Bacaan dan Renungan untuk Umat Katolik, Hari Selasa 11 Agustus 2026, Bacaan I Yehezkiel 2:8-3:4, Bacaan Injil Matius 18:1-5.10.12-14

Fandy Gerungan • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 13:56 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Perayaan Wajib St. Clara (Warna Liturgi Putih)

Bacaan I Yehezkiel 2:8-3:4

Dan engkau, anak manusia, dengarlah apa yang Kufirmankan kepadamu; janganlah memberontak seperti kaum pemberontak ini. Ngangakanlah mulutmu dan makanlah apa yang Kuberikan kepadamu."

Aku melihat, sesungguhnya ada tangan yang terulur kepadaku, dan sungguh, dipegang-Nya sebuah gulungan kitab,

lalu dibentangkan-Nya di hadapanku. Gulungan kitab itu ditulisi timbal balik dan di sana tertulis nyanyian-nyanyian ratapan, keluh kesah dan rintihan.

Firman-Nya kepadaku: "Hai anak manusia, makanlah apa yang engkau lihat di sini; makanlah gulungan kitab ini dan pergilah, berbicaralah kepada kaum Israel."

Maka kubukalah mulutku dan diberikan-Nya gulungan kitab itu kumakan.

Lalu firman-Nya kepadaku: "Hai anak manusia, makanlah gulungan kitab yang Kuberikan ini kepadamu dan isilah perutmu dengan itu." Lalu aku memakannya dan rasanya manis seperti madu dalam mulutku.

Firman-Nya kepadaku: "Hai anak manusia, mari, pergilah dan temuilah kaum Israel dan sampaikanlah perkataan-perkataan-Ku kepada mereka.

Mazmur 119:14.24.103.111.131

Atas petunjuk peringatan-peringatan-Mu aku bergembira, seperti atas segala harta.

Ya, peringatan-peringatan-Mu menjadi kegemaranku, menjadi penasihat-penasihatku.

Taurat yang Kausampaikan adalah baik bagiku, lebih dari pada ribuan keping emas dan perak.

Betapa manisnya janji-Mu itu bagi langit-langitku, lebih dari pada madu bagi mulutku.

Peringatan-peringatan-Mu adalah milik pusakaku untuk selama-lamanya, sebab semuanya itu kegirangan hatiku.

Mulutku kungangakan dan megap-megap, sebab aku mendambakan perintah-perintah-Mu.

Bacaan Injil Matius 18:1-5.10.12-14

Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?"

Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka

lalu berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.

Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku."

Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga.

"Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu?

Dan Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu dari pada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat.

Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorangpun dari anak-anak ini hilang."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i sering kali kita ingin Tuhan berbicara dengan jelas kepada kita. Kita berharap mendapatkan petunjuk yang pasti tentang langkah hidup, pekerjaan, keluarga, atau masa depan. 

Namun, ketika Tuhan benar-benar berbicara melalui Sabda-Nya, pertanyaan berikutnya adalah: apakah kita sungguh mau mendengarkan dan membiarkan Sabda itu mengubah hidup kita?.

Nabi Yehezkiel mengalami sebuah pengalaman yang unik. Ia tidak hanya diminta mendengar, tetapi juga "menghidupi" pesan Tuhan sebelum menyampaikannya kepada orang lain. 

Sabda Allah tidak berhenti di telinga, melainkan masuk ke dalam hati dan menjadi bagian dari hidupnya. Itulah sebabnya, meskipun tugas yang diembannya tidak mudah, ia memiliki kekuatan untuk tetap setia.

Dalam Injil, Yesus mengajak para murid untuk mengubah cara mereka memandang kebesaran. Kebesaran di mata Allah bukan diukur dari kedudukan, kekuasaan, atau penghargaan yang diterima. 

Tetapi melainkan dari kerendahan hati dan kesederhanaan. Hati yang rendah tidak sibuk membuktikan diri lebih hebat daripada orang lain, tetapi selalu siap belajar, percaya, dan mengandalkan Tuhan.

Yesus juga menunjukkan betapa berharganya setiap pribadi di hadapan Allah. Tidak ada seorang pun yang dianggap terlalu kecil atau tidak penting. Bahkan ketika seseorang tersesat, Allah tidak tinggal diam. 

Ia mencari, menanti, dan bersukacita ketika anak-Nya kembali. Ini adalah gambaran kasih Allah yang tidak pernah menyerah kepada manusia.

Perayaan St. Clara menguatkan pesan itu. Clara memilih meninggalkan kenyamanan dan kemewahan demi mengikuti Kristus dengan hati yang sederhana. 

Kekuatannya bukan berasal dari harta atau jabatan, tetapi dari kedekatannya dengan Tuhan. Karena hidupnya dipenuhi Sabda Allah, ia mampu menjadi terang bagi banyak orang.

Di tengah dunia yang sering mengukur nilai seseorang dari prestasi, jumlah pengikut, atau popularitas, kita diajak untuk kembali pada ukuran Allah. Apakah hati kita masih mudah disentuh oleh Sabda-Nya?. 

Apakah kita masih peduli kepada mereka yang merasa tersisih, terluka, atau jauh dari Tuhan?. Dan apakah kita memiliki kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita pun sering menjadi "domba yang tersesat" yang membutuhkan belas kasih-Nya?.

Hari ini marilah kita membuka hati seperti St. Clara: mendengarkan Sabda Tuhan, menghidupinya dalam tindakan, dan menjadi pribadi yang membawa harapan bagi sesama. 

Sebab ketika Sabda Allah sungguh meresap ke dalam hati, hidup kita tidak hanya berubah, tetapi juga menjadi jalan agar orang lain dapat merasakan kasih Tuhan yang selalu mencari dan tidak pernah meninggalkan satu pun anak-Nya. (*

Editor : Fandy Gerungan
renungan katolik Renungan