Bacaan: Yosua 24:1–28
Tema: “Takutlah Akan Tuhan Dan Beribadahlah Kepada-Nya Dengan Tulus Ikhlas Dan Setia”
Saudara-saudara P/KB GMIM yang dikasihi dan diberkati Tuhan, hidup seorang pria, suami, ayah, opa, pekerja, pelayan gereja, dan anggota masyarakat selalu dipenuhi dengan pilihan. Setiap hari kita memilih bagaimana bersikap kepada istri, bagaimana berbicara kepada anak-anak, bagaimana memberi teladan kepada cucu-cucu, bagaimana menjalankan pekerjaan, bagaimana memakai uang, bagaimana mengambil keputusan dalam keluarga, bagaimana terlibat dalam pelayanan, dan bagaimana menjaga nama baik sebagai orang percaya
. Namun di atas semua pilihan itu, ada satu pilihan yang paling menentukan arah hidup kita, yaitu kepada siapa kita sungguh-sungguh beribadah dan kepada siapa hati kita benar-benar takut serta tunduk.
Banyak orang mengaku percaya kepada Tuhan, tetapi dalam praktik hidup sehari-hari hati mereka masih bercabang. Di gereja, mulut menyebut nama Tuhan, tetapi di tempat kerja masih takut kehilangan keuntungan sehingga mengorbankan kejujuran. Di rumah, kita ingin keluarga diberkati Tuhan, tetapi kadang keputusan keluarga lebih dipimpin oleh ego, gengsi, kemarahan, dan kebiasaan lama daripada oleh firman Tuhan.
Dalam pelayanan, kita berkata melayani Tuhan, tetapi kadang hati masih mencari pujian, posisi, pengaruh, atau pengakuan manusia. Kita berkata Tuhan adalah pusat hidup, tetapi hati bisa saja lebih terikat kepada uang, jabatan, kenyamanan, hobi, popularitas, kuasa, kebanggaan keluarga, atau dosa yang belum mau dilepaskan.
Baca Juga: Renungan Yosua 24:1–28, Takutlah Akan Tuhan Dan Beribadahlah KepadaNya Dengan Tulus Ikhlas Dan Setia
Firman Tuhan dalam Yosua 24:1–28 membawa kita kepada momen yang sangat penting dalam sejarah Israel. Yosua, pemimpin yang dipakai Tuhan membawa umat masuk ke tanah Kanaan, sudah berada pada masa tua. Ia tahu bahwa masa kepemimpinannya hampir selesai. Karena itu, ia mengumpulkan seluruh suku Israel di Sikhem dan membawa mereka berdiri di hadapan Allah.
Yosua tidak hanya menyampaikan pesan perpisahan, tetapi mengajak umat memperbarui perjanjian mereka dengan Tuhan. Ia mengingatkan kembali semua karya Tuhan: bagaimana Tuhan memanggil Abraham, memelihara keturunannya, membebaskan Israel dari Mesir, menuntun mereka melewati padang gurun, mengalahkan musuh-musuh mereka, dan memberikan tanah yang bukan hasil kekuatan mereka sendiri.
Setelah mengingatkan semua karya Tuhan itu, Yosua memberi panggilan yang sangat tegas: “Takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia.” Bagi P/KB, panggilan ini sangat kuat. Seorang pria Kristen tidak cukup hanya menjadi kepala keluarga secara sosial, tetapi harus menjadi pribadi yang takut akan Tuhan. Seorang suami tidak cukup hanya memberi nafkah, tetapi harus membawa rumah tangga hidup dalam penyembahan kepada Tuhan.
Seorang ayah tidak cukup hanya memberi nasihat, tetapi harus memberi teladan iman. Seorang opa tidak cukup hanya menceritakan masa lalu, tetapi harus mewariskan takut akan Tuhan kepada anak dan cucu. Seorang pelayan tidak cukup hanya aktif dalam kegiatan gereja, tetapi harus beribadah dengan hati yang tulus dan setia.
Takut akan Tuhan bukan berarti takut seperti orang yang ingin lari dari Allah. Takut akan Tuhan berarti menghormati Tuhan sebagai Allah yang kudus, setia, berkuasa, dan layak ditaati. Beribadah dengan tulus ikhlas berarti tidak berpura-pura, tidak melayani hanya karena ingin dilihat orang, tidak memakai agama sebagai topeng, dan tidak menjadikan ibadah hanya kebiasaan kosong. Beribadah dengan setia berarti tetap memilih Tuhan dalam keadaan mudah maupun sulit, dalam berkat maupun pergumulan, dalam keluarga maupun pekerjaan, dalam ibadah gereja maupun kehidupan sehari-hari.
Renungan ini mengajak P/KB memeriksa diri dengan jujur. Apakah Tuhan sungguh menjadi pusat hidup kita? Apakah keluarga kita sungguh diarahkan untuk beribadah kepada Tuhan? Apakah pekerjaan kita dilakukan dalam takut akan Tuhan? Apakah pelayanan kita tulus, atau masih bercampur dengan ego dan keinginan dihormati? Apakah masih ada “allah asing” yang kita simpan dalam hati? Melalui firman ini, Tuhan memanggil kita untuk membuat keputusan iman yang tegas: meninggalkan ilah-ilah hati, takut akan Tuhan, dan beribadah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia.
Saudara-saudara P/KB GMIM yang dikasihi dan diberkati Tuhan
Kitab Yosua adalah kelanjutan dari perjalanan besar umat Israel setelah Tuhan membebaskan mereka dari Mesir melalui Musa. Musa dipakai Tuhan memimpin umat keluar dari perbudakan, melewati Laut Teberau, menerima hukum Tuhan, dan berjalan di padang gurun selama empat puluh tahun. Namun Musa tidak membawa umat masuk ke tanah Kanaan. Tugas itu dipercayakan kepada Yosua, hamba Tuhan yang sebelumnya menjadi pelayan Musa dan kemudian dipilih Tuhan untuk memimpin generasi baru Israel memasuki tanah perjanjian.
