Bacaan dan Renungan untuk Umat Katolik, Hari Jumat 14 Agustus 2026, Bacaan I Yehezkiel 16:1-15.60.63

Fandy Gerungan • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 10:58 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Perayaan Wajib St. Maximilianus Maria Kolbe (Warna Liturgi Merah)

Bacaan I Yehezkiel 16:1-15.60.63

Lalu datanglah firman TUHAN kepadaku:

"Hai anak manusia, beritahukanlah kepada Yerusalem perbuatan-perbuatannya yang keji

dan katakanlah: Beginilah firman Tuhan ALLAH kepada Yerusalem: Asalmu dan kelahiranmu ialah dari tanah Kanaan; ayahmu ialah orang Amori dan ibumu orang Heti.

Kelahiranmu begini: Waktu engkau dilahirkan, pusatmu tidak dipotong dan engkau tidak dibasuh dengan air supaya bersih; juga dengan garampun engkau tidak digosok atau dibedungi dengan lampin.

Tidak seorangpun merasa sayang kepadamu sehingga diperbuatnya hal-hal itu kepadamu dari rasa belas kasihan; malahan engkau dibuang ke ladang, oleh karena orang pandang enteng kepadamu pada hari lahirmu.

Maka Aku lalu dari situ dan Kulihat engkau menendang-nendang dengan kakimu sambil berlumuran darah dan Aku berkata kepadamu dalam keadaan berlumuran darah itu: Engkau harus hidup

dan jadilah besar seperti tumbuh-tumbuhan di ladang! Engkau menjadi besar dan sudah cukup umur, bahkan sudah sampai pada masa mudamu. Maka buah dadamu sudah montok, rambutmu sudah tumbuh, tetapi engkau dalam keadaan telanjang bugil.

Maka Aku lalu dari situ dan Aku melihat engkau, sungguh, engkau sudah sampai pada masa cinta berahi. Aku menghamparkan kain-Ku kepadamu dan menutupi auratmu. Dengan sumpah Aku mengadakan perjanjian dengan engkau, demikianlah firman Tuhan ALLAH, dan dengan itu engkau Aku punya.

Aku membasuh engkau dengan air untuk membersihkan darahmu dari padamu dan Aku mengurapi engkau dengan minyak.

Aku mengenakan pakaian berwarna-warna kepadamu dan memberikan engkau sandal-sandal dari kulit lumba-lumba dan tutup kepala dari lenan halus dan selendang dari sutera.

Dan Aku menghiasi engkau dengan perhiasan-perhiasan dan mengenakan gelang pada tanganmu dan kalung pada lehermu.

Dan Aku mengenakan anting-anting pada hidungmu dan anting-anting pada telingamu dan mahkota kemuliaan di atas kepalamu.

Dengan demikian engkau menghias dirimu dengan emas dan perak, pakaianmu lenan halus dan sutera dan kain berwarna-warna; makananmu ialah tepung yang terbaik, madu dan minyak dan engkau menjadi sangat cantik, sehingga layak menjadi ratu.

Dan namamu termasyhur di antara bangsa-bangsa karena kecantikanmu, sebab sangat sempurna adanya, oleh karena semarak perhiasan-Ku yang Kuberikan kepadamu, demikianlah firman Tuhan ALLAH."

"Tetapi engkau mengandalkan kecantikanmu dan engkau seumpama bersundal dalam menganggarkan ketermasyhuranmu dan engkau menghamburkan persundalanmu kepada setiap orang yang lewat.

Tetapi Aku akan mengingat perjanjian-Ku dengan engkau pada masa mudamu dan Aku akan meneguhkan bagimu perjanjian yang kekal.

dan dengan itu engkau akan teringat-ingat yang dulu dan merasa malu, sehingga mulutmu terkatup sama sekali karena nodamu, waktu Aku mengadakan pendamaian bagimu karena segala perbuatanmu, demikianlah firman Tuhan ALLAH."

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur tanggapan Yesaya 12:2-3.4bcd.5-6

Sungguh, Allah itu keselamatanku; aku percaya dengan tidak gementar, sebab TUHAN ALLAH itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku."

Maka kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan.

Pada waktu itu kamu akan berkata: "Bersyukurlah kepada TUHAN, panggillah nama-Nya, beritahukanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa, masyhurkanlah, bahwa nama-Nya tinggi luhur!

