Bacaan: Yohanes 7:53–8:11
Tema: “Pergilah Dan Jangan Berbuat Dosa Lagi Mulai Dari Sekarang”
Saudara-saudara P/KB GMIM yang dikasihi dan diberkati Tuhan, sebagai pria, suami, ayah, opa, pekerja, pelayan gereja, dan bagian dari masyarakat, kita sering dituntut untuk tampil kuat. Banyak kaum bapak terbiasa menyimpan masalah sendiri, menahan rasa lelah, menanggung tanggung jawab keluarga, bekerja keras, mengambil keputusan, dan menjaga nama baik keluarga.
Dari luar mungkin terlihat kuat, tetapi di dalam hati ada pergumulan yang tidak selalu mudah diceritakan. Ada pergumulan tentang pekerjaan, ekonomi, relasi dengan istri dan anak, masa lalu, kebiasaan buruk, emosi yang sulit dikendalikan, godaan dosa, bahkan rasa bersalah yang disimpan lama.
Firman Tuhan hari ini membawa kita kepada sebuah kisah yang sangat terkenal, yaitu ketika seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah dibawa kepada Yesus. Ia ditempatkan di tengah-tengah banyak orang. Ia dipermalukan. Ia dihakimi. Ia berada di hadapan orang-orang yang siap melempar batu.
Baca Juga: Renungan Yohanes 7:53–8:11, Pergilah Dan Jangan Berbuat Dosa Lagi Mulai Dari Sekarang
Baca Juga: Materi Khotbah Yohanes 7:53–8:11, Pergilah Dan Jangan Berbuat Dosa Lagi Mulai Dari Sekarang
Namun yang menarik, dalam kisah ini Yesus bukan hanya berhadapan dengan perempuan yang berdosa, tetapi juga dengan para laki-laki pemuka agama yang memakai dosa perempuan itu sebagai alat untuk menjebak Yesus. Mereka tampak membela hukum Tuhan, tetapi sebenarnya hati mereka tidak tulus.
Bacaan ini sangat penting bagi P/KB, karena kisah ini tidak hanya berbicara tentang dosa perempuan itu. Kisah ini juga berbicara tentang dosa laki-laki yang tidak terlihat, kemunafikan rohani, penyalahgunaan kuasa, ketidakadilan terhadap perempuan, dan kebiasaan manusia yang mudah menghakimi orang lain tetapi lupa memeriksa dirinya sendiri.
Bahkan dalam kasus perzinahan, seharusnya ada dua orang yang terlibat. Namun yang dibawa hanya perempuan itu. Di mana laki-lakinya? Mengapa hanya perempuan yang dipermalukan? Di sini kita melihat bahwa dosa tidak hanya ada pada perempuan yang tertangkap, tetapi juga pada sistem dan hati manusia yang tidak adil.
Yesus menjawab situasi itu dengan penuh hikmat. Ia tidak membenarkan dosa perempuan itu, tetapi Ia juga tidak membiarkan orang-orang munafik menghancurkan hidup perempuan itu. Yesus berkata, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Lalu satu per satu mereka pergi. Setelah itu Yesus berkata kepada perempuan itu, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”
Tema “Pergilah Dan Jangan Berbuat Dosa Lagi Mulai Dari Sekarang” adalah berita yang penuh anugerah dan sekaligus panggilan yang sangat serius. Di dalamnya ada pengampunan, tetapi juga ada pertobatan. Ada belas kasihan, tetapi juga ada kekudusan.
Ada kesempatan baru, tetapi juga ada perintah untuk tidak kembali kepada dosa lama. Yesus tidak datang untuk menghancurkan orang berdosa yang mau dipulihkan, tetapi Yesus juga tidak memberi izin kepada manusia untuk terus hidup dalam dosa.
Bagi P/KB, firman ini mengajak kita memeriksa diri. Apakah kita masih suka melempar batu kepada orang lain melalui kata-kata, kemarahan, gosip, hinaan, atau penghakiman? Apakah kita mudah melihat kesalahan istri, anak, sesama pelayan, atau anggota jemaat, tetapi sulit melihat dosa sendiri?
Apakah kita sebagai laki-laki berani bertanggung jawab atas dosa dan kesalahan kita, atau justru membiarkan orang lain menanggung malu sendirian? Apakah kita memakai otoritas sebagai suami, ayah, opa, atau pelayan untuk memulihkan, atau justru untuk menekan dan menghukum?