Sejak awal Kitab Yosua, Tuhan menegaskan bahwa keberhasilan Yosua bukan terutama ditentukan oleh kekuatan militer, kecerdasan strategi, atau jumlah pasukan, tetapi oleh ketaatan kepada firman Tuhan. Tuhan berkata kepada Yosua supaya kuat dan teguh hati, tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari hukum Tuhan, serta merenungkan firman itu siang dan malam. Artinya, kepemimpinan Yosua adalah kepemimpinan yang harus dibangun di atas firman. Ia bukan hanya pemimpin perang, tetapi pemimpin rohani yang harus membawa umat hidup dalam ketaatan.
Kitab Yosua memperlihatkan bagaimana Tuhan menggenapi janji-Nya kepada Abraham, Ishak, dan Yakub. Tuhan pernah berjanji bahwa keturunan mereka akan menerima tanah Kanaan. Setelah ratusan tahun, setelah perbudakan di Mesir, setelah perjalanan panjang di padang gurun, setelah peperangan dan pergumulan, Tuhan menggenapi janji itu. Israel masuk ke tanah perjanjian bukan karena mereka lebih hebat daripada bangsa-bangsa lain, tetapi karena Tuhan setia kepada perjanjian-Nya.
Yosua 24 berada pada bagian akhir Kitab Yosua. Setelah tanah dibagi kepada suku-suku Israel, Yosua mengumpulkan umat di Sikhem. Sikhem adalah tempat yang sangat penting dalam sejarah iman Israel. Di Sikhem, Tuhan pernah menampakkan diri kepada Abram dan berjanji memberikan tanah itu kepada keturunannya. Abram mendirikan mezbah di sana bagi Tuhan. Dengan mengumpulkan umat di Sikhem, Yosua membawa Israel kembali kepada ingatan awal tentang panggilan, janji, dan kesetiaan Tuhan.
Dalam pasal ini, Yosua tidak memulai dengan perintah, tetapi dengan sejarah karya Tuhan. Ia mengingatkan umat bahwa Tuhanlah yang memanggil Abraham, memberi Ishak, memelihara Yakub, membawa Israel keluar dari Mesir, menyelamatkan mereka di Laut Teberau, menuntun di padang gurun, mengalahkan musuh, melindungi dari Balak dan Bileam, serta memberikan tanah yang tidak mereka usahakan sendiri. Setelah semua itu diingatkan, barulah Yosua berkata, “Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia.”
Urutan ini sangat penting. Ketaatan umat bukan dasar supaya Tuhan mengasihi mereka. Ketaatan adalah respons karena Tuhan sudah lebih dahulu mengasihi, membebaskan, memelihara, dan memberkati. Ibadah yang benar lahir dari ingatan akan anugerah. Jika seseorang lupa apa yang Tuhan telah lakukan, ia akan mudah menjadi sombong, lalai, dan tidak setia. Tetapi jika seseorang sungguh mengingat karya Tuhan, ia akan terdorong untuk hidup takut akan Tuhan.
Bagi P/KB, tema ini memiliki makna yang sangat nyata. Takut akan Tuhan berarti seorang pria hidup dengan kesadaran bahwa Tuhan melihat seluruh hidupnya, bukan hanya saat ia berada dalam ibadah. Beribadah dengan tulus ikhlas berarti seorang suami, ayah, opa, pekerja, dan pelayan melakukan tugasnya bukan untuk mencari pujian manusia, tetapi untuk memuliakan Tuhan.
Beribadah dengan setia berarti tetap memilih Tuhan ketika tergoda untuk kompromi, tetap jujur ketika ada peluang curang, tetap mengasihi keluarga ketika keadaan sulit, tetap melayani ketika tidak dihargai, dan tetap memegang firman ketika dunia menawarkan jalan yang lebih mudah tetapi tidak benar.
Dalam kehidupan sekarang, “allah asing” tidak selalu berbentuk patung. Bagi kaum bapak, allah asing bisa berbentuk uang yang lebih ditaati daripada Tuhan, pekerjaan yang mengambil seluruh hati sampai keluarga dan ibadah diabaikan, jabatan yang membuat orang menjadi sombong, gengsi yang membuat seseorang sulit meminta maaf, amarah yang dibiarkan menguasai rumah, kebiasaan dosa yang disembunyikan, atau hobi dan kesenangan yang menggeser Tuhan dari pusat hidup. Karena itu, firman ini menantang kita untuk memilih dengan tegas: kepada siapa kita akan beribadah?
Pembahasan Ayat Demi Ayat
Pada ayat 1, Yosua mengumpulkan semua suku Israel di Sikhem. Ia memanggil para tua-tua, para kepala, para hakim, dan para pengatur pasukan, lalu mereka berdiri di hadapan Allah. Ini bukan rapat biasa. Ini bukan pertemuan organisasi. Ini adalah pertemuan perjanjian di hadapan Tuhan. Umat dan para pemimpin berdiri bukan hanya di depan Yosua, tetapi di hadapan Allah yang telah memimpin sejarah mereka.
