Bacaan: Yohanes 7:53–8:11
Tema: “Pergilah Dan Jangan Berbuat Dosa Lagi Mulai Dari Sekarang”
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, setiap manusia pasti pernah berhadapan dengan kesalahan, kegagalan, kelemahan, dan dosa. Tidak ada seorang pun yang dapat berdiri di hadapan Tuhan sambil berkata, “Saya tidak pernah salah.” Ada dosa yang terlihat oleh orang lain, tetapi ada juga dosa yang tersembunyi rapat di dalam hati.
Ada dosa dalam tindakan, ada dosa dalam perkataan, ada dosa dalam pikiran, ada dosa dalam keinginan, ada dosa dalam kesombongan, ada dosa dalam kebencian, ada dosa dalam kemunafikan, dan ada juga dosa dalam sikap suka menghakimi sesama.
Namun persoalannya, manusia sering lebih cepat melihat dosa orang lain daripada melihat dosa dirinya sendiri. Kita mudah membicarakan kejatuhan orang, tetapi sulit mengakui kejatuhan sendiri. Kita mudah berkata, “Dia salah,” tetapi jarang berkata, “Tuhan, saya juga berdosa.” Kita mudah melempar kritik, sindiran, penghinaan, dan penghakiman, tetapi lupa bahwa hidup kita juga hanya berdiri karena belas kasihan Tuhan.
Baca Juga: Renungan Yohanes 7:53–8:11, Pergilah Dan Jangan Berbuat Dosa Lagi Mulai Dari Sekarang
Bacaan kita hari ini memperlihatkan dua kenyataan besar. Pertama, dosa itu nyata dan tidak boleh dianggap biasa. Perempuan yang dibawa kepada Yesus memang berada dalam dosa. Kedua, manusia yang suka menghakimi orang lain juga tidak bersih dari dosa. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa perempuan itu kepada Yesus bukan terutama untuk mencari pertobatan, melainkan untuk menjebak Yesus. Mereka memakai dosa seseorang sebagai alat untuk kepentingan mereka sendiri.
Di tengah keadaan yang penuh malu, ancaman, ketegangan, dan penghakiman itu, Yesus menyatakan sikap yang sangat indah. Ia tidak membenarkan dosa perempuan itu, tetapi Ia juga tidak membiarkan perempuan itu dihancurkan oleh orang-orang yang merasa dirinya paling benar.
Yesus tidak berkata bahwa dosa itu ringan, tetapi Yesus juga tidak menjadikan dosa sebagai alasan untuk menutup masa depan seseorang. Ia berkata, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”
Tema “Pergilah Dan Jangan Berbuat Dosa Lagi Mulai Dari Sekarang” mengandung dua kebenaran yang tidak boleh dipisahkan. Di satu sisi ada anugerah: Yesus tidak menghancurkan orang berdosa yang datang kepada-Nya. Di sisi lain ada panggilan pertobatan: Yesus memanggil orang yang diampuni untuk meninggalkan dosa.
Anugerah bukan izin untuk terus berdosa. Pengampunan bukan alasan untuk kembali kepada kehidupan lama. Kasih Kristus selalu membuka jalan baru, tetapi jalan baru itu harus dijalani dalam pertobatan dan ketaatan.
Firman ini sangat relevan bagi kehidupan kita sekarang. Kita hidup di zaman ketika orang mudah sekali mempermalukan orang lain, terutama melalui media sosial. Kesalahan seseorang dapat disebarkan, dibicarakan, dikomentari, dijadikan bahan ejekan, bahkan dihancurkan martabatnya. Banyak orang merasa dirinya berhak melempar “batu” melalui kata-kata, komentar, gosip, tangkapan layar, sindiran, dan penghakiman.
