Renungan Filipi 2:12–18, Lakukanlah Segala Sesuatu Dengan Tidak Bersungut-sungut Dan Berbantah-bantahan

Clavel Lukas • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 13:10 WIB
Ilustrasi Alkitab.
Ilustrasi Alkitab.

Bacaan: Filipi 2:12–18

Tema: “Lakukanlah Segala Sesuatu Dengan Tidak Bersungut-sungut Dan Berbantah-bantahan”

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, dalam kehidupan sehari-hari, ada dua hal yang sering muncul ketika manusia menghadapi tanggung jawab, tekanan, pelayanan, pekerjaan, keluarga, atau keadaan yang tidak sesuai dengan keinginan, yaitu bersungut-sungut dan berbantah-bantahan.

 Bersungut-sungut biasanya muncul ketika hati tidak puas, merasa berat, merasa tidak dihargai, merasa paling banyak berkorban, atau merasa keadaan tidak berjalan sesuai harapan. Berbantah-bantahan muncul ketika manusia ingin menang sendiri, sulit mendengar, mudah tersinggung, ingin mempertahankan pendapat, dan tidak mau merendahkan hati.

Dua sikap ini terlihat sederhana, tetapi dapat merusak banyak hal. Dalam keluarga, sungut-sungut membuat rumah terasa berat dan penuh keluhan. Dalam pelayanan, sungut-sungut membuat pekerjaan Tuhan kehilangan sukacita. Dalam pekerjaan, sungut-sungut membuat tugas terasa seperti beban yang tidak pernah selesai.

Dalam jemaat, berbantah-bantahan dapat merusak persekutuan, memecah relasi, dan membuat pelayanan tidak lagi berpusat pada Kristus, melainkan pada ego manusia. Dalam masyarakat, budaya berbantah-bantahan semakin terlihat melalui media sosial, ketika orang mudah menyerang, menyindir, merendahkan, dan merasa paling benar.

Firman Tuhan melalui Filipi 2:12–18 mengajak kita hidup berbeda. Rasul Paulus berkata, “Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan.” Ini bukan sekadar nasihat moral supaya kita menjadi orang yang sopan. Ini adalah panggilan rohani yang lahir dari Injil Kristus.

 Sebelumnya, dalam Filipi 2:5–11, Paulus berbicara tentang Yesus Kristus yang merendahkan diri, taat sampai mati di kayu salib, lalu ditinggikan oleh Allah. Setelah menunjukkan teladan Kristus yang rendah hati dan taat, Paulus lalu mengajak jemaat hidup dalam ketaatan, kerendahan hati, dan kesatuan.

Tema ini mengingatkan bahwa orang percaya tidak cukup hanya rajin beribadah, tetapi harus memperlihatkan iman melalui sikap sehari-hari. Orang percaya tidak cukup hanya mengaku mengasihi Tuhan, tetapi masih hidup penuh keluhan, pertengkaran, dan perselisihan.

 Orang percaya dipanggil menjadi terang di tengah dunia yang bengkok dan sesat. Namun bagaimana mungkin kita menjadi terang jika hidup kita dipenuhi sungut-sungut? Bagaimana mungkin kita menjadi kesaksian jika perkataan kita penuh pertengkaran? Bagaimana mungkin kita membawa damai jika hati kita terus dikuasai ketidakpuasan?

Renungan ini mengajak kita memeriksa hati. Apakah kita melayani dengan sukacita atau dengan keluhan? Apakah kita bekerja dengan tanggung jawab atau dengan sungut-sungut? Apakah kita membangun keluarga dengan kasih atau dengan bantahan yang tidak selesai-selesai?

Apakah kita memakai mulut untuk menguatkan atau untuk memperkeruh keadaan? Firman Tuhan hari ini memanggil kita untuk hidup sebagai anak-anak Allah yang bercahaya, berpegang pada firman kehidupan, dan melakukan segala sesuatu dengan hati yang tunduk kepada Tuhan.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,

Surat Filipi ditulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi, sebuah kota penting di Makedonia. Jemaat Filipi memiliki hubungan yang dekat dengan Paulus. Mereka mendukung pelayanan Paulus, bahkan ketika Paulus berada dalam penderitaan dan pemenjaraan.