Bagi P/KB, ayat ini mengingatkan bahwa setiap keputusan hidup perlu dibawa ke hadapan Allah. Keputusan keluarga, pekerjaan, pendidikan anak, pelayanan, penggunaan uang, bahkan cara kita berbicara dan memimpin rumah tangga harus diletakkan di hadapan Tuhan. Banyak persoalan terjadi karena manusia mengambil keputusan hanya berdasarkan ego, emosi, gengsi, kebiasaan, atau tekanan orang lain. Yosua mengajar bahwa umat Tuhan harus berdiri di hadapan Allah sebelum memperbarui komitmen hidupnya. Seorang pria Kristen perlu belajar bertanya, “Tuhan, apa kehendak-Mu?” sebelum berkata, “Saya mau begini.”
Pada ayat 2, Yosua berkata kepada seluruh bangsa bahwa dahulu kala nenek moyang mereka, yaitu Terah, ayah Abraham dan Nahor, tinggal di seberang sungai Efrat dan beribadah kepada allah lain. Yosua memulai cerita sejarah umat dari kenyataan bahwa nenek moyang mereka dahulu berada dalam penyembahan kepada allah lain. Ini berarti asal-usul umat Israel bukanlah kehebatan rohani, melainkan anugerah Tuhan yang memanggil Abraham keluar dari latar belakang penyembahan berhala.
Ini menegur kesombongan rohani. Israel tidak boleh membanggakan diri seolah-olah mereka sejak awal lebih suci daripada bangsa lain. Mereka menjadi umat Tuhan karena Tuhan memanggil mereka. Demikian juga P/KB tidak boleh sombong karena sudah lama bergereja, punya jabatan pelayanan, atau berasal dari keluarga Kristen. Semua adalah anugerah. Jika Tuhan tidak memanggil dan membentuk kita, kita pun dapat hidup jauh dari-Nya. Kesadaran ini harus membuat kaum bapak rendah hati dalam beribadah dan melayani.
Pada ayat 3, Tuhan berkata bahwa Ia mengambil Abraham dari seberang sungai Efrat dan menyuruhnya menjelajahi seluruh tanah Kanaan, memperbanyak keturunannya, dan memberikan Ishak kepadanya. Kata “Aku mengambil Abraham” menunjukkan bahwa Tuhanlah yang berinisiatif. Abraham tidak menemukan jalan iman dengan kekuatannya sendiri. Tuhan memanggil, menuntun, memberi janji, dan memberi keturunan.
Bagi P/KB, ini mengingatkan bahwa hidup iman dimulai dari panggilan Tuhan. Tuhan juga memanggil kita keluar dari hidup lama: keluar dari dosa, keluar dari kebiasaan yang merusak keluarga, keluar dari kesombongan, keluar dari cara hidup yang hanya mengejar diri sendiri. Seperti Abraham dipanggil meninggalkan masa lalu dan berjalan dalam iman, kaum bapak juga dipanggil meninggalkan pola hidup lama dan membiarkan Tuhan menuntun keluarga menuju hidup yang benar.
Pada ayat 4, Tuhan berkata bahwa kepada Ishak diberikan Yakub dan Esau. Kepada Esau diberikan pegunungan Seir, sedangkan Yakub dan anak-anaknya pergi ke Mesir. Ayat ini menunjukkan bahwa perjalanan rencana Tuhan tidak selalu langsung menuju kenyamanan. Yakub dan keturunannya pergi ke Mesir, yang pada awalnya menjadi tempat pemeliharaan melalui Yusuf, tetapi kemudian menjadi tempat perbudakan bagi generasi berikutnya.
Ini mengajarkan bahwa perjalanan iman tidak selalu mudah dipahami. Ada masa ketika tempat yang dahulu menjadi pertolongan berubah menjadi tempat pergumulan. Ada fase hidup yang terasa seperti jalan memutar. Namun Tuhan tetap bekerja. Bagi P/KB, mungkin ada masa ketika pekerjaan yang dulu menjadi berkat sekarang menjadi sumber tekanan, atau keluarga yang dulu damai sekarang penuh pergumulan. Firman ini mengingatkan bahwa Tuhan tetap bekerja dalam sejarah hidup kita, bahkan ketika jalannya tidak langsung kita pahami.
Pada ayat 5, Tuhan mengingatkan bahwa Ia mengutus Musa dan Harun, lalu menulahi Mesir dengan apa yang Ia lakukan di tengah-tengah mereka, kemudian membawa Israel keluar. Pembebasan Israel dari Mesir adalah karya Tuhan. Musa dan Harun memang diutus, tetapi Tuhanlah yang bertindak. Tuhan menunjukkan kuasa-Nya atas Firaun, atas Mesir, dan atas semua kuasa yang menindas umat-Nya.
Bagi P/KB, ayat ini mengingatkan bahwa Allah adalah Pembebas. Ia tidak membiarkan umat-Nya selamanya berada dalam perbudakan. Dalam terang iman Kristen, pembebasan dari Mesir menjadi gambaran pembebasan dari dosa. Seorang pria mungkin diperbudak oleh amarah, hawa nafsu, kebohongan, alkohol, judi, keserakahan, gengsi, atau kecanduan tertentu. Namun Tuhan sanggup membebaskan. Ibadah yang tulus lahir dari rasa syukur karena Tuhan telah membebaskan dan masih terus membentuk hidup kita.
Pada ayat 6, Tuhan berkata bahwa Ia membawa nenek moyang Israel keluar dari Mesir, lalu mereka sampai ke laut. Orang Mesir mengejar mereka dengan kereta dan pasukan berkuda sampai ke Laut Teberau. Ayat ini menggambarkan keadaan terjepit. Di depan ada laut. Di belakang ada tentara Mesir. Secara manusia, tidak ada jalan keluar.
Dalam kehidupan P/KB, keadaan seperti ini dapat terjadi. Seorang ayah merasa terjepit antara kebutuhan keluarga dan penghasilan yang terbatas. Seorang suami merasa terjepit antara pekerjaan dan waktu untuk keluarga. Seorang pelayan merasa terjepit antara tanggung jawab gereja dan tekanan pribadi. Namun firman ini mengingatkan bahwa jalan buntu bagi manusia bukan jalan buntu bagi Tuhan. Takut akan Tuhan berarti tetap percaya ketika kita belum melihat jalan keluar.
