Bacaan dan Renungan untuk Umat Katolik, Hari Minggu 23 Agustus 2026, Hari Minggu Biasa ke XXI

Fandy Gerungan • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 09:40 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Hari Minggu Biasa ke XXI (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I Yesaya 22:19-23

Aku akan melemparkan engkau dari jabatanmu, dan dari pangkatmu engkau akan dijatuhkan.

Maka pada waktu itu Aku akan memanggil hamba-Ku, Elyakim bin Hilkia:

Aku akan mengenakan jubahmu kepadanya dan ikat pinggangmu akan Kuikatkan kepadanya, dan kekuasaanmu akan Kuberikan ke tangannya; maka ia akan menjadi bapa bagi penduduk Yerusalem dan bagi kaum Yehuda.

Aku akan menaruh kunci rumah Daud ke atas bahunya: apabila ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila ia menutup, tidak ada yang dapat membuka.

Aku akan memberikan dia kedudukan yang teguh seperti gantungan yang dipasang kuat-kuat pada tembok yang kokoh; maka ia akan menjadi kursi kemuliaan bagi kaum keluarganya.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 138:1-2a,2bc-3,6,8bc

Dari Daud. Aku hendak bersyukur kepada-Mu dengan segenap hatiku, di hadapan para allah aku akan bermazmur bagi-Mu.

Aku hendak sujud ke arah bait-Mu yang kudus dan memuji nama-Mu, oleh karena kasih-Mu dan oleh karena setia-Mu; sebab Kaubuat nama-Mu dan janji-Mu melebihi segala sesuatu.

Aku hendak sujud ke arah bait-Mu yang kudus dan memuji nama-Mu, oleh karena kasih-Mu dan oleh karena setia-Mu; sebab Kaubuat nama-Mu dan janji-Mu melebihi segala sesuatu.

Pada hari aku berseru, Engkaupun menjawab aku, Engkau menambahkan kekuatan dalam jiwaku.

TUHAN itu tinggi, namun Ia melihat orang yang hina, dan mengenal orang yang sombong dari jauh.

TUHAN akan menyelesaikannya bagiku! Ya TUHAN, kasih setia-Mu untuk selama-lamanya; janganlah Kautinggalkan perbuatan tangan-Mu!

Bacaan II Roma 11:33-36

O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!

Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya?

Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya?

Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Bacaan Injil Matius 16:13-20

Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?"

Jawab mereka: "Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi."

Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?"

Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!"

Kata Yesus kepadanya: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.

Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.

Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga."

Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya supaya jangan memberitahukan kepada siapapun bahwa Ia Mesias.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan 

Saudara-saudari terkasih dalam kristus, ada sebuah pertanyaan sederhana tetapi sangat dalam yang kita temukan dalam Injil hari ini: siapakah Yesus bagi kita?. Pertanyaan ini bukan sekadar pertanyaan tentang pengetahuan iman. 

Ini adalah pertanyaan yang menyentuh seluruh hidup kita. Sebab, cara kita mengenal Yesus akan menentukan cara kita menjalani kehidupan.

Banyak orang mungkin mengenal Yesus. Ada yang mengenal-Nya sebagai seorang guru, tokoh agama, pembuat mukjizat, atau pribadi yang mengajarkan kebaikan. 

Tetapi iman Kristiani mengajak kita melangkah lebih jauh. Kita tidak hanya mengenal Yesus berdasarkan apa yang dikatakan orang lain. Kita dipanggil untuk mengalami sendiri siapa Dia dalam kehidupan kita.

Petrus menjadi contoh yang menarik. Ia bukan manusia sempurna. Ia pernah ragu, takut, bahkan gagal memahami jalan yang ditempuh Yesus. Namun, di tengah segala keterbatasannya, ia mampu membuka hati terhadap karya Allah dan mengakui identitas Yesus dengan iman.

Di sinilah kita menemukan sesuatu yang penting: Tuhan tidak menunggu kita menjadi sempurna untuk mempercayakan sesuatu kepada kita. 

Tuhan dapat memakai manusia yang sederhana, dengan segala kekurangan dan kelemahannya, untuk menjalankan karya-Nya.

Bacaan pertama memperlihatkan bahwa jabatan dan tanggung jawab bukanlah milik manusia untuk dibanggakan. Tuhan dapat mengangkat seseorang dan Tuhan pula yang dapat menggantikannya. 

