Bacaan: Galatia 3:15–29
Tema: “Kamu Semua Adalah Satu Di Dalam Kristus Yesus”
Saudara-saudara P/KB yang dikasihi dan diberkati Tuhan, dalam kehidupan sehari-hari seorang laki-laki sering hidup di tengah banyak tanggung jawab dan banyak relasi. Ada tanggung jawab sebagai suami, ayah, opa, pekerja, pemimpin, pelayan gereja, anggota masyarakat, dan bagian dari persekutuan kaum bapak. Dalam semua peran itu, kita selalu berhubungan dengan orang lain: istri, anak-anak, cucu, saudara, rekan kerja, bawahan, atasan, sesama pelayan, dan masyarakat sekitar.
Namun dalam hubungan dengan orang lain, manusia sering mudah membuat perbedaan yang akhirnya menjadi tembok pemisah. Ada orang yang merasa lebih tinggi karena memiliki jabatan. Ada yang merasa lebih kuat karena punya uang. Ada yang merasa lebih dihormati karena lebih tua.
Ada yang merasa lebih benar karena lebih lama melayani. Ada yang merasa lebih berharga karena berasal dari keluarga tertentu, suku tertentu, tingkat pendidikan tertentu, atau memiliki pengalaman tertentu. Sebaliknya, ada juga orang yang merasa rendah diri karena hidupnya sederhana, pekerjaannya biasa, pendidikannya terbatas, atau masa lalunya tidak baik.
Dalam kehidupan kaum bapak, hal seperti ini juga dapat terjadi. Kadang laki-laki menilai sesama dari pekerjaan, penghasilan, kendaraan, rumah, status, atau pengaruh. Kadang dalam persekutuan, orang yang punya jabatan lebih didengar daripada yang sederhana.
Baca Juga: Renungan Galatia 3:15–29, Kamu Semua Adalah Satu Di Dalam Kristus Yesus
Baca Juga: Materi Khotbah Galatia 3:15–29, Kamu Semua Adalah Satu Di Dalam Kristus Yesus
Orang yang punya kemampuan bicara lebih menonjol daripada yang pendiam. Orang yang punya ekonomi baik lebih mudah dihormati daripada yang hidup pas-pasan. Bahkan dalam keluarga, seorang ayah bisa lebih menghargai anak yang berhasil dan kurang sabar terhadap anak yang lemah atau berbeda.
Firman Tuhan hari ini melalui Galatia 3:15–29 mengajak kita kembali kepada dasar iman yang sangat penting: “Kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” Kesatuan ini bukan berarti semua orang menjadi sama dalam pekerjaan, sifat, usia, latar belakang, kemampuan, dan peran.
Kesatuan di dalam Kristus bukan berarti tidak ada perbedaan sama sekali. Kesatuan di dalam Kristus berarti bahwa semua perbedaan manusia tidak boleh menjadi alasan untuk saling merendahkan, saling menolak, saling membanggakan diri, atau saling memisahkan.
Di dalam Kristus, semua orang percaya memiliki identitas yang baru. Kita bukan pertama-tama ditentukan oleh suku, jabatan, kekayaan, pendidikan, masa lalu, atau penilaian masyarakat. Kita adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. Kita telah mengenakan Kristus. Kita menjadi milik Kristus. Karena itu, setiap orang percaya memiliki martabat yang sama di hadapan Allah.
Bagi P/KB, tema ini sangat penting. Seorang laki-laki Kristen dipanggil bukan untuk membangun tembok, tetapi membangun persaudaraan. Bukan untuk memakai kuasa secara sombong, tetapi untuk melayani. Bukan untuk merendahkan yang lemah, tetapi mengangkat dan menolong. Bukan untuk mempertahankan gengsi, tetapi untuk hidup dalam kerendahan hati. Jika Kristus telah menyatukan kita, maka P/KB dipanggil menjadi teladan kesatuan di keluarga, jemaat, pekerjaan, dan masyarakat.
Saudara-saudara P/KB yang dikasihi dan diberkati Tuhan, dalam kehidupan sehari-hari seorang laki-laki sering hidup di tengah banyak tanggung jawab dan banyak relasi. Ada tanggung
Surat Galatia ditulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat-jemaat di wilayah Galatia. Jemaat-jemaat ini sedang menghadapi persoalan yang sangat serius. Setelah Paulus memberitakan Injil bahwa keselamatan adalah anugerah Allah melalui iman kepada Yesus Kristus, muncul pengajar-pengajar lain yang mengajarkan bahwa iman kepada Kristus belum cukup. Mereka mengajarkan bahwa orang-orang percaya yang bukan Yahudi harus menaati hukum Taurat, terutama sunat, supaya benar-benar menjadi bagian dari umat Allah.
