Bacaan dan Renungan untuk Umat Katolik, Hari Senin 3 Agustus 2026, Bacaan I Yeremia 28:1-17, Bacaan Injil Matius 14:22-36

Fandy Gerungan • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 10:14 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Pekan Biasa ke XVIII (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I Yeremia 28:1-17

Dalam tahun itu juga, pada permulaan pemerintahan Zedekia, raja Yehuda, dalam bulan yang kelima tahun yang keempat, berkatalah nabi Hananya bin Azur yang berasal dari Gibeon itu kepadaku di rumah TUHAN, di depan mata imam-imam dan seluruh rakyat:

"Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Aku telah mematahkan kuk raja Babel itu.

Dalam dua tahun ini Aku akan mengembalikan ke tempat ini segala perkakas rumah TUHAN yang telah diambil dari tempat ini oleh Nebukadnezar, raja Babel, dan yang diangkutnya ke Babel.

Juga Yekhonya bin Yoyakim, raja Yehuda, beserta semua orang buangan dari Yehuda yang dibawa ke Babel akan Kukembalikan ke tempat ini, demikianlah firman TUHAN! Sungguh, Aku akan mematahkan kuk raja Babel itu!"

Lalu berkatalah nabi Yeremia kepada nabi Hananya di depan mata imam-imam dan di depan mata seluruh rakyat yang berdiri di rumah TUHAN itu,

kata nabi Yeremia: "Amin! Moga-moga TUHAN berbuat demikian! Moga-moga TUHAN menepati perkataan-perkataan yang kaunubuatkan itu dengan dikembalikannya perkakas-perkakas rumah TUHAN dan semua orang buangan itu dari Babel ke tempat ini.

Hanya, dengarkanlah hendaknya perkataan yang akan kukatakan ke telingamu dan ke telinga seluruh rakyat ini:

Nabi-nabi yang ada sebelum aku dan sebelum engkau dari dahulu kala telah bernubuat kepada banyak negeri dan terhadap kerajaan-kerajaan yang besar tentang perang dan malapetaka dan penyakit sampar.

Tetapi mengenai seorang nabi yang bernubuat tentang damai sejahtera, jika nubuat nabi itu digenapi, maka barulah ketahuan, bahwa nabi itu benar-benar diutus oleh TUHAN."

Kemudian nabi Hananya mengambil gandar itu dari pada tengkuk nabi Yeremia, lalu mematahkannya.

Berkatalah Hananya di depan mata seluruh rakyat itu: "Beginilah firman TUHAN: Dalam dua tahun ini begitu jugalah Aku akan mematahkan kuk Nebukadnezar, raja Babel itu, dari pada tengkuk segala bangsa!" Tetapi pergilah nabi Yeremia dari sana.

Maka sesudah nabi Hananya mematahkan gandar dari pada tengkuk nabi Yeremia, datanglah firman TUHAN kepada Yeremia:

"Pergilah mengatakan kepada Hananya: Beginilah firman TUHAN: Engkau telah mematahkan gandar kayu, tetapi Aku akan membuat gandar besi sebagai gantinya!

Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Kuk besi akan Kutaruh ke atas tengkuk segala bangsa ini, sehingga mereka takluk kepada Nebukadnezar, raja Babel; sungguh, mereka akan takluk kepadanya! Malahan binatang-binatang di padang telah Kuserahkan kepadanya."

Lalu berkatalah nabi Yeremia kepada nabi Hananya: "Dengarkanlah, hai Hananya! TUHAN tidak mengutus engkau, tetapi engkau telah membuat bangsa ini percaya kepada dusta.

Sebab itu beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya, Aku menyuruh engkau pergi dari muka bumi. Tahun ini juga engkau akan mati, sebab engkau telah mengajak murtad terhadap TUHAN."

Maka matilah nabi Hananya dalam tahun itu juga, pada bulan yang ketujuh.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 119:29.43.79.80.95.102

Jauhkanlah jalan dusta dari padaku, dan karuniakanlah aku Taurat-Mu.

Janganlah sekali-kali mencabut firman kebenaran dari mulutku, sebab aku berharap kepada hukum-hukum-Mu.

Biarlah berbalik kepadaku orang-orang yang takut kepada-Mu, orang-orang yang tahu peringatan-peringatan-Mu.

Biarlah hatiku tulus dalam ketetapan-ketetapan-Mu, supaya jangan aku mendapat malu.

Orang-orang fasik menantikan aku untuk membinasakan aku; tetapi aku hendak memperhatikan peringatan-peringatan-Mu.

Aku tidak menyimpang dari hukum-hukum-Mu, sebab Engkaulah yang mengajar aku.

Bacaan Injil Matius 14:22-36

Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang.

Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ.

Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal.

Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air.

Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: "Itu hantu!", lalu berteriak-teriak karena takut.

Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!"

Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air."

Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus.

Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!"

Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?"

Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah.

Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: "Sesungguhnya Engkau Anak Allah."

Setibanya di seberang mereka mendarat di Genesaret.

Ketika Yesus dikenal oleh orang-orang di tempat itu, mereka memberitahukannya ke seluruh daerah itu. Maka semua orang yang sakit dibawa kepada-Nya.

