Renungan Yosua 24:1–28, Takutlah Akan Tuhan Dan Beribadahlah KepadaNya Dengan Tulus Ikhlas Dan Setia

Clavel Lukas • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 22:00 WIB
Ilustrasi Alkitab.
Ilustrasi Alkitab.

Bacaan: Yosua 24:1–28

Tema: “Takutlah Akan Tuhan Dan Beribadahlah Kepada-Nya Dengan Tulus Ikhlas Dan Setia”

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, dalam kehidupan ini setiap orang selalu diperhadapkan pada pilihan. Ada pilihan kecil yang kita buat setiap hari, seperti apa yang akan kita kerjakan, bagaimana kita memakai waktu, bagaimana kita berbicara kepada orang lain, dan bagaimana kita menyikapi masalah. Tetapi ada juga pilihan besar yang menentukan arah hidup kita, yaitu kepada siapa hidup ini kita serahkan, nilai apa yang kita pegang, dan siapa yang sungguh-sungguh menjadi Tuhan dalam kehidupan kita.

Banyak orang berkata percaya kepada Tuhan, tetapi dalam praktik hidup sehari-hari hatinya sering bercabang. Di gereja kita menyebut nama Tuhan, tetapi di luar gereja kita bisa lebih takut kepada manusia daripada kepada Tuhan. Di dalam ibadah kita bernyanyi dan berdoa, tetapi dalam pekerjaan kita masih bisa tergoda hidup tidak jujur.

Di dalam keluarga kita ingin diberkati Tuhan, tetapi dalam keputusan hidup kita masih sering mengikuti ego, gengsi, kebiasaan lama, atau cara dunia. Kita mengaku melayani Tuhan, tetapi kadang hati masih terikat pada “ilah-ilah” lain, seperti uang, jabatan, kenyamanan, popularitas, dendam, kesombongan, atau kebiasaan dosa yang belum mau dilepaskan.

Firman Tuhan hari ini membawa kita pada momen yang sangat penting dalam sejarah umat Israel. Yosua, yang telah memimpin bangsa Israel masuk ke tanah Kanaan, kini mengumpulkan seluruh suku Israel di Sikhem. Ia sudah tua. Ia tahu bahwa masa kepemimpinannya hampir selesai.

Baca Juga: Materi Khotbah Yosua 24:1–28, Takutlah Akan Tuhan Dan Beribadahlah Kepada-Nya Dengan Tulus Ikhlas Dan Setia

Karena itu, ia tidak hanya memberi pesan biasa, tetapi membawa umat kepada pembaruan perjanjian dengan Tuhan. Yosua mengingatkan kembali seluruh karya Tuhan: bagaimana Tuhan memanggil Abraham, membebaskan Israel dari Mesir, menuntun mereka melalui padang gurun, mengalahkan musuh-musuh mereka, dan memberikan tanah yang bukan hasil kekuatan mereka sendiri.

 Setelah mengingatkan semua itu, Yosua menantang umat untuk mengambil keputusan iman: apakah mereka sungguh akan takut kepada Tuhan dan beribadah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia, atau mereka masih mau menyimpan ilah-ilah lain?

Tema kita, “Takutlah Akan Tuhan Dan Beribadahlah Kepada-Nya Dengan Tulus Ikhlas Dan Setia,” adalah panggilan yang sangat jelas. Takut akan Tuhan bukan berarti takut seperti seorang budak yang lari dari tuannya, tetapi hormat, tunduk, kagum, percaya, dan hidup dalam kesadaran bahwa Tuhan adalah Allah yang kudus, setia, dan berdaulat.

Beribadah kepada Tuhan dengan tulus ikhlas berarti beribadah bukan karena pura-pura, bukan karena kebiasaan kosong, bukan karena ingin dilihat orang, tetapi karena hati sungguh mengasihi Tuhan. Beribadah dengan setia berarti tidak hanya melayani Tuhan ketika keadaan mudah, tetapi tetap berpegang kepada-Nya dalam segala musim kehidupan.

Khotbah ini mengajak kita memeriksa diri. Apakah ibadah kita sungguh tulus atau hanya rutinitas? Apakah kesetiaan kita kepada Tuhan utuh atau masih bercabang? Apakah keluarga kita sungguh memilih Tuhan atau hanya menjadikan Tuhan sebagai pelengkap hidup?

Apakah pelayanan kita lahir dari kasih kepada Tuhan atau dari kepentingan diri? Melalui Yosua 24:1–28, Tuhan memanggil kita kembali kepada keputusan iman yang tegas: tinggalkan ilah-ilah yang memperbudak hati, takutlah akan Tuhan, dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan

Kitab Yosua melanjutkan kisah perjalanan umat Israel setelah kematian Musa. Musa telah memimpin umat keluar dari Mesir dan berjalan di padang gurun selama empat puluh tahun, tetapi Yosualah yang dipakai Tuhan untuk memimpin generasi baru masuk ke tanah Kanaan. Kitab ini memperlihatkan penggenapan janji Tuhan kepada Abraham, Ishak, dan Yakub, yaitu bahwa keturunan mereka akan menerima tanah yang telah dijanjikan Tuhan.

Yosua bukan sekadar pemimpin militer. Ia adalah hamba Tuhan yang dipanggil untuk memimpin umat dalam ketaatan kepada firman. Sejak awal kitab ini, Tuhan berkata kepada Yosua agar kuat dan teguh hati, tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari hukum Tuhan, dan merenungkan firman siang dan malam. Artinya, keberhasilan umat Israel tidak ditentukan terutama oleh strategi perang atau kekuatan senjata, tetapi oleh kesetiaan kepada Tuhan.