Tetapi di sisi lain, kita juga hidup di zaman ketika dosa sering dianggap biasa. Orang berkata, “Semua orang juga begitu,” “Yang penting tidak ketahuan,” “Itu urusan pribadi,” atau “Tuhan pasti mengampuni.” Firman Tuhan hari ini menolak kedua sikap yang keliru itu. Yesus menolak penghakiman yang munafik, tetapi Yesus juga menolak kehidupan yang terus tinggal dalam dosa.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Injil Yohanes ditulis supaya orang percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah, dan supaya oleh iman mereka memperoleh hidup dalam nama-Nya. Sejak awal Injil Yohanes, Yesus diperkenalkan sebagai Firman yang menjadi manusia, terang yang datang ke dalam dunia, Anak Domba Allah, Roti Hidup, Air Hidup, Gembala yang baik, Jalan, Kebenaran, dan Hidup. Yohanes ingin membawa pembacanya bukan hanya mengetahui cerita tentang Yesus, tetapi percaya kepada Yesus dan menerima hidup dari-Nya.
Dalam Injil Yohanes, sering muncul pertentangan antara terang dan gelap, hidup dan kematian, iman dan ketidakpercayaan, kebenaran dan kemunafikan. Yesus adalah terang dunia, tetapi tidak semua orang mau datang kepada terang itu. Ada orang berdosa yang justru terbuka terhadap anugerah Yesus, tetapi ada juga orang yang tampak religius namun hatinya keras dan penuh kepentingan sendiri.
Yohanes 7:53–8:11 merupakan kisah yang sangat terkenal tentang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Dalam beberapa Alkitab, bagian ini sering diberi catatan bahwa kisah ini tidak terdapat dalam beberapa naskah Yunani yang paling tua atau berada di tempat yang berbeda dalam beberapa tradisi naskah.
Namun kisah ini telah lama dikenal dan dipakai dalam kehidupan gereja, dan isi pesannya sangat sesuai dengan kesaksian Injil tentang Yesus: Ia penuh kasih karunia dan kebenaran. Ia tidak membenarkan dosa, tetapi Ia juga datang untuk menyelamatkan orang berdosa.
Secara konteks, Yohanes pasal 7 memperlihatkan ketegangan yang semakin besar antara Yesus dan para pemimpin agama. Banyak orang memperdebatkan siapa Yesus. Ada yang percaya, ada yang ragu, ada yang menolak, dan para pemimpin agama semakin mencari cara untuk menangkap Dia.
Dalam suasana seperti itulah kisah perempuan ini muncul. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa seorang perempuan yang tertangkap berbuat zinah ke hadapan Yesus. Mereka memakai kasus ini untuk mencobai Yesus.
Jika Yesus berkata perempuan itu harus dilepaskan, mereka dapat menuduh Yesus melawan hukum Musa. Jika Yesus berkata perempuan itu harus dirajam, mereka dapat mempersoalkan sikap Yesus dengan pemerintah Romawi atau menuduh Dia bertentangan dengan belas kasihan yang Ia ajarkan. Jadi perempuan ini bukan hanya dipermalukan karena dosanya, tetapi juga dipakai sebagai alat dalam permainan politik keagamaan untuk menjebak Yesus.
Tema “Pergilah Dan Jangan Berbuat Dosa Lagi Mulai Dari Sekarang” memiliki makna teologis yang sangat dalam. Pertama, tema ini menyatakan bahwa Yesus memberi anugerah kepada orang berdosa.
Ia tidak datang untuk membinasakan orang yang mau dipulihkan, tetapi untuk menyelamatkan. Kedua, tema ini menyatakan bahwa anugerah Yesus tidak pernah memandang dosa sebagai sesuatu yang sepele. Yesus tetap berkata, “Jangan berbuat dosa lagi.”
Ketiga, tema ini menegaskan bahwa pengampunan selalu memanggil kepada kehidupan baru. Keempat, tema ini menegur manusia yang mudah menghakimi orang lain tetapi tidak mau memeriksa diri sendiri. Kelima, tema ini memberi pengharapan bahwa masa lalu yang gelap tidak harus menjadi akhir hidup seseorang jika ia mau datang kepada Kristus dan hidup dalam pertobatan.
Pembahasan Ayat demi Ayat
Pada Yohanes 7:53 tertulis bahwa mereka masing-masing pulang ke rumahnya. Ayat ini menjadi jembatan menuju peristiwa berikutnya. Setelah perdebatan panjang tentang Yesus dalam pasal 7, orang-orang kembali ke rumah masing-masing. Secara sederhana, ayat ini menunjukkan akhir dari suatu keramaian. Namun secara rohani, ayat ini dapat mengingatkan bahwa manusia bisa saja terlibat dalam pembicaraan tentang agama, perdebatan tentang kebenaran, dan kegiatan di sekitar rumah Tuhan, tetapi setelah itu pulang tanpa perubahan hati.
