Materi Khotbah Yosua 24:1–28, Takutlah Akan Tuhan Dan Beribadahlah Kepada-Nya Dengan Tulus Ikhlas Dan Setia

Clavel Lukas • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 22:32 WIB
Ilustrasi Alkitab.
Ilustrasi Alkitab.

Bacaan: Yosua 24:1–28

Tema: “Takutlah Akan Tuhan Dan Beribadahlah Kepada-Nya Dengan Tulus Ikhlas Dan Setia”

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, kehidupan manusia selalu diperhadapkan pada pilihan. Setiap hari kita membuat pilihan, baik pilihan yang kelihatannya sederhana maupun pilihan yang sangat menentukan arah hidup. Kita memilih bagaimana memakai waktu, bagaimana berbicara kepada keluarga, bagaimana bersikap dalam pekerjaan, bagaimana merespons masalah, bagaimana menggunakan uang, bagaimana membangun relasi, dan bagaimana menjalani tanggung jawab. Tetapi di atas semua pilihan itu, ada satu pilihan yang paling mendasar, yaitu kepada siapa hidup kita diserahkan dan kepada siapa hati kita sungguh-sungguh beribadah.

Banyak orang berkata percaya kepada Tuhan, tetapi dalam kenyataan hidup sehari-hari hatinya sering bercabang. Di dalam ibadah kita menyebut nama Tuhan, tetapi dalam keputusan hidup kita kadang lebih dipengaruhi oleh rasa takut kepada manusia, tekanan ekonomi, gengsi, kebiasaan lama, atau keinginan diri sendiri.

Baca Juga: Renungan Yosua 24:1–28, Takutlah Akan Tuhan Dan Beribadahlah KepadaNya Dengan Tulus Ikhlas Dan Setia

Di gereja kita bernyanyi dan berdoa, tetapi di rumah, tempat kerja, atau lingkungan sosial, kita bisa saja hidup dengan cara yang tidak mencerminkan takut akan Tuhan. Kita mengaku Tuhan sebagai pusat hidup, tetapi hati kita masih bisa terikat pada “ilah-ilah” lain seperti uang, jabatan, kenyamanan, popularitas, kekuasaan, dendam, kesombongan, kebiasaan dosa, atau tradisi yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.

Firman Tuhan dalam Yosua 24:1–28 membawa kita kepada satu momen yang sangat penting dalam sejarah Israel. Yosua, hamba Tuhan yang telah memimpin Israel masuk ke tanah Kanaan, mengumpulkan seluruh suku Israel di Sikhem. Ia sudah tua dan menyadari bahwa masa kepemimpinannya hampir selesai.

 Karena itu, ia tidak hanya memberi pesan terakhir secara biasa, tetapi membawa umat kepada pembaruan perjanjian dengan Tuhan. Yosua mengajak umat melihat kembali perjalanan panjang mereka: bagaimana Tuhan memanggil Abraham, memelihara keturunannya, membebaskan Israel dari Mesir, menuntun mereka melewati padang gurun, mengalahkan musuh-musuh mereka, dan memberikan tanah yang tidak mereka usahakan sendiri.

Setelah mengingat semua karya Tuhan itu, Yosua menantang umat untuk mengambil keputusan iman yang tegas. Ia berkata, “Takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia.” Ini bukan sekadar ajakan untuk rajin datang beribadah. Ini adalah panggilan untuk memberikan seluruh hidup kepada Tuhan tanpa hati yang bercabang.

Takut akan Tuhan berarti menghormati Tuhan sebagai Allah yang kudus, setia, berkuasa, dan layak ditaati. Beribadah dengan tulus ikhlas berarti melayani Tuhan bukan karena pura-pura, bukan karena kebiasaan kosong, bukan karena ingin dilihat orang, tetapi karena hati sungguh mengasihi Tuhan. Beribadah dengan setia berarti tidak hanya dekat kepada Tuhan ketika keadaan mudah, tetapi tetap berpegang kepada-Nya dalam segala keadaan.

Renungan ini mengajak kita memeriksa hidup kita. Apakah ibadah kita sungguh lahir dari hati yang tulus? Apakah kesetiaan kita kepada Tuhan utuh, atau masih bercabang? Apakah keluarga kita sungguh memilih Tuhan sebagai pusat hidup? Apakah pelayanan kita dilakukan untuk kemuliaan Tuhan atau untuk kepentingan diri sendiri?

Apakah kita masih menyimpan “allah asing” dalam hati, yaitu hal-hal yang kita cintai, takuti, dan taati lebih daripada Tuhan? Melalui bacaan ini, Tuhan memanggil kita untuk mengambil keputusan iman yang jelas: meninggalkan segala berhala hati, takut akan Tuhan, dan beribadah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,

Kitab Yosua melanjutkan kisah perjalanan umat Israel setelah kematian Musa. Musa telah dipakai Tuhan untuk membawa bangsa Israel keluar dari Mesir dan menuntun mereka selama empat puluh tahun di padang gurun. Namun Musa tidak membawa mereka masuk ke tanah Kanaan. Tuhan memilih Yosua untuk melanjutkan kepemimpinan itu dan membawa generasi baru Israel masuk ke tanah perjanjian.

Kitab Yosua memperlihatkan penggenapan janji Tuhan kepada Abraham, Ishak, dan Yakub. Tuhan pernah berjanji bahwa keturunan Abraham akan menerima tanah Kanaan. Setelah perjalanan panjang, perbudakan di Mesir, pembebasan melalui Musa, dan pembentukan di padang gurun, Israel akhirnya memasuki tanah itu di bawah kepemimpinan Yosua. Ini menunjukkan bahwa Tuhan setia kepada janji-Nya. Janji Tuhan mungkin berjalan melalui proses panjang, tetapi Tuhan tidak lupa dan tidak gagal menggenapinya.