Pada ayat 7, ketika umat berseru kepada Tuhan, Tuhan mengadakan gelap antara mereka dan orang Mesir, lalu mendatangkan air laut ke atas orang Mesir sehingga menutupi mereka. Tuhan mengingatkan bahwa mata umat sendiri telah melihat apa yang Ia lakukan terhadap Mesir, lalu mereka tinggal lama di padang gurun. Tuhan mendengar seruan umat dan menyelamatkan mereka. Namun setelah keselamatan besar itu, mereka masih harus menjalani proses panjang di padang gurun.
Ini mengajarkan bahwa pembebasan Tuhan sering diikuti proses pembentukan. Tuhan tidak hanya mengeluarkan Israel dari Mesir, tetapi juga membentuk mereka di padang gurun supaya belajar percaya, taat, dan bergantung kepada-Nya. Bagi P/KB, setelah Tuhan menolong kita dari satu masalah, bukan berarti proses selesai. Tuhan masih membentuk karakter, kerendahan hati, kesabaran, dan kesetiaan. Jangan hanya ingin dibebaskan dari masalah, tetapi bersedialah dibentuk menjadi pribadi yang lebih taat.
Pada ayat 8, Tuhan berkata bahwa Ia membawa umat ke negeri orang Amori di seberang Yordan. Orang Amori berperang melawan Israel, tetapi Tuhan menyerahkan mereka ke tangan Israel sehingga mereka menduduki negeri itu. Memasuki janji Tuhan tidak berarti bebas dari perjuangan. Ada musuh yang harus dihadapi. Ada peperangan yang harus dijalani. Namun kemenangan berasal dari Tuhan.
Bagi P/KB, ini mengingatkan bahwa hidup beriman adalah perjuangan. Kita harus berjuang melawan dosa, ketidakjujuran, godaan, kemalasan rohani, amarah, ego, dan segala hal yang menjauhkan kita dari Tuhan. Namun kita tidak berjuang sendiri. Tuhan memberi kemenangan kepada umat yang berjalan dalam ketaatan. Karena itu, jangan menyerah dalam peperangan rohani di dalam keluarga, pekerjaan, dan pelayanan.
Pada ayat 9, Balak bin Zipor, raja Moab, bangkit berperang melawan Israel dan memanggil Bileam bin Beor untuk mengutuki Israel. Ancaman terhadap umat bukan hanya peperangan fisik, tetapi juga kutukan dan manipulasi rohani. Balak ingin melemahkan Israel melalui Bileam. Namun Tuhan tidak membiarkan rencana itu berhasil.
Bagi P/KB, ayat ini mengingatkan bahwa tidak semua ancaman terlihat secara langsung. Ada ancaman melalui fitnah, perkataan yang melemahkan, pengaruh buruk, pergaulan yang salah, ajaran yang menyesatkan, dan tekanan sosial yang ingin menjauhkan kita dari Tuhan. Tetapi orang yang takut akan Tuhan tidak perlu hidup dikuasai ketakutan terhadap manusia. Jika hidup kita berada dalam Tuhan, maka kuasa manusia tidak memiliki kata terakhir.
Pada ayat 10, Tuhan berkata bahwa Ia tidak mau mendengarkan Bileam, sehingga Bileam justru memberkati Israel. Demikianlah Tuhan melepaskan mereka dari tangan Balak. Ini menunjukkan bahwa Tuhan sanggup mengubah rencana jahat menjadi berkat. Yang dimaksudkan sebagai kutuk, Tuhan ubah menjadi berkat. Yang dirancang untuk menjatuhkan, Tuhan patahkan.
Bagi kaum bapak, ini memberi penghiburan. Dalam pekerjaan, mungkin ada orang yang berusaha menjatuhkan. Dalam masyarakat, mungkin ada kata-kata yang menyakitkan. Dalam pelayanan, mungkin ada salah paham. Namun Tuhan berdaulat. Jangan cepat membalas dengan cara dunia. Tetaplah takut akan Tuhan, tetap jujur, tetap setia, dan serahkan pembelaan hidup kepada Tuhan.
Pada ayat 11, Tuhan mengingatkan bahwa umat menyeberangi Yordan dan sampai ke Yerikho. Orang-orang Yerikho dan berbagai bangsa lain berperang melawan mereka, tetapi Tuhan menyerahkan mereka ke tangan Israel. Ayat ini memperlihatkan banyaknya tantangan yang dihadapi umat. Namun berkali-kali ditekankan bahwa Tuhanlah yang memberi kemenangan.
Yerikho adalah kota kuat, tetapi runtuh bukan terutama karena kekuatan Israel, melainkan karena kuasa Tuhan dan ketaatan umat. Mereka mengikuti perintah Tuhan, sekalipun perintah itu tampak tidak biasa menurut akal manusia. Ini mengingatkan P/KB bahwa tembok-tembok besar dalam hidup, seperti kesombongan, kebencian, konflik keluarga, atau kebiasaan dosa, hanya dapat runtuh melalui iman dan ketaatan kepada Tuhan. Kadang Tuhan meminta kita melakukan hal sederhana: berdoa, meminta maaf, mengampuni, berkata jujur, berhenti dari kebiasaan buruk. Dalam ketaatan sederhana, Tuhan bekerja.