Ajaran itu berbahaya karena seolah-olah karya Kristus di kayu salib belum cukup. Seolah-olah manusia masih harus menambahkan syarat tertentu supaya diterima oleh Allah. Seolah-olah ada orang percaya kelas utama dan kelas kedua. Orang Yahudi dianggap lebih dekat dengan Allah karena memiliki hukum Taurat, sedangkan orang bukan Yahudi dianggap harus menjadi seperti Yahudi dahulu supaya diterima penuh.
Paulus menolak ajaran itu dengan tegas. Bagi Paulus, manusia dibenarkan bukan karena melakukan hukum Taurat, tetapi karena iman kepada Yesus Kristus. Keselamatan adalah anugerah Allah, bukan hasil usaha manusia. Jika keselamatan masih bergantung pada hukum Taurat, maka salib Kristus kehilangan maknanya. Tetapi karena Kristus telah mati dan bangkit, maka semua yang percaya kepada-Nya diterima sebagai anak-anak Allah.
Dalam Galatia pasal 3, Paulus menjelaskan hubungan antara janji Allah kepada Abraham, hukum Taurat, dan iman kepada Kristus. Allah telah berjanji kepada Abraham bahwa melalui keturunannya semua bangsa akan mendapat berkat. Janji itu diberikan jauh sebelum hukum Taurat diberikan kepada Musa. Karena itu, hukum Taurat yang datang kemudian tidak dapat membatalkan janji Allah. Janji Allah tetap berlaku dan digenapi di dalam Kristus.
Paulus menegaskan bahwa “keturunan Abraham” yang sejati menunjuk kepada Kristus. Di dalam Kristus, janji Allah kepada Abraham digenapi. Karena itu, semua orang yang percaya kepada Kristus, baik orang Yahudi maupun bukan Yahudi, menjadi bagian dari keluarga Allah dan berhak menerima janji Allah.
Tema “Kamu Semua Adalah Satu Di Dalam Kristus Yesus” lahir dari dasar iman ini. Kita menjadi satu bukan karena kita memiliki latar belakang yang sama, tetapi karena Kristus yang sama telah menyelamatkan kita.
Kita menjadi satu bukan karena kita memiliki status sosial yang sama, tetapi karena kita sama-sama menjadi anak-anak Allah melalui iman. Kita menjadi satu bukan karena kita semua sama kuat, sama berhasil, atau sama pengalaman, tetapi karena kita sama-sama membutuhkan anugerah Kristus.
Bagi P/KB masa kini, pesan ini sangat penting. Kadang kaum bapak hidup dalam budaya persaingan. Siapa yang lebih kuat, siapa yang lebih berhasil, siapa yang lebih dihormati, siapa yang lebih berpengaruh, siapa yang lebih banyak memberi, siapa yang lebih lama melayani.
Firman Tuhan mengingatkan bahwa di dalam Kristus, nilai kita tidak ditentukan oleh perbandingan dengan orang lain. Nilai kita ditentukan oleh kasih Allah. Karena itu, P/KB dipanggil untuk membangun persekutuan yang saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan; saling menghargai, bukan saling merendahkan; saling melayani, bukan saling bersaing.
Pembahasan Ayat demi Ayat
Pada ayat 15, Paulus berkata, “Saudara-saudara, baiklah kupergunakan suatu contoh dari hidup sehari-hari. Suatu wasiat yang telah disahkan, sekalipun ia dari manusia, tidak dapat dibatalkan atau ditambahi oleh seorang pun.”
Paulus memakai contoh yang sederhana dari kehidupan manusia, yaitu perjanjian atau wasiat. Jika sebuah perjanjian manusia yang sudah sah tidak boleh diubah sembarangan, maka janji Allah jauh lebih pasti dan tidak dapat dibatalkan oleh siapa pun.
Paulus ingin menunjukkan bahwa janji Allah kepada Abraham tetap teguh. Hukum Taurat yang datang kemudian tidak dapat membatalkan janji Allah yang telah diberikan lebih dahulu. Keselamatan berdiri di atas janji Allah, bukan di atas usaha manusia. Janji Allah tidak berubah karena kelemahan manusia, tidak berubah karena perbedaan bangsa, dan tidak berubah karena perdebatan manusia.