Yosua bukan hanya seorang pemimpin perang. Ia adalah hamba Tuhan yang dipanggil untuk memimpin umat dalam ketaatan kepada firman. Pada awal Kitab Yosua, Tuhan berkata kepadanya supaya kuat dan teguh hati, tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari hukum Tuhan, serta merenungkan firman siang dan malam.

Ini berarti keberhasilan Yosua dan Israel tidak terutama terletak pada strategi militer, jumlah pasukan, atau kekuatan senjata, tetapi pada ketaatan kepada Tuhan. Kemenangan Israel adalah karya Tuhan, dan umat dipanggil merespons dengan iman serta kesetiaan.

Yosua 24 berada pada bagian akhir kitab. Setelah tanah dibagi kepada suku-suku Israel, Yosua mengumpulkan umat di Sikhem. Sikhem adalah tempat yang sangat penting dalam sejarah perjanjian. Di Sikhem, Tuhan pernah menampakkan diri kepada Abram dan berjanji memberikan tanah itu kepada keturunannya.

 Abram mendirikan mezbah di sana bagi Tuhan. Dengan membawa umat ke Sikhem, Yosua seolah membawa mereka kembali kepada ingatan awal tentang panggilan dan janji Tuhan. Mereka diajak melihat bahwa kehidupan mereka sekarang bukan berdiri di atas kekuatan mereka sendiri, tetapi di atas kesetiaan Allah yang telah bekerja sejak zaman Abraham.

Dalam pasal ini, Yosua tidak langsung memerintahkan umat untuk beribadah kepada Tuhan. Ia terlebih dahulu mengingatkan mereka tentang seluruh karya Tuhan. Tuhan memanggil Abraham dari seberang sungai Efrat, memberi Ishak, Yakub, dan Esau, membawa Israel keluar dari Mesir, menyelamatkan mereka di Laut Teberau, menuntun mereka di padang gurun, melindungi mereka dari Balak dan Bileam, membawa mereka menyeberangi Yordan, menyerahkan musuh-musuh ke tangan mereka, dan memberikan tanah yang tidak mereka usahakan sendiri. Setelah mengingat semua anugerah itu, barulah Yosua berkata, “Oleh sebab itu, takutlah akan Tuhan dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia.”

Urutan ini sangat penting secara teologis. Ketaatan kepada Tuhan bukan usaha manusia supaya Tuhan baru mau mengasihi. Ketaatan adalah respons terhadap Allah yang lebih dahulu mengasihi, menyelamatkan, memelihara, dan memberkati. Ibadah yang benar lahir dari ingatan akan anugerah. Orang yang lupa anugerah mudah menjadi sombong, lalai, dan tidak setia. Tetapi orang yang sungguh mengingat karya Tuhan akan terdorong untuk takut kepada-Nya dan beribadah dengan hati yang tulus.

Tema “Takutlah Akan Tuhan Dan Beribadahlah Kepada-Nya Dengan Tulus Ikhlas Dan Setia” memiliki makna yang dalam. Takut akan Tuhan berarti hidup dengan hormat kepada Tuhan, tidak mempermainkan kekudusan-Nya, dan menempatkan Dia sebagai otoritas tertinggi dalam hidup.

Beribadah dengan tulus ikhlas berarti hati tidak berpura-pura dan tidak bercabang. Beribadah dengan setia berarti komitmen kepada Tuhan tidak berubah karena keadaan, tekanan, atau godaan. Tema ini juga menuntut kita menjauhkan allah-allah asing, yaitu segala sesuatu yang mengambil tempat Tuhan dalam hati.

Dalam kehidupan sekarang, berhala tidak selalu berbentuk patung atau benda penyembahan kuno. Berhala bisa berupa uang jika uang menjadi pusat hidup. Berhala bisa berupa jabatan jika kita rela mengorbankan kebenaran demi posisi. Berhala bisa berupa keluarga jika kita lebih takut mengecewakan keluarga daripada mengecewakan Tuhan.

Berhala bisa berupa diri sendiri jika kita selalu menempatkan kehendak pribadi di atas kehendak Allah. Berhala bisa berupa kebiasaan dosa yang kita tahu salah, tetapi tidak mau kita lepaskan. Karena itu, panggilan Yosua tetap relevan: pilihlah kepada siapa kita akan beribadah, dan beribadahlah kepada Tuhan dengan tulus ikhlas dan setia.

Pembahasan Ayat Demi Ayat

Pada ayat 1, Yosua mengumpulkan semua suku Israel di Sikhem. Ia memanggil para tua-tua, para kepala, para hakim, dan para pengatur pasukan, lalu mereka berdiri di hadapan Allah. Ini bukan sekadar pertemuan nasional atau rapat kepemimpinan.

Mereka berdiri di hadapan Allah. Artinya, keputusan yang akan mereka ambil adalah keputusan rohani yang serius. Mereka tidak hanya mendengar pidato Yosua, tetapi berdiri di hadapan Tuhan yang telah memanggil dan memelihara mereka.

Ayat ini mengingatkan bahwa setiap keputusan besar dalam hidup harus ditempatkan di hadapan Tuhan. Keluarga, gereja, pelayanan, pekerjaan, dan masa depan tidak boleh hanya ditentukan oleh emosi, kepentingan, kebiasaan, atau suara manusia. Kita perlu belajar membawa segala sesuatu ke hadapan Tuhan.

Banyak keputusan menjadi rusak karena manusia tidak bertanya apa kehendak Tuhan. Kita sering berdiskusi panjang, berdebat, membuat rencana, tetapi lupa berdiri di hadapan Allah. Yosua mengajar umat bahwa pembaruan hidup harus dimulai dengan kesadaran bahwa Tuhan hadir dan Tuhan menjadi saksi.

Pada ayat 2, Yosua berkata kepada seluruh bangsa bahwa beginilah firman Tuhan, Allah Israel: dahulu kala nenek moyang mereka, yaitu Terah, ayah Abraham dan Nahor, tinggal di seberang sungai Efrat dan beribadah kepada allah lain. Yosua memulai sejarah umat bukan dari kehebatan Abraham, tetapi dari anugerah Tuhan.