Pada ayat 12, Tuhan berkata bahwa Ia mengirim tabuhan mendahului Israel sehingga menghalau dua raja orang Amori dari hadapan mereka, bukan dengan pedang dan panah Israel. Kalimat “bukan dengan pedang dan panahmu” menegaskan bahwa kemenangan Israel bukan hasil kekuatan senjata mereka. Tuhan memakai cara-Nya sendiri untuk memberi kemenangan.
Ini menegur kesombongan manusia. Ketika berhasil, kita sering berkata, “Ini karena kerja keras saya.” Kerja keras memang penting, tetapi jangan lupa Tuhan yang memberi kekuatan. Ketika keluarga diberkati, jangan merasa semua karena kemampuan kita. Ketika pelayanan berjalan baik, jangan merasa kita paling berjasa. Takut akan Tuhan berarti mengembalikan kemuliaan kepada Tuhan, bukan mencuri kemuliaan untuk diri sendiri.
Pada ayat 13, Tuhan berkata bahwa Ia memberikan kepada Israel negeri yang tidak mereka usahakan, kota-kota yang tidak mereka dirikan, dan kebun anggur serta kebun zaitun yang tidak mereka tanami, tetapi hasilnya mereka makan. Ayat ini menegaskan anugerah Tuhan. Israel menikmati pemberian Tuhan. Mereka tinggal di kota pemberian, makan dari kebun pemberian, dan hidup di tanah pemberian.
Bagi P/KB, ayat ini mengingatkan bahwa banyak hal dalam hidup kita juga adalah pemberian Tuhan. Hidup, kesehatan, pekerjaan, keluarga, anak-anak, cucu-cucu, pelayanan, kesempatan, dan keselamatan adalah anugerah. Karena itu, jangan sombong dan jangan lupa Tuhan. Berkat Tuhan harus membuat kita semakin takut kepada-Nya, semakin tulus beribadah, dan semakin setia dalam hidup sehari-hari.
Pada ayat 14, Yosua berkata, “Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN.” Inilah pusat tema renungan. Setelah semua karya Tuhan diingatkan, Yosua memanggil umat untuk memberi respons yang benar.
Takut akan Tuhan berarti hidup dalam hormat kepada Tuhan. Beribadah dengan tulus ikhlas berarti tidak berpura-pura dan tidak bercabang hati. Beribadah dengan setia berarti tetap memilih Tuhan dalam segala keadaan. Yosua juga berkata supaya mereka menjauhkan allah-allah asing. Artinya, ibadah kepada Tuhan menuntut pembersihan hati. Tidak mungkin beribadah kepada Tuhan dengan tulus sambil tetap menyimpan ilah lain.
Bagi P/KB, allah asing bisa berupa uang, jabatan, ego, gengsi, amarah, hobi yang berlebihan, kebiasaan dosa, atau apa pun yang lebih ditaati daripada Tuhan. Yosua berkata: jauhkanlah. Jangan hanya sembunyikan. Jangan hanya kurangi. Jauhkanlah. Jika Tuhan adalah Tuhan, maka hati harus diberikan kepada-Nya secara utuh.
Pada ayat 15, Yosua berkata bahwa jika umat menganggap tidak baik beribadah kepada Tuhan, mereka harus memilih pada hari itu kepada siapa mereka akan beribadah. Lalu Yosua berkata, “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN.” Ini adalah pernyataan iman yang sangat kuat. Yosua tidak hanya menuntut umat memilih, tetapi ia menyatakan pilihan dirinya dan keluarganya.
Bagi P/KB, ayat ini sangat penting. Seorang pria Kristen dipanggil menjadi pemimpin rohani dalam keluarga. Bukan berarti memaksa dengan kekerasan, tetapi menuntun dengan teladan. Seorang ayah perlu berani berkata, “Dalam rumah ini, Tuhan harus dihormati.” Seorang suami perlu mengajak keluarga berdoa. Seorang opa perlu menceritakan kebaikan Tuhan kepada cucu-cucu. Pernyataan Yosua harus menjadi komitmen kaum bapak: “Aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan.”
Pada ayat 16, bangsa itu menjawab bahwa jauhlah dari mereka untuk meninggalkan Tuhan dan beribadah kepada allah lain. Jawaban ini terdengar baik. Mereka menyatakan tidak mau meninggalkan Tuhan. Namun Yosua tidak langsung puas dengan kata-kata itu, karena ia tahu bahwa pengakuan lisan harus dibuktikan dengan kehidupan nyata.
Dalam kehidupan gereja, kita juga mudah mengucapkan komitmen. Kita menyanyi, berdoa, dan berkata percaya kepada Tuhan. Tetapi apakah hidup kita membuktikannya? Apakah keluarga kita melihat kesetiaan kita? Apakah pekerjaan kita menunjukkan takut akan Tuhan? Apakah pelayanan kita tulus? Tuhan tidak hanya mencari kata-kata, tetapi hati dan hidup yang sungguh.
Pada ayat 17, umat berkata bahwa Tuhan Allah mereka telah menuntun mereka dan nenek moyang mereka dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan, melakukan tanda-tanda mujizat besar, dan melindungi mereka sepanjang jalan. Di sini umat mengingat karya Tuhan. Mereka sadar bahwa Tuhan telah membebaskan, menuntun, dan melindungi.
Mengingat karya Tuhan sangat penting untuk menjaga kesetiaan. Orang yang lupa pertolongan Tuhan mudah kembali kepada ilah lain. Bagi P/KB, penting untuk menceritakan kebaikan Tuhan kepada keluarga. Jangan hanya menceritakan keberhasilan diri. Ceritakan bagaimana Tuhan menolong, bagaimana Tuhan memelihara, bagaimana Tuhan mengampuni, dan bagaimana Tuhan membuka jalan. Kesaksian seorang ayah atau opa dapat menjadi warisan iman yang kuat.
