaan manusia. Janji Allah tidak bergantung pada kekuatan manusia. Janji Allah berdiri di atas kesetiaan Allah sendiri.
Bagi kita, ayat ini mengajarkan bahwa dasar iman Kristen adalah janji Allah, bukan prestasi manusia. Kita diselamatkan karena Allah setia kepada janji-Nya, bukan karena kita cukup kuat untuk menyelamatkan diri. Ini memberi penghiburan besar. Hidup iman kita tidak berdiri di atas kesempurnaan diri, melainkan di atas kesetiaan Allah di dalam Kristus.
Pada ayat 16, Paulus berkata bahwa kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya. Paulus menekankan bahwa kata “keturunan” menunjuk kepada satu pribadi, yaitu Kristus. Dengan demikian, janji Allah kepada Abraham mencapai penggenapan tertinggi dalam Yesus Kristus. Kristus adalah keturunan Abraham yang sejati, melalui siapa berkat Allah mengalir kepada segala bangsa.
Ini sangat penting secara teologis. Sejak awal, Allah memanggil Abraham bukan hanya untuk memberkati satu keluarga atau satu bangsa secara tertutup, tetapi supaya melalui keturunannya semua bangsa mendapat berkat. Janji itu digenapi di dalam Kristus. Di dalam Kristus, berkat Abraham tidak lagi terbatas pada garis keturunan jasmani, tetapi terbuka bagi semua orang yang percaya.
Dalam konteks tema, ayat ini menunjukkan bahwa kesatuan kita di dalam Kristus bukan ide manusia, melainkan bagian dari rencana Allah sejak dahulu. Allah memang menghendaki agar melalui Kristus, bangsa-bangsa menerima berkat. Jadi gereja yang satu di dalam Kristus adalah hasil dari janji Allah yang digenapi.
Pada ayat 17, Paulus berkata bahwa hukum Taurat yang datang empat ratus tiga puluh tahun kemudian tidak dapat membatalkan perjanjian yang telah disahkan Allah sebelumnya, sehingga janji itu hilang kekuatannya. Maksud Paulus jelas: janji Allah kepada Abraham lebih dahulu daripada hukum Taurat. Karena itu, hukum Taurat tidak dapat membatalkan janji tersebut.
Paulus bukan sedang merendahkan hukum Taurat seolah-olah hukum itu tidak penting. Yang ia tegaskan adalah bahwa hukum Taurat bukan dasar keselamatan. Hukum Taurat memiliki tempatnya sendiri, tetapi tidak pernah dimaksudkan untuk menggantikan janji Allah. Keselamatan tetap berdasarkan janji dan anugerah Allah.
Dalam kehidupan sekarang, manusia sering tergoda mengganti anugerah dengan ukuran-ukuran lahiriah. Orang merasa lebih diterima Tuhan karena lebih aktif, lebih rajin, lebih lama melayani, lebih banyak memberi, atau lebih mengenal aturan gereja. Tentu pelayanan, ketaatan, dan kedisiplinan rohani penting. Tetapi semuanya bukan dasar keselamatan. Dasar keselamatan adalah Kristus. Jika kita lupa hal ini, kita akan mudah menjadi sombong secara rohani dan memandang rendah orang lain.
Pada ayat 18, Paulus berkata bahwa jika warisan berasal dari hukum Taurat, maka bukan lagi berasal dari janji. Tetapi Allah telah menganugerahkan warisan itu kepada Abraham berdasarkan janji. Kata “menganugerahkan” sangat penting. Warisan keselamatan adalah pemberian Allah, bukan hasil usaha manusia.
Ini menegaskan bahwa iman Kristen adalah iman yang berdiri di atas anugerah. Kita tidak membeli kasih Allah dengan perbuatan baik. Kita tidak memaksa Allah menerima kita karena kita punya jasa. Kita menerima warisan karena Allah berjanji dan Allah setia. Di dalam Kristus, orang percaya menerima bagian dalam janji Allah.
Bagi gereja masa kini, ayat ini mengajarkan kerendahan hati. Jika keselamatan adalah anugerah, maka tidak ada orang percaya yang boleh merasa lebih tinggi. Kita semua diselamatkan karena belas kasihan Allah. Orang yang sudah lama percaya tidak boleh merendahkan yang baru percaya. Orang yang aktif melayani tidak boleh menghina yang sedang bertumbuh. Orang yang memiliki pengetahuan Alkitab lebih banyak tidak boleh menjadi sombong. Semua berdiri karena anugerah.