 Abraham berasal dari latar belakang keluarga yang hidup dalam penyembahan kepada allah lain. Ini menunjukkan bahwa asal-usul umat Israel bukanlah kesucian atau keunggulan mereka, tetapi panggilan Allah yang penuh anugerah.

Hal ini menegur kesombongan rohani. Israel tidak boleh merasa lebih baik daripada bangsa lain karena sejak awal mereka pun berasal dari latar belakang penyembahan berhala. Tuhanlah yang mengambil Abraham dan memulai karya perjanjian. Demikian juga kita tidak boleh sombong dalam iman. Kita menjadi orang percaya bukan karena kita lebih hebat atau lebih layak, tetapi karena anugerah Tuhan yang memanggil kita keluar dari kegelapan kepada terang-Nya. Kesadaran ini harus membuat ibadah kita rendah hati, bukan penuh kesombongan.

Pada ayat 3, Tuhan berkata bahwa Ia mengambil Abraham dari seberang sungai Efrat dan menyuruhnya menjelajahi seluruh tanah Kanaan, memperbanyak keturunannya, dan memberikan Ishak kepadanya. Kata “Aku mengambil Abraham” menunjukkan inisiatif Allah. Abraham tidak lebih dahulu mencari Tuhan dengan sempurna; Tuhanlah yang memanggil Abraham. Tuhan mengambil dia dari latar belakang lama dan menuntunnya masuk ke dalam rencana perjanjian.

Ayat ini mengajarkan bahwa iman selalu dimulai dari tindakan Allah. Tuhan memanggil, Tuhan menuntun, Tuhan memberi janji, Tuhan memberi keturunan. Abraham memang merespons dengan iman, tetapi iman itu adalah jawaban terhadap panggilan Tuhan. Dalam hidup kita juga demikian. Tuhan memanggil kita keluar dari cara hidup lama, dari kebiasaan dosa, dari penyembahan kepada hal-hal duniawi, dan dari hidup yang berpusat pada diri sendiri. Takut akan Tuhan berarti mau dituntun keluar dari “seberang sungai” kehidupan lama menuju jalan yang Tuhan kehendaki.

Pada ayat 4, Tuhan berkata bahwa kepada Ishak diberikan Yakub dan Esau. Kepada Esau diberikan pegunungan Seir, sedangkan Yakub dan anak-anaknya pergi ke Mesir. Ayat ini menunjukkan bahwa sejarah umat Tuhan tidak selalu berjalan lurus menuju kenyamanan. Yakub dan keturunannya justru pergi ke Mesir. Mesir pada awalnya menjadi tempat pemeliharaan pada masa kelaparan, tetapi kemudian berubah menjadi tempat perbudakan. Namun Tuhan tetap bekerja dalam sejarah itu.

Ini mengajarkan bahwa perjalanan iman tidak selalu mudah dipahami. Ada bagian hidup yang tampak seperti jalan memutar. Ada masa ketika tempat yang dahulu menjadi berkat kemudian menjadi tempat pergumulan. Ada proses yang panjang sebelum janji Tuhan digenapi. Tetapi Tuhan tidak kehilangan kendali. Dalam hidup kita, ada masa ketika jalan Tuhan terasa tidak seperti yang kita harapkan. Namun takut akan Tuhan berarti tetap percaya bahwa Tuhan bekerja melampaui apa yang tampak di depan mata.

Pada ayat 5, Tuhan mengingatkan bahwa Ia mengutus Musa dan Harun, lalu menulahi Mesir dengan apa yang Ia lakukan di tengah-tengah mereka, kemudian membawa Israel keluar. Di sini Yosua menegaskan bahwa pembebasan dari Mesir adalah karya Tuhan. Musa dan Harun memang diutus, tetapi Tuhanlah yang bertindak. Tulah-tulah atas Mesir menunjukkan kuasa Tuhan atas Firaun, atas dewa-dewa Mesir, dan atas sistem penindasan.

Ayat ini mengingatkan bahwa Tuhan adalah Allah yang membebaskan. Ia tidak diam terhadap penindasan. Ia mendengar seruan umat dan bertindak. Dalam terang iman Kristen, pembebasan dari Mesir menjadi gambaran tentang pembebasan manusia dari dosa. Sebagaimana Israel tidak dapat membebaskan diri sendiri dari Mesir, manusia berdosa juga tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Tuhan bertindak melalui Kristus untuk membebaskan kita dari kuasa dosa dan maut. Karena itu, ibadah kepada Tuhan harus lahir dari rasa syukur atas pembebasan-Nya.

Pada ayat 6, Tuhan berkata bahwa Ia membawa nenek moyang Israel keluar dari Mesir, lalu mereka sampai ke laut. Orang Mesir mengejar mereka dengan kereta dan pasukan berkuda sampai ke Laut Teberau. Ayat ini menggambarkan keadaan terjepit. Israel sudah keluar dari Mesir, tetapi ancaman belum selesai. Di depan ada laut, di belakang ada pasukan Mesir. Mereka berada dalam keadaan yang secara manusia tampak mustahil.

Ini mengingatkan bahwa keluar dari perbudakan tidak berarti bebas dari semua tantangan. Orang yang mulai ikut Tuhan masih bisa dikejar oleh masa lalu, ketakutan, kebiasaan lama, dan tekanan hidup. Tetapi justru di tempat terjepit itulah umat belajar melihat kuasa Tuhan. Dalam kehidupan kita, ada saat kita seperti berdiri di tepi laut: di depan tidak ada jalan, di belakang tekanan mengejar. Firman ini mengajak kita percaya bahwa Tuhan sanggup membuka jalan yang tidak dapat dibuka manusia.