Ini menjadi peringatan bagi kita. Kita dapat hadir dalam ibadah, mendengar firman, berdiskusi tentang kebenaran, bahkan berbicara banyak tentang Tuhan, tetapi pertanyaannya: apa yang terjadi ketika kita kembali ke rumah? Apakah kita menjadi lebih rendah hati? Apakah kita lebih lembut kepada keluarga? Apakah kita lebih jujur dalam pekerjaan? Apakah kita lebih sadar akan dosa sendiri? Ibadah dan firman seharusnya tidak hanya berhenti di gedung gereja, tetapi dibawa pulang dalam kehidupan nyata.
Pada Yohanes 8:1 tertulis bahwa Yesus pergi ke Bukit Zaitun. Bukit Zaitun sering menjadi tempat Yesus berdiam dan berdoa. Setelah menghadapi perdebatan, penolakan, dan tekanan dari para pemimpin agama, Yesus tidak mencari pembelaan manusia. Ia pergi ke tempat yang sunyi. Ini menunjukkan bahwa kekuatan pelayanan Yesus lahir dari relasi-Nya dengan Bapa.
Dalam kehidupan kita, ketika menghadapi tekanan, konflik, dan masalah, kita sering langsung bereaksi. Kita membalas kata-kata, mempertahankan diri, atau mengambil keputusan dalam emosi. Yesus memberi teladan berbeda. Ia hidup dekat dengan Bapa.
Ia berdiam di hadapan Allah. Karena itu, ketika menghadapi situasi yang panas, Ia tidak mudah terpancing. Orang yang dekat dengan Tuhan akan lebih bijaksana menghadapi dosa, konflik, dan tekanan.
Pada Yohanes 8:2 dikatakan bahwa pagi-pagi benar Yesus berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya, lalu Ia duduk dan mengajar mereka. Yesus kembali mengajar. Ia tidak berhenti menyatakan kebenaran sekalipun banyak orang menolak-Nya. Ia tetap menjalankan panggilan-Nya sebagai Guru dan Juruselamat.
Pagi-pagi orang datang kepada Yesus untuk mendengar pengajaran. Namun suasana pengajaran itu segera berubah menjadi suasana penghakiman ketika para pemimpin agama membawa perempuan yang berdosa. Ini menunjukkan bahwa di tengah ruang pengajaran firman pun, hati manusia dapat menyimpang.
Firman yang seharusnya membawa manusia kepada pertobatan dapat disalahgunakan untuk menjebak, menyerang, dan mempermalukan orang lain. Karena itu, saat mendengar firman, kita perlu bertanya: apakah saya datang untuk dibentuk Tuhan, atau hanya mencari bahan untuk menilai orang lain?
Pada Yohanes 8:3, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada Yesus seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah, lalu mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah.
Perempuan ini ditempatkan di tengah bukan untuk dipulihkan, tetapi untuk dipermalukan. Dosa perzinahan memang dosa yang serius. Namun cara para pemimpin agama memperlakukan perempuan ini menunjukkan kurangnya belas kasihan dan keadilan.
Yang sangat mencolok adalah hanya perempuan itu yang dibawa. Padahal perzinahan melibatkan dua orang. Di mana laki-lakinya? Mengapa hanya perempuan yang diseret ke hadapan umum? Ini menunjukkan ketidakadilan dalam cara mereka menegakkan hukum. Mereka tampak membela kekudusan, tetapi sebenarnya memakai kasus itu secara tidak utuh dan tidak adil.
Dalam kehidupan sekarang, hal seperti ini masih terjadi. Ada orang yang kesalahannya dibongkar habis-habisan, sementara pihak lain yang juga bersalah tidak disentuh. Ada orang lemah dipermalukan, sementara orang kuat dilindungi.
