Bacaan dan Renungan untuk Orang Muda Katolik, Hari Jumat 21 Agustus 2026, Bacaan I Yehezkiel 37:1-14

Fandy Gerungan • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 10:03 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Perayaan Wajib St. Pius X (Warna Liturgi Putih)

Bacaan I Yehezkiel 37:1-14

Lalu kekuasaan TUHAN meliputi aku dan Ia membawa aku ke luar dengan perantaraan Roh-Nya dan menempatkan aku di tengah-tengah lembah, dan lembah ini penuh dengan tulang-tulang.

Ia membawa aku melihat tulang-tulang itu berkeliling-keliling dan sungguh, amat banyak bertaburan di lembah itu; lihat, tulang-tulang itu amat kering.

Lalu Ia berfirman kepadaku: "Hai anak manusia, dapatkah tulang-tulang ini dihidupkan kembali?" Aku menjawab: "Ya Tuhan ALLAH, Engkaulah yang mengetahui!"

Lalu firman-Nya kepadaku: "Bernubuatlah mengenai tulang-tulang ini dan katakanlah kepadanya: Hai tulang-tulang yang kering, dengarlah firman TUHAN!

Beginilah firman Tuhan ALLAH kepada tulang-tulang ini: Aku memberi nafas hidup di dalammu, supaya kamu hidup kembali.

Aku akan memberi urat-urat padamu dan menumbuhkan daging padamu, Aku akan menutupi kamu dengan kulit dan memberikan kamu nafas hidup, supaya kamu hidup kembali. Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN."

Lalu aku bernubuat seperti diperintahkan kepadaku; dan segera sesudah aku bernubuat, kedengaranlah suara, sungguh, suatu suara berderak-derak, dan tulang-tulang itu bertemu satu sama lain.

Sedang aku mengamat-amatinya, lihat, urat-urat ada dan daging tumbuh padanya, kemudian kulit menutupinya, tetapi mereka belum bernafas.

Maka firman-Nya kepadaku: "Bernubuatlah kepada nafas hidup itu, bernubuatlah, hai anak manusia, dan katakanlah kepada nafas hidup itu: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Hai nafas hidup, datanglah dari keempat penjuru angin, dan berembuslah ke dalam orang-orang yang terbunuh ini, supaya mereka hidup kembali."

Lalu aku bernubuat seperti diperintahkan-Nya kepadaku. Dan nafas hidup itu masuk di dalam mereka, sehingga mereka hidup kembali. Mereka menjejakkan kakinya, suatu tentara yang sangat besar.

Firman-Nya kepadaku: "Hai anak manusia, tulang-tulang ini adalah seluruh kaum Israel. Sungguh, mereka sendiri mengatakan: Tulang-tulang kami sudah menjadi kering, dan pengharapan kami sudah lenyap, kami sudah hilang.

Oleh sebab itu, bernubuatlah dan katakan kepada mereka: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Sungguh, Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umat-Ku, dari dalamnya, dan Aku akan membawa kamu ke tanah Israel.

Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, pada saat Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umat-Ku, dari dalamnya.

Aku akan memberikan Roh-Ku ke dalammu, sehingga kamu hidup kembali dan Aku akan membiarkan kamu tinggal di tanahmu. Dan kamu akan mengetahui bahwa Aku, TUHAN, yang mengatakannya dan membuatnya, demikianlah firman TUHAN."

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 107:2-3.4-5.6-7.8-9

Biarlah itu dikatakan orang-orang yang ditebus TUHAN, yang ditebus-Nya dari kuasa yang menyesakkan,

yang dikumpulkan-Nya dari negeri-negeri, dari timur dan dari barat, dari utara dan dari selatan.

Ada orang-orang yang mengembara di padang belantara, jalan ke kota tempat kediaman orang tidak mereka temukan;

mereka lapar dan haus, jiwa mereka lemah lesu di dalam diri mereka.

Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka, dan dilepaskan-Nya mereka dari kecemasan mereka.

Dibawa-Nya mereka menempuh jalan yang lurus, sehingga sampai ke kota tempat kediaman orang.

Biarlah mereka bersyukur kepada TUHAN karena kasih setia-Nya, karena perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib terhadap anak-anak manusia,

sebab dipuaskan-Nya jiwa yang dahaga, dan jiwa yang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan.

Bacaan Injil Matius 22:34-40

Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka

dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia:

"Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?"

Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.

Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.

Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Salve sahabat muda katolik!, pernahkah kita merasa lelah dengan hidup?. Bangun pagi, menjalani rutinitas, bertemu banyak orang, aktif di media sosial, tetapi di dalam hati justru terasa kosong. 

Kita tersenyum di depan orang lain, tetapi sebenarnya sedang kehilangan semangat, arah, bahkan harapan. Bacaan hari ini berbicara tentang sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan kita: harapan yang hampir mati. 

Ada saat ketika kita merasa sudah terlalu gagal, terlalu jauh dari Tuhan, terlalu banyak membuat kesalahan, atau terlalu kecewa dengan keadaan. Kita lalu berpikir, “Mungkin hidupku memang akan seperti ini selamanya.”

Tetapi Tuhan tidak melihat kita seperti kita melihat diri sendiri. Apa yang menurut kita sudah selesai, bagi Tuhan masih bisa dimulai kembali. Apa yang terasa mati dalam diri kita masih dapat dihidupkan oleh kasih dan Roh-Nya.

Karena itu, jangan menyerah hanya karena pernah gagal. Jangan merasa masa depanmu hancur hanya karena satu keputusan yang salah. Jangan membiarkan pengalaman pahit membuatmu kehilangan keberanian untuk bermimpi lagi.

Sebagai orang muda, kita sering ingin semuanya berjalan cepat. Ketika doa belum terjawab, kita kecewa. Ketika usaha belum berhasil, kita ingin berhenti. 

Ketika hubungan dengan seseorang rusak, kita merasa hidup ikut hancur. Padahal Tuhan sedang mengajarkan kita bahwa pertumbuhan membutuhkan proses dan kesetiaan.

Injil hari ini mengarahkan kita kembali kepada sesuatu yang sederhana tetapi sangat dalam: kasih. Di tengah dunia yang sering mengajarkan kita untuk mengejar popularitas, pencapaian, uang, penampilan, dan pengakuan. 

Yesus mengingatkan bahwa ukuran terbesar kehidupan bukanlah seberapa banyak kita memiliki, melainkan seberapa sungguh kita mengasihi.

Mengasihi Tuhan berarti menjadikan Dia pusat kehidupan kita. Bukan hanya datang kepada Tuhan ketika sedang punya masalah, tetapi belajar berjalan bersama-Nya dalam setiap keadaan. 

Saat berhasil, kita bersyukur. Saat gagal, kita tetap percaya. Saat bingung, kita mencari kehendak-Nya. Mengasihi sesama juga berarti berani menjadi pribadi yang membawa kehidupan. 

Jangan menjadi orang yang membuat orang lain semakin terluka melalui perkataan, komentar, gosip, atau perundungan. Sebaliknya, jadilah orang muda yang kehadirannya membuat orang lain merasa diterima, dihargai, dan memiliki harapan.

Mungkin ada teman kita yang terlihat baik-baik saja, tetapi sebenarnya sedang berjuang sendirian. Mungkin ada yang mulai menjauh dari Tuhan karena kecewa. Mungkin ada yang kehilangan percaya diri karena kegagalan. 

Jangan selalu menunggu mereka meminta pertolongan. Kadang-kadang satu sapaan, satu perhatian, atau satu tindakan sederhana dapat menjadi jalan Tuhan untuk menghidupkan kembali harapan seseorang.

St. Pius X mengingatkan kita bahwa iman harus terus membawa kehidupan bagi Gereja dan dunia. Sebagai orang muda Katolik, kita juga dipanggil bukan hanya menjadi penonton dalam kehidupan menggereja. 

Kita dipanggil untuk hadir, terlibat, melayani, dan menjadi saksi bahwa iman kepada Kristus masih relevan dan memiliki kekuatan untuk mengubah hidup.

Jadi, kalau hari ini hatimu sedang kering, jangan menyerah. Kalau semangatmu sedang hilang, jangan berhenti melangkah. Kalau pernah jatuh, bangunlah kembali. Tuhan belum selesai dengan hidupmu.

Jangan biarkan dunia mematikan harapanmu. Jangan biarkan luka membuatmu berhenti mengasihi. Dan jangan biarkan kegagalan membuatmu lupa bahwa Tuhan masih bekerja dalam hidupmu.

Mari menjadi orang muda yang membawa kehidupan: hidup dalam iman, bertumbuh dalam kasih, dan menjadi harapan bagi sesama. Karena mungkin, melalui hidup kita, Tuhan sedang ingin menghidupkan kembali seseorang yang hampir kehilangan harapan. (*)

Editor : Fandy Gerungan
renungan katolik omk Renungan