Bagi P/KB, ayat ini menguatkan iman kita. Banyak laki-laki hidup dengan tekanan untuk selalu kuat, selalu berhasil, selalu mampu menyediakan, dan selalu terlihat tidak gagal. Tetapi firman ini mengingatkan bahwa dasar hidup kita bukan kekuatan diri sendiri, melainkan janji Allah. Kita tidak diselamatkan karena kita selalu berhasil. Kita diselamatkan karena Allah setia di dalam Kristus. Ini membuat kita rendah hati sekaligus dikuatkan. Kita boleh bekerja keras, tetapi jangan menggantungkan keselamatan dan nilai diri pada prestasi manusia.
Pada ayat 16, Paulus berkata bahwa janji itu diberikan kepada Abraham dan kepada keturunannya, dan Paulus menegaskan bahwa “keturunan” itu menunjuk kepada satu pribadi, yaitu Kristus. Artinya, semua janji Allah kepada Abraham mencapai puncaknya dalam Yesus Kristus. Kristus adalah penggenapan janji Allah.
Sejak awal, Allah memanggil Abraham bukan hanya untuk memberkati satu keluarga atau satu bangsa secara tertutup. Allah berjanji bahwa melalui Abraham semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat. Janji ini menjadi nyata di dalam Kristus. Melalui Kristus, berkat Allah terbuka bagi semua bangsa. Keselamatan tidak lagi dibatasi oleh garis keturunan jasmani, tetapi diberikan kepada semua yang percaya kepada Kristus.
Bagi P/KB, ini mengajarkan bahwa hati Allah luas. Allah tidak sempit seperti manusia yang sering membatasi kasih berdasarkan kelompok, suku, status, atau kepentingan. Jika Allah membuka berkat bagi semua bangsa melalui Kristus, maka P/KB juga harus memiliki hati yang luas.
Jangan hanya memperhatikan kelompok sendiri. Jangan hanya menghargai orang yang dekat dengan kita. Jangan hanya menolong orang yang bisa membalas kebaikan kita. Di dalam Kristus, kita dipanggil melihat sesama sebagai bagian dari karya kasih Allah.
Pada ayat 17, Paulus menjelaskan bahwa hukum Taurat yang datang empat ratus tiga puluh tahun kemudian tidak dapat membatalkan perjanjian yang telah disahkan Allah sebelumnya. Janji kepada Abraham lebih dahulu daripada hukum Taurat. Karena itu, hukum Taurat tidak dapat menggantikan atau membatalkan janji Allah.
Paulus bukan sedang mengatakan bahwa hukum Taurat tidak berguna. Ia sedang menegaskan bahwa hukum Taurat bukan dasar keselamatan. Hukum Taurat memiliki fungsi dalam rencana Allah, tetapi tidak pernah menjadi jalan utama untuk membenarkan manusia di hadapan Allah. Keselamatan tetap berdasarkan anugerah Allah yang diterima melalui iman kepada Kristus.
Dalam kehidupan P/KB, kita juga perlu berhati-hati agar tidak mengganti anugerah dengan kebanggaan rohani. Ada orang yang merasa lebih benar karena aktif melayani. Ada yang merasa lebih layak karena lama menjadi anggota jemaat.
Ada yang merasa lebih rohani karena punya jabatan gerejawi. Pelayanan dan ketaatan memang penting, tetapi semua itu bukan dasar untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain. Dasar keselamatan kita tetap Kristus.
Pada ayat 18, Paulus berkata bahwa jika warisan berasal dari hukum Taurat, maka warisan itu tidak lagi berasal dari janji. Tetapi Allah telah menganugerahkan warisan itu kepada Abraham berdasarkan janji. Kata “menganugerahkan” menunjukkan bahwa warisan itu adalah pemberian, bukan upah. Keselamatan adalah anugerah, bukan hasil pembayaran manusia kepada Tuhan.
Ini menegaskan bahwa hidup Kristen dimulai dari kasih karunia. Kita tidak membeli kasih Allah dengan perbuatan baik. Kita tidak membuat Tuhan berutang kepada kita karena pelayanan. Kita menerima warisan janji Allah karena Kristus. Ini harus membuat kita rendah hati.
Bagi P/KB, ayat ini menegur sikap merasa paling berjasa. Dalam keluarga, jangan merasa karena kita mencari nafkah maka kita boleh berbuat semaunya. Dalam gereja, jangan merasa karena kita banyak membantu maka kita harus selalu dihormati.
