Bacaan: Yosua 24:1–28
Tema: “Takutlah Akan Tuhan Dan Beribadahlah Kepada-Nya Dengan Tulus Ikhlas Dan Setia”
Saudari-saudari W/KI GMIM yang dikasihi dan diberkati Tuhan, kehidupan seorang perempuan sering berada di tengah banyak pilihan, banyak tanggung jawab, dan banyak pergumulan yang tidak selalu tampak di depan orang lain.
Ada pilihan dalam keluarga, bagaimana berbicara kepada suami, bagaimana mendidik anak-anak, bagaimana menasihati cucu-cucu, bagaimana mengelola rumah tangga, bagaimana memakai uang dengan bijaksana, bagaimana menjaga hati di tengah konflik, bagaimana melayani di jemaat, dan bagaimana tetap setia kepada Tuhan ketika kehidupan tidak selalu mudah.
Banyak perempuan menjalani peran sebagai istri, ibu, oma, anak, saudari, pekerja, pelayan Tuhan, pendamping keluarga, dan penopang persekutuan. Semua peran ini membutuhkan hati yang takut akan Tuhan, sebab tanpa Tuhan, semua tanggung jawab mudah berubah menjadi beban, keluhan, kelelahan, dan bahkan kepahitan.
Dalam kenyataan hidup, kita juga melihat bahwa hati manusia mudah bercabang. Di gereja kita menyebut nama Tuhan, tetapi dalam kehidupan sehari-hari kita bisa lebih dikuasai oleh kekhawatiran, gengsi, perkataan orang, kebiasaan lama, dan keinginan diri sendiri. Kita ingin keluarga diberkati Tuhan, tetapi kadang suasana rumah lebih dipimpin oleh emosi daripada doa. Kita ingin anak-anak takut akan Tuhan, tetapi kadang mereka lebih sering melihat orang tua sibuk, marah, atau mengeluh daripada melihat teladan iman.
Baca Juga: Renungan Yosua 24:1–28, Takutlah Akan Tuhan Dan Beribadahlah KepadaNya Dengan Tulus Ikhlas Dan Setia
Kita ingin pelayanan W/KI berjalan baik, tetapi kadang pelayanan juga bisa diwarnai persaingan, ketersinggungan, kelompok-kelompok kecil, dan keinginan untuk dihargai. Kita berkata ingin beribadah kepada Tuhan, tetapi hati masih bisa menyimpan “allah asing” berupa iri hati, kesombongan, kepahitan, kecemasan berlebihan, cinta akan pujian manusia, atau kebiasaan dosa yang belum mau dilepaskan.
Firman Tuhan dalam Yosua 24:1–28 membawa kita kepada momen yang sangat penting dalam sejarah umat Israel. Yosua, pemimpin yang dipakai Tuhan membawa Israel masuk ke tanah perjanjian, mengumpulkan seluruh suku Israel di Sikhem. Ia sudah tua dan menyadari bahwa masa kepemimpinannya hampir selesai. Karena itu, Yosua tidak hanya memberi pesan perpisahan biasa.
Ia membawa umat kembali mengingat seluruh karya Tuhan: bagaimana Tuhan memanggil Abraham dari latar belakang penyembahan berhala, membebaskan Israel dari Mesir, menuntun mereka melewati padang gurun, melindungi mereka dari musuh, mengalahkan bangsa-bangsa di hadapan mereka, dan memberikan tanah, kota, kebun anggur, serta kebun zaitun yang bukan hasil usaha mereka sendiri.
Setelah semua karya Tuhan itu diingatkan, Yosua menyampaikan panggilan yang sangat tegas: “Takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia.” Ini bukan sekadar ajakan untuk datang ke tempat ibadah. Ini adalah panggilan untuk menyerahkan hati sepenuhnya kepada Tuhan. Takut akan Tuhan berarti menghormati Dia sebagai Allah yang kudus, setia, berkuasa, dan layak ditaati.