Kitab Yosua secara umum dapat dilihat dalam beberapa bagian besar. Bagian awal menceritakan persiapan memasuki tanah Kanaan, termasuk penyeberangan Sungai Yordan dan pembaruan tanda perjanjian. Bagian berikutnya menceritakan penaklukan tanah Kanaan, termasuk jatuhnya Yerikho dan berbagai peperangan. Kemudian kitab ini mencatat pembagian tanah kepada suku-suku Israel. Bagian akhir kitab, yaitu pasal 23–24, berisi pesan perpisahan Yosua dan pembaruan perjanjian umat dengan Tuhan.

Yosua 24 terjadi di Sikhem. Tempat ini sangat penting dalam sejarah Israel. Di Sikhem, Tuhan pernah menampakkan diri kepada Abram dan berjanji memberikan tanah itu kepada keturunannya. Di sana Abram mendirikan mezbah bagi Tuhan. Dengan demikian, ketika Yosua mengumpulkan umat di Sikhem, ia membawa mereka kembali ke salah satu tempat penting dalam ingatan perjanjian. Umat diajak mengingat bahwa hidup mereka berdiri di atas janji Tuhan yang telah bekerja sejak zaman leluhur.

Dalam Yosua 24, Yosua tidak memulai dengan menuntut umat melakukan sesuatu. Ia terlebih dahulu mengingatkan mereka tentang apa yang Tuhan telah lakukan. Tuhan memanggil Abraham dari seberang sungai Efrat, memberikan Ishak, Yakub, dan Esau, membawa Israel keluar dari Mesir, membelah laut, menuntun melalui padang gurun, mengalahkan musuh, dan memberikan tanah yang tidak mereka usahakan sendiri.

Baru setelah itu Yosua memanggil mereka untuk takut kepada Tuhan dan beribadah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Ini penting secara teologis: ketaatan umat adalah respons terhadap anugerah Allah. Umat tidak taat supaya Tuhan baru mengasihi mereka; umat taat karena Tuhan sudah lebih dahulu menyatakan kasih, kesetiaan, dan kuasa-Nya.

Tema “Takutlah Akan Tuhan Dan Beribadahlah Kepada-Nya Dengan Tulus Ikhlas Dan Setia” memiliki beberapa makna penting. Pertama, takut akan Tuhan berarti mengakui Tuhan sebagai satu-satunya Allah yang layak dihormati dan ditaati. Kedua, ibadah yang tulus menuntut hati yang tidak bercabang. Tuhan tidak mau disembah bersama ilah-ilah lain.

Ketiga, kesetiaan kepada Tuhan harus terlihat dalam keputusan nyata, bukan hanya dalam kata-kata. Keempat, ibadah sejati selalu melibatkan keluarga dan komunitas. Yosua berkata, “Aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN.” Kelima, beribadah kepada Tuhan berarti meninggalkan ilah-ilah lama, yaitu semua hal yang menggantikan posisi Tuhan dalam hidup.

Dalam kehidupan masa kini, ilah-ilah itu mungkin tidak selalu berbentuk patung. Ilah dapat berupa apa saja yang mengambil tempat Tuhan dalam hati kita. Uang bisa menjadi ilah jika seluruh hidup dikuasai oleh pengejaran harta. Jabatan bisa menjadi ilah jika kita rela mengorbankan kebenaran demi posisi.

Keluarga pun bisa menjadi ilah jika kita lebih takut mengecewakan keluarga daripada mengecewakan Tuhan. Diri sendiri bisa menjadi ilah jika semua keputusan hanya berdasarkan ego. Karena itu, panggilan Yosua tetap relevan: pilihlah hari ini kepada siapa kita akan beribadah.

Pembahasan Ayat Demi Ayat

Pada ayat 1, Yosua mengumpulkan semua suku Israel di Sikhem. Ia memanggil para tua-tua, para kepala, para hakim, dan para pengatur pasukan, lalu mereka berdiri di hadapan Allah. Ini bukan sekadar pertemuan nasional atau rapat kepemimpinan. Mereka berdiri di hadapan Allah. Artinya, keputusan yang akan mereka ambil bukan hanya keputusan politik atau sosial, tetapi keputusan rohani. Mereka tidak hanya berhadapan dengan Yosua sebagai pemimpin, tetapi dengan Tuhan sebagai pemilik umat.

Ayat ini mengingatkan bahwa setiap keputusan penting dalam kehidupan umat percaya harus ditempatkan di hadapan Allah. Keluarga, gereja, pelayanan, pekerjaan, dan masyarakat tidak boleh berjalan hanya berdasarkan kehendak manusia. Kita perlu belajar berdiri di hadapan Tuhan sebelum mengambil keputusan.

Banyak masalah terjadi karena manusia mengambil keputusan hanya berdasarkan emosi, kepentingan, atau suara mayoritas, tanpa bertanya apa kehendak Tuhan. Yosua mengumpulkan umat untuk menyadari bahwa masa depan mereka harus dibangun di hadapan Allah.

Pada ayat 2, Yosua berkata kepada seluruh bangsa bahwa beginilah firman Tuhan, Allah Israel: dahulu kala nenek moyang Israel, yaitu Terah, ayah Abraham dan Nahor, tinggal di seberang sungai Efrat dan beribadah kepada allah lain. Yosua memulai sejarah umat bukan dari kehebatan Abraham, tetapi dari anugerah Tuhan. Abraham berasal dari keluarga yang hidup dalam penyembahan kepada ilah lain. Artinya, asal-usul umat bukanlah kesucian manusia, melainkan panggilan Allah yang penuh anugerah.

Ini sangat penting. Israel tidak boleh sombong. Mereka menjadi umat Tuhan bukan karena mereka lebih baik sejak awal, tetapi karena Tuhan memanggil dan membentuk mereka. Demikian juga kita. Kita tidak menjadi orang percaya karena kita lebih baik daripada orang lain, tetapi karena Tuhan memanggil kita dalam anugerah-Nya. Karena itu, ibadah yang sejati harus lahir dari kerendahan hati. Orang yang sadar hidupnya adalah anugerah tidak akan mudah sombong secara rohani.