Pada ayat 19, Paulus bertanya, “Kalau demikian, apakah maksudnya hukum Taurat?” Ia menjawab bahwa hukum Taurat ditambahkan oleh karena pelanggaran-pelanggaran, sampai datang keturunan yang dimaksud oleh janji itu.
Hukum Taurat diberikan untuk menunjukkan dosa, menata kehidupan umat, dan menolong manusia menyadari kebutuhan mereka akan Kristus. Hukum Taurat membukakan kenyataan bahwa manusia berdosa dan tidak mampu membenarkan diri sendiri.
Hukum Taurat seperti cermin. Cermin dapat menunjukkan kotoran di wajah, tetapi cermin tidak dapat membersihkan wajah. Hukum Taurat menunjukkan dosa, tetapi tidak memberi kuasa untuk menyelamatkan. Karena itu, manusia perlu Kristus. Kristuslah yang menggenapi janji Allah dan membawa keselamatan.
Dalam kondisi sekarang, firman ini menolong kita memahami fungsi aturan. Aturan gereja, disiplin, tata ibadah, dan norma kehidupan penting untuk menata kehidupan bersama. Tetapi aturan tidak boleh menjadi pengganti Kristus. Aturan harus menuntun kita hidup dalam kebenaran, bukan menjadi alat untuk menghakimi dan merendahkan sesama.
Pada ayat 20, Paulus berkata bahwa seorang pengantara bukan hanya mewakili satu orang, sedangkan Allah adalah satu. Ayat ini cukup sulit, tetapi intinya Paulus sedang membandingkan hukum Taurat yang diberikan melalui perantaraan dengan janji Allah yang langsung berasal dari Allah sendiri. Allah yang satu setia kepada janji-Nya. Janji Allah tidak bergantung pada banyak pihak yang dapat berubah, melainkan pada kesetiaan Allah sendiri.
Ini menguatkan iman kita. Keselamatan kita tidak tergantung pada sistem manusia yang rapuh, tetapi pada Allah yang setia. Manusia dapat berubah. Kelompok dapat berubah. Tradisi dapat berubah. Tetapi Allah setia. Kristus adalah penggenapan janji Allah yang pasti.
Dalam kehidupan gereja, ini mengajak kita menempatkan kepercayaan utama bukan pada manusia, bukan pada pemimpin, bukan pada lembaga, tetapi pada Tuhan. Pemimpin gereja penting, aturan penting, tradisi penting, tetapi semuanya harus tunduk kepada Kristus. Kesatuan gereja hanya kuat jika berpusat pada Kristus, bukan pada kepentingan manusia.
Pada ayat 21, Paulus bertanya apakah hukum Taurat bertentangan dengan janji-janji Allah. Ia menjawab, “Sekali-kali tidak.” Jika hukum Taurat dapat memberi hidup, maka kebenaran memang berasal dari hukum Taurat. Tetapi kenyataannya hukum Taurat tidak dapat memberi hidup. Hukum Taurat tidak bertentangan dengan janji, tetapi juga tidak dapat menggantikan janji.
Ini berarti hukum Taurat memiliki fungsi, tetapi terbatas. Ia menunjukkan dosa, tetapi tidak menyelamatkan. Ia menuntut ketaatan, tetapi tidak memberi hidup baru. Hidup baru datang melalui Kristus. Karena itu, orang percaya tidak hidup tanpa arah, tetapi juga tidak bergantung pada hukum sebagai dasar keselamatan. Kita taat bukan supaya diselamatkan, tetapi karena kita telah diselamatkan di dalam Kristus.
Bagi kita, ini penting agar tidak jatuh pada dua kesalahan. Kesalahan pertama adalah legalisme, yaitu merasa benar karena aturan dan perbuatan. Kesalahan kedua adalah hidup sembarangan, seolah-olah karena anugerah maka ketaatan tidak penting. Injil menolak keduanya. Kita diselamatkan oleh anugerah, lalu dipanggil hidup dalam ketaatan sebagai buah iman.