Surat ini sering dikenal sebagai surat sukacita, karena di dalamnya Paulus berkali-kali berbicara tentang sukacita, meskipun ia sendiri sedang berada dalam keadaan yang tidak mudah.

Yang menarik, sukacita dalam Surat Filipi bukan sukacita karena keadaan selalu baik. Paulus menulis dari penjara. Ia mengalami tekanan, ancaman, dan ketidakpastian. Namun ia tetap bersukacita karena hidupnya berpusat pada Kristus dan Injil. Ini mengajarkan bahwa sukacita Kristen tidak bergantung terutama pada keadaan luar, tetapi pada relasi dengan Kristus.

Jemaat Filipi adalah jemaat yang baik dan mendukung pelayanan, tetapi bukan berarti mereka tanpa masalah. Dalam surat ini, Paulus menasihati mereka untuk hidup sehati, rendah hati, tidak mencari kepentingan sendiri, dan tidak hidup dalam perselisihan. Di Filipi ada potensi perpecahan dan ketegangan dalam relasi. Karena itu, dalam pasal 2 Paulus menekankan pentingnya kesatuan dan kerendahan hati dengan menjadikan Kristus sebagai teladan utama.

Filipi 2:1–11 menjadi dasar penting bagi bacaan kita. Paulus mengingatkan jemaat supaya sehati sepikir, satu kasih, satu jiwa, dan satu tujuan. Ia meminta mereka tidak mencari kepentingan sendiri atau pujian yang sia-sia, melainkan dengan rendah hati menganggap orang lain lebih utama.

 Lalu Paulus menunjuk kepada Kristus: Kristus yang dalam rupa Allah tidak mempertahankan kesetaraan-Nya dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan, tetapi mengosongkan diri, mengambil rupa hamba, merendahkan diri, dan taat sampai mati di kayu salib.

Setelah menunjukkan teladan Kristus, Paulus berkata dalam ayat 12 dan seterusnya supaya jemaat mengerjakan keselamatan mereka dengan takut dan gentar, karena Allah sendiri yang mengerjakan di dalam mereka baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.

Artinya, kehidupan Kristen bukan usaha manusia sendiri tanpa Tuhan, tetapi respons manusia terhadap karya Allah yang sedang bekerja di dalam hidupnya. Kita dipanggil hidup taat karena Allah lebih dahulu bekerja dalam kita.

Tema “Lakukanlah Segala Sesuatu Dengan Tidak Bersungut-sungut Dan Berbantah-bantahan” memiliki makna yang dalam. Pertama, tema ini mengajak orang percaya hidup dalam ketaatan yang lahir dari keselamatan. Kedua, tema ini menegur sikap hati yang mudah mengeluh, tidak puas, dan melawan.

 Ketiga, tema ini memanggil gereja menjaga kesatuan dan kesaksian di tengah dunia. Keempat, tema ini menunjukkan bahwa perkataan dan sikap sehari-hari adalah bagian dari kesaksian iman. Kelima, tema ini mengingatkan bahwa orang percaya dipanggil bercahaya seperti bintang-bintang di tengah angkatan yang bengkok dan sesat.

Dalam kondisi sekarang, tema ini sangat relevan. Banyak orang hidup dalam tekanan dan mudah bersungut-sungut. Di rumah, orang mengeluh tentang pasangan, anak, orang tua, ekonomi, dan pekerjaan rumah.

 Di tempat kerja, orang mengeluh tentang atasan, bawahan, gaji, tugas, dan keadaan. Di gereja, orang mengeluh tentang pelayanan, pengurus, jadwal, keputusan, dan sesama pelayan. Di media sosial, orang berbantah-bantahan tentang hampir semua hal.

Firman Tuhan mengajak kita hidup berbeda: bukan berarti tidak boleh menyampaikan masalah, tetapi jangan hidup dikuasai keluhan; bukan berarti tidak boleh berdiskusi, tetapi jangan hidup dalam pertengkaran yang lahir dari ego.

Pembahasan Ayat demi Ayat

Pada ayat 12, Paulus berkata, “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir.”

Paulus menyebut jemaat Filipi sebagai saudara-saudara yang kekasih. Ini menunjukkan bahwa nasihat Paulus lahir dari kasih, bukan dari kemarahan. Ia menghargai ketaatan mereka, tetapi tetap mendorong mereka untuk terus bertumbuh.