Karena itu, setiap kepercayaan, jabatan, pelayanan, kemampuan, bahkan kesempatan yang kita miliki sebenarnya adalah titipan Tuhan.

Kita sering lupa bahwa apa yang kita miliki bukan semata-mata hasil kekuatan kita sendiri. Jabatan bisa berubah. Kekayaan bisa berkurang. Popularitas bisa hilang. 

Bahkan kemampuan yang kita banggakan pun suatu hari dapat melemah. Tetapi kasih dan penyelenggaraan Tuhan tetap menjadi dasar kehidupan kita.

Karena itu, menjadi orang yang dipercayai Tuhan berarti belajar menjadi penjaga, bukan pemilik. Ketika Tuhan memberikan keluarga, kita dipanggil menjaganya. 

Ketika Tuhan memberikan pekerjaan, kita dipanggil menggunakannya untuk kebaikan. Ketika Tuhan memberikan kemampuan, kita dipanggil membagikannya. Ketika Tuhan memberikan kesempatan untuk melayani, kita dipanggil melayani dengan rendah hati.

Petrus menerima simbol kunci. Kunci bukan hanya lambang kekuasaan, tetapi juga lambang tanggung jawab. Orang yang memegang kunci memiliki tugas untuk membuka jalan bagi orang lain, bukan menjadikan dirinya sebagai penghalang.

Begitu pula dengan hidup kita. Bisa jadi kita tidak memegang jabatan besar dalam Gereja, tetapi kita semua mempunyai "kunci" yang dipercayakan Tuhan. Orang tua memiliki kunci bagi pertumbuhan iman anak-anaknya. 

Guru memiliki kunci bagi masa depan peserta didiknya. Pemimpin memiliki kunci bagi kehidupan orang-orang yang dipercayakan kepadanya. Bahkan setiap orang memiliki kesempatan untuk membuka pintu pengampunan, pengharapan, perhatian, dan kasih bagi sesamanya.

Pertanyaannya sekarang: apakah kehadiran kita membuka pintu bagi orang lain, atau justru menutupnya?. Kadang-kadang satu perkataan kita dapat membuka kembali harapan seseorang. 

Satu tindakan sederhana dapat membuat seseorang merasa diterima. Sebuah pengampunan dapat memulihkan hubungan yang hampir hancur. Sebaliknya, kesombongan, penghakiman, dan egoisme dapat membuat seseorang merasa semakin jauh dari Tuhan.

Bacaan kedua mengingatkan kita untuk tetap rendah hati di hadapan misteri Allah. Kita tidak akan pernah mampu memahami seluruh rencana Tuhan. Ada jalan hidup yang kadang tidak kita mengerti. 

Ada doa yang belum terjawab. Ada peristiwa yang membuat kita bertanya mengapa Tuhan mengizinkannya terjadi.

Namun iman mengajarkan kita untuk percaya bahwa jalan Tuhan selalu lebih luas daripada apa yang mampu kita lihat. Kita boleh bertanya, kita boleh menangis, bahkan kita boleh merasa bingung. 

Tetapi jangan sampai kebingungan membuat kita berhenti percaya. Hari ini Tuhan mengajak kita bukan hanya untuk bertanya siapa Yesus, tetapi juga bertanya: apa arti Yesus dalam hidup saya?. 

Apakah Dia sungguh menjadi dasar keputusan saya?. Apakah iman kepada-Nya terlihat dalam cara saya memperlakukan orang lain?. Apakah kehadiran saya membawa orang semakin dekat kepada Tuhan?.

Jangan sampai kita sibuk mencari kunci kesuksesan duniawi, tetapi lupa bahwa Tuhan telah memberikan kepada kita kunci yang jauh lebih berharga: kunci untuk membuka hati bagi kasih, pengampunan, pelayanan, dan keselamatan.

Semoga kita belajar seperti Petrus: tidak sempurna, tetapi mau dibentuk; tidak selalu mengerti, tetapi mau percaya; tidak mencari kemuliaan bagi diri sendiri, tetapi bersedia menjadi alat bagi karya Tuhan.

Sebab pada akhirnya, semua yang kita miliki berasal dari Tuhan, berada dalam penyelenggaraan-Nya, dan seharusnya kembali kepada kemuliaan-Nya. 

Kiranya hidup kita menjadi pintu yang terbuka, sehingga melalui diri kita semakin banyak orang menemukan jalan menuju Kristus. (*)

 

Editor : Fandy Gerungan
renungan katolik Renungan