Pada ayat 22, Paulus berkata bahwa Kitab Suci telah mengurung segala sesuatu di bawah kekuasaan dosa, supaya oleh karena iman dalam Yesus Kristus janji itu diberikan kepada mereka yang percaya. Ayat ini menegaskan keadaan manusia: semua berada di bawah dosa. Tidak ada kelompok manusia yang dapat mengklaim dirinya lebih suci secara asal-usul. Baik Yahudi maupun bukan Yahudi, baik orang beragama maupun tidak, semua membutuhkan keselamatan.
Ini menjadi dasar kesatuan di dalam Kristus. Kita semua sama-sama membutuhkan anugerah. Tidak ada orang yang masuk kepada Allah karena keunggulan dirinya. Semua datang sebagai orang berdosa yang diselamatkan oleh kasih karunia. Karena itu, kesombongan rohani tidak punya tempat dalam gereja.
Dalam kondisi sekarang, ayat ini menegur kita yang suka membandingkan dosa. Kita mudah melihat kesalahan orang lain lebih besar daripada kesalahan sendiri. Kita mudah merasa lebih baik karena tidak melakukan dosa tertentu.
Tetapi firman berkata bahwa semua berada di bawah dosa dan hanya iman kepada Kristus yang membawa kita kepada janji Allah. Ini seharusnya membuat kita rendah hati dan penuh belas kasihan.
Pada ayat 23, Paulus berkata bahwa sebelum iman itu datang, kita berada di bawah pengawalan hukum Taurat dan dikurung sampai iman itu dinyatakan. Paulus menggambarkan hukum Taurat seperti pengawal yang menjaga sementara sampai waktu Kristus datang. Sebelum penggenapan dalam Kristus, hukum Taurat menjaga dan membatasi umat.
Ini menunjukkan bahwa sejarah keselamatan memiliki tahap. Hukum Taurat memiliki peran sementara dalam rencana Allah. Tetapi ketika Kristus datang, pusat kehidupan umat Allah tidak lagi berada pada hukum sebagai pengawal, melainkan pada iman kepada Kristus. Kristus membawa umat masuk ke dalam kedewasaan iman.
Bagi gereja, ini mengingatkan bahwa iman Kristen bukan sekadar hidup di bawah ketakutan terhadap aturan, tetapi hidup sebagai anak-anak Allah yang mengenal Kristus. Orang percaya tidak boleh hanya taat karena takut dihukum. Kita dipanggil taat karena mengasihi Tuhan dan telah menerima identitas baru di dalam Kristus.
Pada ayat 24, Paulus berkata bahwa hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman. Kata “penuntun” menggambarkan seorang penjaga atau pendidik anak pada zaman kuno yang bertugas mengantar dan mengawasi anak sampai waktu dewasa. Hukum Taurat berfungsi menuntun manusia kepada Kristus.
Ini berarti hukum Taurat bukan tujuan akhir. Tujuannya adalah Kristus. Jika seseorang berhenti pada aturan tetapi tidak datang kepada Kristus, ia kehilangan arah. Semua ajaran, disiplin, dan tata hidup harus membawa manusia kepada Kristus, bukan hanya kepada kebanggaan moral.
Dalam kehidupan gereja, pelayanan, pendidikan iman, dan aturan persekutuan harus menuntun orang kepada Kristus. Jangan sampai gereja hanya menghasilkan orang yang tahu aturan, tetapi tidak mengenal kasih Kristus. Jangan sampai keluarga hanya mengajar anak takut pada hukuman, tetapi tidak mengenal Injil. Tujuan semua pengajaran iman adalah membawa orang kepada Kristus.
Pada ayat 25, Paulus berkata bahwa setelah iman itu datang, kita tidak lagi berada di bawah pengawasan penuntun. Artinya, setelah Kristus datang, orang percaya tidak lagi berada di bawah hukum Taurat sebagai sistem penjaga yang menentukan status mereka di hadapan Allah. Kita telah masuk ke dalam hidup baru melalui iman kepada Kristus.