Kalimat “kerjakan keselamatanmu” perlu dipahami dengan benar. Paulus tidak mengatakan bahwa manusia harus mengusahakan keselamatan dengan kekuatan sendiri agar bisa diselamatkan. Keselamatan adalah anugerah Allah di dalam Kristus.

Namun orang yang sudah menerima keselamatan dipanggil untuk menghidupi keselamatan itu secara nyata. Keselamatan harus dikerjakan dalam arti diwujudkan, dijalani, dan dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan kata lain, iman tidak boleh berhenti sebagai pengakuan di mulut. Keselamatan harus tampak dalam karakter, sikap, perkataan, relasi, pekerjaan, pelayanan, dan cara menghadapi masalah.

 Jika seseorang mengaku telah diselamatkan tetapi hidupnya terus penuh kebencian, sungut-sungut, pertengkaran, dan kepentingan diri, maka ia perlu memeriksa apakah keselamatan itu sungguh sedang dihidupi.

Paulus juga berkata supaya mereka mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar. Ini bukan ketakutan yang membuat kita lari dari Tuhan, tetapi rasa hormat yang mendalam kepada Allah.

Orang percaya hidup dengan kesadaran bahwa hidupnya berada di hadapan Tuhan. Karena itu, kita tidak boleh sembarangan dengan dosa, tidak boleh main-main dengan sikap hati, tidak boleh menganggap remeh perkataan, dan tidak boleh merusak persekutuan.

Paulus juga menekankan bahwa ketaatan mereka harus tetap nyata bukan hanya ketika Paulus hadir, tetapi juga ketika ia tidak hadir. Ini menegur kita. Banyak orang taat ketika dilihat, tetapi berubah ketika tidak diawasi.

Ada yang rajin bekerja ketika atasan hadir, tetapi lalai ketika tidak dilihat. Ada yang terlihat rohani di gereja, tetapi berbeda di rumah. Ketaatan Kristen yang sejati bukan karena manusia mengawasi, tetapi karena kita hidup di hadapan Tuhan.

Pada ayat 13, Paulus berkata, “Karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” Ayat ini menjadi dasar penghiburan dan kekuatan.

 Kita diminta mengerjakan keselamatan, tetapi kita tidak bekerja sendirian. Allah sendiri bekerja di dalam kita. Ia mengerjakan kemauan dan pekerjaan. Artinya, bahkan keinginan untuk taat pun adalah karya Allah dalam hati kita.

Ini sangat penting secara teologis. Kehidupan Kristen bukan sekadar tekad manusia untuk menjadi lebih baik. Jika hanya mengandalkan tekad, kita mudah gagal.

Kita bisa berkata, “Saya tidak mau marah lagi,” tetapi besok marah lagi. Kita bisa berkata, “Saya tidak mau mengeluh lagi,” tetapi ketika keadaan berat, sungut-sungut muncul lagi. Karena itu, kita membutuhkan Allah yang bekerja dalam hati, mengubah kemauan, membentuk karakter, dan memampukan kita melakukan kehendak-Nya.

Ayat ini juga menghindarkan kita dari dua kesalahan. Kesalahan pertama adalah pasif, yaitu berkata, “Kalau Tuhan bekerja, saya tidak perlu berbuat apa-apa.” Itu salah, karena ayat 12 berkata kita harus mengerjakan keselamatan.

Kesalahan kedua adalah sombong, yaitu merasa bisa hidup benar dengan kekuatan sendiri. Itu juga salah, karena ayat 13 berkata Allahlah yang bekerja dalam kita. Jadi, kehidupan iman adalah kerja sama yang benar: Allah bekerja dalam anugerah-Nya, dan kita merespons dengan ketaatan.

Dalam kehidupan sekarang, ayat ini menguatkan kita yang merasa sulit berubah. Mungkin sulit berhenti mengeluh. Mungkin sulit mengendalikan emosi. Mungkin sulit berhenti berbantah-bantahan. Mungkin sulit mengampuni.

Firman ini berkata bahwa Allah sanggup bekerja di dalam kemauan dan tindakan kita. Karena itu, datanglah kepada Tuhan dan berkata, “Tuhan, ubahlah hatiku. Berilah aku kemauan untuk hidup benar, dan mampukan aku melakukannya.”