Pada ayat 3, Tuhan berkata bahwa Ia mengambil Abraham dari seberang sungai Efrat dan menyuruhnya menjelajahi seluruh tanah Kanaan, memperbanyak keturunannya, dan memberikan Ishak kepadanya. Kata “Aku mengambil Abraham” menunjukkan inisiatif Tuhan. Abraham tidak menemukan Tuhan dengan kekuatannya sendiri; Tuhanlah yang memanggil Abraham. Tuhan membawa dia keluar dari latar belakang lama dan memasukkannya ke dalam rencana perjanjian.

Ayat ini mengingatkan bahwa iman selalu dimulai dari tindakan Allah. Tuhan memanggil, Tuhan menuntun, Tuhan memberi janji, Tuhan memberi keturunan. Abraham berjalan dalam iman, tetapi iman itu adalah respons terhadap panggilan Tuhan.

Dalam hidup kita, Tuhan juga memanggil keluar dari cara hidup lama. Ia memanggil kita keluar dari kebiasaan dosa, penyembahan kepada hal-hal duniawi, dan hidup tanpa arah. Takut akan Tuhan berarti bersedia berjalan mengikuti panggilan-Nya, sekalipun harus meninggalkan zona nyaman dan pola lama.

Pada ayat 4, Tuhan berkata bahwa kepada Ishak diberikan Yakub dan Esau. Kepada Esau diberikan pegunungan Seir menjadi miliknya, sedangkan Yakub dan anak-anaknya pergi ke Mesir. Ayat ini menunjukkan bahwa sejarah umat Allah bergerak menurut rencana Tuhan yang tidak selalu mudah dipahami. Esau mendapat wilayahnya, sedangkan Yakub dan keturunannya justru pergi ke Mesir, yang kemudian menjadi tempat perbudakan.

Ini mengajarkan bahwa perjalanan umat Tuhan tidak selalu langsung menuju kenyamanan. Kadang jalan janji Tuhan melewati proses panjang, termasuk penderitaan. Yakub pergi ke Mesir karena kelaparan dan pemeliharaan Tuhan melalui Yusuf, tetapi generasi berikutnya mengalami perbudakan di sana.

Namun Tuhan tetap bekerja dalam sejarah itu. Dalam kehidupan kita, ada masa ketika jalan Tuhan melewati proses yang tidak kita pahami. Tetapi kesetiaan kepada Tuhan berarti tetap percaya bahwa Ia bekerja melampaui yang tampak.

Pada ayat 5, Tuhan mengingatkan bahwa Ia mengutus Musa dan Harun, lalu menulahi Mesir dengan apa yang Ia lakukan di tengah-tengah mereka, kemudian membawa Israel keluar. Pembebasan dari Mesir bukan hasil kekuatan Israel. Tuhan mengutus hamba-hamba-Nya, tetapi Tuhanlah yang bertindak. Tulah-tulah atas Mesir menunjukkan kuasa Tuhan atas dewa-dewa Mesir, atas Firaun, dan atas seluruh sistem penindasan.

Ayat ini mengajarkan bahwa Tuhan adalah Allah yang membebaskan. Ia tidak tinggal diam terhadap penindasan. Dalam konteks iman Kristen, pembebasan dari Mesir menjadi gambaran besar tentang pembebasan dari dosa. Sebagaimana Israel tidak dapat membebaskan diri sendiri, manusia berdosa juga tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Tuhan bertindak melalui karya Kristus untuk membebaskan manusia dari dosa dan maut. Karena itu, ibadah yang tulus lahir dari rasa syukur atas pembebasan Tuhan.

Pada ayat 6, Tuhan berkata bahwa Ia membawa nenek moyang Israel keluar dari Mesir, lalu mereka sampai ke laut. Orang Mesir mengejar mereka dengan kereta dan pasukan berkuda sampai ke Laut Teberau. Ayat ini menggambarkan keadaan terjepit. Umat sudah keluar dari Mesir, tetapi ancaman belum selesai. Di depan ada laut, di belakang ada pasukan Mesir. Ini adalah keadaan ketika manusia tidak melihat jalan keluar.

Dalam kehidupan iman, keluar dari perbudakan tidak berarti tidak ada lagi tantangan. Orang yang mulai mengikuti Tuhan masih dapat dikejar oleh masa lalu, ketakutan, godaan, dan tekanan. Namun ayat ini menjadi pengingat bahwa ketika umat berada di jalan buntu, Tuhan tetap berkuasa membuka jalan. Takut akan Tuhan berarti percaya kepada-Nya bukan hanya ketika jalan terbuka, tetapi juga ketika kita berdiri di depan “laut” yang tampak mustahil diseberangi.

Pada ayat 7, ketika umat berseru kepada Tuhan, Tuhan mengadakan gelap antara mereka dan orang Mesir, lalu mendatangkan air laut ke atas orang Mesir sehingga menutupi mereka. Tuhan mengingatkan bahwa mata umat sendiri telah melihat apa yang Ia lakukan terhadap Mesir. Lalu mereka tinggal lama di padang gurun. Ayat ini menekankan bahwa umat bukan hanya mendengar cerita, tetapi mengalami sendiri karya Tuhan.

Seruan umat didengar oleh Tuhan. Tuhan melindungi mereka dari Mesir dan menyelamatkan mereka melalui laut. Namun setelah keselamatan besar itu, mereka masih harus tinggal lama di padang gurun. Ini menunjukkan bahwa pembebasan Tuhan sering diikuti oleh proses pembentukan. Setelah diselamatkan, umat masih perlu dibentuk supaya belajar percaya, taat, dan bergantung kepada Tuhan.

Bagi kita, pengalaman ditolong Tuhan seharusnya menjadi dasar untuk tetap setia. Jangan cepat lupa pada karya Tuhan. Banyak orang mudah mengingat masalah, tetapi cepat lupa pertolongan Tuhan. Yosua mengajak umat mengingat kembali karya Tuhan supaya mereka takut dan setia kepada-Nya.