Firman Tuhan hari ini memanggil kita bukan hanya untuk berhenti menghakimi secara munafik, tetapi juga untuk bertobat secara sungguh-sungguh. Kalau ada dosa yang masih dipelihara, tinggalkanlah. Kalau ada kebiasaan buruk yang merusak keluarga, hentikanlah.
Kalau ada amarah yang sering melukai istri dan anak, bawalah kepada Kristus. Kalau ada dosa tersembunyi dalam pikiran, perkataan, atau tindakan, jangan terus disimpan. Dengarlah suara Yesus: “Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”
Saudara-saudara P/KB GMIM yang dikasihi dan diberkati Tuhan
Injil Yohanes ditulis supaya orang percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah, dan supaya oleh iman kepada-Nya mereka memperoleh hidup dalam nama-Nya. Injil Yohanes tidak hanya menceritakan tindakan-tindakan Yesus, tetapi juga menampilkan siapa Yesus sebenarnya. Ia adalah Firman yang menjadi manusia, terang dunia, Anak Domba Allah, Roti Hidup, Air Hidup, Gembala yang baik, Jalan, Kebenaran, dan Hidup.
Dalam Injil Yohanes, sering muncul pertentangan antara terang dan gelap, hidup dan kematian, iman dan ketidakpercayaan, kebenaran dan kemunafikan. Yesus datang sebagai terang, tetapi tidak semua orang mau datang kepada terang itu. Ada orang berdosa yang justru terbuka terhadap kasih karunia Yesus, tetapi ada juga orang religius yang tampak saleh namun hatinya keras, penuh kepentingan, dan tidak mau bertobat.
Yohanes 7:53–8:11 adalah kisah tentang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Dalam beberapa Alkitab, bagian ini sering diberi catatan bahwa kisah ini tidak terdapat dalam beberapa naskah Yunani yang paling tua atau berada di tempat berbeda dalam beberapa tradisi naskah.
Namun kisah ini telah lama dikenal dalam kehidupan gereja dan sangat sejalan dengan kesaksian Injil tentang Yesus yang penuh kasih karunia dan kebenaran. Yesus tidak meremehkan dosa, tetapi Ia juga tidak membiarkan orang berdosa yang mau dipulihkan dihancurkan oleh penghakiman manusia.
Konteks sebelum kisah ini memperlihatkan ketegangan yang semakin besar antara Yesus dan para pemimpin agama. Banyak orang memperdebatkan siapa Yesus. Ada yang percaya, ada yang menolak, ada yang ragu, dan para pemimpin agama semakin mencari cara untuk menangkap Dia. Dalam suasana seperti itu, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa seorang perempuan kepada Yesus. Mereka tidak sungguh-sungguh datang untuk mencari keadilan. Mereka datang untuk mencobai Yesus.
Jika Yesus berkata perempuan itu harus dilepaskan, mereka dapat menuduh Yesus melawan hukum Musa. Jika Yesus berkata perempuan itu harus dirajam, mereka dapat mempersoalkan Yesus dengan pemerintah Romawi atau menuduh Yesus bertentangan dengan belas kasihan yang Ia ajarkan. Jadi, perempuan itu dijadikan alat untuk menjebak Yesus. Ini menunjukkan betapa kerasnya hati manusia ketika agama dipakai bukan untuk menyelamatkan, tetapi untuk menyerang.
Makna tema “Pergilah Dan Jangan Berbuat Dosa Lagi Mulai Dari Sekarang” sangat penting. Pertama, tema ini menyatakan bahwa Yesus memberi anugerah kepada orang berdosa. Ia tidak datang untuk membinasakan orang yang mau dipulihkan. Kedua, tema ini menegaskan bahwa anugerah Yesus tidak pernah membenarkan dosa.
Yesus tetap berkata, “Jangan berbuat dosa lagi.” Ketiga, tema ini mengajarkan bahwa pengampunan harus menghasilkan pertobatan. Keempat, tema ini menegur sikap manusia yang mudah menghakimi orang lain tanpa memeriksa dirinya sendiri. Kelima, tema ini memberi pengharapan bahwa masa lalu yang gelap tidak harus menjadi akhir hidup seseorang.