Pada ayat 14, Paulus berkata, “Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan.” Inilah pusat tema renungan. Paulus tidak berkata, “Lakukanlah sebagian hal,” tetapi segala sesuatu.

 Artinya, sikap tidak bersungut-sungut dan tidak berbantah-bantahan harus nyata dalam seluruh kehidupan: keluarga, pekerjaan, pelayanan, persekutuan, dan masyarakat.

Bersungut-sungut adalah sikap hati yang terus mengeluh, tidak puas, dan merasa keberatan. Dalam Alkitab, sungut-sungut sering dikaitkan dengan umat Israel di padang gurun. Mereka telah dibebaskan Tuhan dari Mesir, tetapi sering mengeluh kepada Musa dan kepada Tuhan. Mereka lupa anugerah Tuhan karena fokus pada kesulitan. Sungut-sungut membuat hati menjadi buta terhadap kebaikan Allah.

Berbantah-bantahan adalah sikap suka bertengkar, berdebat dengan ego, membela diri, mencari menang, dan tidak mau merendahkan hati. Diskusi itu perlu. Menyampaikan pendapat itu baik.

Menegur yang salah itu penting. Tetapi berbantah-bantahan yang dimaksud Paulus adalah pertengkaran yang lahir dari hati yang tidak tunduk, penuh ego, dan tidak mencari kehendak Tuhan.

Dalam keluarga, ayat ini sangat nyata. Banyak rumah menjadi tidak damai bukan karena masalah besar, tetapi karena setiap hal diisi keluhan dan bantahan. Dalam pelayanan, banyak pekerjaan Tuhan menjadi berat bukan karena kurang tenaga, tetapi karena banyak sungut-sungut.

Dalam jemaat, banyak persekutuan rusak bukan karena kurang program, tetapi karena terlalu banyak orang ingin menang sendiri. Paulus berkata: lakukan segala sesuatu tanpa sungut-sungut dan bantah-bantahan.

Ini bukan berarti kita tidak boleh menyampaikan kesulitan. Orang percaya boleh menyampaikan keluhan kepada Tuhan dalam doa, seperti banyak mazmur ratapan. Kita juga boleh menyampaikan masukan dengan jujur.

 Tetapi sungut-sungut berbeda dari pergumulan yang jujur. Sungut-sungut adalah keluhan yang tidak mau percaya dan tidak mau taat. Berbantah-bantahan berbeda dari dialog sehat. Berbantah-bantahan adalah perdebatan yang dikuasai ego.

Pada ayat 15, Paulus menjelaskan tujuannya: “Supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia.”

Paulus ingin jemaat hidup sebagai anak-anak Allah yang mencerminkan karakter Bapa mereka. Hidup tanpa sungut-sungut dan bantah-bantahan bukan hanya demi kenyamanan, tetapi demi kesaksian.

Paulus memakai ungkapan “angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat.” Ini menggambarkan dunia yang menyimpang dari kebenaran Allah. Dunia penuh dosa, keluhan, pertengkaran, kesombongan, iri hati, kepentingan diri, dan perpecahan. Di tengah dunia seperti itu, orang percaya dipanggil bercahaya seperti bintang-bintang. Artinya, hidup orang percaya harus berbeda dan memberi arah.

Bintang bercahaya di tengah gelap. Jika tidak ada gelap, cahaya bintang tidak tampak jelas. Demikian juga orang percaya dipanggil bersinar bukan di dunia yang sempurna, tetapi di tengah dunia yang sulit dan bengkok.

Justru ketika lingkungan penuh keluhan, kita dipanggil bersyukur. Ketika dunia penuh pertengkaran, kita dipanggil membawa damai. Ketika banyak orang hidup egois, kita dipanggil melayani. Ketika banyak orang mudah marah, kita dipanggil sabar.

Ayat ini menegur kita. Bagaimana mungkin kita bercahaya jika perkataan kita sama gelapnya dengan dunia? Bagaimana mungkin kita menjadi anak-anak Allah yang tidak bercela jika kita terus menyebarkan keluhan dan pertengkaran?

