Bacaan dan Renungan untuk Orang Muda Katolik, Hari Selasa 21 Juli 2026, Bacaan I Mikha 7:14-15.18-20, Bacaan Injil Matius 12:46-50

Fandy Gerungan • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 09:36 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Pekan Biasa XVI (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I Mikha 7:14-15.18-20

Gembalakanlah umat-Mu dengan tongkat-Mu, kambing domba milik-Mu sendiri, yang terpencil mendiami rimba di tengah-tengah kebun buah-buahan. Biarlah mereka makan rumput di Basan dan di Gilead seperti pada zaman dahulu kala.

Seperti pada waktu Engkau keluar dari Mesir, perlihatkanlah kepada kami keajaiban-keajaiban!

Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri; yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia?

Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut.

Kiranya Engkau menunjukkan setia-Mu kepada Yakub dan kasih-Mu kepada Abraham seperti yang telah Kaujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang kami sejak zaman purbakala!

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Tuhan

Mazmur 85:2-4.5-6.7-8

Engkau telah mengampuni kesalahan umat-Mu, telah menutupi segala dosa mereka. Sela

Engkau telah menyurutkan segala gemas-Mu, telah meredakan murka-Mu yang menyala-nyala.

Pulihkanlah kami, ya Allah penyelamat kami, dan tiadakanlah sakit hati-Mu kepada kami.

Untuk selamanyakah Engkau murka atas kami dan melanjutkan murka-Mu turun-temurun?

Apakah Engkau tidak mau menghidupkan kami kembali, sehingga umat-Mu bersukacita karena Engkau?

Perlihatkanlah kepada kami kasih setia-Mu, ya TUHAN, dan berikanlah kepada kami keselamatan dari pada-Mu!

Aku mau mendengar apa yang hendak difirmankan Allah, TUHAN. Bukankah Ia hendak berbicara tentang damai kepada umat-Nya dan kepada orang-orang yang dikasihi-Nya, supaya jangan mereka kembali kepada kebodohan?

Bacaan Injil Matius 12:46-50

Ketika Yesus masih berbicara dengan orang banyak itu, ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya berdiri di luar dan berusaha menemui Dia.

Maka seorang berkata kepada-Nya: "Lihatlah, ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau."

Tetapi jawab Yesus kepada orang yang menyampaikan berita itu kepada-Nya: "Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?"

Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya: "Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku!

Sebab siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i anak muda pasti akrab dengan istilah "circle". Kita senang berada dalam lingkungan yang menerima kita, memahami kita, dan membuat kita merasa memiliki tempat. 

Namun, tidak jarang kita juga merasa tidak cukup baik untuk diterima. Nilai yang jelek, kegagalan, kesalahan, atau masa lalu sering membuat kita berpikir bahwa kita tidak pantas berada di tempat yang baik.

Bacaan hari ini justru memperlihatkan bahwa Tuhan memiliki "circle" yang berbeda. Allah adalah Bapa yang tidak lelah mengampuni. Ia tidak sibuk menghitung berapa kali kita jatuh. 

Ia selalu menanti kita bangkit dan kembali kepada-Nya. Bagi Tuhan, pertobatan lebih penting daripada kesempurnaan. Tidak ada anak yang ditolak ketika ia sungguh ingin pulang.

Dalam Injil, Yesus juga mengajarkan bahwa keluarga-Nya bukan dibatasi oleh hubungan darah, melainkan oleh mereka yang memilih melakukan kehendak Allah. Artinya, siapa pun bisa menjadi bagian dari keluarga Tuhan. 

Tidak peduli berasal dari keluarga seperti apa, sepopuler apa di sekolah, atau seberapa banyak kesalahan yang pernah dibuat. Yang Tuhan cari adalah hati yang mau belajar mengikuti-Nya.

Sebagai orang muda, kita sering menghadapi tekanan untuk mengikuti tren, mencari pengakuan, atau takut dianggap berbeda. Kadang kita tahu mana yang benar, tetapi memilih diam agar tidak dijauhi teman. 

Padahal, menjadi keluarga Tuhan berarti berani memilih yang benar meskipun tidak selalu menjadi pilihan yang paling populer.

Menjadi murid Kristus juga bukan berarti hidup tanpa kesalahan. Justru setiap kali kita jatuh, kita diingatkan bahwa selalu ada kesempatan untuk memulai lagi. 

Tuhan tidak pernah menyerah terhadap kita. Pertanyaannya, apakah kita mau berhenti menyerah terhadap diri sendiri?.

Hari ini, Tuhan mengajak kita masuk ke dalam "circle"-Nya. Di dalam keluarga-Nya tidak ada persaingan untuk menjadi yang paling hebat. Yang ada adalah kasih, pengampunan, dan kesempatan untuk terus bertumbuh menjadi pribadi yang semakin serupa dengan Kristus. 

Maka, jangan hanya menjadi orang muda yang mengenal Tuhan di media sosial atau saat Misa saja, tetapi jadilah orang muda yang menunjukkan bahwa hidup bersama Tuhan benar-benar mengubah cara berpikir, berbicara, dan bertindak.(*)

Editor : Fandy Gerungan
renungan katolik omk Renungan