Bacaan dan Renungan untuk Orang Muda Katolik Katolik, Hari Kamis 30 Juli 2026, Bacaan I Yeremia 18:1-6, Bacaan Injil Matius 13:47-53

Fandy Gerungan • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 10:07 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Perayaan Wajib St. Petrus Krisologus (Warna Liturgi Putih)

Bacaan I Yeremia 18:1-6

Firman yang datang dari TUHAN kepada Yeremia, bunyinya:

"Pergilah dengan segera ke rumah tukang periuk! Di sana Aku akan memperdengarkan perkataan-perkataan-Ku kepadamu."

Lalu pergilah aku ke rumah tukang periuk, dan kebetulan ia sedang bekerja dengan pelarikan.

Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.

Kemudian datanglah firman TUHAN kepadaku, bunyinya:

"Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel!, demikianlah firman TUHAN. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel!

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 146:2abc.2d-4.5-6

Aku hendak memuliakan TUHAN selama aku hidup, dan bermazmur bagi Allahku selagi aku ada.

Aku hendak memuliakan TUHAN selama aku hidup, dan bermazmur bagi Allahku selagi aku ada.

Janganlah percaya kepada para bangsawan, kepada anak manusia yang tidak dapat memberikan keselamatan.

Apabila nyawanya melayang, ia kembali ke tanah; pada hari itu juga lenyaplah maksud-maksudnya.

Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada TUHAN, Allahnya:

Dia yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya; yang tetap setia untuk selama-lamanya,

Bacaan Injil Matius 13:47-53

"Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama pukat yang dilabuhkan di laut, lalu mengumpulkan berbagai-bagai jenis ikan.

Setelah penuh, pukat itupun diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam pasu dan ikan yang tidak baik mereka buang.

Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar,

lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.

Mengertikah kamu semuanya itu?" Mereka menjawab: "Ya, kami mengerti."

Maka berkatalah Yesus kepada mereka: "Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal Kerajaan Sorga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya."

Setelah Yesus selesai menceriterakan perumpamaan-perumpamaan itu, Iapun pergi dari situ.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Salve sahabat muda katolik di era media sosial, kita sering melihat hidup orang lain tampak sempurna. Ada yang sudah sukses di usia muda, ada yang lulus dengan prestasi tinggi. 

Ada yang punya pekerjaan impian, bahkan ada yang terlihat selalu bahagia. Tanpa sadar, kita mulai membandingkan diri dan berpikir, mengapa hidupku belum seperti mereka?. Akibatnya, kita merasa gagal, tidak berguna, atau kehilangan arah.

Bacaan hari ini mengajak kita melihat hidup dari sudut pandang yang berbeda. Tuhan mengibaratkan kita seperti tanah liat di tangan seorang tukang periuk. Tanah liat tidak langsung menjadi bejana yang indah. 

Ia harus melalui proses dibentuk, diputar, ditekan, bahkan dibentuk ulang ketika hasilnya belum sesuai. Demikian pula hidup orang muda. Kegagalan dalam studi, putus pertemanan, kehilangan kesempatan. 

Rencana yang berantakan juga bukan berarti akhir dari segalanya. Bisa jadi, Tuhan sedang membentuk kita menjadi pribadi yang lebih kuat dan lebih siap menghadapi masa depan.

Masalahnya, banyak orang muda ingin hasil yang instan. Kita ingin doa langsung dijawab, cita-cita segera tercapai, dan semua berjalan sesuai keinginan. Ketika kenyataan berbeda, kita mudah kecewa kepada Tuhan. 

Padahal, Tuhan tidak sedang menghukum kita. Ia sedang mempersiapkan kita. Karakter yang matang tidak lahir dari hidup yang selalu nyaman, tetapi dari kesediaan untuk tetap percaya di tengah proses.

Yesus dalam Injil juga mengingatkan bahwa pada akhirnya hidup setiap orang akan dinilai. Yang membuat seseorang berharga di hadapan Tuhan bukan jumlah pengikut di media sosial. 

Nilai akademik, atau pencapaian yang dipamerkan, melainkan kualitas hidupnya. Apakah ia mengasihi?. Apakah ia jujur?. Apakah ia mau mengampuni?. Apakah ia tetap memilih yang benar ketika semua orang memilih jalan yang mudah?.

Sebagai orang muda Katolik, kita dipanggil bukan hanya menjadi "baik" di gereja, tetapi juga menjadi terang di sekolah, kampus, tempat kerja, dan dunia digital. 

Tuhan ingin kita menjadi pribadi yang membawa damai, menghargai sesama, berani berkata benar, dan menggunakan talenta untuk melayani, bukan hanya untuk mencari pengakuan.

Hari ini, ingatlah satu hal: jangan menyerah hanya karena hidupmu belum selesai dibentuk. Tuhan belum selesai mengerjakan karya-Nya dalam dirimu. 

Selama kamu tetap membuka hati kepada-Nya, setiap pengalaman bahkan kegagalan sekalipun dapat menjadi bagian dari proses yang membentukmu menjadi pribadi yang luar biasa. (*)

 

Editor : Fandy Gerungan
renungan katolik omk Renungan