Bacaan dan Renungan untuk Umat Katolik, Hari Jumat 7 Agustus 2026, Bacaan I Nahum 1:15;2:2;3:1-3,6-7, Bacaan Injil Matius 16:24-28

Fandy Gerungan • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 14:54 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Pekan Biasa ke  XVIII (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I Nahum 1:15;2:2;3:1-3,6-7

Lihatlah! Di atas gunung-gunung berjalan orang yang membawa berita, yang mengabarkan berita damai sejahtera. Rayakanlah hari rayamu, hai Yehuda, bayarlah nazarmu! Sebab tidak akan datang lagi orang dursila menyerang engkau; ia telah dilenyapkan sama sekali!

Sungguh, TUHAN memulihkan kebanggaan Yakub, seperti kebanggaan Israel; sebab perusak telah merusakkannya dan telah membinasakan carang-carangnya.

Celakalah kota penumpah darah itu! Seluruhnya dusta belaka, penuh dengan perampasan, dan tidak henti-hentinya penerkaman!

Dengar, lecut cambuk dan derak-derik roda! Dengar, kuda lari menderap, dan kereta meloncat-loncat!

Pasukan berkuda menyerang, pedang bernyala-nyala dan tombak berkilat-kilat! Banyak yang mati terbunuh dan bangkai bertimbun-timbun! Tidak habis-habisnya mayat-mayat, orang tersandung jatuh pada mayat-mayat!

Aku akan melemparkan barang keji ke atasmu, akan menghina engkau dan akan membuat engkau menjadi tontonan.

Maka semua orang yang melihat engkau akan lari meninggalkan engkau serta berkata: "Niniwe sudah rusak! Siapakah yang meratapi dia? Dari manakah aku akan mencari penghibur-penghibur untuk dia?"

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur Tanggapan Ulangan 33:35cd-36ab.39abcd.41

Hak-Kulah dendam dan pembalasan, pada waktu kaki mereka goyang, sebab hari bencana bagi mereka telah dekat, akan segera datang apa yang telah disediakan bagi mereka.

Sebab TUHAN akan memberi keadilan kepada umat-Nya, dan akan merasa sayang kepada hamba-hamba-Nya; apabila dilihat-Nya, bahwa kekuatan mereka sudah lenyap, dan baik hamba maupun orang merdeka sudah tiada.

Lihatlah sekarang, bahwa Aku, Akulah Dia. Tidak ada Allah kecuali Aku. Akulah yang mematikan dan yang menghidupkan, Aku telah meremukkan, tetapi Akulah yang menyembuhkan, dan seorangpun tidak ada yang dapat melepaskan dari tangan-Ku.

apabila Aku mengasah pedang-Ku yang berkilat-kilat, dan tangan-Ku memegang penghukuman, maka Aku membalas dendam kepada lawan-Ku, dan mengadakan pembalasan kepada yang membenci Aku.

Bacaan Injil Matius 16:24-28

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.

Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?

Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i yang terkasih renungan hari ini mengajak kita melihat dua jalan hidup yang sangat berbeda. Jalan pertama adalah jalan yang dibangun di atas kesombongan, kekuasaan, dan ketidakadilan. 

Jalan ini mungkin tampak kuat untuk sementara waktu, tetapi pada akhirnya akan runtuh. Tidak ada kekuatan manusia yang mampu bertahan jika dibangun tanpa kebenaran. 

Sebaliknya, Allah selalu berpihak kepada mereka yang tetap setia dan berharap kepada-Nya, sekalipun harus melewati masa-masa sulit.

Dalam Injil, Yesus menunjukkan bahwa mengikuti-Nya bukanlah perjalanan yang selalu nyaman. Menjadi murid Kristus berarti berani melepaskan keinginan diri yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. 

Mengikuti Yesus juga berarti tetap memilih kasih ketika dunia mengajarkan balas dendam, tetap jujur ketika kebohongan terasa lebih menguntungkan, dan tetap setia ketika banyak orang memilih jalan yang lebih mudah.

Sering kali kita mengukur keberhasilan dari apa yang dimiliki: prestasi, harta, jabatan, atau popularitas. Namun Yesus mengingatkan bahwa semua itu tidak akan berarti jika hati kita semakin jauh dari Allah. 

Keberhasilan sejati bukanlah tentang seberapa tinggi kita berdiri di hadapan manusia, melainkan seberapa dekat kita berjalan bersama Tuhan dalam setiap langkah kehidupan.

Salib yang kita pikul setiap hari mungkin berbeda-beda. Ada yang berjuang dalam keluarga, pekerjaan, kesehatan, maupun pergumulan batin. 

Salib bukanlah hukuman, tetapi kesempatan untuk belajar mengasihi, setia, dan percaya bahwa Allah tidak pernah meninggalkan kita. Justru melalui kesetiaan dalam perkara-perkara kecil setiap hari, iman kita dibentuk menjadi semakin dewasa.

Hari ini kita diajak bertanya kepada diri sendiri: jalan mana yang sedang kita pilih?. Jalan yang mengejar kepuasan sesaat, atau jalan Kristus yang mungkin lebih berat tetapi membawa kehidupan yang sejati?. 

Semoga kita memiliki keberanian untuk terus mengikuti Yesus dengan hati yang tulus, sebab di balik setiap pengorbanan yang dipersembahkan karena kasih kepada-Nya, selalu ada sukacita dan harapan yang tidak pernah mengecewakan. (*)

Editor : Fandy Gerungan
renungan katolik Renungan