Pada ayat 8, Tuhan berkata bahwa Ia membawa umat ke negeri orang Amori yang tinggal di seberang Yordan. Orang Amori berperang melawan Israel, tetapi Tuhan menyerahkan mereka ke tangan Israel sehingga mereka menduduki negeri itu.

Tuhan membinasakan mereka dari hadapan Israel. Ayat ini menunjukkan bahwa masuk ke tanah perjanjian tidak terjadi tanpa pergumulan. Ada musuh, ada peperangan, ada tantangan. Tetapi Tuhan menyerahkan kemenangan kepada umat-Nya.

Ini mengingatkan bahwa hidup beriman bukan hidup tanpa perjuangan. Tuhan memberi janji, tetapi umat tetap harus berjalan, berperang, dan taat. Namun kemenangan bukan karena kekuatan mereka sendiri. Tuhanlah yang menyerahkan musuh ke tangan mereka.

Dalam kehidupan sekarang, kita juga menghadapi “perang” rohani: melawan dosa, godaan, ketidakjujuran, kesombongan, ketakutan, dan berbagai tekanan. Kita harus berjuang, tetapi kemenangan sejati berasal dari Tuhan.

Pada ayat 9, Balak bin Zipor, raja Moab, bangkit berperang melawan Israel dan menyuruh memanggil Bileam bin Beor untuk mengutuki Israel. Ayat ini mengingatkan bahwa umat Tuhan bukan hanya menghadapi ancaman fisik, tetapi juga ancaman kutuk dan manipulasi rohani. Balak ingin menghancurkan Israel melalui kutukan Bileam. Namun Tuhan tidak membiarkan rencana itu berhasil.

Dalam kehidupan kita, tidak semua ancaman terlihat seperti perang terbuka. Ada ancaman melalui perkataan yang melemahkan, fitnah, pengaruh buruk, ajaran salah, dan usaha menjauhkan kita dari Tuhan. Namun umat yang hidup dalam perlindungan Tuhan tidak perlu dikuasai ketakutan. Takut akan Tuhan lebih penting daripada takut kepada kutuk manusia. Jika hidup kita berada dalam Tuhan, maka kuasa manusia tidak memiliki kata terakhir.

Pada ayat 10, Tuhan berkata bahwa Ia tidak mau mendengarkan Bileam, sehingga Bileam justru memberkati Israel. Demikianlah Tuhan melepaskan mereka dari tangan Balak. Ini menunjukkan bahwa Tuhan sanggup mengubah rencana jahat menjadi berkat. Yang dimaksudkan sebagai kutuk, Tuhan ubah menjadi berkat. Yang dirancang untuk menjatuhkan, Tuhan patahkan.

Ayat ini memberi penghiburan. Kadang ada orang berniat jahat terhadap kita. Ada kata-kata yang ingin menjatuhkan. Ada rencana yang ingin melemahkan. Namun Tuhan berkuasa mengubah keadaan. Ini bukan berarti orang percaya tidak pernah mengalami luka akibat kejahatan orang lain, tetapi firman ini menegaskan bahwa Tuhan tetap berdaulat. Karena itu, jangan hidup dikuasai ketakutan terhadap manusia. Takutlah akan Tuhan dan setialah kepada-Nya.

Pada ayat 11, Tuhan mengingatkan bahwa umat menyeberangi Yordan dan sampai ke Yerikho. Orang-orang Yerikho berperang melawan mereka, juga orang Amori, Feris, Kanaan, Het, Girgasi, Hewi, dan Yebus, tetapi Tuhan menyerahkan mereka ke tangan Israel. Ayat ini menunjukkan banyaknya tantangan yang dihadapi umat. Namun berulang kali ditekankan bahwa Tuhanlah yang menyerahkan musuh ke tangan mereka.

Yerikho adalah kota yang kuat, tetapi runtuh bukan terutama karena kekuatan militer Israel. Yerikho runtuh karena ketaatan umat kepada perintah Tuhan dan kuasa Tuhan yang bekerja. Ini mengingatkan bahwa tembok-tembok besar dalam hidup dapat runtuh ketika umat taat kepada Tuhan. Namun ketaatan itu sering tampak tidak masuk akal menurut manusia. Mengelilingi kota dan meniup sangkakala tampak sederhana, tetapi dalam ketaatan kepada Tuhan, kuasa-Nya dinyatakan.

Pada ayat 12, Tuhan berkata bahwa Ia mengirim tabuhan mendahului Israel, sehingga menghalau dua raja orang Amori dari hadapan mereka, bukan dengan pedang dan panah Israel. Ayat ini sangat jelas menekankan bahwa kemenangan Israel bukan hasil senjata mereka. Tuhan memakai cara-Nya sendiri untuk mengalahkan musuh. “Bukan dengan pedang dan panahmu” berarti jangan menyombongkan diri atas kemenangan yang berasal dari Tuhan.

Bagi kita, ini menegur kesombongan. Ketika berhasil, kita mudah merasa karena kemampuan sendiri. Ketika pelayanan berjalan baik, kita mudah merasa karena strategi kita. Ketika keluarga diberkati, kita merasa karena usaha kita. Firman berkata: ingatlah bahwa kemenangan dan berkat berasal dari Tuhan. Takut akan Tuhan berarti mengembalikan kemuliaan kepada-Nya, bukan mencuri kemuliaan bagi diri sendiri.

Pada ayat 13, Tuhan berkata bahwa Ia memberikan kepada Israel negeri yang tidak mereka usahakan, kota-kota yang tidak mereka dirikan, dan kebun anggur serta kebun zaitun yang tidak mereka tanami, tetapi hasilnya mereka makan. Ayat ini menunjukkan anugerah Tuhan. Israel menikmati sesuatu yang bukan hasil kerja mereka semata. Mereka menerima pemberian Tuhan.