Bagi P/KB GMIM, tema ini menuntun kita untuk hidup sebagai laki-laki yang bertobat, bukan laki-laki yang hanya pandai menilai orang lain. Seorang pria Kristen harus berani jujur di hadapan Tuhan. Ia harus berani mengakui dosa, memperbaiki sikap, meminta maaf jika salah, dan meninggalkan kebiasaan yang merusak. Ia juga harus menjadi pribadi yang memulihkan, bukan menghancurkan; menegur dengan kasih, bukan mempermalukan; memimpin dengan kebenaran, bukan dengan kemunafikan.
Pembahasan Ayat demi Ayat
Pada Yohanes 7:53 tertulis bahwa mereka masing-masing pulang ke rumahnya. Ayat ini tampak sederhana, tetapi dapat menjadi perenungan yang penting. Setelah perdebatan tentang Yesus dalam pasal sebelumnya, orang-orang pulang ke rumah masing-masing.
Secara rohani, ini mengingatkan bahwa setiap orang pada akhirnya kembali ke kehidupan nyata. Kita bisa hadir dalam ibadah, mendengar firman, mengikuti persekutuan, bahkan berbicara banyak tentang kebenaran, tetapi pertanyaannya adalah: apa yang terjadi ketika kita pulang ke rumah?
Bagi P/KB, pertanyaan ini sangat penting. Apakah setelah ibadah kita menjadi suami yang lebih sabar? Apakah setelah mendengar firman kita menjadi ayah yang lebih bijaksana? Apakah setelah pelayanan kita menjadi opa yang lebih banyak mendoakan cucu? Atau kita hanya baik di gereja, tetapi keras di rumah? Firman Tuhan harus dibawa pulang. Jangan sampai kita tampak rohani di tempat ibadah, tetapi keluarga tidak merasakan buah rohani itu di rumah.
Pada Yohanes 8:1 tertulis bahwa Yesus pergi ke Bukit Zaitun. Bukit Zaitun sering menjadi tempat Yesus berdiam, berdoa, dan mengambil waktu bersama Bapa. Setelah menghadapi tekanan, perdebatan, dan penolakan, Yesus tidak mencari popularitas. Ia pergi ke tempat yang sunyi. Dari sini kita melihat bahwa kekuatan Yesus dalam menghadapi konflik dan dosa manusia lahir dari relasi-Nya dengan Bapa.
P/KB perlu belajar dari Yesus. Banyak kaum bapak menghadapi tekanan hidup dan langsung melampiaskannya di rumah. Tekanan pekerjaan dibawa pulang menjadi kemarahan kepada istri. Masalah ekonomi menjadi bentakan kepada anak.
Kelelahan pelayanan menjadi sikap dingin kepada keluarga. Yesus mengajarkan bahwa kita perlu datang kepada Tuhan sebelum bereaksi kepada manusia. Seorang laki-laki yang dekat dengan Tuhan akan lebih mampu menahan diri, lebih bijaksana berbicara, dan lebih rendah hati menghadapi masalah.
Pada Yohanes 8:2 dikatakan bahwa pagi-pagi benar Yesus berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya, lalu Ia duduk dan mengajar mereka. Yesus kembali mengajar. Ia setia menyampaikan kebenaran meskipun banyak orang menolak-Nya. Ia duduk sebagai Guru dan banyak orang datang mendengar-Nya.
Tetapi suasana pengajaran itu segera berubah menjadi suasana penghakiman ketika para pemimpin agama membawa seorang perempuan berdosa. Ini menunjukkan bahwa bahkan di ruang keagamaan, hati manusia dapat dipenuhi maksud yang tidak benar.
Firman yang seharusnya membawa kepada pertobatan dapat disalahgunakan untuk menyerang orang lain. Bagi P/KB, ini menjadi peringatan. Jangan memakai firman hanya untuk menegur istri dan anak, tetapi tidak mau ditegur oleh firman. Jangan memakai ayat untuk membenarkan diri, tetapi menolak firman membongkar dosa sendiri.
Pada Yohanes 8:3, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah, lalu menempatkannya di tengah-tengah. Perempuan ini ditempatkan di tengah, bukan untuk ditolong, tetapi untuk dipermalukan. Ia dijadikan tontonan. Dosa perzinahan memang serius dan merusak relasi dengan Tuhan, keluarga, dan sesama. Tetapi cara para pemimpin agama memperlakukan perempuan ini menunjukkan hati yang tidak berbelas kasihan.