Dalam pekerjaan, jangan merasa karena kita punya posisi maka kita boleh merendahkan orang lain. Semua yang kita miliki adalah anugerah. Orang yang sadar anugerah akan lebih mudah melayani dengan rendah hati.
Pada ayat 19, Paulus bertanya, “Kalau demikian, apakah maksudnya hukum Taurat?” Ia menjawab bahwa hukum Taurat ditambahkan oleh karena pelanggaran-pelanggaran, sampai datang keturunan yang dimaksud oleh janji itu. Hukum Taurat diberikan untuk menunjukkan dosa, menata kehidupan umat, dan menyadarkan manusia bahwa mereka membutuhkan Juruselamat.
Hukum Taurat seperti cermin. Cermin dapat menunjukkan bahwa wajah kotor, tetapi cermin tidak dapat membersihkan wajah. Hukum Taurat dapat menunjukkan dosa manusia, tetapi tidak dapat menyelamatkan manusia dari dosa. Karena itu, hukum Taurat menuntun manusia kepada Kristus.
Bagi P/KB, ayat ini mengingatkan bahwa aturan penting, tetapi hati yang diubahkan oleh Kristus lebih penting. Dalam keluarga, ayah memang perlu memberi aturan, tetapi jangan hanya membangun rumah dengan larangan dan ancaman.
Anak-anak membutuhkan teladan kasih Kristus. Dalam persekutuan, tata aturan penting, tetapi jangan sampai aturan membuat kita kehilangan kasih kepada saudara. Dalam pekerjaan, disiplin penting, tetapi jangan gunakan aturan untuk menindas orang yang lemah.
Pada ayat 20, Paulus berkata bahwa seorang pengantara bukan hanya mewakili satu orang, sedangkan Allah adalah satu. Ayat ini memang tidak mudah dipahami, tetapi intinya Paulus sedang menunjukkan perbedaan antara hukum Taurat yang diberikan melalui pengantara dan janji Allah yang berdiri di atas kesetiaan Allah sendiri. Janji Allah tidak rapuh, karena bersumber dari Allah yang satu dan setia.
Ini mengingatkan kita bahwa pusat iman bukan sistem manusia, bukan pemimpin manusia, bukan kelompok manusia, tetapi Allah yang setia di dalam Kristus. Jika kehidupan gereja terlalu berpusat pada manusia, maka gereja mudah pecah ketika manusia itu gagal. Jika persekutuan terlalu berpusat pada kelompok, maka kasih menjadi sempit. Tetapi jika Kristus menjadi pusat, maka kesatuan dapat dipelihara.
Bagi P/KB, ini menjadi panggilan untuk tidak membangun persekutuan berdasarkan geng, kelompok kuat, atau kedekatan pribadi semata. Bangunlah persekutuan berdasarkan Kristus. Jangan membuat orang merasa tersisih karena bukan bagian dari kelompok tertentu. Jangan jadikan P/KB tempat persaingan pengaruh. Jadikan P/KB tempat kaum bapak bertumbuh bersama dalam iman.
Pada ayat 21, Paulus bertanya apakah hukum Taurat bertentangan dengan janji-janji Allah. Ia menjawab, “Sekali-kali tidak.” Hukum Taurat tidak bertentangan dengan janji Allah, tetapi hukum Taurat juga tidak dapat memberi hidup. Jika hukum Taurat dapat memberi hidup, maka kebenaran memang berasal dari hukum Taurat. Tetapi hidup baru hanya datang melalui Kristus.
Ayat ini menolong kita menjaga keseimbangan. Kita tidak boleh meremehkan ketaatan, tetapi kita juga tidak boleh menjadikan ketaatan sebagai alasan untuk merasa lebih unggul. Kita taat bukan supaya Tuhan mengasihi kita, tetapi karena Tuhan sudah lebih dahulu mengasihi kita di dalam Kristus.
Bagi P/KB, ada dua bahaya yang harus dihindari. Bahaya pertama adalah merasa benar sendiri karena aktif beribadah dan melayani, lalu memandang rendah orang lain. Bahaya kedua adalah hidup sembarangan dengan alasan Tuhan penuh kasih.
Injil menolak keduanya. Kita diselamatkan oleh anugerah, lalu dipanggil hidup dalam ketaatan sebagai buah iman. P/KB harus menjadi teladan hidup benar, tetapi tetap rendah hati.