Ini bukan berarti umat tidak bekerja, tetapi menegaskan bahwa dasar hidup mereka adalah anugerah. Mereka hidup di tanah pemberian, tinggal di kota pemberian, dan makan dari hasil pemberian. Karena itu, mereka tidak boleh sombong dan tidak boleh lupa Tuhan. Anugerah seharusnya melahirkan kesetiaan.

Dalam kehidupan sekarang, banyak hal yang kita nikmati juga adalah pemberian Tuhan. Kita lahir bukan karena pilihan kita sendiri. Kita menerima kehidupan, keluarga, kesempatan, kesehatan, talenta, pekerjaan, dan keselamatan sebagai anugerah. Karena itu, ibadah tulus lahir dari kesadaran bahwa semua adalah pemberian Tuhan.

Pada ayat 14, Yosua berkata, “Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN.” Inilah pusat tema kita. Setelah mengingat semua karya Tuhan, Yosua memberi panggilan: takutlah akan Tuhan dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia.

Kata “oleh sebab itu” sangat penting. Artinya, panggilan untuk takut dan beribadah kepada Tuhan adalah respons terhadap karya Tuhan yang sudah lebih dahulu menyelamatkan dan memberkati. Ibadah bukan sekadar kewajiban kosong, tetapi jawaban syukur atas anugerah. Karena Tuhan telah memanggil, menuntun, membebaskan, melindungi, dan memberi tanah, maka umat harus beribadah kepada-Nya.

Yosua juga berkata supaya mereka menjauhkan allah-allah lain. Ini berarti ibadah kepada Tuhan menuntut pemutusan dengan ilah lama. Tidak mungkin beribadah kepada Tuhan dengan tulus sambil tetap menyimpan ilah lain. Dalam kehidupan sekarang, ilah lain bisa berupa uang, kuasa, gengsi, tradisi yang bertentangan dengan firman, dendam, dosa kesayangan, atau kenyamanan pribadi. Takut akan Tuhan berarti menolak semua hal yang mengambil tempat Tuhan dalam hati.

Pada ayat 15, Yosua berkata, jika mereka menganggap tidak baik beribadah kepada Tuhan, pilihlah pada hari itu kepada siapa mereka akan beribadah, apakah kepada allah nenek moyang di seberang sungai Efrat atau allah orang Amori di negeri tempat mereka tinggal. Tetapi Yosua berkata, “Aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN.” Ayat ini adalah salah satu pengakuan iman yang paling terkenal dalam Alkitab.

Yosua tidak memaksa umat dengan kata-kata kosong. Ia menyatakan keputusan dirinya dan keluarganya. Ia menunjukkan bahwa iman harus menjadi keputusan yang jelas. Tidak bisa terus menerus bercabang. Tidak bisa setengah-setengah. Tidak bisa hari ini menyembah Tuhan, besok kembali kepada ilah lama. Yosua sebagai pemimpin memberi teladan: dirinya dan seisi rumahnya memilih beribadah kepada Tuhan.

Ayat ini sangat relevan bagi keluarga Kristen. Iman tidak boleh hanya menjadi urusan pribadi yang terpisah dari rumah. Orang tua dipanggil membawa rumahnya kepada Tuhan. Setiap keluarga perlu bertanya: siapa yang sungguh menjadi pusat rumah ini? Apakah Tuhan, atau uang? Apakah Tuhan, atau ego? Apakah Tuhan, atau kebiasaan lama? Pernyataan Yosua menjadi ajakan bagi setiap keluarga: “Aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan.”

Pada ayat 16, bangsa itu menjawab bahwa jauhlah dari mereka untuk meninggalkan Tuhan dan beribadah kepada allah lain. Jawaban ini terdengar baik. Umat menyatakan komitmen untuk tidak meninggalkan Tuhan. Mereka sadar bahwa meninggalkan Tuhan adalah sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan. Namun seperti yang akan terlihat dalam ayat-ayat berikutnya, Yosua tidak langsung puas dengan pengakuan lisan mereka. Ia tahu bahwa kata-kata harus diuji oleh kesetiaan nyata.

Dalam kehidupan gereja, kita juga mudah mengucapkan komitmen. Kita menyanyi, “Aku mau ikut Yesus.” Kita berkata, “Saya percaya.” Kita mengaku, “Tuhan adalah Allahku.” Semua itu baik, tetapi Tuhan tidak hanya mencari kata-kata. Tuhan mencari hati yang sungguh dan hidup yang taat. Pengakuan iman harus dibuktikan dalam keputusan sehari-hari.

Pada ayat 17, umat berkata bahwa Tuhan Allah mereka telah menuntun mereka dan nenek moyang mereka dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan, serta melakukan tanda-tanda mujizat besar di depan mata mereka dan melindungi mereka sepanjang jalan. Di sini umat mengingat karya Tuhan. Mereka sadar bahwa Tuhan telah membebaskan, menuntun, dan melindungi. Ini adalah dasar pengakuan mereka.

Mengingat karya Tuhan sangat penting untuk menjaga kesetiaan. Orang yang lupa pertolongan Tuhan mudah kembali kepada ilah lain. Orang yang lupa anugerah mudah hidup sembarangan. Karena itu, umat perlu terus mengingat bagaimana Tuhan telah bekerja dalam hidup mereka. Demikian juga kita perlu mengingat pertolongan Tuhan dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan perjalanan iman. Ingatan akan kasih Tuhan menolong kita tetap setia.

Pada ayat 18, umat melanjutkan bahwa Tuhan telah menghalau semua bangsa dan orang Amori dari hadapan mereka, dan karena itu mereka juga akan beribadah kepada Tuhan, sebab Dialah Allah mereka. Jawaban umat menunjukkan bahwa mereka mengakui Tuhan sebagai Allah yang telah bertindak bagi mereka. Mereka memilih beribadah kepada Tuhan karena telah mengalami karya-Nya.