Ada perempuan disalahkan sendirian dalam dosa moral, sementara laki-laki yang terlibat menghilang dari tanggung jawab. Firman ini menegur ketidakadilan manusia. Tuhan tidak membenarkan dosa, tetapi Tuhan juga menolak penghakiman yang pilih kasih.
Pada Yohanes 8:4, mereka berkata kepada Yesus, “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.” Mereka memanggil Yesus “Rabi,” yang berarti Guru. Tetapi panggilan itu tidak lahir dari hati yang mau belajar. Mereka memakai kata hormat, tetapi maksudnya menjebak. Inilah kemunafikan rohani. Mulut mereka tampak menghormati Yesus, tetapi hati mereka melawan Dia.
Ini menjadi peringatan bagi kita. Bahasa rohani tidak selalu berarti hati yang rohani. Seseorang bisa memakai istilah Alkitab, menyebut nama Tuhan, berbicara tentang hukum, dan tampak membela kebenaran, tetapi hatinya penuh kepentingan diri. Kita perlu berhati-hati agar tidak memakai agama sebagai topeng. Jangan memakai firman untuk menyerang orang lain, tetapi menolak firman memeriksa diri sendiri.
Pada Yohanes 8:5, mereka berkata bahwa Musa dalam hukum Taurat memerintahkan untuk melempari perempuan seperti itu dengan batu, lalu mereka bertanya, “Tetapi apa kata-Mu tentang hal itu?” Mereka mengutip hukum Musa. Namun mereka tidak mengutip dengan hati yang tulus mencari kehendak Tuhan. Mereka mengutip hukum untuk menjebak Yesus.
Ini mengajarkan bahwa hukum Tuhan dapat disalahgunakan oleh hati yang tidak benar. Firman Tuhan yang seharusnya membawa orang kepada kekudusan dan pertobatan bisa dipakai menjadi alat untuk menghukum, mempermalukan, dan memenangkan kepentingan sendiri. Inilah bahaya religiositas tanpa kasih. Orang bisa terlihat membela kebenaran, tetapi sebenarnya hatinya tidak mengasihi Tuhan dan sesama.
Yesus tidak pernah meremehkan hukum Allah. Yesus tidak membenarkan dosa. Tetapi Yesus menolak cara manusia berdosa memakai hukum untuk menghancurkan orang lain sambil menyembunyikan dosa sendiri. Di dalam Yesus, kebenaran dan kasih berjalan bersama. Kebenaran tanpa kasih dapat menjadi kekerasan. Kasih tanpa kebenaran dapat menjadi pembiaran dosa. Yesus menyatakan keduanya secara sempurna.
Pada Yohanes 8:6, Yohanes menjelaskan bahwa mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Yesus supaya memperoleh sesuatu untuk menyalahkan Dia. Tetapi Yesus membungkuk dan menulis dengan jari-Nya di tanah. Motif para penuduh dibongkar. Mereka tidak tulus. Perempuan itu hanya dijadikan alat untuk menjebak Yesus.
Sikap Yesus sangat menarik. Ia tidak langsung menjawab. Ia membungkuk dan menulis di tanah. Alkitab tidak menjelaskan apa yang ditulis Yesus, sehingga kita tidak perlu berspekulasi berlebihan. Yang jelas, Yesus tidak terpancing oleh tekanan massa. Ia tidak bereaksi dalam emosi. Ia tenang. Ia memberi ruang bagi suasana yang panas untuk berhenti sejenak.
Dalam hidup sekarang, kita sering terlalu cepat bereaksi. Ketika mendengar kesalahan orang, kita cepat menyebarkan. Ketika tersinggung, kita cepat membalas. Ketika melihat dosa orang lain, kita cepat menghakimi.
Yesus mengajar kita untuk tidak tergesa-gesa. Ada saatnya diam adalah hikmat. Ada saatnya menahan kata-kata adalah tindakan rohani. Ada saatnya berhenti sejenak sebelum berbicara dapat mencegah kita berbuat dosa dengan lidah.
Pada Yohanes 8:7, ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Yesus berdiri dan berkata, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”
Perkataan Yesus sangat tajam, tetapi penuh hikmat. Yesus tidak berkata bahwa perempuan itu tidak berdosa. Yesus tidak berkata bahwa hukum Musa salah. Tetapi Yesus mengarahkan para penuduh untuk memeriksa diri.