Yang perlu diperhatikan, hanya perempuan itu yang dibawa. Dalam dosa perzinahan, tentu ada laki-laki yang terlibat. Tetapi laki-laki itu tidak dibawa. Ini menunjukkan ketidakadilan. Perempuan dipermalukan, sementara laki-laki yang turut berdosa tidak muncul.
Bagi P/KB, ini adalah teguran yang sangat kuat. Laki-laki Kristen tidak boleh lari dari tanggung jawab moral. Jangan membiarkan perempuan, istri, anak, atau orang lain menanggung akibat dari dosa yang juga melibatkan kita. Jangan menjadi laki-laki yang bersembunyi, sementara orang lain dipermalukan.
Dalam kehidupan sekarang, ketidakadilan seperti ini masih terjadi. Perempuan sering lebih cepat disalahkan. Anak sering menjadi korban keputusan orang dewasa. Orang kecil mudah dihukum, sementara orang kuat dilindungi. Firman Tuhan menegur P/KB agar menjadi laki-laki yang adil, jujur, dan bertanggung jawab. Kalau salah, akui. Kalau berdosa, bertobat. Jangan sembunyi di balik kuasa, jabatan, atau nama baik.
Pada Yohanes 8:4, mereka berkata kepada Yesus, “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.” Mereka memanggil Yesus “Rabi,” tetapi bukan dengan hati yang mau belajar. Mereka memakai panggilan hormat sebagai topeng, sebab sebenarnya mereka ingin menjebak Dia. Ini adalah kemunafikan rohani.
Bagi P/KB, ayat ini menegur kita tentang bahaya memakai bahasa rohani tanpa hati yang sungguh-sungguh rohani. Kita bisa menyebut nama Tuhan, bisa berdoa, bisa memimpin ibadah, bisa berbicara tentang firman, tetapi hati kita bisa penuh ego, dendam, kepentingan, atau kemunafikan. Tuhan tidak hanya mendengar kata-kata kita. Tuhan melihat hati kita. Jangan sampai mulut berkata “Tuhan,” tetapi hidup tidak tunduk kepada Tuhan.
Pada Yohanes 8:5, mereka berkata bahwa Musa dalam hukum Taurat memerintahkan untuk melempari perempuan seperti itu dengan batu, lalu mereka bertanya, “Tetapi apa kata-Mu tentang hal itu?” Mereka mengutip hukum Musa, tetapi bukan untuk mencari kehendak Tuhan. Mereka memakai hukum sebagai alat menjebak Yesus.
Ini mengingatkan bahwa firman Tuhan dapat disalahgunakan oleh hati yang tidak benar. Seseorang bisa memakai ayat Alkitab untuk menekan istri, membungkam anak, menyerang orang lain, atau mempertahankan kuasa. Padahal firman Tuhan diberikan bukan untuk menjadi alat kesombongan, tetapi untuk menuntun manusia kepada kebenaran, kasih, dan pertobatan.
Yesus tidak menolak kekudusan hukum Allah. Yesus tidak berkata bahwa dosa perzinahan tidak masalah. Tetapi Yesus menolak cara manusia berdosa memakai hukum untuk menghancurkan orang lain sambil menyembunyikan dosa sendiri.
Bagi P/KB, ini mengingatkan bahwa kebenaran harus disampaikan dengan hati yang benar. Menegur dosa perlu, tetapi jangan dengan hati yang merasa paling suci. Menegakkan disiplin perlu, tetapi jangan dengan kebencian. Menjaga kekudusan penting, tetapi harus disertai kasih yang memulihkan.
Pada Yohanes 8:6, Yohanes menjelaskan bahwa mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Yesus supaya memperoleh sesuatu untuk menyalahkan Dia. Tetapi Yesus membungkuk dan menulis dengan jari-Nya di tanah. Motif mereka jelas: bukan mencari kebenaran, tetapi menjebak. Mereka memakai perempuan itu sebagai alat. Ini adalah dosa yang sangat serius: memakai orang lain demi kepentingan diri sendiri.
Yesus tidak langsung menjawab. Ia membungkuk dan menulis di tanah. Alkitab tidak menjelaskan apa yang ditulis Yesus. Karena itu, kita tidak perlu berspekulasi berlebihan. Yang jelas, Yesus tidak terpancing. Ia tenang. Ia tidak terbawa emosi massa. Ia tidak buru-buru menjawab tekanan orang banyak.