Pada ayat 7, ketika umat berseru kepada Tuhan, Tuhan mengadakan gelap antara mereka dan orang Mesir, lalu mendatangkan air laut ke atas orang Mesir sehingga menutupi mereka. Tuhan mengingatkan bahwa mata umat sendiri telah melihat apa yang Ia lakukan terhadap Mesir. Lalu mereka tinggal lama di padang gurun. Ayat ini menekankan bahwa umat Israel bukan hanya mendengar cerita tentang Tuhan; mereka telah melihat karya Tuhan dengan mata mereka sendiri.

Tuhan mendengar seruan umat dan melindungi mereka. Namun setelah keselamatan besar itu, mereka masih harus berjalan lama di padang gurun. Ini menunjukkan bahwa pembebasan Tuhan sering diikuti oleh proses pembentukan. Tuhan tidak hanya mengeluarkan Israel dari Mesir; Tuhan juga membentuk mereka di padang gurun supaya belajar percaya dan taat. Demikian juga Tuhan tidak hanya menyelamatkan kita dari dosa, tetapi membentuk kita menjadi umat yang hidup dalam kekudusan dan ketaatan.

Pada ayat 8, Tuhan berkata bahwa Ia membawa umat ke negeri orang Amori di seberang Yordan. Orang Amori berperang melawan Israel, tetapi Tuhan menyerahkan mereka ke tangan Israel sehingga mereka menduduki negeri itu. Ini menunjukkan bahwa tanah perjanjian tidak diterima tanpa perjuangan. Ada musuh yang harus dihadapi. Ada peperangan yang harus dijalani. Namun kemenangan berasal dari Tuhan.

Dalam hidup beriman, janji Tuhan tidak membuat kita bebas dari perjuangan. Kita tetap harus melawan dosa, godaan, ketidakjujuran, kesombongan, ketakutan, dan berbagai kuasa yang ingin menjauhkan kita dari Tuhan. Tetapi kita tidak berjuang sendirian. Tuhanlah yang memberi kemenangan. Takut akan Tuhan berarti berani berjuang dalam ketaatan, tetapi tidak menyombongkan diri karena kemenangan berasal dari Dia.

Pada ayat 9, Balak bin Zipor, raja Moab, bangkit berperang melawan Israel dan memanggil Bileam bin Beor untuk mengutuki Israel. Ancaman terhadap Israel bukan hanya perang fisik, tetapi juga kutuk dan manipulasi rohani. Balak ingin melemahkan Israel melalui Bileam. Namun Tuhan tidak membiarkan rencana itu berhasil.

Ayat ini mengingatkan bahwa umat Tuhan dapat menghadapi berbagai bentuk ancaman, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat. Dalam kehidupan sekarang, ancaman bisa hadir melalui fitnah, perkataan yang melemahkan, ajaran yang menyesatkan, pengaruh buruk, atau tekanan yang membuat iman goyah. Namun orang yang takut akan Tuhan tidak perlu dikuasai ketakutan terhadap kuasa manusia. Jika Tuhan melindungi, maka rancangan jahat manusia tidak memiliki kata terakhir.

Pada ayat 10, Tuhan berkata bahwa Ia tidak mau mendengarkan Bileam, sehingga Bileam justru memberkati Israel. Demikianlah Tuhan melepaskan umat dari tangan Balak. Ini adalah karya Tuhan yang luar biasa. Yang dimaksudkan sebagai kutuk, Tuhan ubah menjadi berkat. Rencana manusia untuk menjatuhkan umat Tuhan dipatahkan oleh Tuhan sendiri.

Ayat ini memberi penghiburan. Kadang ada orang berniat buruk, ada kata-kata yang melukai, ada rencana yang ingin menjatuhkan, tetapi Tuhan berdaulat. Ini bukan berarti orang percaya tidak pernah mengalami luka, tetapi berarti Tuhan sanggup bekerja melampaui maksud jahat manusia. Karena itu, jangan membalas kutuk dengan kutuk. Tetaplah takut akan Tuhan, tetaplah setia, dan serahkan pembelaan hidup kepada-Nya.

Pada ayat 11, Tuhan mengingatkan bahwa umat menyeberangi Yordan dan sampai ke Yerikho. Orang-orang Yerikho, orang Amori, Feris, Kanaan, Het, Girgasi, Hewi, dan Yebus berperang melawan mereka, tetapi Tuhan menyerahkan mereka ke tangan Israel. Ayat ini menyebut banyak bangsa dan musuh yang dihadapi Israel. Ini menunjukkan bahwa jalan menuju tanah perjanjian penuh tantangan. Namun setiap kali ditekankan bahwa Tuhanlah yang menyerahkan musuh kepada umat-Nya.

Yerikho adalah kota kuat, tetapi runtuh karena kuasa Tuhan dan ketaatan umat kepada perintah-Nya. Ini mengingatkan bahwa tembok besar dalam hidup dapat runtuh ketika umat berjalan dalam iman dan ketaatan. Kadang perintah Tuhan tampak sederhana atau tidak masuk akal menurut manusia, tetapi ketaatan kepada Tuhan membuka ruang bagi kuasa-Nya bekerja. Dalam hidup kita, tembok kesombongan, kebencian, ketakutan, dosa, dan kebiasaan lama hanya dapat runtuh jika kita taat kepada Tuhan.

Pada ayat 12, Tuhan berkata bahwa Ia mengirim tabuhan mendahului Israel, sehingga menghalau dua raja orang Amori dari hadapan mereka, bukan dengan pedang dan panah Israel. Kalimat “bukan dengan pedang dan panahmu” menegaskan bahwa kemenangan Israel bukan hasil kekuatan senjata mereka. Tuhan memakai cara-Nya sendiri untuk memberi kemenangan. Umat tidak boleh menyombongkan diri.

Ayat ini menegur manusia yang mudah menganggap keberhasilan sebagai hasil kekuatan sendiri. Ketika pekerjaan berhasil, kita merasa karena kepintaran sendiri. Ketika pelayanan berkembang, kita merasa karena kemampuan sendiri. Ketika keluarga diberkati, kita merasa karena usaha sendiri. Padahal firman mengingatkan bahwa semua kemenangan dan berkat berasal dari Tuhan. Takut akan Tuhan berarti mengembalikan kemuliaan kepada-Nya dan tidak mencuri kemuliaan bagi diri sendiri.

