Bacaan dan Renungan untuk Orang Muda Katolik, Hari Rabu 12 Agustus 2026, Bacaan I Yehezkiel 9:1-7;10:18-22, Bacaan Injil Matius 18:15-20

Fandy Gerungan • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 14:55 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Pekan Biasa ke XIX (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I Yehezkiel 9:1-7;10:18-22

Lalu aku mendengar Dia berseru dengan suara yang nyaring: "Maju ke mari, hai, yang harus menjalankan hukuman atas kota ini! Masing-masing dengan alat pemusnah di tangannya!"

Lihat, enam orang laki-laki datang dari jurusan pintu gerbang Atas, yang menghadap ke utara, masing-masing dengan alat pemukul di tangannya. Dan satu orang di antara mereka berpakaian lenan dan di sisinya terdapat suatu alat penulis. Mereka ini masuk dan berdiri di samping mezbah tembaga.

Pada saat itu kemuliaan Allah Israel sudah terangkat dari atas kerub, tempatnya semula, ke atas ambang pintu Bait Suci dan Dia memanggil orang yang berpakaian lenan dan yang mempunyai alat penulis di sisinya.

Firman TUHAN kepadanya: "Berjalanlah dari tengah-tengah kota, yaitu Yerusalem dan tulislah huruf T pada dahi orang-orang yang berkeluh kesah karena segala perbuatan-perbuatan keji yang dilakukan di sana."

Dan kepada yang lain-lain aku mendengar Dia berfirman: "Ikutilah dia dari belakang melalui kota itu dan pukullah sampai mati! Janganlah merasa sayang dan jangan kenal belas kasihan.

Orang-orang tua, teruna-teruna dan dara-dara, anak-anak kecil dan perempuan-perempuan, bunuh dan musnahkan! Tetapi semua orang yang ditandai dengan huruf T itu, jangan singgung! Dan mulailah dari tempat kudus-Ku!" Lalu mereka mulai dengan tua-tua yang berada di hadapan Bait Suci.

Kemudian firman-Nya kepada mereka: "Najiskanlah Bait Suci itu dan penuhilah pelataran-pelatarannya dengan orang-orang yang terbunuh. Pergilah!" Mereka pergi ke luar dan memukuli orang-orang sampai mati di dalam kota.

Lalu kemuliaan TUHAN pergi dari ambang pintu Bait Suci dan hinggap di atas kerub-kerub.

Dan kerub-kerub itu mengangkat sayap mereka, dan waktu mereka pergi, aku lihat, mereka naik dari tanah dan roda-rodanya bersama-sama dengan mereka. Lalu mereka berhenti dekat pintu gerbang rumah TUHAN yang di sebelah timur, sedang kemuliaan Allah Israel berada di atas mereka.

Itulah makhluk-makhluk hidup yang dahulu kulihat di bawah Allah Israel di tepi sungai Kebar. Dan aku mengerti, bahwa mereka adalah kerub-kerub.

Masing-masing mempunyai empat muka dan bagi masing-masing ada empat sayap dan di bawah sayap mereka ada yang berbentuk tangan manusia.

Kelihatannya muka mereka adalah serupa dengan muka yang kulihat di tepi sungai Kebar. Masing-masing berjalan lurus ke mukanya.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 113:1-2.3-4.5-6

Haleluya! Pujilah, hai hamba-hamba TUHAN, pujilah nama TUHAN!

Kiranya nama TUHAN dimasyhurkan, sekarang ini dan selama-lamanya.

Dari terbitnya sampai kepada terbenamnya matahari terpujilah nama TUHAN.

TUHAN tinggi mengatasi segala bangsa, kemuliaan-Nya mengatasi langit.

Siapakah seperti TUHAN, Allah kita, yang diam di tempat yang tinggi,

yang merendahkan diri untuk melihat ke langit dan ke bumi?

Bacaan Injil Matius 18:15-20

"Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.

Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.

Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.

Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga.

Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i sering kali kita berpikir bahwa dosa hanya berkaitan dengan tindakan yang besar. Padahal, hati yang perlahan menjadi tidak peka terhadap kebaikan juga merupakan awal dari banyak kejatuhan. 

Ketika kebohongan dianggap biasa, ketidakadilan dibiarkan, dan kepedulian mulai menghilang, hati manusia perlahan menjauh dari Tuhan.

Bacaan hari ini menghadirkan gambaran yang tegas tentang Allah yang tidak menutup mata terhadap kejahatan. Kekudusan-Nya tidak bisa berdamai dengan dosa yang terus dipelihara. 

Namun, di tengah gambaran penghakiman itu, tampak pula belas kasih Allah. Ia mengenal mereka yang tetap setia, yang berdukacita melihat kejahatan, dan yang tidak ikut hanyut dalam arus dosa. 

Tuhan selalu mengenal hati orang-orang yang tetap berusaha hidup benar. Injil kemudian menunjukkan bagaimana Tuhan menghendaki kita menghadapi kesalahan sesama. 

Tujuannya bukan mempermalukan, melainkan memulihkan. Menegur dengan kasih adalah tanda bahwa kita sungguh peduli. Akan jauh lebih mudah membicarakan kesalahan orang di belakang mereka, tetapi jauh lebih sulit menghampiri mereka dengan kerendahan hati dan kasih agar mereka kembali ke jalan yang benar.

Sayangnya, budaya zaman sekarang sering kali justru mendorong sebaliknya. Kesalahan orang cepat menjadi bahan gosip, media sosial dipenuhi komentar yang menghakimi. 

Sementara sedikit sekali orang yang mau hadir sebagai sahabat yang membantu seseorang bangkit kembali. Sebagai murid Kristus, kita dipanggil untuk menjadi pembawa rekonsiliasi, bukan penyebar perpecahan.

Yesus juga mengingatkan bahwa Gereja adalah sebuah persekutuan. Iman tidak dijalani sendirian. Ketika umat berdoa bersama, saling menguatkan, dan bersama-sama mencari kehendak Tuhan.

Kristus sendiri hadir di tengah mereka. Kehadiran-Nya menjadi sumber kekuatan untuk mengampuni, berdamai, dan membangun kembali hubungan yang retak.

Hari ini kita diajak memeriksa hati. Apakah hati kita masih peka terhadap suara Tuhan?. Apakah kita masih berani menolak dosa, meskipun dunia menganggapnya biasa?. 

Dan ketika melihat saudara kita jatuh, apakah kita memilih menghakimi atau justru mengulurkan tangan agar ia dapat bangkit kembali?.

Tuhan menghendaki Gereja menjadi rumah yang dipenuhi kasih, kebenaran, dan pertobatan. Semoga kita tidak hanya menjadi orang yang rajin beribadah, tetapi juga menjadi pribadi yang berani menjaga kekudusan hidup. 

Peduli kepada sesama, dan menghadirkan damai di mana pun kita berada. Sebab di sanalah kemuliaan Tuhan tetap tinggal, yaitu di dalam hati orang-orang yang setia hidup dalam kasih dan kebenaran.

Semoga renungan ini membantu kita semakin berani menjaga hati, mengoreksi dengan kasih, dan membangun persaudaraan yang membawa setiap orang semakin dekat kepada Kristus. (*)

 

Editor : Fandy Gerungan
renungan katolik omk Renungan