Ini bukan berarti orang percaya bebas hidup sembarangan. Sebaliknya, hidup di dalam Kristus membawa kebebasan yang bertanggung jawab. Kita tidak lagi diperbudak oleh usaha membenarkan diri, tetapi dibebaskan untuk hidup dalam kasih. Kita tidak lagi taat karena ingin membeli keselamatan, tetapi karena telah menerima keselamatan.
Bagi kita masa kini, ayat ini memberi kelegaan. Kita tidak perlu hidup dalam ketakutan bahwa Allah hanya menerima kita jika kita sempurna. Kita diterima di dalam Kristus. Namun penerimaan itu bukan alasan untuk malas bertumbuh. Justru karena kita diterima, kita dipanggil hidup semakin serupa dengan Kristus.
Pada ayat 26, Paulus berkata, “Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus.” Ini adalah pernyataan yang sangat kuat. Semua orang percaya, tanpa memandang latar belakang, adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Kristus. Identitas tertinggi orang percaya adalah anak Allah.
Menjadi anak Allah berarti diterima, dikasihi, dipelihara, dan menjadi bagian dari keluarga Allah. Ini bukan hasil usaha manusia. Ini anugerah yang diterima melalui iman kepada Kristus. Karena itu, tidak ada orang percaya kelas dua di dalam keluarga Allah. Semua yang percaya kepada Kristus memiliki martabat sebagai anak-anak Allah.
Ini sangat relevan dalam gereja. Jangan membuat orang merasa tidak layak hanya karena latar belakang sosialnya. Jangan menganggap seseorang kurang penting karena ia miskin, sederhana, tidak berpendidikan tinggi, atau baru bertobat. Jika ia percaya kepada Kristus, ia adalah anak Allah. Gereja harus memperlakukan sesama sesuai identitas itu.
Pada ayat 27, Paulus berkata bahwa semua yang dibaptis dalam Kristus telah mengenakan Kristus. Baptisan adalah tanda bahwa seseorang dipersatukan dengan Kristus. Mengenakan Kristus berarti hidup kita ditandai oleh Kristus, identitas kita berada di dalam Kristus, dan cara hidup kita harus mencerminkan Kristus.
Gambaran mengenakan Kristus seperti memakai pakaian baru. Di dalam Kristus, kita tidak lagi memakai identitas lama sebagai dasar kesombongan atau rasa rendah diri. Kita mengenakan Kristus. Artinya, yang paling menentukan siapa kita bukan lagi status sosial, latar belakang, masa lalu, atau pandangan manusia, melainkan Kristus.
Dalam kehidupan sehari-hari, ini berarti orang percaya harus memperlihatkan Kristus dalam sikap, perkataan, dan tindakan. Jika kita mengenakan Kristus, kita tidak boleh mengenakan kebencian. Jika kita mengenakan Kristus, kita tidak boleh hidup dalam kesombongan. Jika kita mengenakan Kristus, kita tidak boleh memandang rendah sesama. Identitas di dalam Kristus harus terlihat dalam cara kita memperlakukan orang lain.
Pada ayat 28, Paulus berkata, “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” Inilah pusat tema khotbah.
Paulus menyebut tiga pemisahan besar pada zamannya: etnis atau agama, status sosial, dan gender. Yahudi dan Yunani menunjuk perbedaan etnis dan budaya. Hamba dan orang merdeka menunjuk perbedaan status sosial. Laki-laki dan perempuan menunjuk perbedaan jenis kelamin dan peran sosial.
Paulus tidak bermaksud mengatakan bahwa semua perbedaan manusia hilang secara biologis, sosial, atau budaya. Orang Yahudi tetap Yahudi, orang Yunani tetap Yunani, laki-laki tetap laki-laki, perempuan tetap perempuan, pekerja tetap pekerja, pemimpin tetap pemimpin. Yang Paulus maksudkan adalah bahwa perbedaan itu tidak boleh lagi menjadi dasar untuk merasa lebih tinggi atau lebih rendah di hadapan Allah. Di dalam Kristus, semua memiliki martabat yang sama sebagai anak-anak Allah.
Ini adalah pesan yang sangat kuat. Di dalam Kristus, tidak boleh ada diskriminasi. Tidak boleh ada kesombongan etnis. Tidak boleh ada penghinaan terhadap orang miskin. Tidak boleh ada pelecehan terhadap perempuan. Tidak boleh ada perendahan terhadap pekerja. Tidak boleh ada sikap merasa lebih dekat kepada Allah karena status manusiawi.
