Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia (Warna Liturgi Putih)
Bacaan I Sirakh 10:1-8
Pemerintah yang bijak Avf mempertahankan ketertiban pada rakyatnya, dan pemerintahan orang arif adalah teratur.
Seperti penguasa bangsa demikianpun para pegawainya, dan seperti pemerintah kota demikian pula semua penduduknya.
Raja yang tidak terdidik membinasakan rakyatnya, tetapi sebuah kota sejahtera berkat kearifan para pembesarnya.
Di dalam tangan Tuhan terletak kuasa atas bumi, an pada waktunya la mengangkat orang yang serasi atasnya.
Di dalam tangan Tiihanlah terletak kemujuran seorang manusia, dan kepada para pejabat dikaruniakan oleh-Nya martabatnya.
Hendaklah engkau tidak pernah menaruh benci kepada sesamamu apapun juga kesalahannya, dan jangan berbuat apa-apa terpengaruh oleh nafsu.
Kecongkakan dibenci oleh Tuhan maupun oleh manusia, dan bagi kedua-duanya kelaliman adalah salah.
Pemerintahan beralih dari bangsa yang satu kepada bangsa yang lain akibat kelaliman, kekerasan dan uang.
Demikianlah Sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah
Mazmur 101:1a.2ac,3a,6-7
Mazmur Daud. Aku hendak menyanyikan kasih setia dan hukum, aku hendak bermazmur bagi-Mu, ya TUHAN.
Aku hendak memperhatikan hidup yang tidak bercela: Bilakah Engkau datang kepadaku? Aku hendak hidup dalam ketulusan hatiku di dalam rumahku.
Tiada kutaruh di depan mataku perkara dursila; perbuatan murtad aku benci, itu takkan melekat padaku.
Mataku tertuju kepada orang-orang yang setiawan di negeri, supaya mereka diam bersama-sama dengan aku. Orang yang hidup dengan cara yang tak bercela, akan melayani aku.
Orang yang melakukan tipu daya tidak akan diam di dalam rumahku, orang yang berbicara dusta tidak akan tegak di depan mataku.
Bacaan II 1 Petrus 2:13-17
Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi,
maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik.
Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh.
Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.
Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!
Demikianlah Sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah
Bacaan Injil Matius 22:15-21
Kemudian pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan.
Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau tidak mencari muka.
Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?"
Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: "Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik?
Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu." Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya.
Maka Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan tulisan siapakah ini?"
Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus
Renungan
Saudara/i Kemerdekaan bukan hanya tentang bebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga berarti belajar menjadi manusia yang mampu menggunakan kebebasan dengan bijaksana.
Sebab kebebasan tanpa tanggung jawab dapat berubah menjadi keserakahan, kekacauan, bahkan penindasan terhadap sesama.
Bacaan hari ini mengingatkan kita bahwa kehidupan sebuah bangsa sangat dipengaruhi oleh kualitas orang-orang yang menjalankannya. Pemimpin yang bijaksana akan membawa kebaikan bagi masyarakat.
Tetapi kepemimpinan yang dipenuhi kesombongan, kepentingan pribadi, dan ketidakadilan dapat melukai banyak orang.
Karena itu, merayakan kemerdekaan bukan hanya tugas pemerintah. Setiap warga negara mempunyai tanggung jawab untuk menjaga kemerdekaan dengan cara yang sederhana.
Hidup jujur, menghormati sesama, menaati aturan, bekerja dengan sungguh-sungguh, dan tidak menggunakan kebebasan untuk merugikan orang lain.
Injil membawa kita pada kesadaran yang lebih dalam. Sebagai orang beriman, kita memiliki tanggung jawab sebagai warga negara sekaligus sebagai umat Allah. Keduanya tidak perlu dipertentangkan.
Kita dapat mencintai Indonesia dengan sungguh-sungguh sekaligus menempatkan Tuhan sebagai pusat kehidupan.
Mencintai Indonesia berarti tidak hanya bangga memakai atribut merah putih atau mengikuti upacara. Cinta tanah air terlihat ketika kita menolak korupsi, tidak menyebarkan kebencian.
Tidak mudah memecah persaudaraan, menghargai perbedaan, dan berani memperjuangkan kebenaran meskipun tidak selalu menguntungkan diri sendiri.
Kemerdekaan juga mengajak kita bertanya: untuk apa saya diberi kebebasan? Apakah kebebasan saya membuat orang lain merasa aman dan dihargai, atau justru membuat orang lain terluka?
Sebagai umat Katolik, kita dipanggil menjadi warga negara yang membawa terang Kristus di tengah masyarakat. Iman tidak berhenti di dalam gereja.
Iman harus terlihat dalam cara kita bekerja, berbicara, menggunakan media sosial, memperlakukan orang yang berbeda dari kita, dan menjalankan tanggung jawab sebagai warga negara.
Hari ini kita bersyukur atas Indonesia. Kita mengenang perjuangan para pendahulu yang telah memberikan kemerdekaan dengan pengorbanan besar.
Namun tugas kita belum selesai. Kemerdekaan yang diwariskan harus dijaga dengan kehidupan yang benar.
Semoga Indonesia semakin menjadi rumah bersama yang menghadirkan keadilan, persaudaraan, kedamaian, dan kesejahteraan bagi semua.
Dan semoga sebagai umat Katolik, kita tidak hanya menjadi orang yang menikmati kemerdekaan, tetapi juga menjadi pribadi yang mengisi kemerdekaan dengan kasih, kejujuran, tanggung jawab, dan iman kepada Tuhan. (*)
Editor : Fandy Gerungan