Bacaan dan Renungan untuk Umat Katolik, Hari Sabtu 8 Agustus 2026, Bacaan I Habakuk 1:12, Bacaan Injil Matius 17:14-20

Fandy Gerungan • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 10:09 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Perayaan Wajib St. Dominikus (Warna Liturgi Putih)

Bacaan I Habakuk 1:12

Bukankah Engkau, ya TUHAN, dari dahulu Allahku, Yang Mahakudus? Tidak akan mati kami. Ya TUHAN, telah Kautetapkan dia untuk menghukumkan; ya Gunung Batu, telah Kautentukan dia untuk menyiksa.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 9:8.9.10-11.12-13

Dialah yang menghakimi dunia dengan keadilan dan mengadili bangsa-bangsa dengan kebenaran.

Demikianlah TUHAN adalah tempat perlindungan bagi orang yang terinjak, tempat perlindungan pada waktu kesesakan.

Orang yang mengenal nama-Mu percaya kepada-Mu, sebab tidak Kautinggalkan orang yang mencari Engkau, ya TUHAN.

Bermazmurlah bagi TUHAN, yang bersemayam di Sion, beritakanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa,

sebab Dia, yang membalas penumpahan darah, ingat kepada orang yang tertindas; teriak mereka tidaklah dilupakan-Nya.

Kasihanilah aku, ya TUHAN; lihatlah sengsaraku, disebabkan oleh orang-orang yang membenci aku, ya Engkau, yang mengangkat aku dari pintu gerbang maut,

Bacaan Injil Matius 17:14-20

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya kembali kepada orang banyak itu, datanglah seorang mendapatkan Yesus dan menyembah,

katanya: "Tuhan, kasihanilah anakku. Ia sakit ayan dan sangat menderita. Ia sering jatuh ke dalam api dan juga sering ke dalam air.

Aku sudah membawanya kepada murid-murid-Mu, tetapi mereka tidak dapat menyembuhkannya."

Maka kata Yesus: "Hai kamu angkatan yang tidak percaya dan yang sesat, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu? Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!"

Dengan keras Yesus menegor dia, lalu keluarlah setan itu dari padanya dan anak itupun sembuh seketika itu juga.

Kemudian murid-murid Yesus datang dan ketika mereka sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka: "Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?"

Ia berkata kepada mereka: "Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, ?maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i ada saat-saat ketika hidup terasa tidak adil. Kita sudah berusaha sebaik mungkin, sudah berdoa, sudah berharap, tetapi masalah tetap datang silih berganti. 

Dalam keadaan seperti itu, mudah sekali muncul pertanyaan dalam hati: "Di mana Tuhan?" Bacaan hari ini mengajak kita menyadari bahwa pergumulan dan pertanyaan kepada Tuhan bukanlah tanda hilangnya iman. 

Justru di tengah kebingungan, kita diajak untuk tetap memegang keyakinan bahwa Tuhan tetap berkarya, meski jalan-Nya sering kali melampaui pemahaman manusia.

Injil hari ini memperlihatkan seorang ayah yang tidak menyerah demi anaknya. Ketika berbagai usaha tidak membuahkan hasil, ia tetap datang kepada Yesus. 

Sikapnya mengajarkan bahwa harapan sejati tidak berhenti pada kegagalan manusia, tetapi terus melangkah menuju Tuhan. Sering kali kita juga berhenti terlalu cepat ketika doa belum terjawab atau ketika usaha pertama tidak berhasil. 

Padahal, iman mengajak kita untuk terus datang kepada Kristus, bukan menjauh dari-Nya. Yesus kemudian menunjukkan bahwa persoalan terbesar bukan hanya keadaan yang dihadapi, melainkan hati yang kurang percaya. 

Iman bukan sekadar mengakui bahwa Tuhan ada, tetapi sungguh bersandar kepada-Nya dalam setiap situasi. Iman yang tampaknya kecil sekalipun dapat menjadi awal dari karya Allah yang besar. 

Karena kekuatan iman tidak terletak pada besarnya kemampuan manusia, melainkan pada kebesaran Tuhan yang kita percayai.

Hari ini Gereja juga memperingati St. Dominikus, seorang kudus yang mengabdikan hidupnya untuk mewartakan kebenaran. Ia tidak mengandalkan kepandaian atau kekuatannya sendiri. 

Ia membiarkan hidupnya dituntun oleh doa yang mendalam dan kepercayaan penuh kepada Allah. Dari teladannya kita belajar bahwa iman yang hidup selalu diwujudkan dalam kesetiaan, ketekunan, dan keberanian untuk terus mewartakan kebaikan, bahkan ketika hasilnya belum langsung terlihat.

Marilah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah selama ini kita lebih sering mengandalkan kemampuan sendiri daripada mempercayakan hidup kepada Tuhan?. 

Semoga melalui Ekaristi hari ini, Tuhan meneguhkan iman kita agar tetap setia, tidak mudah putus asa, dan terus percaya bahwa bersama-Nya tidak ada beban yang terlalu berat untuk dihadapi dan tidak ada jalan buntu yang tidak dapat dibukakan oleh kasih-Nya. (*)

Editor : Fandy Gerungan
renungan katolik Renungan