Pada ayat 22, Paulus berkata bahwa Kitab Suci telah mengurung segala sesuatu di bawah kekuasaan dosa, supaya oleh karena iman dalam Yesus Kristus janji itu diberikan kepada mereka yang percaya. Ayat ini menunjukkan bahwa semua manusia berada di bawah dosa. Tidak ada kelompok manusia yang dapat membanggakan diri seolah-olah lebih suci secara asal-usul. Semua membutuhkan Kristus.
Ini adalah dasar kerendahan hati. Seorang laki-laki yang sadar dirinya juga orang berdosa yang diselamatkan oleh anugerah tidak akan mudah menghakimi orang lain. Ia tidak akan merasa paling benar di rumah, paling benar dalam rapat, paling benar dalam pelayanan, dan paling benar dalam pergaulan. Ia tahu bahwa ia pun membutuhkan pengampunan Tuhan.
Dalam kehidupan masa kini, banyak konflik terjadi karena orang merasa dirinya paling benar. Dalam keluarga, suami sulit meminta maaf. Dalam pekerjaan, atasan sulit mengakui kesalahan. Dalam gereja, pelayan sulit ditegur. Firman ini mengingatkan bahwa semua berada di bawah dosa dan semua membutuhkan Kristus. Kesadaran ini harus membuat P/KB berani rendah hati, berani meminta maaf, dan berani hidup dalam pemulihan.
Pada ayat 23, Paulus berkata bahwa sebelum iman itu datang, kita berada di bawah pengawalan hukum Taurat dan dikurung sampai iman itu dinyatakan. Hukum Taurat digambarkan seperti penjaga sementara sampai datangnya Kristus. Sebelum Kristus datang, hukum Taurat menjaga dan membatasi umat dalam masa tertentu dari rencana Allah.
Namun ketika Kristus datang, pusat hidup umat bukan lagi hukum sebagai penjaga yang menentukan status mereka, melainkan iman kepada Kristus. Kristus membawa umat masuk kepada kedewasaan iman.
Bagi P/KB, ini mengajarkan bahwa kehidupan Kristen tidak boleh hanya dijalani karena takut dihukum atau takut dinilai orang. Seorang ayah tidak hanya hidup benar supaya dihormati keluarga. Seorang pelayan tidak hanya melayani supaya dianggap baik.
Seorang pekerja tidak hanya jujur karena takut ketahuan. Kita hidup benar karena kita mengenal Kristus dan mengasihi-Nya. Iman yang dewasa bukan sekadar takut aturan, tetapi mengasihi Tuhan.
Pada ayat 24, Paulus berkata bahwa hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman. Penuntun pada zaman itu adalah orang yang mengawasi anak sampai ia dewasa. Hukum Taurat berfungsi menuntun manusia kepada Kristus. Tujuannya bukan berhenti pada hukum, tetapi sampai kepada Kristus.
Ini berarti semua pengajaran, disiplin, dan aturan harus membawa orang kepada Kristus. Dalam keluarga, ayah yang mendidik anak tidak cukup hanya berkata “jangan ini, jangan itu.” Anak harus diarahkan kepada Kristus.
Dalam P/KB, persekutuan tidak cukup hanya menjalankan program. Program harus membawa kaum bapak semakin dekat kepada Kristus. Dalam gereja, aturan tidak cukup membuat orang tertib; aturan harus menolong orang hidup dalam kasih dan kebenaran Kristus.
Jika kita tahu banyak aturan tetapi tidak mengenal kasih Kristus, kita belum sampai pada tujuan. Jika kita aktif dalam kegiatan tetapi tidak berubah dalam karakter, kita perlu kembali kepada Kristus. Semua harus menuntun kita kepada Dia.
Pada ayat 25, Paulus berkata bahwa setelah iman itu datang, kita tidak lagi berada di bawah pengawasan penuntun. Setelah Kristus datang, orang percaya tidak lagi berada di bawah hukum Taurat sebagai penjaga yang menentukan status keselamatan. Kita telah masuk ke dalam kehidupan baru melalui iman kepada Kristus.
Ini bukan berarti orang percaya bebas hidup sembarangan. Sebaliknya, di dalam Kristus kita dibebaskan dari usaha membenarkan diri sendiri dan dipanggil hidup dalam kasih. Kebebasan Kristen adalah kebebasan untuk hidup sebagai anak-anak Allah, bukan kebebasan untuk mengikuti hawa nafsu.
Bagi P/KB, ini mengajak kita hidup sebagai laki-laki yang dewasa dalam iman. Jangan hanya menjadi orang Kristen karena kebiasaan. Jangan hanya datang ibadah karena jadwal. Jangan hanya aktif karena jabatan. Hiduplah dalam iman yang sungguh kepada Kristus. Iman yang dewasa terlihat dalam kasih kepada keluarga, kejujuran dalam kerja, kerendahan hati dalam pelayanan, dan kesediaan menerima sesama.