Pada ayat 18, umat berkata bahwa Tuhan telah menghalau semua bangsa dan orang Amori dari hadapan mereka, dan karena itu mereka juga akan beribadah kepada Tuhan, sebab Dialah Allah mereka. Pengakuan ini lahir dari pengalaman akan karya Tuhan. Mereka memilih Tuhan karena telah melihat Tuhan bertindak.
Namun pengalaman rohani harus dijaga dengan kesetiaan. Banyak orang pernah mengalami pertolongan Tuhan, tetapi setelah keadaan baik, mereka menjauh. Banyak orang rajin berdoa saat masalah, tetapi lupa Tuhan saat hidup nyaman. Firman ini mengingatkan P/KB supaya pengalaman ditolong Tuhan tidak hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi menjadi dasar kesetiaan hari ini.
Pada ayat 19, Yosua berkata bahwa umat tidak akan sanggup beribadah kepada Tuhan, sebab Dialah Allah yang kudus dan cemburu. Ia tidak akan mengampuni kesalahan dan dosa mereka. Perkataan ini terdengar keras, tetapi maksud Yosua adalah membuat umat sadar bahwa beribadah kepada Tuhan bukan perkara ringan. Tuhan adalah Allah yang kudus. Ia tidak mau disembah dengan hati yang bercabang.
Allah yang cemburu berarti Allah menuntut kesetiaan perjanjian. Ia tidak mau hati umat dibagi dengan ilah lain. Bagi P/KB, ini menegur ibadah yang main-main. Jangan menganggap ibadah hanya kewajiban rutin. Jangan berpikir bisa melayani Tuhan sambil memelihara dosa tersembunyi. Tuhan adalah Allah yang kudus. Ia memanggil kita kepada kesetiaan yang utuh.
Pada ayat 20, Yosua memperingatkan bahwa jika umat meninggalkan Tuhan dan beribadah kepada allah asing, Tuhan akan berbalik melakukan yang tidak baik kepada mereka dan membinasakan mereka setelah sebelumnya berbuat baik kepada mereka. Ini adalah peringatan serius. Anugerah Tuhan tidak boleh dipermainkan. Kebaikan Tuhan harus dijawab dengan kesetiaan, bukan dengan ketidaktaatan.
Bagi P/KB, ayat ini mengingatkan bahwa berkat Tuhan bukan alasan untuk hidup sembarangan. Jangan berkata, “Tuhan baik,” lalu sengaja tetap hidup dalam dosa. Jangan berkata, “Tuhan pasti mengampuni,” lalu terus memelihara kebiasaan lama. Kasih Tuhan harus membawa kita kepada pertobatan dan kesetiaan. Meninggalkan Tuhan berarti memilih jalan yang merusak.
Pada ayat 21, bangsa itu berkata kepada Yosua, “Tidak, hanya kepada TUHAN saja kami akan beribadah.” Kata “hanya” sangat penting. Tuhan tidak mau menjadi salah satu dari banyak pusat hidup. Ia harus menjadi satu-satunya Allah yang disembah dan ditaati. Umat menyatakan bahwa hanya kepada Tuhan mereka akan beribadah.
Bagi P/KB, ini menjadi pertanyaan: apakah Tuhan benar-benar satu-satunya pusat hidup kita? Atau Tuhan hanya bagian dari hidup, sementara keputusan sehari-hari lebih ditentukan oleh uang, ego, gengsi, atau tekanan manusia? Ibadah sejati berkata, “Hanya kepada Tuhan.” Artinya, Tuhan harus menjadi pusat rumah, pekerjaan, pelayanan, dan seluruh hidup.
Pada ayat 22, Yosua berkata bahwa umat menjadi saksi terhadap diri mereka sendiri bahwa mereka telah memilih Tuhan untuk beribadah kepada-Nya. Mereka menjawab, “Kamilah saksi!” Yosua menjadikan pengakuan mereka sebagai kesaksian. Mereka tidak dapat berkata bahwa mereka tidak pernah memilih atau tidak pernah tahu. Mereka sendiri menyatakan komitmen.
Dalam kehidupan kita, setiap pengakuan iman membawa tanggung jawab. Ketika kita berkata percaya kepada Tuhan, kita menjadi saksi atas perkataan itu. Ketika kita berjanji melayani Tuhan, kita bertanggung jawab untuk hidup sesuai janji itu. Ketika P/KB berkata ingin menjadi teladan, hidup harus menunjukkan teladan itu. Pengakuan iman tidak boleh hanya berhenti di mulut.
Pada ayat 23, Yosua berkata, “Maka sekarang, jauhkanlah allah asing yang ada di tengah-tengah kamu dan condongkanlah hatimu kepada TUHAN, Allah Israel.” Ini adalah panggilan konkret. Setelah berkata memilih Tuhan, umat harus menjauhkan allah asing. Tidak cukup berkata setia; harus ada tindakan. Tidak cukup mengaku percaya; hati harus dicondongkan kepada Tuhan.
Bagi P/KB, ayat ini sangat praktis. Jika ada kebiasaan yang menjauhkan dari Tuhan, jauhkanlah. Jika ada pergaulan yang merusak iman, tinggalkanlah. Jika ada dosa tersembunyi, akuilah dan putuskanlah. Jika ada amarah yang menguasai rumah, bawalah kepada Tuhan dan berubah. Jika ada gengsi yang membuat sulit meminta maaf, rendahkanlah hati. Condongkan hati kepada Tuhan berarti arahkan kasih, hormat, kepercayaan, dan ketaatan kepada-Nya.