Pada ayat 13, Tuhan berkata bahwa Ia memberikan kepada Israel negeri yang tidak mereka usahakan, kota-kota yang tidak mereka dirikan, dan kebun anggur serta kebun zaitun yang tidak mereka tanami, tetapi hasilnya mereka makan. Ayat ini menegaskan anugerah Tuhan. Israel menikmati sesuatu yang mereka tidak hasilkan sepenuhnya dengan usaha sendiri. Mereka tinggal di kota pemberian, makan dari kebun pemberian, dan hidup di tanah pemberian.

Ini bukan berarti Israel tidak bekerja, tetapi menegaskan bahwa dasar hidup mereka adalah anugerah. Mereka menerima lebih dahulu sebelum dapat memberi respons. Demikian juga dalam hidup kita. Banyak hal yang kita nikmati adalah pemberian Tuhan: hidup, kesehatan, keluarga, pekerjaan, kesempatan, keselamatan, dan pemeliharaan. Kesadaran bahwa semua adalah anugerah harus melahirkan ibadah yang tulus dan kesetiaan yang rendah hati.

Pada ayat 14, Yosua berkata, “Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN.” Inilah pusat tema renungan. Setelah semua karya Tuhan diingatkan, Yosua memberi panggilan. Karena Tuhan telah memanggil, membebaskan, menuntun, melindungi, dan memberi tanah, maka umat harus takut kepada Tuhan dan beribadah kepada-Nya.

Kata “oleh sebab itu” sangat penting. Ibadah adalah respons terhadap anugerah. Kita tidak beribadah supaya Tuhan baru baik kepada kita. Kita beribadah karena Tuhan sudah lebih dahulu menyatakan kebaikan-Nya. Takut akan Tuhan berarti menghormati Dia sebagai Allah yang kudus dan setia. Beribadah dengan tulus ikhlas berarti tidak berpura-pura dan tidak bercabang hati. Beribadah dengan setia berarti tetap berpegang kepada Tuhan dalam segala keadaan.

Yosua juga memerintahkan umat menjauhkan allah-allah lain. Ini berarti ibadah kepada Tuhan menuntut pemutusan dengan berhala. Tidak mungkin beribadah kepada Tuhan dengan tulus sambil menyimpan ilah lain. Dalam hidup sekarang, allah lain bisa berupa uang, gengsi, kuasa, kesenangan, kebiasaan dosa, dendam, atau apa pun yang lebih kita taati daripada Tuhan. Ibadah yang tulus menuntut pembersihan hati.

Pada ayat 15, Yosua berkata bahwa jika umat menganggap tidak baik beribadah kepada Tuhan, mereka harus memilih pada hari itu kepada siapa mereka akan beribadah. Lalu Yosua berkata, “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN.” Ini adalah pernyataan iman yang sangat kuat. Yosua tidak hanya menuntut umat memilih, tetapi ia memberi teladan. Ia menyatakan keputusan dirinya dan keluarganya.

Ayat ini menunjukkan bahwa iman harus menjadi keputusan yang jelas. Tidak bisa terus hidup setengah-setengah. Tidak bisa menyembah Tuhan tetapi tetap memelihara ilah lain. Tidak bisa ingin berkat Tuhan tetapi menolak firman Tuhan. Yosua memilih dengan tegas. Keputusan itu juga melibatkan rumah tangga: “aku dan seisi rumahku.” Artinya, iman harus dibawa ke dalam keluarga, bukan hanya ke ruang ibadah.

Bagi kita, ayat ini sangat relevan. Setiap keluarga Kristen perlu bertanya: siapa yang menjadi pusat rumah ini? Apakah Tuhan, atau uang? Apakah Tuhan, atau ego? Apakah Tuhan, atau kebiasaan lama? Apakah Tuhan, atau gengsi keluarga? Kita dipanggil seperti Yosua untuk berkata, “Aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan.”

Pada ayat 16, bangsa itu menjawab bahwa jauhlah dari mereka untuk meninggalkan Tuhan dan beribadah kepada allah lain. Jawaban ini terdengar baik. Mereka menyatakan tidak ingin meninggalkan Tuhan. Namun Yosua tidak langsung puas dengan kata-kata mereka. Ia tahu bahwa pengakuan lisan harus dibuktikan dengan kesetiaan hidup.

Dalam kehidupan kita, kita juga mudah mengucapkan komitmen. Kita bernyanyi bahwa kita setia kepada Tuhan. Kita berkata percaya kepada Tuhan. Kita mengaku bahwa Tuhan adalah Allah kita. Tetapi pengakuan itu harus diuji dalam kehidupan sehari-hari. Apakah kita tetap setia ketika diuji? Apakah kita tetap takut akan Tuhan ketika ada kesempatan berbuat dosa? Apakah kita tetap beribadah dengan tulus ketika tidak ada yang memuji? Tuhan mencari hati dan hidup yang sungguh, bukan hanya kata-kata.

Pada ayat 17, umat berkata bahwa Tuhan Allah mereka telah menuntun mereka dan nenek moyang mereka dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan, melakukan tanda-tanda mujizat besar, dan melindungi mereka sepanjang jalan. Umat mengingat karya Tuhan. Mereka sadar bahwa Tuhan telah membebaskan, menuntun, dan melindungi.

Mengingat karya Tuhan adalah bagian penting dalam memelihara kesetiaan. Orang yang lupa pertolongan Tuhan mudah kembali kepada ilah lain. Orang yang lupa anugerah mudah menjadi sombong. Karena itu, dalam keluarga dan gereja, kita perlu terus menceritakan kebaikan Tuhan. Anak-anak perlu mendengar bagaimana Tuhan menolong. Jemaat perlu mengingat bagaimana Tuhan memelihara. Ingatan akan kasih Tuhan menolong kita tetap takut dan setia kepada-Nya.

