Bacaan dan Renungan untuk Umat Katolik, Hari Sabtu 1 Agustus 2026, Bacaan I Yeremia 26:11-16.24, Bacaan Injil Matius 14:1-12

Fandy Gerungan • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 10:17 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Perayaan Wajib St. Alfonsius Maria de Ligouri (Warna Liturgi Putih)

Bacaan I Yeremia 26:11-16.24

Kemudian berkatalah para imam dan para nabi itu kepada para pemuka dan kepada seluruh rakyat itu, katanya: "Orang ini patut mendapat hukuman mati, sebab ia telah bernubuat tentang kota ini, seperti yang kamu dengar dengan telingamu sendiri."

Tetapi Yeremia berkata kepada segala pemuka dan kepada seluruh rakyat itu, katanya: "Tuhanlah yang telah mengutus aku supaya bernubuat tentang rumah dan kota ini untuk menyampaikan segala perkataan yang telah kamu dengar itu.

Oleh sebab itu, perbaikilah tingkah langkahmu dan perbuatanmu, dan dengarkanlah suara TUHAN, Allahmu, sehingga TUHAN menyesal akan malapetaka yang diancamkan-Nya atas kamu.

Tetapi aku ini, sesungguhnya, aku ada di tanganmu, perbuatlah kepadaku apa yang baik dan benar di matamu.

Hanya ketahuilah sungguh-sungguh, bahwa jika kamu membunuh aku, maka kamu mendatangkan darah orang yang tak bersalah atas kamu dan atas kota ini dan penduduknya, sebab TUHAN benar-benar mengutus aku kepadamu untuk menyampaikan segala perkataan ini kepadamu."

Lalu berkatalah para pemuka dan seluruh rakyat itu kepada imam-imam dan nabi-nabi itu: "Orang ini tidak patut mendapat hukuman mati, sebab ia telah berbicara kepada kita demi nama TUHAN, Allah kita."

Tetapi Yeremia dilindungi oleh Ahikam bin Safan, sehingga ia tidak diserahkan ke dalam tangan rakyat untuk dibunuh.

Demikianlah Sabda Tuhan 

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 69:15-16.30-31.33-34

Janganlah gelombang air menghanyutkan aku, atau tubir menelan aku, atau sumur menutup mulutnya di atasku.

Jawablah aku, ya TUHAN, sebab kasih setia-Mu baik, berpalinglah kepadaku menurut rahmat-Mu yang besar!

Aku akan memuji-muji nama Allah dengan nyanyian, mengagungkan Dia dengan nyanyian syukur;

pada pemandangan Allah itu lebih baik dari pada sapi jantan, dari pada lembu jantan yang bertanduk dan berkuku belah.

Sebab TUHAN mendengarkan orang-orang miskin, dan tidak memandang hina orang-orang-Nya dalam tahanan.

Biarlah langit dan bumi memuji-muji Dia, lautan dan segala yang bergerak di dalamnya.

Bacaan Injil Matius 14:1-12

Pada masa itu sampailah berita-berita tentang Yesus kepada Herodes, raja wilayah.

Lalu ia berkata kepada pegawai-pegawainya: "Inilah Yohanes Pembaptis; ia sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam-Nya."

Sebab memang Herodes telah menyuruh menangkap Yohanes, membelenggunya dan memenjarakannya, berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya.

Karena Yohanes pernah menegornya, katanya: "Tidak halal engkau mengambil Herodias!"

Herodes ingin membunuhnya, tetapi ia takut akan orang banyak yang memandang Yohanes sebagai nabi.

Tetapi pada hari ulang tahun Herodes, menarilah anak perempuan Herodias di tengah-tengah mereka dan menyukakan hati Herodes,

sehingga Herodes bersumpah akan memberikan kepadanya apa saja yang dimintanya.

Maka setelah dihasut oleh ibunya, anak perempuan itu berkata: "Berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam."

Lalu sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya diperintahkannya juga untuk memberikannya.

Disuruhnya memenggal kepala Yohanes di penjara

dan kepala Yohanes itupun dibawa orang di sebuah talam, lalu diberikan kepada gadis itu dan ia membawanya kepada ibunya.

Kemudian datanglah murid-murid Yohanes Pembaptis mengambil mayatnya dan menguburkannya. Lalu pergilah mereka memberitahukannya kepada Yesus.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, ada kalanya mengatakan kebenaran jauh lebih sulit daripada mengatakan sesuatu yang ingin didengar orang lain. 

Kebenaran bisa membuat kita tidak disukai, bahkan bisa membuat kita kehilangan kenyamanan, jabatan, persahabatan, atau kesempatan tertentu. 

Tetapi justru di situlah iman kita diuji: apakah kita berani tetap berdiri di pihak kebenaran ketika kebenaran itu tidak menguntungkan kita?.