Mereka memohon supaya diperkenankan menjamah jumbai jubah-Nya. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, ada saat-saat dalam hidup ketika kita merasa seperti berada di tengah laut yang bergelombang. Semuanya terasa tidak pasti. Kita sudah berusaha, tetapi masalah tidak kunjung selesai. 

Kita sudah berdoa, tetapi jawaban Tuhan belum juga terlihat. Dalam situasi seperti itu, yang paling mudah muncul dalam hati adalah rasa takut.

Menariknya, dalam Injil hari ini, para murid bukan sedang melakukan sesuatu yang salah. Mereka sedang menjalankan apa yang dipercayakan Yesus kepada mereka. 

Namun, ketika berada di tengah perjalanan, mereka tetap menghadapi angin kencang dan gelombang yang mengombang-ambingkan perahu. Ini mengingatkan kita bahwa mengikuti Tuhan bukan berarti hidup kita akan bebas dari masalah.

Kadang kita berpikir, kalau kita rajin berdoa, pergi ke gereja, berusaha hidup baik, maka semua persoalan akan menjadi mudah. Kenyataannya tidak selalu demikian. 

Orang beriman tetap bisa mengalami kegagalan, kehilangan, konflik, kekecewaan, penyakit, masalah keluarga, bahkan masa depan yang tidak pasti.

Tetapi ada satu hal yang berbeda: orang beriman tidak menghadapi badai sendirian. Para murid ketakutan ketika melihat Yesus datang. Mereka tidak langsung mengenali bahwa pertolongan sedang mendekat. 

Bukankah kita juga sering seperti itu?. Ketika masalah datang, kita melihat semuanya sebagai ancaman. Kita melihat kesulitan, tetapi tidak melihat kehadiran Tuhan di tengah kesulitan itu.

Petrus kemudian berani melangkah keluar dari perahu. Ia memiliki keberanian karena percaya kepada Yesus. Namun ketika perhatiannya beralih kepada angin dan gelombang, ketakutan mulai menguasainya. Ia mulai tenggelam.

Bukankah ini gambaran hidup kita?. Selama mata kita tertuju kepada Tuhan, kita memiliki keberanian. Tetapi ketika kita terlalu fokus pada masalah, komentar orang lain, kegagalan, masa lalu, atau ketakutan akan masa depan, kita mulai kehilangan keseimbangan.

Bacaan pertama juga mengingatkan kita untuk berhati-hati terhadap suara-suara yang terdengar meyakinkan tetapi belum tentu berasal dari Tuhan. 

Tidak semua perkataan yang menyenangkan adalah kebenaran. Tidak semua janji yang membuat kita nyaman membawa kita kepada keselamatan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga berhadapan dengan begitu banyak suara: media sosial, teman, lingkungan, ambisi, opini orang lain, bahkan suara dalam diri sendiri. 

Kita perlu belajar membedakan mana suara yang membawa kita semakin dekat kepada Tuhan dan mana yang justru menjauhkan kita dari-Nya.

Tuhan tidak selalu memberikan jawaban yang ingin kita dengar. Tetapi Tuhan selalu memberikan kebenaran yang kita perlukan untuk bertumbuh.

Karena itu, ketika sedang menghadapi badai kehidupan, jangan terburu-buru mengambil keputusan hanya karena takut. Jangan mencari jalan pintas hanya karena ingin cepat selesai. Jangan percaya begitu saja pada suara yang menawarkan kebahagiaan instan.

Saudara-saudari terkasih, mungkin hari ini ada di antara kita yang sedang berada di tengah badai. Ada yang sedang berjuang dengan masalah keluarga. Ada yang sedang kecewa dengan dirinya sendiri. 

Ada yang sedang menghadapi kegagalan. Ada yang merasa doanya belum dijawab. Ada juga yang diam-diam sedang takut menghadapi masa depan.

Ingatlah, badai bukan tanda bahwa Tuhan meninggalkan kita. Kadang Tuhan mengizinkan kita melewati badai bukan untuk menghancurkan kita, tetapi untuk memperdalam iman kita. 

Dalam badai, kita belajar bahwa kekuatan kita terbatas. Dalam badai, kita belajar untuk tidak mengandalkan diri sendiri. Dalam badai, kita belajar menyerahkan hidup kepada Tuhan.

Dan ketika kita mulai tenggelam, seperti Petrus, kita tidak membutuhkan doa yang panjang dan rumit. Kita hanya perlu memiliki hati yang jujur dan berani meminta pertolongan Tuhan.

Sebab tangan Tuhan selalu lebih cepat daripada ketakutan kita. Maka hari ini, jangan terlalu lama menatap gelombang. Jangan biarkan masalah menjadi lebih besar daripada imanmu. 

Jangan biarkan kegagalan membuatmu lupa bahwa Tuhan masih mempunyai rencana. Mungkin badai belum langsung berhenti. Tetapi ketika Tuhan hadir di dalam perahu kehidupan kita, kita memiliki alasan untuk tetap bertahan.

Karena iman bukan berarti kita tidak pernah takut. Iman berarti kita tetap melangkah meskipun takut, karena kita percaya bahwa Tuhan berjalan bersama kita. (*)

Editor : Fandy Gerungan
renungan alkitab Renungan