Pada ayat 26, Paulus berkata, “Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus.” Ini adalah pernyataan yang sangat menguatkan. Semua orang percaya adalah anak-anak Allah. Bukan hanya orang Yahudi, bukan hanya orang yang punya status tinggi, bukan hanya orang yang lama melayani, bukan hanya orang yang kuat secara ekonomi, tetapi semua yang percaya kepada Kristus.
Menjadi anak Allah berarti diterima, dikasihi, dipelihara, dan menjadi bagian dari keluarga Allah. Identitas ini lebih tinggi daripada semua identitas dunia. Seorang P/KB boleh menjadi pekerja sederhana, tetapi di dalam Kristus ia adalah anak Allah. Ia boleh tidak punya jabatan besar, tetapi ia tetap memiliki martabat di hadapan Tuhan. Ia boleh memiliki masa lalu yang berat, tetapi di dalam Kristus ia menerima identitas baru.
Ayat ini juga mengubah cara kita memandang orang lain. Jika sesama kita adalah anak Allah, kita tidak boleh merendahkannya. Jangan merendahkan pekerja kecil. Jangan merendahkan orang miskin. Jangan merendahkan orang yang baru belajar percaya. Jangan merendahkan yang kurang pandai berbicara. Jika Allah menyebut mereka anak-anak-Nya, kita harus memperlakukan mereka sebagai saudara.
Pada ayat 27, Paulus berkata bahwa semua yang dibaptis dalam Kristus telah mengenakan Kristus. Baptisan menjadi tanda bahwa kita dipersatukan dengan Kristus. Mengenakan Kristus berarti identitas dan kehidupan kita sekarang ditandai oleh Kristus. Seperti seseorang memakai pakaian yang terlihat oleh orang lain, orang percaya yang mengenakan Kristus harus memperlihatkan karakter Kristus dalam hidupnya.
Jika kita telah mengenakan Kristus, maka kita tidak boleh terus mengenakan kesombongan. Jika kita telah mengenakan Kristus, kita tidak boleh terus mengenakan kekerasan dalam keluarga. Jika kita telah mengenakan Kristus, kita tidak boleh terus mengenakan kebencian, iri hati, dendam, dan sikap membeda-bedakan. Kristus harus terlihat dalam cara kita berbicara, mengambil keputusan, memperlakukan istri, mendidik anak, bekerja, dan melayani.
Bagi P/KB, ayat ini sangat praktis. Orang bisa melihat apakah kita mengenakan Kristus atau hanya memakai label Kristen. Label Kristen terlihat dari identitas luar, tetapi mengenakan Kristus terlihat dari karakter. Apakah kita sabar? Apakah kita adil? Apakah kita rendah hati? Apakah kita mau meminta maaf? Apakah kita menghargai orang yang lemah? Inilah tanda bahwa Kristus sedang nyata dalam hidup kita.
Pada ayat 28, Paulus berkata, “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” Inilah pusat tema renungan. Paulus menyebut tiga pemisahan besar pada zamannya: perbedaan etnis dan agama, perbedaan status sosial, serta perbedaan laki-laki dan perempuan.
Paulus tidak mengatakan bahwa semua perbedaan manusia hilang secara nyata. Orang Yahudi tetap Yahudi, orang Yunani tetap Yunani, laki-laki tetap laki-laki, perempuan tetap perempuan, hamba tetap hamba, orang merdeka tetap orang merdeka dalam kondisi sosial waktu itu. Tetapi semua perbedaan itu tidak boleh menjadi dasar untuk merasa lebih tinggi atau lebih rendah di hadapan Allah. Di dalam Kristus, semua memiliki martabat yang sama.
Bagi P/KB, ayat ini sangat menegur. Jangan menjadi laki-laki yang merasa lebih tinggi daripada perempuan. Jangan menjadi ayah yang merendahkan anak. Jangan menjadi pemimpin yang memandang rendah bawahan.
Jangan menjadi orang kaya yang menghina orang miskin. Jangan menjadi orang lama di gereja yang menutup ruang bagi orang baru. Jangan menjadi kaum bapak yang hanya menghargai mereka yang sama kelompoknya.