Kesaksian Kristen bukan hanya dalam khotbah dan nyanyian, tetapi dalam sikap hidup sehari-hari. Orang melihat Kristus melalui cara kita berbicara, bekerja, melayani, dan menghadapi masalah.

Pada ayat 16, Paulus berkata, “Sambil berpegang pada firman kehidupan, agar aku dapat bermegah pada hari Kristus, bahwa aku tidak percuma berlomba dan tidak percuma bersusah-susah.”

 Orang percaya dapat bercahaya karena berpegang pada firman kehidupan. Firman Tuhan adalah sumber arah, kekuatan, koreksi, dan pengharapan. Jika kita tidak berpegang pada firman, kita akan mudah terbawa arus dunia.

Berpegang pada firman kehidupan berarti tidak hanya mendengar firman, tetapi memegangnya erat, mempercayainya, merenungkannya, dan menaatinya. Firman itu disebut firman kehidupan karena membawa manusia kepada hidup sejati di dalam Kristus. Firman Tuhan menegur sungut-sungut kita, membongkar ego dalam bantahan kita, menguatkan hati ketika lelah, dan mengarahkan kita kembali kepada Kristus.

Paulus juga berkata bahwa ia ingin pekerjaannya tidak percuma. Sebagai pelayan Injil, Paulus telah bersusah-susah bagi jemaat. Sukacita Paulus adalah melihat jemaat hidup setia sampai hari Kristus. Ini menunjukkan hati seorang pelayan yang sejati. Ia tidak hanya ingin jemaat aktif secara lahiriah, tetapi sungguh hidup dalam firman.

Dalam konteks sekarang, ayat ini mengingatkan bahwa pelayanan tidak boleh hanya menghasilkan kegiatan, tetapi harus menghasilkan kehidupan yang berpegang pada firman.

Keluarga Kristen juga tidak cukup hanya memiliki Alkitab di rumah, tetapi harus hidup dari firman. Jika firman tidak dipegang, sungut-sungut dan bantah-bantahan mudah menguasai hati. Tetapi jika firman dipegang, kita belajar melihat keadaan dengan iman.

Pada ayat 17, Paulus berkata, “Tetapi sekalipun darahku dicurahkan pada korban dan ibadah imanmu, aku bersukacita dan aku bersukacita dengan kamu sekalian.” Paulus memakai gambaran korban curahan.

Dalam ibadah Perjanjian Lama, korban curahan biasanya dicurahkan sebagai bagian dari persembahan. Paulus menggambarkan hidupnya sendiri seperti korban curahan yang dipersembahkan untuk pelayanan iman jemaat.

Ini menunjukkan kerendahan hati Paulus. Ia tidak melihat penderitaannya sebagai alasan untuk bersungut-sungut. Ia berada dalam penjara, menghadapi kemungkinan kematian, tetapi tetap berkata bahwa ia bersukacita. Mengapa? Karena hidupnya dipersembahkan kepada Tuhan. Jika penderitaannya dapat memperkuat iman jemaat, Paulus tetap bersukacita.

Ayat ini sangat menegur kita. Banyak orang mudah bersungut-sungut ketika berkorban sedikit. Sedikit lelah dalam pelayanan, langsung mengeluh. Sedikit tidak dihargai, langsung kecewa. Sedikit berbeda pendapat, langsung bertengkar. Paulus menunjukkan sikap yang berbeda. Ia rela dicurahkan bagi iman jemaat dan tetap bersukacita.

Bagi kita sekarang, ini bukan berarti kita harus membiarkan diri dieksploitasi atau tidak boleh beristirahat. Tetapi ayat ini mengajarkan bahwa pelayanan sejati membutuhkan hati yang rela berkorban tanpa terus-menerus mengeluh.

Jika kita melayani Tuhan, lakukan dengan sukacita. Jika berkorban untuk keluarga, lakukan dengan kasih. Jika bekerja untuk kebaikan, lakukan dengan hati yang tertuju kepada Tuhan.

Pada ayat 18, Paulus berkata, “Dan kamu juga harus bersukacita demikian dan bersukacitalah dengan aku.” Paulus mengajak jemaat ikut bersukacita. Sukacita dalam Kristus bukan hanya milik Paulus, tetapi harus menjadi milik seluruh jemaat. Bahkan di tengah penderitaan, mereka dipanggil bersukacita bersama.

