RHK GMIM Senin 27 Juli 2026
Yohanes 8:3-4
(3) Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah.
(4) Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.
Keluarga Kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Dalam kehidupan setiap hari, kita menyaksikan banyak persoalan yang menimbulkan keresahan, kekacauan dan pertikaian.
Kemudian muncul sikap yang saling menyalahkan dan saling menghakimi.
Hal ini sesungguhnya tidak membawa keuntungan melainkan justru mendatangkan persoalan baru.
Sebaliknya ketika menghadapi persoalan kita menyelesaikan dengan hati yang tenang dan saling mengampuni, maka akan sangat baik untuk kehidupan kini dan ke depan.
Keluarga Kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Firman Tuhan hari ini memperlihatkan kepada kita situasi yang penuh tekanan dan penghakiman.
Seorang perempuan kedapatan berbuat zinah, dan tanpa banyak pertimbangan, ia diseret oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi.
Mereka ini adalah pemimpin agama Yahudi yang akhli dalam Hukum Taurat.
Mereka sering digambarkan sebagai orang-orang yang lebih menekankan hukum dari pada belas kasihan.
Mereka membawa perempuan berzinah kepada Yesus Kristus dan menempatkannya di tengah kerumunan orang.
Tanpa rasa kasihan, perempuan ini dibawa ke hadapan orang banyak untuk dihakimi dan tentu ia sangat dipermalukan.
Perempuan itu dijadikan pusat perhatian seperti objek pengadilan publik.
Merekapun berkata kepada Yesus Kristus, "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia berbuat zinah."
Mereka memanggil Yesus Kristus dengan sebutan Rabi (guru) tetapi tidak dengan ketulusan.
Keluarga Kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Dalam kehidupan kita sehari-hari tidak jarang kita menyaksikan adanya penghakiman terhadap mereka yang berbuat hal-hal yang tidak sepantasnya.
Namun sebagai keluarga Kristen, kita diajak untuk iangan main hakim sendiri, gampang menyalahkan, bahkan mempermalukan anggota keluarga yang bersalah, tanpa belas kasih.
Kita lupa bahwa setiap orang bisa jatuh dalam dosa, termasuk kita sendiri.
Bukankah Tuhan Allah memanggil kita untuk saling menegur dalam kasih, bukan main hakim sendiri.
Keluarga seharusnya menjadi tempat yang aman untuk mengakui kesalahan dan bertumbuh dalam pengampunan.
Sebagai keluarga Kristen, dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti menghadapi banyak hal yang bisa memicu terjadinya penghakiman, misalnya anak yang membuat kesalahan, pasangan yang mengecewakan atau saudara yang menyakiti.
Namun dalam keadaan demikian kita dipanggil untuk mengasihi berdasarkan kasih Yesus Kristus.
Kasih yang tidak menghakimi, tetapi mengampuni dan memulihkan. Amin.
Doa: Tuhan Allah, tolonglah kami untuk menjadikan keluarga sebagai tempat yang saling mengasihi bukan tempat saling menghakimi. Kami mau mengikuti teladan-Mu yang penuh dengan kesabaran dan kebijaksanaan. Dalam nama Yesus Kristus, Amin.
Baca Juga: RHK GMIM Minggu 26 Juli 2026, Yohanes 7:53-8:1-2 Datang Kepada Yesus Sumber Pengajaran
Editor : Aprilia Sahari