Bacaan dan Renungan untuk Umat Katolik, Hari Minggu 26 Juli 2026,  Hari Minggu Biasa ke XVII, Hari Orang Tua, Kakek Nenek Sedunia 

Fandy Gerungan • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 10:43 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Hari Orang Tua, Kakek Nenek Sedunia (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I 1 Raja-Raja 3:5,7-12

Di Gibeon itu TUHAN menampakkan diri kepada Salomo dalam mimpi pada waktu malam. Berfirmanlah Allah: "Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu."

Maka sekarang, ya TUHAN, Allahku, Engkaulah yang mengangkat hamba-Mu ini menjadi raja menggantikan Daud, ayahku, sekalipun aku masih sangat muda dan belum berpengalaman.

Demikianlah hamba-Mu ini berada di tengah-tengah umat-Mu yang Kaupilih, suatu umat yang besar, yang tidak terhitung dan tidak terkira banyaknya.

Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yanjahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?"

Lalu adalah baik di mata Tuhan bahwa Salomo meminta hal yang demikian.

Jadi berfirmanlah Allah kepadanya: "Oleh karena engkau telah meminta hal yang demikian dan tidak meminta umur panjang atau kekayaan atau nyawa musuhmu, melainkan pengertian untuk memutuskan hukum,

maka sesungguhnya Aku melakukan sesuai dengan permintaanmu itu, sesungguhnya Aku memberikan kepadamu hati yang penuh hikmat dan pengertian, sehingga sebelum engkau tidak ada seorangpun seperti engkau, dan sesudah engkau takkan bangkit seorangpun seperti engkau.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 119:57,72,76-77,127-128,129-130

Bagianku ialah TUHAN, aku telah berjanji untuk berpegang pada firman-firman-Mu.

Taurat yang Kausampaikan adalah baik bagiku, lebih dari pada ribuan keping emas dan perak.

Biarlah kiranya kasih setia-Mu menjadi penghiburanku, sesuai dengan janji yang Kauucapkan kepada hamba-Mu.

Biarlah rahmat-Mu sampai kepadaku, supaya aku hidup, sebab Taurat-Mu adalah kegemaranku.

Itulah sebabnya aku mencintai perintah-perintah-Mu lebih dari pada emas, bahkan dari pada emas tua.

Itulah sebabnya aku hidup jujur sesuai dengan segala titah-Mu; segala jalan dusta aku benci.

Peringatan-peringatan-Mu ajaib, itulah sebabnya jiwaku memegangnya.

Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang, memberi pengertian kepada orang-orang bodoh.

Bacaan II Roma 8:28-30 

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.

Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.

Demikianlah Sabda Tuhan
 
U. Syukur kepada Allah

Bacaan Injil Matius 13:44-52

"Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.

Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah.

Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu."

"Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama pukat yang dilabuhkan di laut, lalu mengumpulkan berbagai-bagai jenis ikan.

Setelah penuh, pukat itupun diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam pasu dan ikan yang tidak baik mereka buang.

Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar,

lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.

Mengertikah kamu semuanya itu?" Mereka menjawab: "Ya, kami mengerti."

Maka berkatalah Yesus kepada mereka: "Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal Kerajaan Sorga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan 

Saudara/i ada banyak hal yang diwariskan orang tua dan kakek-nenek kepada anak cucunya. Ada yang meninggalkan rumah, tanah, atau tabungan. Ada pula yang mewariskan nama baik keluarga. 

Namun, semua itu tidak akan bertahan lama jika tidak disertai dengan hikmat dalam menjalani hidup. Karena itulah, warisan yang paling berharga bukanlah harta benda. 

Melainkan hati yang mampu membedakan yang baik dan yang benar, serta iman yang tetap teguh dalam segala keadaan.

Dalam bacaan hari ini, kita melihat seorang pemimpin muda yang menyadari keterbatasannya. Ia tidak mengejar kekuasaan, kekayaan, atau kenyamanan. Ia lebih memilih memohon kebijaksanaan agar dapat melayani dengan benar. 

Sikap rendah hati inilah yang membuat Tuhan berkenan. Tuhan tidak mencari orang yang merasa paling mampu, tetapi orang yang mau dibimbing-Nya.

Rasul Paulus kemudian mengingatkan bahwa Tuhan tidak pernah bekerja secara setengah-setengah. Bahkan ketika hidup dipenuhi tantangan, kegagalan, atau air mata, Tuhan tetap merangkai semuanya menjadi jalan menuju kebaikan bagi mereka yang mengasihi-Nya. 

Sering kali kita baru memahami maksud Tuhan setelah melewati perjalanan yang panjang. Apa yang tampak sebagai kehilangan hari ini, bisa menjadi awal dari berkat yang jauh lebih besar.

Dalam Injil, Yesus mengajak kita melihat nilai Kerajaan Allah. Kerajaan Allah digambarkan sebagai sesuatu yang begitu berharga sehingga layak diperjuangkan dengan segenap hati. 

Orang yang menemukannya rela melepaskan hal-hal lain demi memperoleh yang paling bernilai. Pesannya jelas: jangan sampai kita sibuk mengejar banyak hal, tetapi kehilangan tujuan hidup yang sesungguhnya.

Hari ini Gereja juga merayakan Hari Orang Tua, Kakek, dan Nenek Sedunia. Ini menjadi kesempatan untuk mengenang mereka yang telah menjadi guru pertama dalam kehidupan iman kita. 

Banyak dari kita belajar berdoa dari ibu, belajar mengampuni dari ayah, belajar setia dari kakek, dan belajar berharap kepada Tuhan dari nenek. Mungkin mereka tidak pernah berkhotbah di mimbar, tetapi kehidupan mereka sendiri telah menjadi "kitab" yang dapat dibaca oleh anak-anak dan cucunya.

Di tengah zaman yang berubah begitu cepat, keluarga tetap menjadi tempat pertama di mana nilai-nilai Kerajaan Allah ditanamkan. Anak-anak tidak hanya membutuhkan fasilitas yang baik, tetapi juga teladan. 

Mereka membutuhkan orang dewasa yang berani memilih kejujuran daripada keuntungan, kasih daripada kebencian, dan pengampunan daripada dendam. Warisan seperti inilah yang akan terus hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Marilah kita bertanya kepada diri sendiri: apa yang sedang kita cari dalam hidup ini?. Apakah hanya kesuksesan dan kenyamanan, ataukah hikmat untuk hidup sesuai kehendak Tuhan?. 

Dan jika suatu hari nanti kita dikenang oleh anak-anak atau cucu-cucu kita, warisan apakah yang akan mereka ingat dari hidup kita?.

Semoga Tuhan menganugerahkan kepada kita hati yang bijaksana, keberanian untuk memilih yang sungguh bernilai, dan kasih yang mampu diwariskan kepada generasi berikutnya. 

Dengan demikian, keluarga kita tidak hanya menjadi tempat bertumbuh, tetapi juga menjadi rumah di mana iman, harapan, dan kasih terus hidup dari masa ke masa. (*)

Editor : Fandy Gerungan
renungan katolik Renungan