Bacaan dan Renungan untuk Umat Katolik, Hari Minggu Biasa ke XVIII, Hari Minggu 2 Agustus 2026

Fandy Gerungan • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 09:31 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Hari Minggu Biasa ke XVIII (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I Yesaya 55:1-3

Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran!

Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan yang baik dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat.

Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku; dengarkanlah, maka kamu akan hidup! Aku hendak mengikat perjanjian abadi dengan kamu, menurut kasih setia yang teguh yang Kujanjikan kepada Daud.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 145:8-9,15-16,17-18

TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya.

TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya.

Mata sekalian orang menantikan Engkau, dan Engkaupun memberi mereka makanan pada waktunya;

Engkau yang membuka tangan-Mu dan yang berkenan mengenyangkan segala yang hidup.

TUHAN itu adil dalam segala jalan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya.

TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan.

Bacaan II Roma 8:35,37-39

Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?

Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.

Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang,

atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Bacaan Injil Matius 14:13-21

Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka.

Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.

Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata: "Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa."

Tetapi Yesus berkata kepada mereka: "Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan."

Jawab mereka: "Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan."

Yesus berkata: "Bawalah ke mari kepada-Ku."

Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak.

Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, dua belas bakul penuh.

Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, ada banyak hal yang membuat manusia merasa tidak pernah cukup. Kita merasa kurang uang, kurang waktu, kurang kemampuan, kurang perhatian, bahkan kadang merasa kurang dicintai. 

Kita terus mengejar sesuatu yang kita pikir akan membuat hidup kita lengkap, tetapi setelah mendapatkannya, ternyata hati kita masih merasa kosong.

Bacaan hari ini mengajak kita melihat kembali apa yang sebenarnya kita cari dalam hidup. Manusia bisa memiliki banyak hal, tetapi belum tentu memiliki ketenangan. 

Kita bisa makan makanan yang enak, memiliki rumah yang nyaman, mempunyai pekerjaan yang baik, bahkan dikelilingi banyak orang, tetapi hati tetap dapat merasa haus dan lapar.

Ada kelaparan yang tidak dapat diselesaikan dengan makanan. Ada kehausan yang tidak dapat dipuaskan dengan uang. Ada kekosongan yang tidak dapat diisi dengan popularitas, jabatan, prestasi, ataupun berbagai kesenangan dunia.

Karena itu, Tuhan mengajak kita untuk kembali kepada-Nya. Sebab hanya Tuhan yang mampu menyentuh bagian terdalam dari hati manusia. 

Kasih-Nya tidak diberikan karena kita hebat, sempurna, atau layak menerimanya. Tuhan mengasihi kita karena kita adalah anak-anak-Nya.

Hal ini semakin nyata dalam Injil. Ketika Yesus melihat orang banyak yang datang kepada-Nya, Ia tidak melihat mereka sekadar sebagai kerumunan. 

Ia melihat kebutuhan mereka. Ia melihat penderitaan mereka. Ia melihat mereka dengan hati yang penuh belas kasih.

Para murid melihat persoalan dari sisi keterbatasan. Hari sudah mulai malam. Tempatnya sunyi. Orang yang berkumpul sangat banyak. Makanan yang tersedia sangat sedikit. Secara manusiawi, semuanya memang tampak tidak mungkin.

Tetapi Yesus melihat sesuatu yang berbeda. Di tangan para murid hanya ada lima roti dan dua ikan. Sedikit sekali dibandingkan dengan kebutuhan ribuan orang. 

Namun Yesus tidak meminta sesuatu yang besar. Ia meminta apa yang tersedia dan membawa yang sedikit itu kepada Allah.

Di sinilah kita menemukan pesan yang sangat indah: Tuhan tidak menunggu kita memiliki banyak sebelum kita dapat menjadi berkat. Tuhan dapat menggunakan apa pun yang kita miliki, bahkan sesuatu yang menurut kita sangat kecil.