Yesus menyingkapkan kemunafikan mereka. Mereka ingin melempar batu, tetapi tidak mau melihat dosa sendiri. Mereka ingin menghukum, tetapi lupa bahwa mereka juga berdiri di hadapan Allah yang kudus. Yesus mengajarkan bahwa menegur dosa tidak boleh lahir dari hati yang merasa suci sendiri. Teguran harus lahir dari kerendahan hati, kesadaran akan anugerah, dan keinginan memulihkan.
Dalam kehidupan sekarang, “batu” tidak selalu berbentuk benda. Batu bisa berupa kata-kata yang kasar, komentar yang menghina, gosip, sindiran, pengucilan, atau label yang membuat seseorang kehilangan masa depan. Banyak orang tidak melempar batu dengan tangan, tetapi melempar batu dengan mulut dan jari di media sosial. Yesus bertanya kepada kita: apakah kita sungguh tanpa dosa sehingga begitu mudah menghancurkan orang lain?
Pada Yohanes 8:8, Yesus kembali membungkuk dan menulis di tanah. Setelah mengucapkan kalimat yang menusuk hati, Yesus kembali diam. Ia tidak perlu berteriak. Ia tidak perlu mempermalukan para penuduh satu per satu. Kebenaran yang Ia ucapkan sudah cukup kuat untuk bekerja dalam hati mereka.
Ini mengajarkan bahwa tujuan Yesus bukan memenangkan perdebatan, tetapi menyingkapkan hati dan membawa manusia kepada kesadaran. Dalam pelayanan dan kehidupan sehari-hari, kita sering ingin menang dalam argumen. Kita ingin orang lain kalah. Kita ingin membuktikan bahwa kita benar. Tetapi Yesus menunjukkan bahwa kebenaran sejati tidak perlu disertai kesombongan. Kebenaran harus membawa orang kepada pertobatan, bukan hanya kepada rasa malu.
Pada Yohanes 8:9, setelah mendengar perkataan itu, mereka pergi seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu. Para penuduh pergi karena hati nurani mereka tertusuk. Tidak ada seorang pun yang berani melempar batu.
Yang tertua pergi lebih dahulu, mungkin karena mereka lebih sadar akan banyaknya dosa dan kegagalan hidup. Semakin panjang hidup seseorang, semakin banyak pula hal yang dapat diingat sebagai kelemahan dan dosa. Di hadapan Yesus, semua manusia kehilangan dasar untuk menyombongkan diri sebagai hakim yang sempurna.
Ayat ini menunjukkan bahwa di hadapan Kristus, semua manusia membutuhkan belas kasihan. Para penuduh datang dengan batu di tangan, tetapi pergi dengan kesadaran di hati. Mereka ingin menghakimi perempuan itu, tetapi perkataan Yesus menghakimi hati mereka sendiri. Ini adalah karya terang Kristus: menyingkapkan dosa bukan hanya pada orang yang terlihat jatuh, tetapi juga pada orang yang merasa dirinya berdiri teguh.
Pada Yohanes 8:10, Yesus berdiri dan berkata kepada perempuan itu, “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?” Pertanyaan Yesus penuh belas kasihan. Ia tidak memanggil perempuan itu dengan hinaan. Ia tidak menyebutnya dengan label dosanya. Ia menyapanya sebagai manusia.
Ketika semua orang melihat perempuan itu sebagai “pendosa,” Yesus melihatnya sebagai pribadi yang masih dapat dipulihkan. Ini sangat penting. Dosa memang harus diakui, tetapi manusia tidak boleh dipenjara selamanya oleh label dosanya. Di hadapan Yesus, seseorang dapat menerima identitas baru dan kesempatan baru.
Pertanyaan Yesus juga menolong perempuan itu menyadari bahwa tidak ada lagi orang yang melempar batu. Ruang penghukuman telah berubah menjadi ruang anugerah. Kini perempuan itu berdiri bukan di hadapan massa yang kejam, tetapi di hadapan Kristus yang penuh kasih dan kebenaran. Ini adalah kabar baik bagi siapa pun yang merasa hidupnya hanya diingat dari kesalahannya. Di hadapan Yesus, masa lalu tidak harus menjadi akhir cerita.