P/KB perlu belajar menahan diri. Banyak kerusakan dalam keluarga terjadi karena laki-laki terlalu cepat bereaksi. Cepat marah, cepat membentak, cepat mengambil keputusan, cepat menghakimi, cepat menyimpulkan. Yesus memberi teladan untuk tenang. Ada saatnya diam lebih bijaksana daripada berbicara. Ada saatnya menahan diri lebih rohani daripada langsung membalas. Seorang pria Kristen harus belajar menguasai diri.
Pada Yohanes 8:7, ketika mereka terus-menerus bertanya, Yesus berdiri dan berkata, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Ini adalah perkataan yang sangat tajam. Yesus tidak membantah hukum. Ia tidak membenarkan dosa. Tetapi Ia mengarahkan para penuduh untuk melihat diri sendiri.
Perkataan ini membongkar kemunafikan mereka. Mereka siap menghukum, tetapi tidak siap diperiksa. Mereka ingin melihat dosa perempuan itu, tetapi tidak mau melihat dosa sendiri. Mereka merasa layak melempar batu, tetapi di hadapan Tuhan mereka juga berdosa.
Bagi P/KB, ini adalah panggilan untuk berhenti menjadi pelempar batu. Batu tidak selalu berbentuk benda. Batu bisa berupa kata-kata kasar kepada istri, hinaan kepada anak, komentar jahat di media sosial, gosip tentang orang jatuh, sindiran dalam pelayanan, atau sikap mengucilkan seseorang yang berdosa. Yesus bertanya: apakah kita sungguh tanpa dosa sehingga begitu mudah menghancurkan orang lain?
Ini bukan berarti kita tidak boleh menegur. Seorang ayah harus menegur anak. Seorang pelayan harus menjaga kebenaran. Gereja harus menegur dosa. Tetapi teguran harus lahir dari hati yang rendah, bukan dari kesombongan. Teguran harus bertujuan memulihkan, bukan mempermalukan.
Pada Yohanes 8:8, Yesus kembali membungkuk dan menulis di tanah. Setelah mengucapkan kalimat yang menusuk hati, Yesus kembali diam. Ia tidak perlu berteriak. Ia tidak perlu mempermalukan para penuduh satu per satu. Kebenaran yang Ia ucapkan sudah cukup untuk bekerja dalam hati mereka.
Ini mengajar kita bahwa kebenaran tidak harus disampaikan dengan kekerasan. Banyak laki-laki berpikir bahwa semakin keras suara, semakin benar perkataannya. Padahal tidak selalu demikian. Kebenaran yang disampaikan dengan hikmat dapat lebih kuat daripada teriakan. Dalam keluarga, seorang ayah tidak harus selalu berteriak agar didengar. Dalam pelayanan, seorang pemimpin tidak harus mempermalukan orang agar dihormati. Hikmat Kristus mengajar kita menyampaikan kebenaran dengan kuasa yang tenang.
Pada Yohanes 8:9, setelah mendengar perkataan itu, mereka pergi seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu. Para penuduh pergi karena hati nurani mereka tertusuk. Tidak ada seorang pun yang berani melempar batu.
Yang tertua pergi lebih dahulu. Mungkin karena mereka lebih sadar bahwa hidup yang panjang membawa banyak ingatan tentang kegagalan, kesalahan, dan dosa. Di hadapan Yesus, semua manusia kehilangan dasar untuk merasa paling benar. Tidak ada yang layak berdiri sebagai hakim yang sempurna atas sesamanya.
Bagi P/KB, ayat ini mengajak kita makin tua makin rendah hati. Semakin banyak pengalaman, seharusnya kita semakin bijaksana, bukan semakin keras. Semakin lama melayani, seharusnya semakin sadar bahwa kita hidup oleh anugerah, bukan semakin merasa paling benar. Opa-opa dan bapak-bapak senior dalam jemaat dipanggil menjadi teladan kerendahan hati dan belas kasihan, bukan menjadi orang yang paling cepat menghakimi.
Pada Yohanes 8:10, Yesus berdiri dan berkata kepada perempuan itu, “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?” Pertanyaan ini penuh belas kasihan. Yesus tidak menyebut perempuan itu dengan label dosanya. Ia tidak memanggilnya dengan hinaan. Ia menyapanya sebagai manusia.