Ini menutup bagian ini dengan nada sukacita. Setelah menasihati tentang ketaatan, tidak bersungut-sungut, tidak berbantah-bantahan, bercahaya seperti bintang, berpegang pada firman, dan berkorban, Paulus mengajak jemaat bersukacita.

 Artinya, hidup tanpa sungut-sungut bukan hidup yang terpaksa diam. Hidup tanpa bantahan bukan hidup tanpa suara. Hidup yang dimaksud Paulus adalah hidup yang dipenuhi sukacita karena berpusat pada Kristus.

Dalam kehidupan gereja, sukacita bersama sangat penting. Jika satu orang hanya mengeluh, suasana menjadi berat. Jika satu kelompok terus bertengkar, persekutuan menjadi rusak.

Tetapi jika jemaat belajar bersukacita dalam Tuhan, saling menguatkan, dan berpegang pada firman, maka pelayanan menjadi kesaksian yang indah. Sukacita adalah tanda bahwa hati tidak dikuasai oleh ego, tetapi oleh Kristus.

Penutup

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, setelah merenungkan Filipi 2:12–18, kita melihat bahwa tema “Lakukanlah Segala Sesuatu Dengan Tidak Bersungut-sungut Dan Berbantah-bantahan” adalah panggilan yang sangat nyata bagi kehidupan orang percaya.

Ini bukan hanya nasihat supaya kita menjadi orang yang tidak banyak bicara atau tidak boleh menyampaikan pendapat. Ini adalah panggilan untuk memeriksa hati, apakah hidup kita dikuasai oleh keluhan dan ego, atau oleh ketaatan dan sukacita di dalam Kristus.

Paulus menasihati jemaat untuk mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar. Artinya, keselamatan yang kita terima harus diwujudkan dalam kehidupan nyata. Kita diselamatkan bukan supaya tetap hidup dengan karakter lama, tetapi supaya hidup kita dibentuk menjadi serupa dengan Kristus.

Kita tidak mengerjakan keselamatan dengan kekuatan sendiri, sebab Allah bekerja di dalam kita, baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Ini memberi penghiburan bahwa perubahan hidup mungkin terjadi karena Allah sendiri bekerja dalam hati kita.

Tetapi firman ini juga menuntut respons. Jika Allah bekerja dalam kita, maka kita harus taat. Salah satu bentuk ketaatan itu adalah melakukan segala sesuatu tanpa sungut-sungut dan bantah-bantahan.

 Ini berarti kita harus membawa sikap hati kita kepada Tuhan. Jangan biarkan keluhan menjadi kebiasaan. Jangan biarkan pertengkaran menjadi gaya hidup. Jangan biarkan mulut kita merusak keluarga, pelayanan, pekerjaan, dan kesaksian.

Ada beberapa poin penting yang perlu kita pegang.

Pertama, sungut-sungut menunjukkan hati yang kehilangan syukur. Orang yang terus bersungut-sungut sering lupa melihat kebaikan Tuhan. Karena itu, lawanlah sungut-sungut dengan mengingat kembali kasih, pemeliharaan, dan pertolongan Tuhan.

Kedua, berbantah-bantahan sering lahir dari ego yang tidak mau tunduk. Bukan semua perbedaan pendapat salah. Tetapi ketika perbedaan dikuasai keinginan menang sendiri, tidak mau mendengar, dan tidak mau merendahkan hati, maka itu merusak persekutuan.

Ketiga, orang percaya dipanggil menjadi anak-anak Allah yang bercahaya. Di tengah dunia yang penuh keluhan, pertengkaran, dan kegelapan, kita dipanggil menjadi terang. Terang itu terlihat melalui sikap yang bersyukur, perkataan yang membangun, pelayanan yang tulus, dan hidup yang berpegang pada firman.

Keempat, firman kehidupan harus dipegang erat. Tanpa firman, hati kita mudah dibentuk oleh keadaan. Jika keadaan sulit, kita mengeluh. Jika berbeda pendapat, kita bertengkar. Tetapi jika firman dipegang, kita belajar melihat segala sesuatu dengan iman.