Pada ayat 24, bangsa itu berkata kepada Yosua, “Kepada TUHAN, Allah kita, kami akan beribadah dan firman-Nya akan kami dengarkan.” Ini adalah pengakuan yang lengkap: beribadah dan mendengarkan firman. Ibadah kepada Tuhan tidak bisa dipisahkan dari ketaatan kepada firman. Mendengar firman berarti membiarkan firman mengatur hidup.
Bagi P/KB, ini berarti jangan hanya rajin beribadah tetapi menolak ditegur firman. Jangan hanya aktif dalam kegiatan gereja tetapi tidak berubah di rumah. Jangan hanya mendengar khotbah tetapi tetap kasar, tidak jujur, atau tidak bertanggung jawab. Ibadah sejati terlihat dalam ketaatan. Jika firman berkata mengasihi, maka kasih harus nyata. Jika firman berkata jujur, maka pekerjaan harus jujur. Jika firman berkata mengampuni, maka hati harus belajar mengampuni.
Pada ayat 25, Yosua mengikat perjanjian dengan bangsa itu pada hari itu dan membuat ketetapan serta peraturan bagi mereka di Sikhem. Keputusan iman umat dinyatakan dalam perjanjian. Ini berarti komitmen kepada Tuhan bukan hanya perasaan sesaat, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan yang tertata.
Dalam keluarga P/KB, komitmen kepada Tuhan juga perlu bentuk nyata. Jika ingin rumah beribadah kepada Tuhan, harus ada doa, firman, ibadah, komunikasi yang baik, kejujuran, kasih, dan disiplin rohani. Jika ingin pelayanan P/KB setia kepada Tuhan, harus ada kerendahan hati, kesatuan, tanggung jawab, dan kesediaan mendengar firman. Komitmen tanpa tindakan nyata mudah hilang.
Pada ayat 26, Yosua menuliskan semuanya dalam kitab hukum Allah. Ia mengambil batu besar dan mendirikannya di bawah pohon besar di tempat kudus Tuhan. Tulisan dan batu menjadi tanda peringatan. Umat perlu pengingat supaya tidak lupa. Batu itu bukan untuk disembah, tetapi menjadi saksi bahwa umat telah membuat komitmen kepada Tuhan.
Manusia mudah lupa. Karena itu, iman membutuhkan pengingat. Kita membutuhkan firman, ibadah, kesaksian, doa keluarga, dan kebiasaan rohani yang menolong kita mengingat Tuhan. Bagi P/KB, penting membangun pengingat iman di rumah. Bukan hanya foto dan piagam yang dipajang, tetapi juga kebiasaan doa, cerita tentang pertolongan Tuhan, dan teladan hidup yang mengingatkan anak cucu bahwa Tuhan adalah pusat keluarga.
Pada ayat 27, Yosua berkata bahwa batu itu akan menjadi saksi terhadap mereka, sebab batu itu telah mendengar segala firman Tuhan yang diucapkan kepada mereka. Batu itu menjadi saksi supaya mereka tidak menyangkal Allah mereka. Bahasa ini bersifat simbolis. Batu itu menjadi tanda bahwa umat telah mendengar firman dan membuat komitmen.
Ayat ini mengingatkan bahwa setiap firman yang kita dengar membawa tanggung jawab. Setelah mendengar firman, kita tidak bisa berkata tidak tahu. Firman Tuhan menjadi saksi. Karena itu, jangan anggap ringan firman. Setiap renungan, khotbah, dan pembacaan Alkitab memanggil kita untuk hidup sesuai kehendak Tuhan.
Pada ayat 28, Yosua melepas bangsa itu pergi, masing-masing ke milik pusakanya. Setelah perjanjian diperbarui, umat kembali ke tempat hidup mereka masing-masing. Ini penting. Komitmen kepada Tuhan tidak berhenti di Sikhem. Mereka harus membawa keputusan itu ke tanah pusaka, rumah, keluarga, pekerjaan, dan kehidupan sehari-hari.
Demikian juga P/KB. Setelah ibadah selesai, kita pulang ke rumah. Setelah persekutuan selesai, kita kembali ke pekerjaan. Setelah mendengar firman, kita kembali bertemu keluarga, rekan kerja, dan masyarakat. Di situlah kesetiaan diuji. Takut akan Tuhan harus nyata di rumah. Ibadah tulus harus nyata dalam pekerjaan. Kesetiaan harus nyata dalam perkataan, keputusan, dan relasi sehari-hari.
Penutup
Saudara-saudara P/KB GMIM yang dikasihi Tuhan, setelah merenungkan Yosua 24:1–28, kita melihat bahwa tema “Takutlah Akan Tuhan Dan Beribadahlah Kepada-Nya Dengan Tulus Ikhlas Dan Setia” adalah panggilan yang sangat serius bagi kaum bapak. Ini bukan hanya ajakan untuk hadir dalam ibadah.
Ini adalah panggilan untuk menyerahkan hidup sepenuhnya kepada Tuhan. Yosua mengajak umat mengingat karya Tuhan, lalu menuntut keputusan iman yang nyata. Tuhan telah memanggil, membebaskan, menuntun, melindungi, memberi kemenangan, dan memberikan tanah. Karena itu, umat harus takut kepada Tuhan dan beribadah kepada-Nya.
Bagi P/KB, firman ini mengingatkan bahwa iman tidak boleh hanya menjadi tradisi. Jangan hanya menjadi Kristen karena keluarga Kristen. Jangan hanya datang ke gereja karena kebiasaan. Jangan hanya aktif dalam pelayanan karena jabatan. Iman harus menjadi keputusan hati yang sadar dan sungguh-sungguh. Setiap pria, suami, ayah, opa, pekerja, dan pelayan harus bertanya: apakah saya benar-benar memilih Tuhan?
Ada beberapa poin penting yang perlu kita pegang.