Namun sekali lagi, pengakuan pengalaman harus menjadi komitmen yang nyata. Banyak orang pernah mengalami pertolongan Tuhan, tetapi kemudian melupakan-Nya. Banyak orang bersaksi saat ditolong, tetapi setelah keadaan baik kembali hidup jauh dari Tuhan. Karena itu, pengalaman rohani harus dijaga dengan kesetiaan. Jika Tuhan adalah Allah kita, maka hidup kita harus mencerminkan bahwa kita milik-Nya.

Pada ayat 19, Yosua berkata kepada bangsa itu, “Tidaklah kamu sanggup beribadah kepada TUHAN, sebab Dialah Allah yang kudus, Dialah Allah yang cemburu. Ia tidak akan mengampuni kesalahan dan dosamu.” Perkataan Yosua terdengar keras.

Ia seolah-olah menantang kesungguhan umat. Maksudnya bukan untuk menghalangi mereka beribadah kepada Tuhan, tetapi untuk membuat mereka sadar bahwa beribadah kepada Tuhan bukan perkara ringan. Tuhan adalah Allah yang kudus dan cemburu, artinya Ia menuntut kesetiaan yang utuh.

Allah yang kudus tidak bisa diperlakukan sembarangan. Allah yang cemburu tidak mau hati umat dibagi dengan ilah lain. Ibadah kepada Tuhan bukan hanya upacara, tetapi penyerahan hidup. Yosua ingin umat memahami bahwa komitmen mereka memiliki konsekuensi. Mereka tidak boleh berkata setia kepada Tuhan tetapi tetap menyimpan ilah lain.

Dalam kehidupan sekarang, ayat ini menegur ibadah yang dangkal. Kita tidak boleh datang kepada Tuhan dengan sikap main-main. Tuhan bukan pelengkap hidup. Tuhan adalah Allah yang kudus. Jika kita berkata mau beribadah kepada-Nya, maka kita harus bersedia meninggalkan dosa, berhala hati, dan kesetiaan yang bercabang.

Pada ayat 20, Yosua memperingatkan bahwa jika mereka meninggalkan Tuhan dan beribadah kepada allah asing, Tuhan akan berbalik melakukan yang tidak baik kepada mereka dan membinasakan mereka, setelah sebelumnya Ia berbuat baik kepada mereka. Ini adalah peringatan serius. Anugerah Tuhan tidak boleh dijadikan alasan untuk hidup tidak setia. Umat yang telah menerima kebaikan Tuhan tetap harus hidup dalam ketaatan.

Ayat ini menunjukkan bahwa hubungan perjanjian memiliki tanggung jawab. Tuhan setia, tetapi umat tidak boleh mempermainkan kesetiaan Tuhan. Jika umat memilih ilah lain, mereka menolak sumber hidup mereka sendiri. Ini bukan karena Tuhan berubah menjadi jahat, tetapi karena meninggalkan Tuhan berarti memilih jalan kebinasaan.

Bagi kita, peringatan ini penting. Jangan bermain-main dengan dosa hanya karena merasa Tuhan baik. Jangan berkata, “Tuhan pasti mengampuni,” lalu sengaja hidup tidak setia. Kasih Tuhan harus membawa kita kepada pertobatan dan kesetiaan, bukan kepada kecerobohan rohani.

Pada ayat 21, bangsa itu berkata kepada Yosua, “Tidak, hanya kepada TUHAN saja kami akan beribadah.” Umat menegaskan kembali pilihan mereka. Mereka tidak mau beribadah kepada allah lain. Mereka berkata hanya kepada Tuhan saja mereka akan beribadah. Ini adalah pengakuan yang benar. Namun sekali lagi, pengakuan itu harus diwujudkan dalam tindakan.

Kata “hanya” sangat penting. Ibadah kepada Tuhan menuntut eksklusivitas. Tuhan tidak mau menjadi salah satu dari banyak pilihan. Tuhan harus menjadi satu-satunya pusat hidup. Dalam kehidupan sekarang, banyak orang ingin Tuhan memberkati, tetapi juga ingin tetap memegang ilah lain. Firman ini mengingatkan bahwa ibadah yang benar berkata, “Hanya kepada Tuhan.”

Pada ayat 22, Yosua berkata kepada bangsa itu bahwa mereka menjadi saksi terhadap diri mereka sendiri bahwa mereka telah memilih Tuhan untuk beribadah kepada-Nya. Mereka menjawab, “Kamilah saksi!” Yosua menjadikan pengakuan mereka sebagai kesaksian. Artinya, mereka tidak bisa nanti berkata bahwa mereka tidak tahu atau tidak pernah memilih. Mereka sendiri telah menyatakan keputusan.

Dalam kehidupan iman, keputusan kepada Tuhan harus disadari. Kita tidak bisa selalu menyalahkan keadaan, keluarga, atau lingkungan. Ketika kita berkata percaya kepada Tuhan, kita menjadi saksi atas keputusan itu. Iman bukan hanya warisan tradisi, tetapi komitmen pribadi dan komunal. Kita perlu bertanya: apakah hidup kita menjadi saksi bahwa kita memilih Tuhan?

Pada ayat 23, Yosua berkata, “Maka sekarang, jauhkanlah allah asing yang ada di tengah-tengah kamu dan condongkanlah hatimu kepada TUHAN, Allah Israel.” Ini adalah panggilan konkret. Setelah berkata memilih Tuhan, mereka harus menjauhkan allah asing. Tidak cukup berkata setia; harus ada tindakan meninggalkan berhala. Tidak cukup mengaku percaya; hati harus dicondongkan kepada Tuhan.

Ayat ini sangat penting. Berhala bukan hanya sesuatu di luar, tetapi juga sesuatu yang “di tengah-tengah” umat dan di dalam hati. Yosua menuntut pembersihan yang nyata. Condongkan hati kepada Tuhan berarti arahkan kasih, kepercayaan, hormat, dan ketaatan kepada Tuhan. Ibadah sejati dimulai dari hati yang condong kepada Tuhan.