Dalam konteks sekarang, ayat ini menegur gereja agar tidak membangun kelas-kelas sosial. Jangan ada orang kaya lebih dihormati daripada orang miskin. Jangan ada orang berpendidikan tinggi dianggap lebih bernilai daripada yang sederhana.
Jangan ada laki-laki merasa lebih mulia daripada perempuan. Jangan ada kelompok tertentu merasa gereja hanya milik mereka. Kristus telah menyatukan semua orang percaya. Kesatuan ini harus nyata dalam kehidupan jemaat.
Pada ayat 29, Paulus berkata, “Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.” Ayat ini menutup bagian ini dengan pengakuan bahwa semua yang menjadi milik Kristus adalah keturunan Abraham dan ahli waris janji Allah. Ini berarti orang percaya dari segala bangsa menerima bagian dalam janji Allah melalui Kristus.
Identitas umat Allah tidak lagi ditentukan oleh garis keturunan jasmani, tetapi oleh iman kepada Kristus. Semua orang yang menjadi milik Kristus masuk dalam keluarga perjanjian. Ini adalah kabar baik bagi bangsa-bangsa. Di dalam Kristus, janji Allah kepada Abraham digenapi dan diperluas kepada semua orang percaya.
Bagi kita, ayat ini memberi kepastian. Jika kita milik Kristus, kita adalah ahli waris janji Allah. Hidup kita tidak ditentukan oleh penilaian manusia. Masa depan kita tidak ditentukan oleh status sosial. Identitas kita tidak ditentukan oleh masa lalu. Kita milik Kristus. Dan karena kita milik Kristus, kita dipanggil hidup sebagai satu keluarga Allah.
Penutup
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, setelah merenungkan Galatia 3:15–29, kita melihat bahwa tema “Kamu Semua Adalah Satu Di Dalam Kristus Yesus” adalah berita Injil yang sangat kuat dan sangat dibutuhkan oleh gereja masa kini. Paulus menegaskan bahwa janji Allah kepada Abraham digenapi di dalam Kristus.
Hukum Taurat memiliki fungsi untuk menunjukkan dosa dan menuntun manusia kepada Kristus, tetapi keselamatan tidak berasal dari hukum. Keselamatan adalah anugerah Allah yang diterima melalui iman kepada Yesus Kristus.
Karena itu, semua orang percaya adalah anak-anak Allah. Semua yang dibaptis dalam Kristus telah mengenakan Kristus. Dan di dalam Kristus, tembok-tembok pemisah yang dahulu membuat manusia merasa lebih tinggi atau lebih rendah tidak boleh lagi menguasai kehidupan jemaat. Tidak ada orang Yahudi atau Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.
Kita perlu memahami bahwa kesatuan di dalam Kristus bukan berarti semua perbedaan hilang. Tuhan menciptakan manusia dengan beragam latar belakang, keunikan, budaya, talenta, pengalaman, dan panggilan. Kesatuan bukan keseragaman.
Kesatuan di dalam Kristus berarti semua perbedaan itu tidak boleh menjadi alasan untuk saling merendahkan, memisahkan, mendiskriminasi, atau merasa lebih mulia. Kristus menjadi identitas tertinggi kita. Sebelum kita dikenal sebagai orang dari suku tertentu, status tertentu, keluarga tertentu, atau kelompok tertentu, kita adalah milik Kristus.
Ada beberapa poin penting yang perlu kita pegang dari firman ini.
Pertama, keselamatan adalah anugerah, bukan hasil kesombongan manusia. Kita dibenarkan karena iman kepada Kristus, bukan karena kehebatan moral, status, suku, tradisi, atau kedudukan. Karena itu, jangan sombong secara rohani. Jangan merasa lebih layak daripada orang lain. Semua kita diselamatkan karena kasih karunia.
Kedua, Kristus adalah pusat janji Allah. Janji kepada Abraham digenapi di dalam Kristus. Karena itu, hidup iman kita harus berpusat pada Kristus, bukan pada kebanggaan kelompok, kebiasaan lahiriah, atau aturan manusia.
