Bacaan dan Renungan untuk Umat Katolik, Hari Minggu 9 Agustus 2026, Hari Minggu Biasa ke XIX

Fandy Gerungan • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 15:41 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Hari Minggu Biasa ke XIX (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I 1 Raja-Raja 19.9a, 11-13

Di sana masuklah ia ke dalam sebuah gua dan bermalam di situ. Maka firman TUHAN datang kepadanya, demikian: "Apakah kerjamu di sini, hai Elia?"

Lalu firman-Nya: "Keluarlah dan berdiri di atas gunung itu di hadapan TUHAN!" Maka TUHAN lalu! Angin besar dan kuat, yang membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu, mendahului TUHAN. Tetapi tidak ada TUHAN dalam angin itu. Dan sesudah angin itu datanglah gempa. Tetapi tidak ada TUHAN dalam gempa itu.

Dan sesudah gempa itu datanglah api. Tetapi tidak ada TUHAN dalam api itu. Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa.

Segera sesudah Elia mendengarnya, ia menyelubungi mukanya dengan jubahnya, lalu pergi ke luar dan berdiri di pintu gua itu. Maka datanglah suara kepadanya yang berbunyi: "Apakah kerjamu di sini, hai Elia?"

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 85:9ab-10.11-12,13-14

Sesungguhnya keselamatan dari pada-Nya dekat pada orang-orang yang takut akan Dia, sehingga kemuliaan diam di negeri kita.

Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman.

Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan menjenguk dari langit.

Bahkan TUHAN akan memberikan kebaikan, dan negeri kita akan memberi hasilnya.

Keadilan akan berjalan di hadapan-Nya, dan akan membuat jejak kaki-Nya menjadi jalan.

Bacaan II Roma 9:1-5

Aku mengatakan kebenaran dalam Kristus, aku tidak berdusta. Suara hatiku turut bersaksi dalam Roh Kudus,

bahwa aku sangat berdukacita dan selalu bersedih hati.

Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani.

Sebab mereka adalah orang Israel, mereka telah diangkat menjadi anak, dan mereka telah menerima kemuliaan, dan perjanjian-perjanjian, dan hukum Taurat, dan ibadah, dan janji-janji.

Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Bacaan Injil Matius 14:22-33

Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang.

Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ.

Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal.

Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air.

Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: "Itu hantu!", lalu berteriak-teriak karena takut.

Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!"

Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air."

Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus.

Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!"

Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?"

Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah.

Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: "Sesungguhnya Engkau Anak Allah."

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan 

Saudara/i bacaan hari ini mengajak kita menyadari bahwa Tuhan tidak selalu hadir dengan cara yang kita bayangkan. Ia tidak selalu mengubah keadaan secara dramatis, tetapi sering kali menyentuh hati kita dalam keheningan yang menguatkan dan mengarahkan langkah.

Ada saat-saat ketika hidup terasa seperti diterpa badai tanpa henti. Masalah datang bertubi-tubi, doa terasa belum terjawab, dan hati mulai bertanya, "Di manakah Tuhan?". 

Dalam situasi seperti itu, kita sering berharap Tuhan segera bertindak dengan cara yang besar dan mengesankan. Namun, bacaan hari ini justru mengajak kita melihat bahwa kehadiran Tuhan sering kali hadir dalam cara yang sederhana, tenang, dan lembut.

Nabi Elia menemukan kembali harapan bukan ketika alam berguncang, tetapi ketika ia berani diam dan membuka hati. Keheningan ternyata bukan tanda bahwa Tuhan jauh. 

Justru di sanalah Tuhan berbicara paling jelas kepada orang yang mau mendengarkan. Dunia mengajarkan kita untuk selalu sibuk, tetapi iman mengajak kita menyediakan ruang bagi Tuhan untuk berbicara.

Di sisi lain, para murid mengalami badai di tengah danau. Mereka sudah berusaha sekuat tenaga, tetapi tetap tidak mampu mengendalikan keadaan. 

Ketika ketakutan menguasai hati, mereka sulit mengenali bahwa Tuhan sebenarnya sedang mendekati mereka. Ketakutan sering membuat kita melihat segala sesuatu secara keliru. 

Masalah tampak lebih besar daripada harapan, dan gelombang terasa lebih kuat daripada penyertaan Tuhan.

Petrus memberikan gambaran yang sangat manusiawi. Selama pandangannya tertuju kepada Yesus, ia mampu melangkah melampaui batas yang mustahil. 

Namun ketika perhatiannya beralih kepada angin dan ombak, rasa takut mengambil alih, dan ia mulai tenggelam. Bukankah pengalaman ini juga sering kita alami?. 

Saat fokus pada Tuhan, hati menjadi teguh. Tetapi ketika hanya memandang persoalan, kecemasan perlahan menguasai hidup kita.

Rasul Paulus pun memperlihatkan bahwa iman sejati tidak hanya berbicara tentang hubungan pribadi dengan Tuhan, tetapi juga memiliki hati yang peduli kepada sesama. 

Ia merasakan kesedihan yang mendalam karena banyak orang belum membuka diri kepada keselamatan yang Tuhan sediakan. Kasih kepada Tuhan selalu melahirkan kasih kepada orang lain. Orang yang dekat dengan Tuhan tidak akan menjadi acuh terhadap pergumulan sesamanya.

Sebagai orang Katolik, kita diundang untuk belajar mengenali suara Tuhan di tengah hiruk-pikuk kehidupan. Mungkin Tuhan tidak selalu menghilangkan badai seketika. 

Tetapi Ia selalu hadir untuk menguatkan kita agar mampu melewatinya. Dalam doa, Ekaristi, keheningan, dan perjumpaan dengan sesama, Tuhan terus mengulurkan tangan-Nya kepada kita.

Hari ini, marilah bertanya kepada diri sendiri: apakah aku lebih banyak mendengarkan suara ketakutan daripada suara Tuhan?. Apakah aku lebih sibuk menghitung besarnya ombak daripada mempercayai Dia yang berjalan di atasnya?. 

Ketika kita kembali memusatkan hidup kepada Kristus, badai mungkin belum langsung berhenti, tetapi hati kita akan menemukan damai, karena kita tahu bahwa kita tidak pernah menghadapi perjalanan ini seorang diri. (*)

Editor : Fandy Gerungan
renungan katolik Renungan