Bermazmurlah bagi TUHAN, sebab perbuatan-Nya mulia; baiklah hal ini diketahui di seluruh bumi!

Berserulah dan bersorak-sorailah, hai penduduk Sion, sebab Yang Mahakudus, Allah Israel, agung di tengah-tengahmu!"

Bacaan Injil Matius 19:3-12

Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: "Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?"

Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?

Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.

Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."

Kata mereka kepada-Nya: "Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?"

Kata Yesus kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian.

Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah."

Murid-murid itu berkata kepada-Nya: "Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin."

Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja.

Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara/i perayaan Santo Maximilianus Maria Kolbe mengajak kita merenungkan satu kata yang semakin sulit dijalani, tetapi selalu indah: kesetiaan.

Bacaan hari ini menggambarkan bagaimana Tuhan mencintai manusia sejak awal. Ketika manusia berada dalam keadaan lemah, terluka, dan tidak memiliki apa-apa. 

Tuhan datang, merawat, memulihkan, dan mengangkat martabatnya. Kasih Tuhan tidak lahir karena manusia sudah pantas dicintai. Justru kasih itulah yang membuat manusia menjadi berharga.

Namun, ketika hidup mulai baik, manusia sering lupa. Berkat yang diterima dianggap sebagai hasil usaha sendiri. Keberhasilan membuat hati menjadi sombong. 

Kasih yang dahulu begitu dihargai perlahan ditinggalkan. Tetapi yang mengagumkan, Tuhan tidak berhenti mengasihi. Ia tetap membuka jalan untuk memulihkan hubungan yang telah rusak.

Injil hari ini berbicara tentang kesetiaan dalam panggilan hidup. Cinta sejati bukan sekadar perasaan yang hadir ketika semuanya menyenangkan. 

Cinta adalah keputusan untuk tetap menjaga, merawat, dan setia, terutama ketika menghadapi kesulitan. Karena itu, komitmen bukanlah beban, melainkan jalan untuk bertumbuh dalam kasih.

Di tengah dunia yang serba cepat, kita sering terbiasa dengan budaya "ganti". Barang rusak diganti. Pekerjaan tidak cocok, pindah. Relasi mulai sulit, ingin menyerah. 

Tanpa sadar, cara berpikir seperti ini bisa masuk juga dalam kehidupan iman dan hubungan kita dengan sesama.

Santo Maximilianus Maria Kolbe menunjukkan makna kesetiaan yang paling mendalam. Dalam situasi yang sangat gelap, ia tidak memilih menyelamatkan dirinya sendiri. 

Ia tetap setia pada kasih Kristus dan membiarkan kasih itu menjadi nyata melalui pengorbanan bagi orang lain.

Ia mengajarkan bahwa kasih yang sejati tidak berhenti pada kata-kata. Kasih sejati berani hadir, bertahan, dan bahkan berkorban ketika keadaan tidak mudah.

Mungkin kita tidak dipanggil untuk melakukan pengorbanan sebesar Santo Maximilianus Kolbe. Tetapi kita dipanggil untuk setia dalam hal-hal kecil: setia pada doa ketika sedang malas, setia pada keluarga ketika ada konflik. 

Setia pada pasangan ketika menghadapi masa sulit, setia pada tugas meskipun tidak ada yang melihat, dan setia menjadi orang baik meskipun dunia sering menawarkan jalan yang lebih mudah.

Hari ini kita diingatkan bahwa Tuhan tidak pernah lelah memulihkan kita. Jika kita pernah menjauh, Ia tetap menunggu. Jika kita pernah gagal menjaga komitmen, Ia tetap memberi kesempatan untuk memulai kembali.

Kesetiaan bukan berarti tidak pernah jatuh. Kesetiaan berarti selalu memilih untuk kembali kepada kasih yang benar.

Semoga melalui teladan Santo Maximilianus Maria Kolbe, kita belajar menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah, tidak cepat meninggalkan, dan berani mengasihi sampai akhir. 

Sebab dunia mungkin mengagumi orang yang kuat, tetapi Tuhan berkenan pada mereka yang setia dalam kasih. (*)

Editor : Fandy Gerungan
renungan katolik Renungan