Bacaan dan Renungan untuk Umat Katolik, Hari Selasa 28 Juli 2026, Bacaan I Yeremia 14:17-22, Bacaan Injil Matius 13:36-43

Fandy Gerungan • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 14:24 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Pekan Biasa ke XVII (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I Yeremia 14:17-22

Katakanlah perkataan ini kepada mereka: "Air mataku bercucuran siang dan malam dengan tidak berhenti-henti, sebab anak dara, puteri bangsaku, dilukai dengan luka parah, luka yang sama sekali tidak tersembuhkan.

Apabila aku keluar ke padang, di sana ada orang-orang yang mati terbunuh oleh pedang! Apabila aku masuk ke dalam kota, di sana ada orang-orang sakit kelaparan! Bahkan, baik nabi maupun imam menjelajah negeri yang tidak dikenalnya."

Telah Kautolakkah Yehuda sama sekali? Telah merasa muakkah Engkau terhadap Sion? Mengapakah kami Kaupukul sedemikian, hingga tidak ada kesembuhan lagi bagi kami? Kami mengharapkan damai sejahtera, tetapi tidak datang sesuatu yang baik; mengharapkan waktu kesembuhan, tetapi hanya ada kengerian!

Ya TUHAN, kami mengetahui kefasikan kami dan kesalahan nenek moyang kami; sungguh, kami telah berdosa kepada-Mu.

Janganlah Engkau menampik kami, oleh karena nama-Mu, dan janganlah Engkau menghinakan takhta kemuliaan-Mu! Ingatlah perjanjian-Mu dengan kami, janganlah membatalkannya!

Adakah yang dapat menurunkan hujan di antara dewa kesia-siaan bangsa-bangsa itu? Atau dapatkah langit sendiri memberi hujan lebat? Bukankah hanya Engkau saja, ya TUHAN Allah kami, Pengharapan kami, yang membuat semuanya itu?

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 79:8.9.11.13

Janganlah perhitungkan kepada kami kesalahan nenek moyang kami; kiranya rahmat-Mu segera menyongsong kami, sebab sudah sangat lemah kami.

Tolonglah kami, ya Allah penyelamat kami, demi kemuliaan nama-Mu! Lepaskanlah kami dan ampunilah dosa kami oleh karena nama-Mu!

Biarlah sampai ke hadapan-Mu keluhan orang tahanan; sesuai dengan kebesaran lengan-Mu, biarkanlah hidup orang-orang yang ditentukan untuk mati dibunuh!

Maka kami ini, umat-Mu, dan kawanan domba gembalaan-Mu, akan bersyukur kepada-Mu untuk selama-lamanya, dan akan memberitakan puji-pujian untuk-Mu turun-temurun.

Bacaan Injil Matius 13:36-43

Maka Yesuspun meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya: "Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu."

Ia menjawab, kata-Nya: "Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia;

ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan dan lalang anak-anak si jahat.

Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman dan para penuai itu malaikat.

Maka seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman.

Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya.

Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.

Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!"

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i ada saat-saat dalam hidup ketika kita merasa dunia sedang tidak baik-baik saja. Berita tentang kekerasan, ketidakadilan, bencana, dan berbagai penderitaan membuat hati bertanya, "Di manakah Tuhan?". 

Pertanyaan seperti ini bukanlah tanda lemahnya iman, tetapi ungkapan hati yang sedang mencari harapan. Bacaan hari ini memperlihatkan bahwa di tengah kehancuran sekalipun. 

Umat tetap diajak untuk datang kepada Tuhan, mengakui kelemahan diri, dan percaya bahwa hanya Dialah sumber pengharapan sejati.

Di sisi lain, Yesus mengajak para murid melihat kehidupan dengan lebih dalam. Dunia memang dipenuhi oleh kebaikan dan kejahatan yang tumbuh berdampingan. Hal yang sama juga terjadi di dalam hati manusia. 

Tidak ada seorang pun yang hanya memiliki benih-benih kebaikan tanpa pernah bergumul dengan kelemahan. Kesombongan, iri hati, kemarahan, dan egoisme sering kali tumbuh diam-diam jika tidak segera disadari dan diserahkan kepada Tuhan.

Karena itu, sebelum sibuk menghakimi orang lain, kita diajak terlebih dahulu memeriksa ladang hati kita sendiri. Apakah yang sedang kita pelihara setiap hari?. 

Apakah kasih, kejujuran, kerendahan hati, dan pengampunan semakin bertumbuh?. Ataukah justru kebencian, dendam, dan sikap acuh terhadap sesama yang semakin menguasai hidup kita?. 

Tuhan memberi waktu agar kita bertobat, sebab kasih-Nya selalu lebih besar daripada kegagalan kita. Harapan yang diberikan Tuhan bukanlah janji bahwa hidup akan bebas dari masalah. 

Harapan sejati adalah keyakinan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Bahkan ketika dunia terasa gelap, Ia terus bekerja menumbuhkan benih-benih kebaikan dalam diri setiap orang yang mau membuka hati kepada-Nya. 

Setiap tindakan kasih, sekecil apa pun, menjadi bagian dari karya Allah yang sedang memperbarui dunia.

Maka hari ini marilah kita memohon rahmat agar hati kita menjadi ladang yang subur bagi Sabda Tuhan. Jangan biarkan benih-benih dosa tumbuh tanpa disadari. 

Sebaliknya, rawatlah iman melalui doa, Ekaristi, dan kasih kepada sesama. Dengan demikian, ketika Tuhan datang pada waktunya, kita didapati sebagai anak-anak terang yang memancarkan kasih dan kemuliaan-Nya di tengah dunia yang masih haus akan harapan. (*)

Editor : Fandy Gerungan
renungan katolik Renungan