Di hadapan orang banyak, perempuan itu mungkin hanya dikenal sebagai pendosa. Tetapi di hadapan Yesus, ia adalah pribadi yang masih dapat dipulihkan. Ini sangat penting. Dosa harus diakui, tetapi manusia tidak boleh dipenjara selamanya oleh label dosanya. Yesus membuka ruang pemulihan. Ia tidak menghapus tanggung jawab moral, tetapi Ia juga tidak membiarkan masa lalu menjadi akhir cerita.
Bagi P/KB, ini mengajar kita memperlakukan orang yang jatuh dengan cara yang benar. Dalam keluarga, jangan terus memanggil seseorang dengan kesalahannya. Jangan terus mengingat dosa masa lalu istri, anak, atau saudara sebagai senjata. Jika ada pertobatan, bukalah jalan pemulihan. Di gereja, jangan menjadikan orang yang pernah jatuh sebagai bahan cerita seumur hidup. Yesus tidak mempermalukan; Ia memulihkan.
Pada Yohanes 8:11, perempuan itu menjawab, “Tidak ada, Tuhan.” Lalu Yesus berkata, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” Inilah puncak bacaan. Yesus tidak menghukum perempuan itu, tetapi juga tidak membiarkan dia kembali kepada dosa. Ia memberi anugerah dan memanggil kepada pertobatan.
Kalimat “Aku pun tidak menghukum engkau” adalah berita kasih karunia. Yesus tidak menghancurkan orang berdosa yang berdiri di hadapan-Nya. Tetapi kalimat “jangan berbuat dosa lagi” adalah panggilan kekudusan. Yesus tidak berkata, “Tidak apa-apa, lanjutkan hidup seperti biasa.” Ia memanggil perempuan itu masuk ke hidup baru.
Kalimat “mulai dari sekarang” sangat penting. Masa lalu perempuan itu nyata, tetapi Yesus membuka masa depan. Ia tidak dapat mengubah masa lalunya, tetapi ia dapat memulai hidup baru sejak saat itu. Bagi P/KB, ini juga berlaku. Mungkin ada dosa masa lalu. Mungkin ada kegagalan sebagai suami, ayah, opa, pekerja, atau pelayan. Tetapi di dalam Kristus, masih ada panggilan untuk memulai hidup baru. Jangan tunda. Mulai dari sekarang.
Penutup
Saudara-saudara P/KB GMIM yang dikasihi Tuhan, setelah merenungkan Yohanes 7:53–8:11, kita melihat bahwa tema “Pergilah Dan Jangan Berbuat Dosa Lagi Mulai Dari Sekarang” adalah panggilan Injil yang penuh kasih dan penuh kebenaran.
Yesus tidak menghancurkan perempuan yang berdosa itu. Tetapi Yesus juga tidak membenarkan dosanya. Ia memberi pengampunan dan kesempatan baru, lalu memanggilnya meninggalkan dosa. Inilah keseimbangan Injil: anugerah yang menyelamatkan dan kebenaran yang menguduskan.
Bagi P/KB, firman ini berbicara sangat kuat. Kita dipanggil untuk berhenti menjadi laki-laki yang mudah melempar batu kepada orang lain. Jangan cepat menghakimi istri, anak, saudara, rekan kerja, atau sesama jemaat, sementara kita sendiri tidak mau memeriksa diri. Jangan memakai firman untuk menyerang orang lain tetapi menolak firman menegur dosa kita. Jangan memakai status sebagai suami, ayah, opa, pemimpin, atau pelayan untuk menekan orang lain. Di hadapan Kristus, kita semua membutuhkan belas kasihan.
Tetapi firman ini juga memanggil kita untuk tidak bermain-main dengan dosa. Jangan berkata, “Tuhan pasti mengampuni,” lalu terus hidup dalam kebiasaan buruk. Jangan menyembunyikan dosa di balik nama baik. Jangan meremehkan dosa dalam pikiran, percakapan, relasi, pekerjaan, atau kehidupan pribadi. Anugerah Tuhan bukan izin untuk tetap berdosa. Anugerah Tuhan adalah kesempatan untuk hidup baru.
Ada beberapa poin penting yang perlu kita pegang.