Pertama, takut akan Tuhan berarti hidup di bawah otoritas Tuhan. Seorang P/KB yang takut akan Tuhan tidak hidup semaunya. Ia menjaga perkataan, pekerjaan, relasi, uang, dan pelayanan karena sadar bahwa Tuhan melihat semuanya.
Kedua, ibadah kepada Tuhan harus tulus ikhlas. Tuhan tidak mencari pelayanan yang hanya tampak baik di luar. Tuhan mencari hati yang sungguh. Jangan melayani karena ingin dipuji. Jangan beribadah hanya karena kebiasaan. Datanglah kepada Tuhan dengan hati yang benar.
Ketiga, ibadah kepada Tuhan harus setia. Kesetiaan berarti tetap berpegang kepada Tuhan dalam keadaan apa pun. Ketika diberkati, tetap rendah hati. Ketika diuji, tetap percaya. Ketika tidak dihargai, tetap melayani. Ketika tergoda kompromi, tetap memilih kebenaran.
Keempat, P/KB harus menjauhkan allah asing. Semua yang mengambil tempat Tuhan harus disingkirkan: uang, kuasa, gengsi, amarah, kebiasaan dosa, hobi yang berlebihan, dan ego yang tidak mau tunduk.
Kelima, keluarga harus dibawa kepada Tuhan. Yosua berkata, “Aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN.” Seorang ayah dan opa dipanggil menjadi teladan iman, bukan hanya pemberi perintah. Bawalah keluarga kepada doa, firman, ibadah, dan hidup yang takut akan Tuhan.
Keenam, pengakuan iman harus dibuktikan dengan ketaatan. Tidak cukup berkata, “Saya percaya.” Hidup harus menunjukkan bahwa kita mendengarkan firman Tuhan. Ketaatan di rumah, di tempat kerja, dan di pelayanan adalah bukti ibadah yang benar.
Ketujuh, berkat Tuhan harus melahirkan syukur dan kesetiaan. Israel menerima tanah, kota, dan kebun yang bukan hasil usaha mereka sendiri. Kita pun menikmati banyak berkat Tuhan. Jangan lupa Tuhan setelah diberkati.
Kedelapan, komitmen kepada Tuhan harus dibawa ke kehidupan sehari-hari. Setelah umat pulang ke milik pusaka masing-masing, mereka harus menjalani komitmen itu. Demikian juga kita harus membawa firman ke rumah, pekerjaan, keluarga, dan masyarakat.
Implikasi firman ini sangat nyata. Dalam keluarga, jadilah suami yang takut akan Tuhan. Jangan memimpin dengan kekerasan, tetapi dengan kasih. Jadilah ayah yang mengajak anak-anak mengenal Tuhan. Jangan hanya menuntut anak berhasil, tetapi ajar mereka takut akan Tuhan. Jadilah opa yang mendoakan cucu-cucu dan menjadi teladan kesetiaan. Jangan hanya meninggalkan harta, tetapi tinggalkan warisan iman.
Dalam pekerjaan, takutlah akan Tuhan. Jangan menipu. Jangan korupsi. Jangan memanfaatkan orang kecil. Jangan mengorbankan kebenaran demi keuntungan. Dalam pelayanan, beribadahlah dengan tulus. Jangan mencari nama. Jangan menjadikan jabatan pelayanan sebagai tempat menunjukkan kuasa. Melayanilah karena Tuhan telah lebih dahulu melayani dan menyelamatkan kita.
Dalam persekutuan P/KB, jadilah kaum bapak yang saling menguatkan. Jangan menjadikan persekutuan sebagai tempat persaingan pengaruh. Jangan membawa ilah ego ke dalam pelayanan. Jadilah saudara yang merangkul, menasihati dengan kasih, dan membawa sesama lebih dekat kepada Tuhan.
Saudara-saudara, mari kita memeriksa hati. Apakah masih ada allah asing yang kita simpan? Apakah Tuhan sungguh menjadi pusat keluarga kita? Apakah ibadah kita tulus atau hanya rutinitas? Apakah pelayanan kita setia atau hanya ketika nyaman? Apakah hidup kita di rumah sesuai dengan pengakuan iman kita di gereja?
Firman Tuhan hari ini memanggil kita mengambil keputusan yang jelas. Jangan hidup bercabang. Jangan berkata mengasihi Tuhan tetapi masih memelihara berhala. Jangan rajin beribadah tetapi hati jauh dari Tuhan. Jangan mengaku percaya tetapi tidak mau taat. Pilihlah pada hari ini kepada siapa kita akan beribadah.
Marilah belajar dari Yosua yang berkata, “Aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN.” Marilah juga belajar dari Elia yang menantang umat berhenti bercabang hati. Jika Tuhan adalah Allah, ikutilah Dia. Jika Tuhan telah menyelamatkan, setialah kepada-Nya. Jika Tuhan telah memberkati, muliakanlah Dia. Jika Tuhan telah memanggil, jangan kembali kepada ilah lama.
Akhirnya, kiranya tema ini menjadi komitmen P/KB GMIM: “Takutlah Akan Tuhan Dan Beribadahlah Kepada-Nya Dengan Tulus Ikhlas Dan Setia.” Kiranya Tuhan membersihkan hati kita dari berhala. Kiranya Tuhan membentuk kita menjadi pria-pria yang takut akan Dia.
Kiranya keluarga kita menjadi rumah yang menyembah Tuhan. Kiranya pelayanan kita lahir dari ketulusan. Kiranya hidup kita menjadi kesaksian kesetiaan. Dan kiranya setiap hari, dalam perkataan, pekerjaan, keputusan, dan relasi, kita membuktikan bahwa hanya Tuhanlah Allah kita dan hanya kepada-Nya kita beribadah.
Amin.
Editor : Clavel Lukas