Pada Yohanes 8:11, perempuan itu menjawab, “Tidak ada, Tuhan.” Lalu Yesus berkata, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” Inilah puncak bacaan dan tema khotbah kita. Yesus tidak menghukum perempuan itu. Tetapi Yesus juga tidak membiarkan perempuan itu kembali kepada dosa. Yesus memberi anugerah dan memanggil kepada pertobatan.
Kalimat “Aku pun tidak menghukum engkau” menunjukkan kasih karunia. Yesus datang bukan untuk menghancurkan orang berdosa yang mau dipulihkan. Tetapi kalimat “Jangan berbuat dosa lagi” menunjukkan kekudusan. Yesus tidak berkata, “Tidak apa-apa, lanjutkan hidupmu seperti biasa.” Ia memanggil perempuan itu meninggalkan kehidupan lama.
Kalimat “mulai dari sekarang” sangat penting. Yesus membuka masa depan baru. Perempuan itu tidak dapat menghapus masa lalunya, tetapi ia dapat menjalani hidup baru sejak saat itu. Inilah Injil. Di dalam Kristus, selalu ada kemungkinan untuk memulai kembali. Namun awal baru itu harus dijalani dalam pertobatan. Pengampunan bukan akhir dari perjalanan rohani, tetapi awal dari hidup yang diperbarui.
Penutup
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, setelah merenungkan Yohanes 7:53–8:11, kita melihat bahwa tema “Pergilah Dan Jangan Berbuat Dosa Lagi Mulai Dari Sekarang” adalah pesan Injil yang sangat kuat. Di dalam tema ini ada belas kasihan, tetapi juga ada kekudusan. Ada pengampunan, tetapi juga ada panggilan untuk berubah.
Ada kesempatan baru, tetapi juga ada perintah untuk meninggalkan dosa. Yesus tidak menghukum perempuan itu seperti para penuduhnya, tetapi Yesus juga tidak membenarkan dosanya. Ia menyelamatkan perempuan itu dari hukuman dan memanggilnya kepada kehidupan baru.
Kita harus menjaga keseimbangan ini. Jangan menjadi seperti para penuduh yang memegang batu, merasa paling benar, dan memakai dosa orang lain untuk kepentingan diri. Tetapi jangan juga menjadi orang yang meremehkan dosa dan berkata bahwa kasih Tuhan berarti kita bebas hidup sesuka hati. Yesus menolak keduanya. Ia menolak penghakiman yang munafik dan Ia menolak dosa yang dibiarkan. Ia memberi anugerah yang menyelamatkan dan kebenaran yang memulihkan.
Firman ini mengajak kita melihat diri. Mungkin kita seperti perempuan itu, berdiri dengan rasa malu karena dosa yang nyata. Jika demikian, datanglah kepada Yesus. Jangan lari. Jangan bersembunyi. Jangan percaya pada suara yang berkata bahwa hidupmu sudah selesai. Di dalam Kristus ada pengampunan. Tetapi dengarlah juga perintah-Nya: jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.
Mungkin kita seperti para penuduh, mudah melihat kesalahan orang lain, cepat membicarakan, cepat menghakimi, cepat mempermalukan, tetapi lambat memeriksa diri. Jika demikian, letakkan batu kita. Batu itu bisa berupa gosip, kata-kata kasar, komentar jahat, sindiran, penghinaan, dendam, atau sikap merasa paling benar. Ingatlah bahwa kita juga hidup karena belas kasihan Tuhan.
Ada beberapa poin penting yang perlu kita pegang dari firman ini.
Pertama, dosa adalah kenyataan serius. Yesus tidak membenarkan dosa perempuan itu. Ia berkata, “Jangan berbuat dosa lagi.” Karena itu, jangan menganggap dosa sebagai hal biasa. Jangan bermain-main dengan dosa yang merusak hidup, keluarga, pelayanan, dan relasi dengan Tuhan.
