Pdt Henoch Awuy Yohanes 3:16, Jangan Pandang Enteng Kasih Karunia dan Pengorbanan Kristus

Deiby Rotinsulu • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 14:10 WIB
Gereja Pantekosta di Indonesia
Gereja Pantekosta di Indonesia

 

MANADOPOST.ID – Umat Tuhan diingatkan untuk tidak memandang enteng keselamatan yang telah diberikan Allah melalui pengorbanan Yesus Kristus. Keselamatan memang diberikan secara cuma-cuma, tetapi anugerah tersebut dibayar dengan harga yang sangat mahal, yaitu melalui pengorbanan Kristus di kayu salib.

Pesan tersebut disampaikan oleh Pdt. Henoch Awuy dalam khotbahnya yang mengangkat firman Tuhan dari Yohanes 3:16.

Dalam khotbahnya, Pdt. Henoch Awuy menegaskan bahwa orang percaya adalah umat tebusan yang sangat dikasihi oleh Allah. Kehidupan yang dijalani umat Tuhan hingga saat ini tidak terlepas dari kasih karunia-Nya.

“Kita adalah umat-umat tebusan, umat yang dikasihi oleh Allah.”

Menurutnya, keberadaan setiap orang percaya merupakan bukti nyata dari kasih dan anugerah Tuhan. Allah bukan hanya telah menebus manusia dari dosa, tetapi juga terus memimpin dan menyertai umat-Nya dalam perjalanan kehidupan.

Ia menekankan bahwa Tuhan yang telah menebus umat-Nya tidak menghendaki mereka kembali tersesat. Tuhan menyediakan jalan dan memberikan penyertaan agar setiap orang percaya tetap berjalan dalam kehendak-Nya.

Namun, di tengah perjalanan tersebut, umat Tuhan diperhadapkan dengan berbagai tantangan dan godaan dunia yang dapat membuat seseorang menyimpang dari jalan Tuhan.

Saat ini hingar bingar dunia berusaha menggoda kita untuk melenceng dari jalan-jalan Tuhan, melenceng dari kasih Tuhan,” menjadi salah satu penekanan dalam khotbah tersebut.

Jangan Meremehkan Keselamatan

Pdt. Henoch Awuy kemudian mengutip Roma 2:4, ketika Rasul Paulus mengingatkan tentang kemurahan, kesabaran, dan kelapangan hati Allah yang seharusnya membawa manusia kepada pertobatan.

Ia mengingatkan jemaat agar tidak memandang rendah pengorbanan Tuhan Yesus.

Keselamatan memang diberikan secara cuma-cuma kepada manusia. Namun, hal tersebut bukan berarti keselamatan dapat dianggap sebagai sesuatu yang murah atau tidak bernilai.

Sebab, keselamatan itu diperoleh melalui pengorbanan Yesus Kristus yang menyerahkan hidup-Nya di kayu salib.

“Keselamatan Tuhan diberikan secara cuma-cuma, tetapi Tuhanlah yang telah membayar harganya,” demikian inti pesan yang disampaikan.

Karena itu, setiap orang percaya diajak untuk memberikan respons yang benar terhadap keselamatan tersebut.

Respons terhadap anugerah Allah bukan hanya melalui perkataan atau pengakuan iman, tetapi juga melalui kehidupan yang mencerminkan firman Tuhan.

Firman Tuhan Menjadi Tolak Ukur Kehidupan

Pdt. Henoch Awuy menekankan pentingnya menjadikan firman Tuhan sebagai standar dan tolak ukur dalam menjalani kehidupan.

Keselamatan yang diterima melalui kasih karunia Allah harus direspons dengan kesediaan untuk hidup dalam pertobatan.

Hal tersebut sejalan dengan 1 Yohanes 1:9, yang mengajarkan bahwa Allah setia dan adil untuk mengampuni dosa serta menyucikan setiap orang yang mengakuinya.

Selain itu, Roma 12:2 mengingatkan agar orang percaya tidak menjadi serupa dengan dunia ini, melainkan mengalami pembaruan budi sehingga dapat membedakan kehendak Allah.

Pertobatan, menurut pesan khotbah tersebut, bukan hanya sebuah peristiwa sekali terjadi. Pertobatan merupakan sikap hidup yang terus membawa orang percaya kembali kepada kehendak Tuhan.

Di tengah dunia yang menawarkan begitu banyak jalan dan nilai yang bertentangan dengan firman Tuhan, umat percaya dipanggil untuk tetap menjadikan firman sebagai pedoman utama.

Baca Juga: Renungan Pantekosta Kamis 13 Agustus 2026, Bilangan Pasal 19-20 Tetap Kudus dan Percaya kepada Tuhan

Panggilan untuk Hidup dalam Kekudusan

Selain hidup dalam pertobatan, Pdt. Henoch Awuy juga menekankan pentingnya kehidupan yang kudus.

Kekudusan bukan sekadar penampilan luar, jabatan dalam pelayanan, maupun upaya untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain.

Kehidupan kudus merupakan respons atas siapa Allah yang disembah oleh orang percaya, yaitu Allah yang kudus.

Pesan tersebut didasarkan pada 1 Petrus 1:14-16, yang menyatakan:

“Hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.”

Selain itu, Ibrani 12:14 juga mengingatkan pentingnya mengejar kekudusan, karena tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.

Pdt. Henoch Awuy mengingatkan bahwa kehidupan orang percaya tidak boleh bersifat setengah-setengah.

Umat Tuhan dipanggil untuk memiliki kemurnian hidup, tidak menjadi suam-suam kuku, serta tidak berkompromi dengan dosa.

Kehidupan yang berkenan kepada Tuhan adalah kehidupan yang sepenuhnya diarahkan kepada kehendak-Nya.

Bukan Karena Jabatan, Tetapi Karena Allah yang Kudus

Dalam bagian akhir khotbahnya, Pdt. Henoch Awuy menegaskan bahwa hidup kudus tidak boleh didasarkan pada posisi seseorang di dalam gereja.

Seseorang tidak hidup benar hanya karena memiliki jabatan sebagai pelayan Tuhan atau karena ingin mendapatkan penilaian baik dari orang lain.

“Tuhan menilik kedalaman hati kita.”

Kehidupan kudus harus lahir dari kesadaran bahwa Allah yang disembah adalah Allah yang kudus.

Tuhan bukan hanya melihat apa yang tampak di luar, tetapi juga melihat motivasi, hati, dan kehidupan setiap orang.

Meski demikian, orang percaya tidak dipanggil untuk menjalani kehidupan kudus dengan kekuatannya sendiri.

Roh Kudus hadir untuk menolong, menguatkan, dan memampukan setiap orang percaya agar dapat hidup sesuai dengan kehendak Allah.

Melalui khotbah tersebut, jemaat kembali diingatkan untuk menghargai keselamatan yang telah diberikan melalui Yesus Kristus.

Kasih karunia Allah bukan alasan untuk hidup sembarangan, melainkan panggilan untuk memberikan respons yang benar melalui pertobatan, ketaatan kepada firman Tuhan, dan kehidupan yang kudus.

Sebagai umat tebusan yang dikasihi Allah, setiap orang percaya dipanggil untuk tidak menyia-nyiakan anugerah keselamatan, tetapi hidup sepenuhnya sesuai dengan kehendak Tuhan. Amin (*)

Editor : Deiby Rotinsulu
Pdt Henoch awuy Yohanes 3:16 Jangan Pandang Enteng Kasih Karunia dan Pengorbanan Khotbah Pantekosta