Beribadah dengan tulus ikhlas berarti tidak berpura-pura, tidak melayani hanya untuk dilihat orang, tidak membawa hati yang bercabang, dan tidak menjadikan ibadah hanya sebagai kebiasaan. Beribadah dengan setia berarti tetap memilih Tuhan dalam keadaan senang maupun susah, ketika dihargai maupun tidak dihargai, ketika doa cepat dijawab maupun ketika harus menunggu, ketika pelayanan mudah maupun ketika pelayanan terasa berat.
Bagi W/KI, tema ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Perempuan sering menjadi penjaga kehidupan rohani dalam keluarga. Banyak ibu yang mendoakan anak-anaknya, banyak oma yang mendoakan cucu-cucunya, banyak istri yang menopang rumah tangga dengan doa dan kesabaran, banyak perempuan yang melayani tanpa banyak terlihat. Namun firman hari ini mengingatkan bahwa semua pelayanan itu harus dilakukan dengan hati yang takut akan Tuhan, tulus ikhlas, dan setia.
Tuhan tidak hanya melihat apa yang kita lakukan, tetapi juga melihat hati yang melakukannya. Karena itu, melalui renungan ini kita diajak bertanya: apakah Tuhan sungguh menjadi pusat hidup kita? Apakah ibadah kita tulus? Apakah kesetiaan kita utuh? Apakah keluarga kita sungguh diarahkan untuk beribadah kepada Tuhan? Apakah ada ilah-ilah hati yang perlu kita jauhkan supaya hidup kita benar-benar condong kepada Tuhan?
Saudari-saudari W/KI GMIM yang dikasihi dan diberkati Tuhan,
Kitab Yosua adalah kelanjutan dari perjalanan umat Israel setelah kematian Musa. Musa telah dipakai Tuhan untuk membawa Israel keluar dari Mesir, menuntun mereka melalui padang gurun, menerima hukum Tuhan, dan membentuk umat sebagai bangsa perjanjian.
Namun Musa tidak membawa umat masuk ke tanah Kanaan. Tugas itu dipercayakan kepada Yosua, hamba Tuhan yang sebelumnya menjadi pelayan Musa dan kemudian dipilih Tuhan untuk memimpin generasi baru memasuki tanah yang telah dijanjikan kepada Abraham, Ishak, dan Yakub.
Sejak awal Kitab Yosua, Tuhan menegaskan bahwa keberhasilan Yosua bukan terutama ditentukan oleh kekuatan perang, jumlah pasukan, atau kemampuan strategi manusia. Tuhan berkata kepada Yosua agar kuat dan teguh hati, tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari hukum Tuhan, serta merenungkan firman Tuhan siang dan malam.
Artinya, kehidupan umat Tuhan harus dibangun di atas firman. Tanah perjanjian bukan hanya tempat tinggal baru, tetapi tempat umat harus belajar hidup sebagai bangsa yang takut kepada Tuhan, menaati firman-Nya, dan tidak mengikuti ilah-ilah bangsa sekitar.
Kitab Yosua memperlihatkan kesetiaan Tuhan dalam menggenapi janji-Nya. Tuhan membawa Israel menyeberangi Sungai Yordan, meruntuhkan Yerikho, memberi kemenangan atas musuh-musuh, dan membagi tanah kepada suku-suku Israel. Semua ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak lupa kepada janji-Nya.
Janji yang diberikan kepada Abraham berjalan melalui proses panjang: perbudakan di Mesir, pembebasan melalui Musa, perjalanan padang gurun, dan akhirnya masuk ke Kanaan melalui Yosua. Tuhan setia, meskipun prosesnya panjang dan umat tidak selalu setia.
Yosua 24 berada pada bagian akhir kitab. Setelah tanah dibagi kepada suku-suku Israel, Yosua mengumpulkan umat di Sikhem. Sikhem adalah tempat yang sangat penting dalam sejarah iman Israel. Di Sikhem, Tuhan pernah menampakkan diri kepada Abram dan berjanji memberikan tanah itu kepada keturunannya.