Sering kali kita berkata, “Saya tidak punya banyak yang bisa diberikan.” Saya tidak pintar. Saya tidak punya banyak uang. Saya tidak punya kemampuan khusus. Saya masih terlalu muda. Saya bukan siapa-siapa.

Tetapi Tuhan tidak pernah bertanya, “Berapa banyak yang kamu punya?”. Tuhan melihat apakah kita bersedia menyerahkan apa yang kita punya ke dalam tangan-Nya.

Satu senyuman bisa menguatkan seseorang. Satu kata yang baik bisa menyelamatkan seseorang dari keputusasaan. Sedikit waktu yang kita berikan kepada orang yang membutuhkan bisa menjadi sangat berarti. 

Sebuah tindakan sederhana, jika dilakukan dengan kasih, dapat menjadi berkat yang besar. Karena itu, jangan pernah meremehkan kebaikan kecil.

Kita mungkin merasa bahwa apa yang kita lakukan tidak akan mengubah apa-apa. Tetapi ketika sesuatu yang kecil diberikan dengan kasih dan diserahkan kepada Tuhan, Tuhan dapat mengembangkannya menjadi sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.

Bacaan kedua memberikan kekuatan yang sama. Hidup memang tidak selalu mudah. Ada saat kita mengalami kesulitan, kegagalan, kehilangan, penolakan, dan berbagai persoalan yang membuat kita bertanya apakah Tuhan masih bersama kita.

Namun iman Kristiani mengajarkan bahwa keadaan sulit tidak berarti kasih Tuhan telah meninggalkan kita.

Justru dalam situasi seperti itulah kita belajar bahwa kasih Kristus bukanlah kasih yang hanya hadir ketika semuanya berjalan baik. Kasih Kristus tetap tinggal ketika kita jatuh. 

Ia tetap memegang kita ketika kita lemah. Ia tetap menemani ketika kita merasa sendirian. Mungkin hari ini ada di antara kita yang sedang merasa lelah. Ada yang sedang menghadapi masalah keluarga. 

Ada yang sedang kecewa dengan dirinya sendiri. Ada yang sedang berjuang dalam pekerjaan atau pendidikan. Ada pula yang mungkin terlihat baik-baik saja di luar, tetapi sebenarnya sedang menyimpan banyak luka di dalam hati.

Jangan berpikir bahwa Tuhan tidak melihat semuanya. Tuhan tahu rasa lapar dan haus yang ada dalam hati kita. Tuhan tahu apa yang tidak mampu kita ceritakan kepada orang lain. 

Dan Tuhan mengundang kita untuk datang kepada-Nya, bukan dengan membawa kesempurnaan, tetapi dengan membawa hati kita apa adanya.

Saudara-saudari terkasih,

Kisah lima roti dan dua ikan juga mengingatkan kita akan sebuah kebenaran penting dalam kehidupan iman: *berkat Tuhan tidak pernah dimaksudkan untuk berhenti pada diri kita sendiri.*

Roti itu tidak hanya diberkati untuk dinikmati oleh beberapa orang. Roti itu dibagikan sehingga banyak orang mendapatkan kehidupan.

Demikian juga dengan apa yang Tuhan berikan kepada kita. Talenta kita, waktu kita, kemampuan kita, pekerjaan kita, pengalaman kita, bahkan luka dan perjuangan hidup kita dapat menjadi sarana untuk membantu orang lain.

Mungkin kita tidak bisa melakukan sesuatu yang besar untuk dunia. Tetapi kita bisa melakukan sesuatu yang kecil untuk orang di sekitar kita.

Kita bisa menjadi alasan seseorang kembali memiliki harapan. Kita bisa menjadi orang yang mendengarkan ketika orang lain membutuhkan tempat untuk bercerita. 

Kita bisa menguatkan seseorang yang sedang jatuh. Kita bisa berbagi tanpa menunggu memiliki kelebihan. (*)

 

Editor : Fandy Gerungan
renungan katolik Renungan