Pada ayat 18, umat melanjutkan bahwa Tuhan telah menghalau semua bangsa dan orang Amori dari hadapan mereka, dan karena itu mereka akan beribadah kepada Tuhan, sebab Dialah Allah mereka. Umat mengakui Tuhan sebagai Allah mereka berdasarkan pengalaman nyata akan karya-Nya. Mereka telah melihat Tuhan bertindak. Karena itu, mereka menyatakan akan beribadah kepada-Nya.

Namun pengalaman rohani harus dijaga dengan kesetiaan. Banyak orang pernah mengalami pertolongan Tuhan, tetapi kemudian lupa ketika hidup menjadi nyaman. Banyak orang bersaksi saat ditolong, tetapi kembali menjauh setelah masalah selesai. Firman ini mengingatkan bahwa pengalaman akan kebaikan Tuhan harus menjadi dasar kesetiaan jangka panjang, bukan hanya emosi sesaat.

Pada ayat 19, Yosua berkata kepada bangsa itu, “Tidaklah kamu sanggup beribadah kepada TUHAN, sebab Dialah Allah yang kudus, Dialah Allah yang cemburu. Ia tidak akan mengampuni kesalahan dan dosamu.” Perkataan ini terdengar keras. Yosua tidak bermaksud menghalangi umat beribadah kepada Tuhan, tetapi ia ingin mereka sadar bahwa beribadah kepada Tuhan bukan perkara ringan. Tuhan adalah Allah yang kudus dan cemburu. Ia menuntut kesetiaan yang utuh.

Allah yang kudus tidak dapat diperlakukan sembarangan. Allah yang cemburu tidak mau hati umat dibagi dengan ilah lain. Ibadah kepada Tuhan bukan hanya upacara atau kebiasaan, tetapi penyerahan hidup. Yosua ingin umat memahami bahwa komitmen mereka memiliki konsekuensi. Mereka tidak boleh berkata setia kepada Tuhan sambil tetap menyimpan berhala.

Ayat ini menegur ibadah yang dangkal. Kita tidak boleh datang kepada Tuhan dengan hati main-main. Tuhan bukan pelengkap hidup. Tuhan adalah Allah yang kudus. Jika kita berkata mau beribadah kepada-Nya, maka kita harus bersedia meninggalkan dosa, berhala hati, dan kesetiaan yang bercabang.

Pada ayat 20, Yosua memperingatkan bahwa jika umat meninggalkan Tuhan dan beribadah kepada allah asing, Tuhan akan berbalik melakukan yang tidak baik kepada mereka dan membinasakan mereka setelah sebelumnya berbuat baik kepada mereka. Ini adalah peringatan serius. Anugerah Tuhan tidak boleh dipermainkan. Umat yang telah menerima kebaikan Tuhan tetap harus hidup dalam ketaatan.

Peringatan ini bukan berarti Tuhan berubah menjadi tidak setia, tetapi menunjukkan bahwa meninggalkan Tuhan berarti memilih jalan kehancuran. Jika umat berpaling kepada ilah lain, mereka menolak sumber kehidupan. Dalam hidup kita, ketika kita meninggalkan Tuhan demi dosa, kita sedang memilih jalan yang merusak. Karena itu, jangan memakai kasih Tuhan sebagai alasan untuk hidup sembarangan. Kasih Tuhan harus membawa kita kepada kesetiaan.

Pada ayat 21, bangsa itu berkata kepada Yosua, “Tidak, hanya kepada TUHAN saja kami akan beribadah.” Umat menegaskan kembali pilihan mereka. Kata “hanya” sangat penting. Ibadah kepada Tuhan menuntut kesetiaan yang tidak terbagi. Tuhan tidak mau menjadi salah satu dari banyak pusat hidup. Ia harus menjadi satu-satunya Allah yang disembah dan ditaati.

Dalam kehidupan sekarang, banyak orang ingin Tuhan menjadi bagian dari hidupnya, tetapi bukan pusat hidupnya. Tuhan dipanggil ketika ada masalah, tetapi diabaikan ketika hidup nyaman. Tuhan diminta memberkati, tetapi firman-Nya tidak ditaati. Ayat ini memanggil kita berkata dengan sungguh: hanya kepada Tuhan kita beribadah. Bukan kepada uang, bukan kepada kuasa, bukan kepada gengsi, bukan kepada dosa, tetapi kepada Tuhan.

Pada ayat 22, Yosua berkata bahwa umat menjadi saksi terhadap diri mereka sendiri bahwa mereka telah memilih Tuhan untuk beribadah kepada-Nya. Mereka menjawab, “Kamilah saksi!” Yosua menjadikan pengakuan mereka sebagai kesaksian. Mereka tidak dapat berkata tidak tahu atau tidak pernah memilih. Mereka sendiri telah menyatakan komitmen.

Ini mengingatkan bahwa setiap kali kita mengaku percaya, kita bertanggung jawab atas pengakuan itu. Setiap kali kita menyanyi tentang kesetiaan, setiap kali kita mengucapkan janji pelayanan, setiap kali kita berkata bahwa Tuhan adalah Allah kita, kita menjadi saksi atas keputusan iman kita sendiri. Karena itu, pengakuan kepada Tuhan harus dijalani dengan sungguh-sungguh.

Pada ayat 23, Yosua berkata, “Maka sekarang, jauhkanlah allah asing yang ada di tengah-tengah kamu dan condongkanlah hatimu kepada TUHAN, Allah Israel.” Ini adalah panggilan konkret. Setelah mengatakan bahwa mereka memilih Tuhan, umat harus menjauhkan allah asing. Tidak cukup berkata setia; harus ada tindakan meninggalkan berhala. Tidak cukup mengaku percaya; hati harus diarahkan kepada Tuhan.

