Syalom,
Mungkin kita merasa tidak nyaman mengungkapkan kemarahan kepada Allah, tetapi tokoh Alkitab sendiri melakukannya. “Allah telah berlaku tidak adil terhadap aku,” ucap Ayub (Ayb. 19:6).
Meski kemudian Ayub menyadari bahwa pemahamannya terbatas (42:3), perhatikanlah bahwa Allah tidak pernah menegur ungkapan perasaannya yang jujur.
Mungkin kita juga marah kepada Allah karena merasa Dia membiarkan penderitaan merajalela di dunia ini. Namun, ungkapan perasaan kita kepada-Nya dapat menjadi doa terselubung, yang ternyata menjaga kita tetap dekat dengan Allah.
Dia menghendaki kita datang kepada-Nya bukan hanya dengan pujian, tetapi juga dengan kemarahan kita.
Amin.