Bacaan dan Renungan untuk Orang Muda Katolik, Hari Minggu 9 Agustus 2026, Hari Minggu Biasa ke XIX

Fandy Gerungan • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 15:44 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Hari Minggu Biasa ke XIX (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I 1 Raja-Raja 19.9a, 11-13

Di sana masuklah ia ke dalam sebuah gua dan bermalam di situ. Maka firman TUHAN datang kepadanya, demikian: "Apakah kerjamu di sini, hai Elia?"

Lalu firman-Nya: "Keluarlah dan berdiri di atas gunung itu di hadapan TUHAN!" Maka TUHAN lalu! Angin besar dan kuat, yang membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu, mendahului TUHAN. Tetapi tidak ada TUHAN dalam angin itu. Dan sesudah angin itu datanglah gempa. Tetapi tidak ada TUHAN dalam gempa itu.

Dan sesudah gempa itu datanglah api. Tetapi tidak ada TUHAN dalam api itu. Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa.

Segera sesudah Elia mendengarnya, ia menyelubungi mukanya dengan jubahnya, lalu pergi ke luar dan berdiri di pintu gua itu. Maka datanglah suara kepadanya yang berbunyi: "Apakah kerjamu di sini, hai Elia?"

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 85:9ab-10.11-12,13-14

Sesungguhnya keselamatan dari pada-Nya dekat pada orang-orang yang takut akan Dia, sehingga kemuliaan diam di negeri kita.

Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman.

Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan menjenguk dari langit.

Bahkan TUHAN akan memberikan kebaikan, dan negeri kita akan memberi hasilnya.

Keadilan akan berjalan di hadapan-Nya, dan akan membuat jejak kaki-Nya menjadi jalan.

Bacaan II Roma 9:1-5

Aku mengatakan kebenaran dalam Kristus, aku tidak berdusta. Suara hatiku turut bersaksi dalam Roh Kudus,

bahwa aku sangat berdukacita dan selalu bersedih hati.

Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani.

Sebab mereka adalah orang Israel, mereka telah diangkat menjadi anak, dan mereka telah menerima kemuliaan, dan perjanjian-perjanjian, dan hukum Taurat, dan ibadah, dan janji-janji.

Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Bacaan Injil Matius 14:22-33

Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang.

Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ.

Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal.

Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air.

Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: "Itu hantu!", lalu berteriak-teriak karena takut.

Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!"

Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air."

Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus.

Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!"

Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?"

Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah.

Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: "Sesungguhnya Engkau Anak Allah."

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan 

Salve sahabat muda katolik, menjadi orang muda bukan berarti hidup selalu penuh semangat. Ada hari-hari ketika kita merasa lelah menghadapi tugas kuliah atau sekolah. 

Kita bingung menentukan masa depan, kecewa karena persahabatan yang retak, atau terluka karena harapan yang tidak sesuai kenyataan. Di zaman media sosial, kita juga sering merasa hidup orang lain jauh lebih sempurna daripada hidup kita sendiri. 

Akibatnya, kita mulai kehilangan arah dan mempertanyakan nilai diri. Bacaan hari ini mengingatkan bahwa Tuhan sering hadir dengan cara yang tidak kita duga. 

Kita berharap jawaban instan, tetapi Tuhan justru mengajak kita berhenti sejenak, menenangkan hati, lalu mendengarkan-Nya. Di tengah kebisingan notifikasi, musik, video pendek, dan berbagai kesibukan, suara Tuhan sering kalah oleh suara dunia. 

Padahal, hati yang tenang lebih mudah mengenali arah yang Tuhan tunjukkan. Kisah Petrus juga sangat dekat dengan kehidupan OMK. Ia berani melangkah karena percaya, tetapi mulai tenggelam ketika perhatiannya beralih kepada badai. 

Begitu juga kita, saat terlalu fokus pada nilai yang jelek, komentar negatif, kegagalan, atau masa depan yang belum jelas, rasa takut perlahan menguasai hati. Kita lupa bahwa Tuhan tidak pernah berhenti berjalan bersama kita, bahkan ketika hidup sedang terasa berat.

Yang menarik, Petrus tidak dibiarkan tenggelam sendirian. Ketika ia menyadari kelemahannya dan memohon pertolongan, Tuhan segera mengangkatnya. Ini menjadi pengingat bahwa menjadi orang beriman bukan berarti tidak pernah jatuh. 

Orang beriman adalah mereka yang selalu berani kembali kepada Tuhan setiap kali jatuh. Rasul Paulus juga menunjukkan bahwa iman bukan hanya tentang "aku dan Tuhan". 

Hati yang mengenal Tuhan akan belajar peduli kepada orang lain. Orang muda Katolik dipanggil menjadi teman yang mampu mendengarkan, menjadi pembawa harapan bagi mereka yang sedang putus asa, dan menjadi pribadi yang berani menyebarkan kasih di tengah lingkungan yang sering dipenuhi sikap saling menghakimi.

Sebagai OMK, jangan takut jika hidupmu belum sempurna. Tuhan tidak menunggu sampai kamu menjadi hebat untuk memanggilmu. Ia hadir dalam prosesmu, dalam kegagalanmu, dalam kebingunganmu. 

Ia hadir bahkan dalam air mata yang mungkin tidak diketahui siapa pun. Yang Tuhan minta hanyalah satu: tetap arahkan pandangan kepada-Nya dan jangan berhenti melangkah. (*)

Editor : Fandy Gerungan
renungan katolik omk Renungan