Ayat ini sangat penting untuk kehidupan rohani. Berhala bukan hanya sesuatu yang tampak di luar, tetapi juga sesuatu yang tinggal di tengah-tengah umat dan di dalam hati. Yosua menuntut pembersihan nyata. Condongkan hati kepada Tuhan berarti arahkan kasih, kepercayaan, kesetiaan, dan ketaatan kepada Tuhan. Ibadah sejati dimulai dari hati yang condong kepada-Nya.

Bagi kita, pertanyaannya adalah: allah asing apa yang masih ada dalam hidup kita? Apakah harta? Apakah ambisi? Apakah gengsi? Apakah kebiasaan dosa? Apakah kepahitan? Apakah kuasa? Apakah kenyamanan? Apakah diri sendiri? Jika kita sungguh memilih Tuhan, berhala itu harus dijauhkan.

Pada ayat 24, bangsa itu berkata kepada Yosua, “Kepada TUHAN, Allah kita, kami akan beribadah dan firman-Nya akan kami dengarkan.” Jawaban ini lengkap: mereka akan beribadah dan mendengarkan firman. Ibadah kepada Tuhan tidak dapat dipisahkan dari ketaatan kepada firman. Mendengar firman bukan hanya mendengar dengan telinga, tetapi menaati dengan hidup.

Banyak orang suka beribadah, tetapi tidak suka ditegur firman. Suka bernyanyi, tetapi tidak mau berubah. Suka meminta berkat, tetapi tidak mau taat. Umat berkata mereka akan beribadah dan mendengar firman. Ini harus menjadi komitmen kita: ibadah yang benar harus menghasilkan ketaatan yang nyata.

Pada ayat 25, Yosua mengikat perjanjian dengan bangsa itu pada hari itu dan membuat ketetapan serta peraturan bagi mereka di Sikhem. Keputusan iman umat dinyatakan dalam perjanjian. Ini menunjukkan bahwa komitmen kepada Tuhan tidak boleh hanya menjadi emosi sesaat. Kesetiaan perlu diwujudkan dalam kehidupan yang tertata.

Dalam kehidupan keluarga dan gereja, komitmen kepada Tuhan perlu diwujudkan dalam kebiasaan rohani yang jelas. Jika keluarga berkata mau beribadah kepada Tuhan, maka perlu ada doa, firman, ibadah, kasih, kejujuran, dan disiplin rohani. Jika jemaat berkata setia kepada Tuhan, maka perlu ada kehidupan bersama yang diatur oleh firman. Komitmen tanpa tindakan nyata mudah memudar.

Pada ayat 26, Yosua menuliskan semuanya dalam kitab hukum Allah. Ia mengambil batu besar dan mendirikannya di bawah pohon besar di tempat kudus Tuhan. Tulisan dan batu menjadi tanda peringatan. Umat perlu pengingat supaya tidak lupa. Batu itu bukan untuk disembah, tetapi menjadi saksi bahwa perjanjian telah dibuat.

Manusia mudah lupa. Karena itu, iman membutuhkan pengingat. Kita membutuhkan firman yang dibaca, ibadah yang dijalani, sakramen, kesaksian, dan kebiasaan rohani yang menolong kita mengingat Tuhan. Dalam keluarga, orang tua perlu menceritakan karya Tuhan kepada anak-anak. Dalam gereja, umat perlu terus diingatkan tentang kasih dan tuntutan Tuhan. Pengingat menolong kita tetap setia.

Pada ayat 27, Yosua berkata kepada seluruh bangsa bahwa batu itu akan menjadi saksi terhadap mereka, sebab batu itu telah mendengar segala firman Tuhan yang diucapkan kepada mereka. Batu itu menjadi saksi supaya mereka tidak menyangkal Allah mereka. Bahasa ini bersifat simbolis. Batu itu menjadi tanda bahwa umat telah mendengar firman dan membuat komitmen.

Ayat ini mengingatkan bahwa setiap firman yang kita dengar membawa tanggung jawab. Kita tidak bisa berkata tidak tahu setelah firman disampaikan. Firman Tuhan menjadi saksi. Karena itu, jangan anggap ringan firman. Mendengar firman bukan hanya untuk menambah pengetahuan rohani, tetapi untuk mengubah hidup.

Pada ayat 28, Yosua melepas bangsa itu pergi, masing-masing ke milik pusakanya. Setelah perjanjian diperbarui, umat kembali ke tempat hidup mereka masing-masing. Ini penting. Komitmen kepada Tuhan tidak berhenti di Sikhem. Mereka harus membawa komitmen itu ke tanah pusaka, rumah, keluarga, pekerjaan, dan kehidupan sehari-hari.

Demikian juga dengan kita. Renungan, ibadah, dan pengakuan iman harus dibawa pulang. Takut akan Tuhan harus nyata di rumah. Ibadah tulus harus tampak dalam pekerjaan. Kesetiaan harus terlihat dalam relasi. Setelah mendengar firman, kita kembali ke kehidupan masing-masing untuk membuktikan bahwa kita sungguh memilih Tuhan.

Penutup

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, setelah merenungkan Yosua 24:1–28, kita melihat bahwa tema “Takutlah Akan Tuhan Dan Beribadahlah Kepada-Nya Dengan Tulus Ikhlas Dan Setia” adalah panggilan yang sangat serius dan sangat nyata. Yosua tidak sekadar mengajak umat rajin mengikuti upacara ibadah. Ia memanggil mereka kepada keputusan iman yang utuh.

Ia mengajak umat mengingat bahwa Tuhanlah yang memanggil Abraham, membebaskan Israel dari Mesir, menuntun mereka melewati padang gurun, mengalahkan musuh-musuh mereka, dan memberikan tanah yang bukan hasil kekuatan mereka sendiri. Setelah mengingat semua anugerah itu, umat dipanggil untuk takut kepada Tuhan dan beribadah kepada-Nya.