Di dalam Kristus, kita semua satu. Ini bukan berarti tidak ada peran dan tanggung jawab, tetapi setiap peran harus dijalani dalam kasih dan hormat. Suami tetap memiliki tanggung jawab memimpin keluarga, tetapi kepemimpinan itu harus seperti Kristus yang mengasihi dan melayani. Pemimpin tetap memimpin, tetapi tidak boleh menindas. Orang yang kuat harus menopang yang lemah, bukan merendahkannya.
Pada ayat 29, Paulus berkata, “Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.” Ayat ini menutup bagian ini dengan kabar baik. Siapa pun yang menjadi milik Kristus adalah keturunan Abraham dan menerima janji Allah. Identitas umat Allah tidak lagi ditentukan oleh garis keturunan jasmani, tetapi oleh iman kepada Kristus.
Ini berarti semua orang percaya masuk dalam keluarga perjanjian Allah. Kita bukan orang luar. Kita bukan tamu. Kita adalah milik Kristus dan ahli waris janji Allah. Penilaian manusia tidak menentukan nilai kita. Status sosial tidak menentukan martabat kita. Kristuslah yang menentukan siapa kita.
Bagi P/KB, ayat ini memberi kepastian sekaligus tanggung jawab. Jika kita milik Kristus, hiduplah sebagai milik Kristus. Jangan hidup dikuasai gengsi dunia. Jangan hidup dengan kebencian. Jangan hidup membeda-bedakan. Jangan hidup seolah-olah yang paling penting adalah status manusia. Jika kita milik Kristus, maka hidup kita harus memperlihatkan Kristus.
Penutup
Saudara-saudara P/KB yang dikasihi Tuhan, setelah merenungkan Galatia 3:15–29, kita melihat bahwa tema “Kamu Semua Adalah Satu Di Dalam Kristus Yesus” bukan hanya berbicara tentang persatuan secara umum, tetapi tentang identitas baru yang diberikan Allah kepada semua orang percaya. Kita menjadi satu bukan karena semua latar belakang kita sama. Kita menjadi satu bukan karena status sosial kita sama. Kita menjadi satu bukan karena tingkat pendidikan, pekerjaan, atau pengalaman kita sama. Kita menjadi satu karena Kristus telah menyelamatkan kita dan menjadikan kita anak-anak Allah.
Paulus mengingatkan bahwa janji Allah kepada Abraham digenapi di dalam Kristus. Hukum Taurat memiliki fungsi untuk menunjukkan dosa dan menuntun manusia kepada Kristus, tetapi keselamatan bukan berasal dari hukum Taurat.
Keselamatan adalah anugerah Allah yang diterima melalui iman. Karena itu, tidak ada tempat bagi kesombongan rohani. Tidak ada orang yang boleh merasa lebih layak daripada orang lain. Semua yang percaya kepada Kristus berdiri di atas anugerah yang sama.
Bagi P/KB, firman ini memiliki panggilan yang sangat nyata. Pertama, P/KB dipanggil untuk hidup rendah hati. Jangan membanggakan diri karena pekerjaan, jabatan, harta, usia, pengalaman, atau pelayanan. Semua yang kita miliki adalah anugerah Tuhan.
Kedua, P/KB dipanggil untuk tidak membeda-bedakan orang. Jangan memandang sesama berdasarkan status ekonomi, suku, pendidikan, pekerjaan, gender, atau masa lalu.
Ketiga, P/KB dipanggil untuk mengenakan Kristus dalam karakter sehari-hari. Jangan hanya memakai nama Kristen, tetapi hiduplah dengan kasih, keadilan, kerendahan hati, dan pengampunan.
Keempat, P/KB dipanggil menjadi pembawa kesatuan dalam keluarga, jemaat, dan masyarakat. Jangan menjadi sumber konflik. Jadilah pembawa damai.
Ada beberapa poin penting yang perlu kita pegang.
Pertama, semua orang percaya adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Kristus. Ini berarti setiap orang percaya memiliki martabat yang sama di hadapan Tuhan. Jangan merendahkan orang lain, sebab Kristus juga mengasihi mereka.
Kedua, keselamatan adalah anugerah, bukan hasil kehebatan manusia. Karena itu, jangan sombong secara rohani. Jangan merasa lebih benar karena aktif melayani, lebih lama bergereja, atau lebih banyak tahu firman.
Ketiga, mengenakan Kristus berarti hidup kita harus mencerminkan Kristus. Sebagai suami, ayah, opa, pekerja, pemimpin, dan pelayan, karakter Kristus harus terlihat dalam cara kita memperlakukan orang lain.