Di sana Abram mendirikan mezbah bagi Tuhan. Dengan mengumpulkan umat di Sikhem, Yosua membawa Israel kembali kepada ingatan awal tentang panggilan Allah, janji Allah, dan kesetiaan Allah. Mereka diajak melihat bahwa kehidupan mereka sekarang bukan hasil kekuatan sendiri, melainkan buah dari anugerah dan kesetiaan Tuhan.
Dalam pasal ini, Yosua memakai pola yang sangat penting. Ia tidak langsung memerintahkan umat untuk beribadah kepada Tuhan. Ia terlebih dahulu mengingatkan karya Tuhan. Tuhanlah yang mengambil Abraham dari seberang sungai Efrat. Tuhanlah yang memberi Ishak. Tuhanlah yang membawa Yakub ke Mesir dalam rencana pemeliharaan-Nya. Tuhanlah yang mengutus Musa dan Harun.
Tuhanlah yang membebaskan Israel dari Mesir. Tuhanlah yang menyelamatkan mereka di Laut Teberau. Tuhanlah yang menuntun mereka di padang gurun. Tuhanlah yang melindungi mereka dari Balak dan Bileam. Tuhanlah yang menyerahkan musuh-musuh ke tangan mereka. Tuhanlah yang memberikan tanah, kota, dan kebun yang tidak mereka bangun atau tanami sendiri.
Baru setelah semua anugerah itu diingatkan, Yosua berkata, “Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia.” Urutan ini sangat penting secara teologis. Ketaatan bukan alat untuk membeli kasih Tuhan. Ibadah bukan cara supaya Tuhan baru mau berbuat baik.
Sebaliknya, ibadah adalah respons terhadap Tuhan yang sudah lebih dahulu mengasihi, memanggil, membebaskan, menuntun, dan memberkati. Orang yang mengingat anugerah Tuhan akan terdorong untuk hidup setia. Orang yang lupa anugerah mudah menjadi sombong dan berpaling kepada ilah lain.
Tema “Takutlah Akan Tuhan Dan Beribadahlah Kepada-Nya Dengan Tulus Ikhlas Dan Setia” memiliki makna yang sangat dalam bagi W/KI. Takut akan Tuhan berarti seorang perempuan hidup dengan kesadaran bahwa seluruh hidupnya berada di hadapan Allah.
Beribadah dengan tulus ikhlas berarti melayani keluarga, jemaat, dan sesama bukan untuk mencari pujian, bukan karena terpaksa, bukan untuk menjaga nama, tetapi sebagai persembahan kepada Tuhan. Beribadah dengan setia berarti tetap berdoa, tetap mengasihi, tetap melayani, tetap menjaga hidup benar, dan tetap memegang firman walaupun keadaan tidak selalu sesuai harapan.
Dalam kehidupan sekarang, “allah asing” tidak selalu berbentuk patung. Bagi kita, ilah asing bisa berupa apa saja yang mengambil tempat Tuhan dalam hati. Bisa berupa kekhawatiran yang menguasai hidup lebih daripada iman. Bisa berupa gengsi yang membuat kita sulit rendah hati. Bisa berupa iri hati yang membuat kita tidak dapat bersukacita melihat orang lain diberkati. Bisa berupa keinginan dipuji dalam pelayanan.
Bisa berupa uang, penampilan, status keluarga, kebiasaan lama, atau kepahitan yang terus dipelihara. Karena itu, firman ini memanggil W/KI untuk memeriksa hati: apakah kita sungguh memilih Tuhan, atau masih menyimpan ilah-ilah lain di tengah-tengah kehidupan kita?