Bagi kita, pertanyaannya: allah asing apa yang masih ada di tengah hidup kita? Apakah uang? Apakah ambisi? Apakah gengsi? Apakah kebiasaan lama? Apakah kebencian? Apakah kuasa? Apakah kenikmatan? Apakah rasa aman palsu? Jika kita sungguh memilih Tuhan, maka berhala itu harus dijauhkan.

Pada ayat 24, bangsa itu berkata kepada Yosua, “Kepada TUHAN, Allah kita, kami akan beribadah dan firman-Nya akan kami dengarkan.” Ini adalah pengakuan yang lengkap: beribadah dan mendengar firman. Ibadah kepada Tuhan tidak boleh dipisahkan dari ketaatan kepada firman-Nya. Mendengar firman bukan hanya mendengar dengan telinga, tetapi menaati dengan hidup.

Banyak orang mau beribadah, tetapi tidak mau mendengar firman. Mereka suka suasana ibadah, tetapi menolak teguran firman. Mereka mau berkat Tuhan, tetapi tidak mau perintah Tuhan. Umat Israel berkata bahwa mereka akan beribadah dan mendengarkan firman-Nya. Ini harus menjadi komitmen setiap orang percaya: ibadah yang benar harus disertai ketaatan.

Pada ayat 25, Yosua mengikat perjanjian dengan bangsa itu pada hari itu dan membuat ketetapan serta peraturan bagi mereka di Sikhem. Keputusan iman umat dinyatakan dalam perjanjian. Ini berarti komitmen mereka bukan hanya emosi sesaat, tetapi ditata dalam kehidupan bersama. Ada ketetapan dan peraturan. Kesetiaan membutuhkan bentuk nyata dalam kehidupan.

Dalam gereja dan keluarga, komitmen kepada Tuhan juga perlu diwujudkan dalam kebiasaan dan aturan yang benar. Jika keluarga berkata mau beribadah kepada Tuhan, maka perlu ada doa, firman, ibadah, kejujuran, kasih, dan disiplin rohani. Jika jemaat berkata setia kepada Tuhan, maka perlu ada kehidupan yang diatur oleh firman. Komitmen tanpa bentuk nyata mudah hilang.

Pada ayat 26, Yosua menuliskan semuanya dalam kitab hukum Allah. Ia mengambil batu besar dan mendirikannya di bawah pohon besar di tempat kudus Tuhan. Tulisan dan batu menjadi tanda peringatan. Umat perlu memiliki pengingat supaya tidak lupa. Batu itu bukan disembah, tetapi menjadi saksi bahwa perjanjian telah dibuat.

Manusia mudah lupa. Karena itu, iman membutuhkan pengingat. Kita membutuhkan firman yang ditulis, ibadah yang terus diulang, sakramen, kesaksian, dan kebiasaan rohani yang mengingatkan kita kepada Tuhan. Dalam keluarga, orang tua perlu menceritakan karya Tuhan kepada anak-anak. Dalam gereja, umat perlu terus diingatkan akan perjanjian Tuhan. Pengingat menolong kesetiaan.

Pada ayat 27, Yosua berkata kepada seluruh bangsa bahwa batu itu akan menjadi saksi terhadap mereka, sebab batu itu telah mendengar segala firman Tuhan yang diucapkan kepada mereka. Batu itu menjadi saksi supaya mereka tidak menyangkal Allah mereka. Bahasa ini bersifat simbolis. Batu itu menjadi tanda yang mengingatkan bahwa umat telah mendengar firman dan membuat komitmen.

Ayat ini mengingatkan bahwa setiap kali kita mendengar firman, kita bertanggung jawab. Firman yang didengar menjadi saksi. Kita tidak bisa berkata tidak tahu. Semakin banyak kita mendengar firman, semakin besar tanggung jawab kita untuk hidup setia. Karena itu, jangan anggap ringan firman Tuhan. Firman bukan hanya untuk didengar, tetapi untuk ditaati.

Pada ayat 28, Yosua melepas bangsa itu pergi, masing-masing ke milik pusakanya. Setelah perjanjian diperbarui, umat kembali ke tempat hidup mereka masing-masing. Ini penting. Komitmen di hadapan Tuhan harus dibawa pulang ke kehidupan nyata. Mereka tidak tinggal terus di Sikhem. Mereka kembali ke tanah warisan, ke rumah, ke pekerjaan, ke keluarga, dan ke kehidupan sehari-hari.

Demikian juga dengan kita. Ibadah hari Minggu harus dibawa ke hari Senin sampai Sabtu. Komitmen dalam gereja harus dibawa ke rumah. Pengakuan iman harus terlihat di tempat kerja. Kesetiaan kepada Tuhan harus nyata dalam keputusan harian. Setelah mendengar firman, kita kembali ke “milik pusaka” masing-masing untuk hidup sebagai orang yang takut akan Tuhan dan beribadah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia.

Penutup

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, setelah merenungkan Yosua 24:1–28, kita melihat bahwa tema “Takutlah Akan Tuhan Dan Beribadahlah Kepada-Nya Dengan Tulus Ikhlas Dan Setia” bukan sekadar ajakan untuk rajin beribadah. Tema ini adalah panggilan untuk mengambil keputusan iman yang sungguh-sungguh.

Yosua mengumpulkan umat di Sikhem dan mengajak mereka mengingat karya Tuhan dari Abraham sampai tanah Kanaan. Tuhanlah yang memanggil, menuntun, membebaskan, melindungi, mengalahkan musuh, dan memberikan tanah yang tidak mereka usahakan sendiri. Karena Tuhan sudah lebih dahulu berkarya, maka umat dipanggil merespons dengan takut, ibadah, ketulusan, dan kesetiaan.