Ketiga, semua orang percaya adalah anak-anak Allah. Ini memberi martabat yang sama kepada setiap orang percaya. Orang kaya dan miskin, berpendidikan tinggi dan sederhana, laki-laki dan perempuan, tua dan muda, semua yang percaya kepada Kristus adalah anak-anak Allah.
Keempat, baptisan dan iman menyatakan identitas baru di dalam Kristus. Kita telah mengenakan Kristus. Karena itu, cara hidup kita harus mencerminkan Kristus: penuh kasih, rendah hati, adil, menerima, dan tidak membeda-bedakan.
Kelima, gereja harus menjadi ruang kesatuan, bukan tempat memperkuat perpecahan. Gereja tidak boleh menjadi tempat orang merasa dikucilkan karena status ekonomi, latar belakang keluarga, masa lalu, gender, atau usia. Gereja harus menjadi rumah bagi semua orang yang datang kepada Kristus.
Keenam, kesatuan di dalam Kristus harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Tidak cukup berkata bahwa kita satu di dalam Kristus jika masih saling merendahkan, saling mencurigai, saling membentuk kelompok, dan saling menolak. Kesatuan harus tampak dalam cara kita berbicara, melayani, mengambil keputusan, menolong, dan memperlakukan sesama.
Implikasi firman ini sangat nyata. Dalam keluarga, jangan membeda-bedakan anak berdasarkan kemampuan, jenis kelamin, atau keberhasilan. Semua anak perlu diterima, didoakan, dan diarahkan kepada Kristus. Dalam jemaat, jangan hanya menghormati orang yang punya jabatan atau uang. Hormatilah setiap orang sebagai saudara di dalam Kristus.
Dalam pelayanan, berilah ruang bagi yang muda dan yang tua, laki-laki dan perempuan, orang lama dan orang baru, untuk bertumbuh bersama. Dalam masyarakat, lawanlah sikap diskriminatif, kebencian, dan penghinaan terhadap kelompok lain. Orang Kristen dipanggil menjadi pembawa damai karena kita telah dipersatukan di dalam Kristus.
Saudara-saudara, marilah kita memeriksa hati. Apakah masih ada kesombongan dalam diri kita karena suku, keluarga, pendidikan, jabatan, harta, atau pelayanan? Apakah kita masih memandang rendah orang lain karena mereka berbeda dari kita?
Apakah kita membuat gereja menjadi rumah yang ramah bagi semua orang, atau hanya nyaman bagi kelompok kita sendiri? Apakah kita sungguh hidup sebagai orang yang mengenakan Kristus?
Firman Tuhan hari ini memanggil kita untuk bertobat dari sikap membeda-bedakan. Jika ada tembok dalam hati kita, mintalah Kristus meruntuhkannya. Jika ada kesombongan rohani, mintalah Tuhan melembutkan hati kita. Jika ada luka karena pernah direndahkan, bawalah kepada Kristus yang memulihkan martabat kita sebagai anak Allah. Jika ada perpecahan dalam keluarga atau jemaat, jadilah pembawa damai.
Marilah kita belajar dari peristiwa Pentakosta, ketika orang dari berbagai bangsa mendengar Injil dan dipersatukan oleh karya Roh Kudus. Marilah belajar dari Petrus dan Kornelius, ketika Tuhan menunjukkan bahwa Injil menembus batas-batas manusia. Allah tidak membedakan orang yang datang kepada-Nya dalam iman. Maka kita pun tidak boleh membeda-bedakan sesama yang telah diterima Allah di dalam Kristus.
Akhirnya, kiranya tema ini menjadi pengakuan dan gaya hidup kita: “Kamu Semua Adalah Satu Di Dalam Kristus Yesus.” Kiranya gereja kita menjadi tempat orang menemukan kasih, bukan penghakiman; penerimaan, bukan penolakan; kesatuan, bukan perpecahan. Kiranya keluarga kita belajar menghargai setiap pribadi sebagai ciptaan Tuhan.
Kiranya pelayanan kita tidak dibangun di atas persaingan, tetapi di atas kasih Kristus. Dan kiranya melalui hidup kita, dunia melihat bahwa Kristus sungguh telah meruntuhkan tembok-tembok pemisah dan menjadikan kita satu keluarga Allah.
Amin.
Editor : Clavel Lukas