Hari ini kita berjumpa dengan dua sosok yang memiliki keberanian luar biasa: Yeremia dan Yohanes Pembaptis. Keduanya sama-sama berhadapan dengan kekuasaan dan tekanan. 

Mereka tidak mencari masalah, tetapi mereka juga tidak mau diam ketika melihat sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Allah.

Yeremia menyampaikan teguran kepada bangsa yang mulai menjauh dari Tuhan. Teguran itu tidak diterima dengan baik. Ia bahkan dituduh layak dihukum mati. 

Namun Yeremia tidak menarik kembali perkataannya hanya karena takut. Ia tetap menyerahkan dirinya kepada Tuhan dan membiarkan kebenaran berbicara.

Hal yang sama terjadi pada Yohanes Pembaptis. Yohanes berani menegur Herodes karena hidupnya tidak benar. Yohanes tahu bahwa tegurannya bisa membawa risiko besar. Dan memang akhirnya ia harus membayar keberaniannya dengan nyawanya sendiri.

Yang menarik, kedua tokoh ini tidak sedang mencari popularitas. Mereka tidak sedang berusaha menjadi terkenal. Mereka juga tidak sedang ingin menunjukkan bahwa diri mereka lebih suci daripada orang lain. 

Mereka hanya ingin setia kepada Tuhan. Di sinilah pesan Injil hari ini menjadi sangat dekat dengan kehidupan kita.

Kita mungkin tidak berada di istana seperti Herodes. Kita mungkin juga tidak akan dipenjara seperti Yeremia atau Yohanes. Tetapi setiap hari kita berhadapan dengan pilihan yang sama memilih kebenaran atau kenyamanan.

Di sekolah, misalnya, kita bisa saja melihat teman menyontek dan memilih diam karena takut kehilangan teman. Kita bisa mengetahui ada seseorang yang diperlakukan tidak adil. 

Tetapi kita memilih tidak peduli karena tidak mau terlibat. Kita bisa tahu bahwa sesuatu itu salah, tetapi tetap melakukannya karena semua orang melakukannya.

Di media sosial pun demikian. Kadang kita tahu bahwa sebuah berita belum tentu benar, tetapi kita tetap membagikannya karena menarik. Kita tahu sebuah komentar dapat melukai orang lain. 

Kita tetap menulisnya karena sedang emosi. Kita tahu bahwa mempermalukan orang lain bukan sesuatu yang baik, tetapi kita ikut tertawa karena takut dianggap tidak gaul.

Kebenaran sering kali tidak datang dengan suara yang keras. Kadang ia hadir dalam suara hati yang kecil dan berkata, “Jangan lakukan itu.”

Masalahnya, suara hati itu sering kita kalahkan dengan berbagai alasan. Hari ini kita belajar dari Herodes bahwa mengetahui sesuatu yang benar belum tentu membuat seseorang berani melakukan yang benar. 

Herodes sebenarnya tahu bahwa Yohanes adalah orang benar. Ia bahkan merasa gelisah ketika mendengarkan Yohanes. Tetapi ia lebih takut kehilangan muka di hadapan orang lain daripada kehilangan kebenaran dalam dirinya.

Inilah salah satu bahaya terbesar dalam hidup: ketika kita lebih takut mengecewakan manusia daripada mengecewakan Tuhan.

Herodes terjebak oleh gengsi, janji yang dibuat tanpa pertimbangan, tekanan orang lain, dan keinginan untuk mempertahankan citra dirinya. Akhirnya, sebuah keputusan yang salah membawa akibat yang sangat tragis.

Bukankah kita pun terkadang seperti Herodes?. Kita tahu harus meminta maaf, tetapi gengsi menahan kita. Kita tahu harus berhenti dari kebiasaan buruk, tetapi kita takut kehilangan kenyamanan. 

Kita tahu harus berkata jujur, tetapi kita takut konsekuensinya. Kita tahu harus menjauh dari pergaulan yang buruk, tetapi kita takut dianggap berbeda.

Sementara itu, Yeremia dan Yohanes mengajarkan sesuatu yang berbeda: kesetiaan kepada Tuhan kadang membutuhkan keberanian untuk berdiri sendirian.

Menjadi orang Katolik bukan berarti hidup kita akan selalu mudah. Menjadi murid Kristus bukan berarti semua orang akan menyukai kita. Ada saat ketika kita harus berani mengatakan tidak, ketika semua orang mengatakan ya. 

Ada saat ketika kita harus memilih jujur meskipun kejujuran itu merugikan kita. Ada saat ketika kita harus mempertahankan iman meskipun iman kita dianggap kuno atau tidak relevan. (*)

Editor : Fandy Gerungan
renungan katolik Renungan