Keempat, kesatuan di dalam Kristus tidak menghapus perbedaan, tetapi menebus perbedaan. Kita tetap berbeda dalam peran, latar belakang, dan kemampuan, tetapi perbedaan itu tidak boleh menjadi alasan untuk saling merendahkan.
Kelima, P/KB harus menjadi teladan dalam meruntuhkan tembok pemisah. Jangan membangun kelompok tertutup. Jangan memelihara prasangka. Jangan menolak orang karena berbeda. Jadilah pribadi yang merangkul.
Keenam, kesatuan harus dimulai dari rumah. Jangan membeda-bedakan anak. Jangan merendahkan istri. Jangan memakai kuasa sebagai kepala keluarga untuk menekan. Pimpinlah keluarga dengan kasih Kristus.
Ketujuh, kesatuan harus nyata dalam pelayanan. P/KB bukan tempat persaingan pengaruh, tetapi tempat saling membangun. Orang yang kuat menopang yang lemah. Orang yang berpengalaman membimbing yang muda. Orang yang memiliki kemampuan memberi ruang bagi yang baru belajar.
Implikasi firman ini sangat konkret. Dalam keluarga, seorang ayah harus menjadi pembawa damai. Jangan memperuncing konflik. Jangan selalu merasa paling benar. Belajarlah mendengar istri dan anak-anak. Jika salah, beranilah meminta maaf. Itu bukan kelemahan, melainkan tanda kedewasaan iman.
Dalam pekerjaan, perlakukan semua orang dengan hormat. Jangan merendahkan bawahan. Jangan menjilat atasan tetapi kasar kepada pekerja kecil. Jika kita mengenakan Kristus, maka karakter Kristus harus terlihat di tempat kerja.
Dalam jemaat, jangan membedakan orang berdasarkan kemampuan ekonomi atau kedudukan. Sambut orang sederhana. Dengarkan mereka yang pendiam. Beri ruang bagi orang baru. Jangan menjadikan pelayanan sebagai tempat menunjukkan siapa yang paling kuat.
Dalam masyarakat, jadilah orang yang membawa damai di tengah perbedaan. Jangan mudah terlibat dalam kebencian kelompok, hinaan, atau permusuhan. Orang Kristen dipanggil menjadi saksi bahwa Kristus mempersatukan manusia.
Saudara-saudara P/KB, marilah kita memeriksa hati. Apakah masih ada kesombongan dalam diri kita? Apakah kita masih merasa lebih tinggi dari orang lain karena status, harta, usia, jabatan, atau pengalaman? Apakah kita masih merendahkan orang yang berbeda? Apakah kita memperlakukan istri, anak, rekan kerja, dan sesama jemaat sebagai pribadi yang dikasihi Tuhan? Apakah hidup kita benar-benar menunjukkan bahwa kita telah mengenakan Kristus?
Firman Tuhan hari ini mengajak kita bertobat dari sikap membeda-bedakan. Jika kita pernah merendahkan orang lain, mintalah ampun kepada Tuhan. Jika kita pernah menggunakan kuasa untuk menekan, mintalah Tuhan mengubah hati.
Jika kita pernah membangun tembok dalam persekutuan, mintalah Tuhan menjadikan kita pembawa damai. Jika kita pernah merasa tidak berharga karena penilaian manusia, ingatlah bahwa di dalam Kristus kita adalah anak Allah.
Marilah belajar dari Petrus dan Kornelius. Petrus harus diubah cara pandangnya oleh Tuhan. Ia belajar bahwa Allah tidak membedakan orang. Kita pun perlu diubah. Mungkin ada prasangka dalam hati yang perlu diruntuhkan. Mungkin ada kesombongan yang perlu dihancurkan. Mungkin ada relasi yang perlu dipulihkan. Kristus memanggil kita untuk hidup sebagai satu keluarga Allah.
Akhirnya, kiranya tema ini menjadi pengakuan dan gaya hidup P/KB GMIM: “Kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” Kiranya P/KB menjadi persekutuan yang merangkul, bukan menolak; membangun, bukan menjatuhkan; melayani, bukan bersaing; mempersatukan, bukan memecah.
Kiranya keluarga kita merasakan kasih Kristus melalui kepemimpinan yang rendah hati. Kiranya jemaat kita melihat teladan kaum bapak yang hidup dalam kasih dan kesatuan. Dan kiranya melalui hidup kita, dunia melihat bahwa Kristus sungguh telah meruntuhkan tembok pemisah dan menjadikan kita satu di dalam Dia.
Amin.
Editor : Clavel Lukas