Firman ini mengajarkan bahwa ibadah sejati lahir dari ingatan akan kasih dan karya Tuhan. Jika kita lupa apa yang Tuhan lakukan, kita mudah hidup sembarangan. Jika kita lupa bahwa hidup ini adalah anugerah, kita mudah sombong.

Jika kita lupa bahwa keselamatan berasal dari Tuhan, kita mudah mempermainkan dosa. Karena itu, mengingat kebaikan Tuhan adalah bagian dari menjaga kesetiaan. Setiap keluarga dan jemaat perlu terus mengingat dan menceritakan pekerjaan Tuhan, supaya hati tidak mudah berpaling kepada ilah lain.

Ada beberapa poin penting yang perlu kita pegang.

Pertama, takut akan Tuhan berarti hidup dalam hormat kepada Allah yang kudus dan berdaulat. Takut akan Tuhan bukan ketakutan yang membuat kita lari, tetapi rasa hormat yang membuat kita taat. Orang yang takut akan Tuhan akan lebih takut melukai hati Tuhan daripada kehilangan pujian manusia.

Kedua, ibadah kepada Tuhan harus tulus ikhlas. Tuhan tidak mencari ibadah yang hanya tampak baik di luar. Tuhan mencari hati yang sungguh. Ibadah tulus berarti tidak berpura-pura, tidak melayani demi nama, dan tidak memakai agama sebagai topeng.

Ketiga, ibadah kepada Tuhan harus setia. Kesetiaan berarti tetap berpegang kepada Tuhan dalam segala keadaan. Bukan hanya ketika diberkati, tetapi juga ketika diuji. Bukan hanya ketika mudah, tetapi juga ketika berat.

Keempat, ibadah sejati menuntut kita meninggalkan allah-allah asing. Yosua berkata supaya umat menjauhkan allah asing. Kita juga harus meninggalkan segala sesuatu yang mengambil tempat Tuhan dalam hati: uang, kuasa, gengsi, dosa kesayangan, kebencian, ambisi, kenyamanan, atau diri sendiri.

Kelima, iman harus menjadi keputusan yang jelas. Yosua berkata, “Pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah.” Tidak memilih dengan tegas sering kali membuat kita terseret arus dunia. Iman Kristen menuntut keputusan yang nyata.

Keenam, keluarga harus dibawa kepada Tuhan. Yosua berkata, “Aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN.” Setiap keluarga Kristen dipanggil menjadikan Tuhan sebagai pusat rumah. Bukan uang, bukan ego, bukan kebiasaan lama, tetapi Tuhan.

Ketujuh, pengakuan iman harus diwujudkan dalam ketaatan. Umat berkata mereka akan beribadah kepada Tuhan dan mendengarkan firman-Nya. Ibadah yang benar tidak bisa dipisahkan dari ketaatan kepada firman.

Kedelapan, komitmen kepada Tuhan harus dibawa ke kehidupan sehari-hari. Setelah perjanjian diperbarui, umat kembali ke milik pusakanya masing-masing. Artinya, keputusan iman harus dibawa ke rumah, pekerjaan, keluarga, pelayanan, dan masyarakat.

Implikasi firman ini sangat nyata. Dalam keluarga, jadikan Tuhan sebagai pusat. Bangun doa bersama. Ajarkan anak-anak mengenal Tuhan. Jangan hanya mewariskan harta, tetapi wariskan iman. Dalam pekerjaan, takutlah akan Tuhan dengan hidup jujur, tidak menipu, tidak menyalahgunakan kuasa, dan tidak mengorbankan kebenaran demi keuntungan. Dalam pelayanan, beribadahlah dengan tulus, bukan karena ingin dilihat atau dipuji. Dalam jemaat, peliharalah kesetiaan, kerendahan hati, dan kesatuan. Jangan biarkan ilah ego dan kepentingan diri merusak pekerjaan Tuhan.

Saudara-saudara, mari kita memeriksa hati. Apakah Tuhan sungguh menjadi pusat hidup kita? Apakah ada ilah lain yang masih kita simpan? Apakah ibadah kita tulus atau hanya kebiasaan? Apakah kesetiaan kita utuh atau bercabang? Apakah keluarga kita sungguh memilih Tuhan? Apakah kehidupan sehari-hari kita membuktikan bahwa kita beribadah kepada Tuhan?

Firman Tuhan hari ini memanggil kita mengambil keputusan yang jelas. Jangan hidup bercabang. Jangan berkata mengasihi Tuhan tetapi tetap memelihara berhala. Jangan rajin beribadah tetapi hati jauh dari Tuhan. Jangan mengaku percaya tetapi hidup tidak taat. Pilihlah pada hari ini kepada siapa kita akan beribadah.

Marilah belajar dari Yosua yang dengan tegas berkata, “Aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN.” Marilah juga belajar dari Elia yang menantang umat di Gunung Karmel untuk berhenti bercabang hati. Jika Tuhan adalah Allah, ikutilah Dia. Jika Tuhan sudah menyelamatkan, setialah kepada-Nya. Jika Tuhan sudah memberkati, muliakanlah Dia. Jika Tuhan sudah memanggil, jangan kembali kepada ilah lama.

Akhirnya, kiranya tema ini menjadi komitmen hidup kita: “Takutlah Akan Tuhan Dan Beribadahlah Kepada-Nya Dengan Tulus Ikhlas Dan Setia.” Kiranya Tuhan membersihkan hati kita dari berhala. Kiranya Tuhan membentuk keluarga kita menjadi rumah yang menyembah Dia.

Kiranya pelayanan kita lahir dari ketulusan. Kiranya hidup kita menjadi kesaksian kesetiaan. Dan kiranya setiap hari, dalam perkataan, pekerjaan, keputusan, dan relasi, kita membuktikan bahwa hanya Tuhanlah Allah kita dan hanya kepada-Nya kita beribadah.

Amin.

Editor : Clavel Lukas
mtpj gmim Yosua khotbah GMIM Renungan GMIM