Firman ini mengajarkan bahwa ibadah sejati selalu dimulai dari ingatan akan anugerah Tuhan. Jika kita lupa apa yang Tuhan lakukan, kita mudah meninggalkan Dia. Jika kita lupa bahwa hidup adalah pemberian, kita mudah sombong. Jika kita lupa bahwa keselamatan adalah anugerah, kita mudah mempermainkan dosa.

Karena itu, Yosua mengajak umat mengingat kembali seluruh perjalanan mereka. Demikian juga kita perlu mengingat bagaimana Tuhan telah menolong keluarga, memelihara hidup, mengampuni dosa, membuka jalan, dan menyertai dalam masa sulit.

Ada beberapa poin penting yang perlu kita pegang.

Pertama, takut akan Tuhan berarti menghormati Tuhan sebagai Allah yang kudus dan berdaulat. Takut akan Tuhan bukan hanya rasa hormat dalam ibadah, tetapi sikap hidup yang menempatkan Tuhan di atas segala sesuatu. Orang yang takut akan Tuhan akan lebih takut melukai hati Tuhan daripada kehilangan pujian manusia.

Kedua, ibadah kepada Tuhan harus tulus ikhlas. Tuhan tidak mencari ibadah yang hanya tampak baik di luar, tetapi hati yang sungguh mengasihi Dia. Ibadah tulus berarti tidak berpura-pura, tidak melayani hanya demi pujian, dan tidak memakai agama sebagai topeng.

Ketiga, ibadah kepada Tuhan harus setia. Kesetiaan berarti tetap berpegang kepada Tuhan dalam segala keadaan. Bukan hanya ketika diberkati, tetapi juga ketika diuji. Bukan hanya ketika mudah, tetapi juga ketika berat. Bukan hanya dalam ibadah umum, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Keempat, ibadah sejati menuntut kita meninggalkan ilah-ilah lain. Yosua berkata supaya umat menjauhkan allah asing. Kita juga harus menjauhkan segala sesuatu yang mengambil tempat Tuhan dalam hati: uang, kuasa, gengsi, dosa kesayangan, kepahitan, kenyamanan, atau diri sendiri.

Kelima, iman harus menjadi keputusan yang jelas. Yosua berkata, “Pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah.” Tidak memilih dengan tegas sering kali berarti membiarkan diri terseret oleh arus dunia. Iman Kristen menuntut keputusan yang nyata.

Keenam, keluarga harus dibawa kepada Tuhan. Yosua berkata, “Aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN.” Setiap keluarga Kristen dipanggil menjadikan Tuhan sebagai pusat rumah. Bukan uang, bukan ego, bukan kebiasaan lama, tetapi Tuhan.

Ketujuh, pengakuan iman harus diwujudkan dalam ketaatan. Umat berkata akan beribadah kepada Tuhan dan mendengarkan firman-Nya. Ibadah yang benar tidak dapat dipisahkan dari ketaatan kepada firman.

Kedelapan, komitmen kepada Tuhan harus dibawa ke kehidupan sehari-hari. Setelah perjanjian diperbarui, umat kembali ke milik pusakanya masing-masing. Artinya, keputusan iman harus dibawa pulang ke rumah, pekerjaan, keluarga, pelayanan, dan masyarakat.

Implikasi firman ini sangat nyata. Dalam keluarga, jadikan Tuhan pusat hidup. Bangun doa bersama. Ajarkan anak-anak mengenal Tuhan. Jangan hanya mewariskan harta, tetapi wariskan iman. Dalam pekerjaan, takutlah akan Tuhan dengan hidup jujur, tidak menipu, tidak menyalahgunakan kuasa, dan tidak mengorbankan kebenaran demi keuntungan.

Dalam pelayanan, beribadahlah dengan tulus, bukan karena ingin dilihat atau dipuji. Dalam jemaat, peliharalah kesetiaan dan kesatuan. Jangan biarkan ilah ego dan kepentingan diri merusak pekerjaan Tuhan.

Saudara-saudara, mari kita memeriksa hati. Apakah Tuhan sungguh menjadi pusat hidup kita? Apakah ada ilah lain yang masih kita simpan? Apakah ibadah kita tulus atau hanya kebiasaan? Apakah kesetiaan kita utuh atau bercabang? Apakah keluarga kita sungguh memilih Tuhan? Apakah kehidupan sehari-hari kita membuktikan bahwa kita beribadah kepada Tuhan?

Firman Tuhan hari ini memanggil kita membuat keputusan yang jelas. Jangan hidup bercabang. Jangan berkata mengasihi Tuhan tetapi terus memelihara berhala. Jangan rajin beribadah tetapi hati jauh dari Tuhan. Jangan mengaku percaya tetapi hidup tidak taat. Pilihlah pada hari ini kepada siapa kita akan beribadah.

Marilah kita belajar dari Yosua yang dengan tegas berkata, “Aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN.” Marilah juga belajar dari Elia yang menantang umat di Gunung Karmel untuk berhenti bercabang hati. Jika Tuhan adalah Allah, ikutilah Dia. Jika Tuhan sudah menyelamatkan, setialah kepada-Nya. Jika Tuhan sudah memberkati, muliakanlah Dia. Jika Tuhan sudah memanggil, jangan kembali kepada ilah lama.

Akhirnya, kiranya tema ini menjadi komitmen hidup kita: “Takutlah Akan Tuhan Dan Beribadahlah Kepada-Nya Dengan Tulus Ikhlas Dan Setia.” Kiranya Tuhan membersihkan hati kita dari berhala. Kiranya Tuhan membentuk keluarga kita menjadi rumah yang menyembah Dia.

 Kiranya pelayanan kita lahir dari ketulusan. Kiranya hidup kita menjadi kesaksian kesetiaan. Dan kiranya setiap hari, dalam perkataan, pekerjaan, keputusan, dan relasi, kita membuktikan bahwa hanya Tuhanlah Allah kita dan hanya kepada-Nya kita beribadah.

Amin.

Editor : Clavel Lukas
mtpj gmim khotbah GMIM Renungan GMIM Renungan