Bacaan dan Renungan untuk Umat Katolik, Hari Sabtu 25 Juli 2026, Bacaan I 2 Korintus 4:7-15, Bacaan Injil Matius 20:20-28

Fandy Gerungan • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 09:00 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Pesta St. Yakobus Rasul (Warna Liturgi Merah)

Bacaan I 2 Korintus 4:7-15

Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.

Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa;

kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.

Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.

Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini.

Maka demikianlah maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu.

Namun karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: "Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata", maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata.

Karena kami tahu, bahwa Ia, yang telah membangkitkan Tuhan Yesus, akan membangkitkan kami juga bersama-sama dengan Yesus. Dan Ia akan menghadapkan kami bersama-sama dengan kamu kepada diri-Nya.

Sebab semuanya itu terjadi oleh karena kamu, supaya kasih karunia, yang semakin besar berhubung dengan semakin banyaknya orang yang menjadi percaya, menyebabkan semakin melimpahnya ucapan syukur bagi kemuliaan Allah.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 126:1-2ab.2cd-3,4-5,6

Nyanyian ziarah. Ketika TUHAN memulihkan keadaan Sion, keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi.

Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: "TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!"

Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: "TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!"

TUHAN telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita.

Pulihkanlah keadaan kami, ya TUHAN, seperti memulihkan batang air kering di Tanah Negeb!

Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.

Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.

Bacaan Injil Matius 20:20-28

Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya.

Kata Yesus: "Apa yang kaukehendaki?" Jawabnya: "Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu."

Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: "Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?" Kata mereka kepada-Nya: "Kami dapat."

Yesus berkata kepada mereka: "Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya."

Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu.

Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.

Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,

dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu;

sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i di zaman sekarang, banyak orang berlomba untuk terlihat hebat. Kita ingin diakui, dihargai, dan mendapat posisi yang lebih tinggi daripada orang lain. 

Tidak sedikit yang mengukur keberhasilan dari jabatan, popularitas, atau banyaknya pujian yang diterima. Namun, Sabda Tuhan hari ini mengajak kita melihat bahwa ukuran kebesaran di hadapan Allah sangat berbeda dengan ukuran dunia.

Rasul Paulus mengingatkan bahwa manusia hanyalah seperti bejana tanah liat yang rapuh. Kita memiliki banyak keterbatasan, kelemahan, dan pengalaman jatuh bangun. 

Namun justru di dalam kerapuhan itulah kuasa Allah bekerja. Ketika kita tetap setia di tengah kesulitan, tetap berharap saat menghadapi tantangan, dan tetap percaya meski jalan terasa berat. 

Orang lain dapat melihat bahwa kekuatan itu bukan berasal dari diri kita, melainkan dari Tuhan yang selalu menyertai. Injil hari ini memperlihatkan bagaimana para murid masih bergumul dengan keinginan untuk menjadi yang paling penting. 

Mereka membayangkan kemuliaan tanpa memahami bahwa jalan menuju kemuliaan selalu melewati pengorbanan. Yesus kemudian mengubah cara pandang mereka. Menjadi besar bukan berarti memiliki kuasa atas orang lain, melainkan memiliki hati yang rela melayani. 

Kepemimpinan dalam Kerajaan Allah bukan soal dihormati, tetapi soal menghadirkan kasih melalui tindakan nyata. Teladan Yesus menunjukkan bahwa kasih sejati selalu diwujudkan dalam pelayanan. 

Ia tidak mencari kenyamanan bagi diri-Nya sendiri, tetapi mengutamakan keselamatan banyak orang. Itulah panggilan setiap orang Kristiani. Di dalam keluarga, sekolah, tempat kerja, maupun lingkungan masyarakat. 

Kita dipanggil bukan untuk menjadi yang paling menonjol, melainkan menjadi pribadi yang membawa damai, membantu tanpa pamrih, mengampuni dengan tulus, dan melayani dengan sukacita.

Sering kali kita merasa tidak mampu melakukan hal-hal besar. Namun Tuhan tidak menuntut kita menjadi sempurna. Ia hanya meminta hati yang mau dipakai. 

Seperti bejana tanah liat yang sederhana, hidup kita dapat menjadi sarana bagi kasih dan kuasa Allah. Bahkan melalui tindakan kecil sebuah senyuman, kesediaan mendengarkan. 

Bantuan kepada mereka yang membutuhkan, atau kesetiaan menjalankan tanggung jawab Tuhan dapat berkarya secara luar biasa.

Hari ini kita diajak bertanya kepada diri sendiri: apakah aku lebih sibuk mencari penghargaan atau sungguh ingin melayani?. Apakah aku berusaha menjadi yang paling hebat, atau menjadi berkat bagi orang-orang di sekitarku?. 

Semoga kita memiliki kerendahan hati untuk menyadari bahwa segala kemampuan adalah anugerah Tuhan, dan keberanian untuk menggunakan anugerah itu demi melayani sesama. 

Sebab di hadapan Allah, kebesaran sejati bukanlah tentang seberapa tinggi kita berdiri, melainkan seberapa dalam kita mengasihi dan melayani.

Semoga renungan ini dapat menginspirasi umat untuk melihat bahwa jalan menuju kemuliaan Kristiani selalu dimulai dari kerendahan hati, kesetiaan dalam penderitaan, dan semangat melayani seperti Kristus. (*)

Editor : Fandy Gerungan
renungan katolik Renungan