Pertama, dosa harus diakui dengan jujur. Jangan lari dari tanggung jawab. Jangan menutupi kesalahan. Jangan membiarkan orang lain menanggung akibat dari dosa kita. Seorang P/KB harus berani berkata, “Saya salah,” jika memang salah.
Kedua, jangan menjadi pelempar batu. Batu bisa berupa kata-kata kasar, hinaan, gosip, penghakiman, sindiran, dan sikap merendahkan. Letakkan batu itu di hadapan Yesus.
Ketiga, teguran harus bertujuan memulihkan. Sebagai ayah, suami, opa, atau pelayan, kita memang perlu menegur dosa. Tetapi tegurlah dengan kasih, bukan dengan kebencian. Tegurlah untuk membangun, bukan mempermalukan.
Keempat, laki-laki Kristen harus bertanggung jawab. Dalam kisah Yohanes 8, laki-laki yang terlibat tidak muncul. Ini menjadi peringatan agar P/KB tidak menjadi laki-laki yang bersembunyi dari tanggung jawab moral. Jika terlibat dalam kesalahan, bertanggung jawablah.
Kelima, Yesus memberi kesempatan baru. Masa lalu tidak harus menjadi akhir hidup. Jika kita datang kepada Kristus dengan pertobatan, Ia sanggup mengampuni dan memulihkan.
Keenam, pertobatan harus dimulai sekarang. Yesus berkata, “Mulai dari sekarang.” Jangan menunda perubahan. Jangan tunggu nanti. Mulailah hari ini.
Implikasi firman ini sangat nyata. Dalam keluarga, kalau kita sering kasar, mulailah berubah. Jika pernah melukai istri atau anak dengan kata-kata, mintalah maaf. Jika ada kebiasaan buruk yang merusak rumah tangga, tinggalkanlah. Jika selama ini jarang hadir bagi keluarga, perbaikilah. Jika ada dosa tersembunyi, bawalah kepada Tuhan dan carilah pertolongan yang benar.
Dalam pekerjaan, hiduplah jujur. Jangan menipu, jangan menyalahgunakan jabatan, jangan mengambil yang bukan hak kita. Kalau ada kesalahan yang harus dibereskan, bereskanlah. Dalam pelayanan, jangan jadikan gereja tempat menutupi kemunafikan. Jadilah pelayan yang rendah hati dan mau ditegur. Dalam masyarakat, jangan ikut menyebarkan aib orang. Jangan menjadi bagian dari kerumunan yang melempar batu.
Saudara-saudara, Yesus berkata kepada perempuan itu, “Pergilah.” Artinya, ada masa depan baru. Ia tidak harus tinggal dalam rasa malu dan hukuman massa. Tetapi Yesus juga berkata, “Jangan berbuat dosa lagi.” Artinya, masa depan baru tidak boleh dijalani dengan cara lama. Dan Yesus berkata, “Mulai dari sekarang.” Artinya, pertobatan tidak boleh ditunda.
Marilah kita belajar dari Yesus yang penuh kasih karunia dan kebenaran. Marilah belajar dari perempuan itu yang diberi kesempatan baru. Marilah juga belajar dari Daud yang akhirnya mengakui dosanya ketika ditegur Tuhan. Jangan menjadi laki-laki yang terus membela diri ketika salah. Jadilah laki-laki yang berani bertobat, berani berubah, dan berani hidup baru.
Akhirnya, kiranya P/KB GMIM menjadi persekutuan kaum bapak yang tidak memegang batu penghakiman, tetapi membawa kasih pemulihan; tidak menyembunyikan dosa, tetapi hidup dalam pertobatan; tidak memakai kuasa untuk menekan, tetapi untuk melindungi; tidak menjadi sumber luka dalam keluarga, tetapi menjadi alat Tuhan untuk menghadirkan damai.
Kiranya tema ini menjadi panggilan hidup kita: “Pergilah Dan Jangan Berbuat Dosa Lagi Mulai Dari Sekarang.” Mulailah dari hati. Mulailah dari rumah. Mulailah dari perkataan. Mulailah dari relasi. Mulailah dari pertobatan yang nyata. Dan kiranya hidup kita menjadi kesaksian bahwa kasih Kristus sanggup mengampuni, dan kuasa Kristus sanggup mengubah manusia.
Amin.
Editor : Clavel Lukas