Kedua, semua manusia membutuhkan belas kasihan Tuhan. Para penuduh tidak dapat melempar batu karena mereka juga berdosa. Ini mengajarkan kerendahan hati. Jangan cepat merasa lebih suci daripada orang lain.
Ketiga, Yesus memberi pengampunan kepada orang berdosa yang mau dipulihkan. Ia tidak menghancurkan perempuan itu. Ia memberi kesempatan baru. Ini memberi pengharapan bagi siapa pun yang merasa hidupnya sudah rusak oleh dosa.
Keempat, pengampunan harus menghasilkan pertobatan. Yesus berkata, “Pergilah,” tetapi juga berkata, “Jangan berbuat dosa lagi.” Anugerah bukan izin untuk melanjutkan dosa, melainkan kuasa untuk hidup baru.
Kelima, “mulai dari sekarang” berarti hidup baru harus dimulai hari ini. Jangan menunda pertobatan. Jangan berkata nanti. Jangan tunggu keadaan sempurna. Mulailah dari sekarang.
Keenam, gereja dipanggil menjadi tempat pemulihan. Gereja harus menegur dosa dengan benar, tetapi tidak boleh menjadi tempat pelemparan batu. Gereja harus menjadi tempat orang berdosa dapat mendengar kebenaran, menerima kasih, dan dituntun kepada pertobatan.
Implikasi firman ini sangat nyata. Dalam keluarga, jangan terus memakai kesalahan masa lalu pasangan, anak, orang tua, atau saudara sebagai senjata untuk menyakiti. Tegurlah dengan kasih, carilah pemulihan, dan bukalah ruang pertobatan. Dalam gereja, jangan jadikan dosa orang sebagai bahan cerita.
Jika seseorang jatuh, doakan, dampingi, tegur dengan benar, dan tolong ia kembali kepada Tuhan. Dalam masyarakat dan media sosial, jangan ikut menyebarkan aib orang. Jangan menjadi bagian dari kerumunan yang melempar batu. Dalam kehidupan pribadi, akuilah dosa di hadapan Tuhan dan ambillah langkah nyata untuk berubah.
Saudara-saudara, Yesus berkata, “Pergilah.” Itu berarti Ia membuka masa depan. Ia tidak mau kita terus tinggal di tempat malu, dosa, dan penghukuman. Namun Yesus juga berkata, “Jangan berbuat dosa lagi.” Itu berarti masa depan baru tidak boleh dijalani dengan cara lama. Dan Yesus berkata, “Mulai dari sekarang.” Itu berarti pertobatan harus dimulai hari ini, bukan nanti.
Jika ada dosa yang harus ditinggalkan, tinggalkanlah. Jika ada kebiasaan buruk yang harus dihentikan, hentikanlah. Jika ada relasi yang harus dibereskan, bereskanlah. Jika ada orang yang harus dimintai maaf, mintalah maaf. Jika ada kehidupan tersembunyi yang tidak berkenan kepada Tuhan, bawalah kepada terang Kristus. Jika ada batu penghakiman di tangan kita, letakkanlah di hadapan Yesus.
Marilah kita belajar dari perempuan dalam Yohanes 8. Ia datang dalam keadaan malu, tetapi menerima kesempatan baru. Marilah belajar dari Zakheus. Ia menerima anugerah Yesus, lalu menunjukkan pertobatan melalui perubahan nyata. Marilah belajar dari Yesus, yang penuh kasih karunia dan kebenaran. Ia tidak melempar batu, tetapi juga tidak membiarkan dosa tetap berkuasa.
Akhirnya, kiranya tema ini menjadi panggilan hidup kita: “Pergilah Dan Jangan Berbuat Dosa Lagi Mulai Dari Sekarang.” Kiranya kita menerima pengampunan Kristus dengan hati yang sungguh.
Kiranya kita meninggalkan dosa dengan keputusan yang nyata. Kiranya kita berhenti menghakimi dengan munafik. Kiranya gereja menjadi tempat pemulihan. Dan kiranya mulai dari sekarang, hidup kita menjadi kesaksian bahwa kasih Kristus sanggup mengampuni, dan kuasa Kristus sanggup mengubah manusia.
Amin.
Editor : Clavel Lukas