Bacaan dan Renungan untuk Orang Muda Katolik, Hari Jumat 31 Juli 2026, Bacaan I Yeremia 26:1-9, Bacaan Injil Matius 13:54-58

Fandy Gerungan • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 10:36 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Perayaan Wajib St. Ignatius dr Loyola (Warna Liturgi Putih)

Bacaan I Yeremia 26:1-9

Pada permulaan pemerintahan Yoyakim, anak Yosia raja Yehuda, datanglah firman ini dari TUHAN, bunyinya:

Beginilah firman TUHAN: "Berdirilah di pelataran rumah TUHAN dan katakanlah kepada penduduk segala kota Yehuda, yang datang untuk sujud di rumah TUHAN, segala firman yang Kuperintahkan untuk kaukatakan kepada mereka. Janganlah kaukurangi sepatah katapun!

Mungkin mereka mau mendengarkan dan masing-masing mau berbalik dari tingkah langkahnya yang jahat, sehingga Aku menyesal akan malapetaka yang Kurancangkan itu terhadap mereka oleh karena perbuatan-perbuata mereka yang jahat.

Jadi katakanlah kepada mereka: Beginilah firman TUHAN: Jika kamu tidak mau mendengarkan Aku, tidak mau mengikuti Taurat-Ku yang telah Kubentangkan di hadapanmu,

dan tidak mau mendengarkan perkataan hamba-hamba-Ku, para nabi, yang terus-menerus Kuutus kepadamu, ?tetapi kamu tidak mau mendengarkan?

maka Aku akan membuat rumah ini sama seperti Silo, dan kota ini menjadi kutuk bagi segala bangsa di bumi."

Para imam, para nabi dan seluruh rakyat mendengar Yeremia mengucapkan perkataan-perkataan itu dalam rumah TUHAN.

Lalu sesudah Yeremia selesai mengatakan segala apa yang diperintahkan TUHAN untuk dikatakan kepada seluruh rakyat itu, maka para imam, para nabi dan seluruh rakyat itu menangkap dia serta berkata: "Engkau harus mati!

Mengapa engkau bernubuat demi nama TUHAN dengan berkata: Rumah ini akan sama seperti Silo, dan kota ini akan menjadi reruntuhan, sehingga tidak ada lagi penduduknya?" Dan seluruh rakyat berkumpul mengerumuni Yeremia di rumah TUHAN.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 69:5.8-11.14

Ya Allah, Engkau mengetahui kebodohanku, kesalahan-kesalahanku tidak tersembunyi bagi-Mu.

Aku telah menjadi orang luar bagi saudara-saudaraku, orang asing bagi anak-anak ibuku;

sebab cinta untuk rumah-Mu menghanguskan aku, dan kata-kata yang mencela Engkau telah menimpa aku.

Aku meremukkan diriku dengan berpuasa, tetapi itupun menjadi cela bagiku;

Lepaskanlah aku dari dalam lumpur, supaya jangan aku tenggelam, biarlah aku dilepaskan dari orang-orang yang membenci aku, dan dari air yang dalam!

Bacaan Injil Matius 13:54-58

Setibanya di tempat asal-Nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata: "Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu?

Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas?

Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?"

Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka: "Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya."

Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan 

Salve sahabat muda katolik, "Jangan lihat cover-nya." Kalimat itu sering kita dengar, tetapi kenyataannya justru sebaliknya. Di zaman media sosial, kita terbiasa menilai seseorang dari penampilan, jumlah followers, cara berpakaian, atau latar belakangnya. 

Kita lebih mudah percaya kepada orang yang terkenal daripada kepada orang yang sederhana. Bahkan, kita kadang mengabaikan nasihat yang sebenarnya benar hanya karena datang dari orang yang kita anggap "biasa saja".

Inilah yang terjadi dalam Injil hari ini. Orang-orang mengenal Yesus sejak kecil. Mereka tahu keluarga-Nya, pekerjaan ayah-Nya, dan lingkungan tempat Ia dibesarkan. 

Karena merasa sudah mengenal-Nya, mereka menutup hati terhadap apa yang diajarkan-Nya. Mereka sibuk mempertanyakan siapa Yesus, tetapi lupa mendengarkan apa yang disampaikan-Nya. 

Akibatnya, mereka kehilangan kesempatan mengalami karya Tuhan yang luar biasa. Bacaan pertama juga memperlihatkan keberanian Yeremia. Ia tahu bahwa pesan yang harus disampaikannya tidak akan membuat orang senang. 

Bahkan, ia sadar bahwa menyuarakan kebenaran bisa membuatnya dibenci. Namun ia tetap setia. Ia tidak mengubah pesan Tuhan agar terdengar lebih nyaman. Ia memilih taat kepada Allah daripada mencari tepuk tangan manusia.

Sebagai orang muda Katolik, kita juga menghadapi tantangan yang sama. Tidak mudah menjadi pribadi yang jujur ketika teman-teman memilih menyontek. 

Tidak mudah berkata "tidak" ketika diajak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan iman. Tidak mudah mempertahankan nilai-nilai Kristiani ketika lingkungan menganggapnya kuno atau tidak keren. 

Sering kali kita takut dianggap berbeda, dijauhi, atau bahkan diejek. Di sisi lain, kita juga perlu bertanya kepada diri sendiri: Apakah aku mau menerima kebenaran ketika Tuhan menegurku?. 

Kadang Tuhan berbicara melalui orang tua yang mengingatkan, guru yang menegur, imam yang berkhotbah, atau sahabat yang dengan jujur menunjukkan kesalahan kita. 

Sayangnya, kita sering lebih sibuk membela diri daripada mendengarkan. Ego membuat kita menolak nasihat yang sebenarnya bisa mengubah hidup kita menjadi lebih baik.

Hari ini Gereja merayakan Santo Ignatius dari Loyola, seorang muda yang hidupnya berubah total setelah mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Ia pernah mengejar popularitas, keberanian di medan perang, dan kemuliaan dunia. 

Namun ketika hidupnya mengalami titik balik, ia menemukan bahwa kebahagiaan sejati bukan berasal dari pujian manusia, melainkan dari melakukan kehendak Tuhan. 

Hidupnya membuktikan bahwa tidak ada kata terlambat untuk berubah ketika kita memberi ruang bagi Allah untuk berkarya. Orang muda Katolik dipanggil bukan untuk menjadi orang yang paling populer, tetapi menjadi orang yang paling berani melakukan yang benar. 

Dunia membutuhkan lebih banyak anak muda yang jujur, rendah hati, berani membela yang lemah, tidak malu menunjukkan imannya, dan tetap mengasihi meskipun tidak selalu dihargai. 

Menjadi murid Kristus mungkin tidak selalu membuat kita diterima semua orang, tetapi itu akan membuat hidup kita menjadi berkat bagi banyak orang. (*)

Editor : Fandy Gerungan
renungan katolik omk Renungan