Kelima, pelayanan dan pengorbanan harus dijalani dengan sukacita. Paulus rela dicurahkan seperti korban curahan dan tetap bersukacita. Ini mengajar kita bahwa hidup bagi Tuhan tidak selalu mudah, tetapi dapat dijalani dengan sukacita jika Kristus menjadi pusat.

Implikasi firman ini sangat nyata. Dalam keluarga, berhentilah menjadikan rumah sebagai tempat keluhan yang tidak berhenti. Suami, istri, orang tua, anak, dan saudara perlu belajar berbicara dengan kasih.

Jika ada masalah, bicarakan dengan rendah hati, bukan dengan bantahan yang saling melukai. Dalam pekerjaan, lakukan tugas dengan tanggung jawab, bukan dengan keluhan terus-menerus.

 Jika ada hal yang perlu diperbaiki, sampaikan dengan cara yang benar. Dalam pelayanan, jangan melayani sambil terus bersungut-sungut. Jika sudah bersedia melayani Tuhan, lakukan dengan hati yang rela. Jika lelah, datanglah kepada Tuhan untuk dikuatkan, bukan menyebarkan keluhan yang melemahkan orang lain.

Dalam gereja, jagalah persekutuan. Jangan semua hal menjadi bahan perdebatan yang memecah. Jangan perbedaan pendapat membuat kita lupa bahwa kita melayani Tuhan yang sama. Belajarlah mendengar, menghargai, dan mencari kehendak Tuhan bersama-sama.

 Dalam media sosial, jangan menjadi orang yang mudah berbantah-bantahan, menghina, atau memperkeruh keadaan. Orang percaya dipanggil menjadi terang juga melalui kata-kata digitalnya.

Saudara-saudara, marilah kita memeriksa diri. Apakah kita lebih sering bersyukur atau mengeluh? Apakah kita lebih sering membangun atau membantah? Apakah kehadiran kita membuat suasana menjadi damai atau justru tegang? Apakah perkataan kita menjadi terang atau menjadi batu sandungan? Apakah pelayanan kita membuat orang melihat Kristus atau melihat ego kita?

Firman Tuhan hari ini mengajak kita berubah. Mulailah dari hal sederhana. Ketika ingin mengeluh, berhentilah sejenak dan ucapkan syukur. Ketika ingin membantah dengan emosi, diamlah dulu dan berdoalah.

 Ketika berbeda pendapat, dengarkan lebih dahulu. Ketika melayani, ingatlah bahwa kita melayani Tuhan. Ketika lelah, datanglah kepada Allah yang bekerja dalam kita. Ketika hati mulai pahit, peganglah firman kehidupan.

Jangan berkata, “Memang saya orangnya suka mengeluh.” Jangan berkata, “Memang saya tidak bisa diam kalau berbeda pendapat.” Di dalam Kristus, kita tidak harus terus menjadi orang yang sama. Allah bekerja di dalam kita.

 Ia dapat mengubah kemauan dan tindakan kita. Ia dapat mengubah mulut yang penuh keluhan menjadi mulut yang penuh syukur. Ia dapat mengubah hati yang suka berbantah menjadi hati yang membawa damai.

Marilah kita belajar dari kegagalan Israel di padang gurun yang sering bersungut-sungut, supaya kita tidak mengulanginya. Marilah belajar dari Yosua dan Kaleb yang memandang tantangan dengan iman.

Marilah belajar dari Paulus yang tetap bersukacita walaupun berada dalam penderitaan. Dan terutama, marilah belajar dari Kristus yang taat, rendah hati, dan menyerahkan diri bagi keselamatan kita.

Akhirnya, kiranya tema ini menjadi gaya hidup kita: “Lakukanlah Segala Sesuatu Dengan Tidak Bersungut-sungut Dan Berbantah-bantahan.” Kiranya keluarga kita menjadi tempat syukur, bukan keluhan. Kiranya gereja kita menjadi tempat kesatuan, bukan pertengkaran.

Kiranya pelayanan kita dilakukan dengan sukacita, bukan sungut-sungut. Kiranya hidup kita bercahaya seperti bintang-bintang di tengah dunia. Dan kiranya melalui sikap, perkataan, dan perbuatan kita, orang lain melihat bahwa Kristus sungguh hidup dan bekerja di dalam kita.

Amin.

Editor : Clavel Lukas
mtpj gmim renungan filipi khotbah Renungan GMIM Renungan