Pembahasan Ayat Demi Ayat
Pada ayat 1, Yosua mengumpulkan semua suku Israel di Sikhem. Ia memanggil para tua-tua, para kepala, para hakim, dan para pengatur pasukan, lalu mereka berdiri di hadapan Allah. Ini bukan sekadar pertemuan besar atau rapat umat. Mereka berdiri di hadapan Allah. Artinya, yang akan terjadi adalah momen rohani yang serius. Umat tidak hanya mendengar pesan seorang pemimpin tua, tetapi berdiri di hadapan Tuhan yang menjadi saksi atas keputusan mereka.
Bagi W/KI, ayat ini mengingatkan bahwa setiap keputusan hidup harus dibawa ke hadapan Tuhan. Keputusan dalam keluarga, pelayanan, pekerjaan, pendidikan anak, penggunaan uang, relasi dengan sesama, dan sikap terhadap masalah tidak boleh hanya ditentukan oleh emosi, kebiasaan, tekanan orang lain, atau perasaan sesaat.
Banyak konflik dalam keluarga dan persekutuan terjadi karena keputusan diambil tanpa membawa diri ke hadapan Tuhan. W/KI dipanggil menjadi perempuan-perempuan yang suka berdiri di hadapan Allah melalui doa, perenungan firman, dan kerendahan hati sebelum bertindak dan berbicara.
Pada ayat 2, Yosua berkata kepada seluruh bangsa bahwa dahulu kala nenek moyang mereka, yaitu Terah, ayah Abraham dan Nahor, tinggal di seberang sungai Efrat dan beribadah kepada allah lain. Yosua memulai sejarah umat dari kenyataan bahwa nenek moyang mereka dahulu hidup dalam penyembahan kepada ilah lain. Ini berarti umat Israel tidak boleh sombong seolah-olah mereka sejak awal adalah bangsa yang lebih suci daripada bangsa lain. Mereka menjadi umat Tuhan karena Tuhan memanggil Abraham keluar dari latar belakang lama.
Ayat ini mengingatkan kita bahwa iman adalah anugerah. Tidak seorang pun berhak sombong dalam kehidupan rohani. Kita menjadi orang percaya bukan karena kita lebih baik daripada orang lain, tetapi karena Tuhan memanggil dan membentuk kita. Bagi W/KI, ini penting agar pelayanan tidak melahirkan kesombongan. Jangan merasa lebih rohani karena lebih aktif. Jangan merasa lebih layak karena lebih lama melayani. Jangan merendahkan saudari yang masih bertumbuh. Semua kita hidup karena anugerah Tuhan.
Pada ayat 3, Tuhan berkata bahwa Ia mengambil Abraham dari seberang sungai Efrat dan menyuruhnya menjelajahi tanah Kanaan, memperbanyak keturunannya, dan memberikan Ishak kepadanya. Kata “Aku mengambil Abraham” menunjukkan inisiatif Allah. Tuhanlah yang memanggil Abraham. Tuhanlah yang menuntun. Tuhanlah yang memberi janji. Tuhanlah yang memberi keturunan. Abraham merespons dengan iman, tetapi Allah yang memulai karya itu.
Bagi W/KI, ayat ini mengingatkan bahwa Tuhan juga memanggil kita keluar dari pola hidup lama. Tuhan memanggil kita keluar dari ketakutan, kepahitan, iri hati, kebiasaan menghakimi, dan cara hidup yang berpusat pada diri sendiri. Seperti Abraham dipanggil meninggalkan masa lalu dan berjalan dalam iman, W/KI juga dipanggil berjalan bersama Tuhan dalam keluarga, pelayanan, dan masyarakat. Kadang panggilan itu menuntut kita meninggalkan kebiasaan lama yang sudah terasa nyaman, tetapi tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.
Pada ayat 4, Tuhan berkata bahwa kepada Ishak diberikan Yakub dan Esau. Kepada Esau diberikan pegunungan Seir, sedangkan Yakub dan anak-anaknya pergi ke Mesir. Ayat ini menunjukkan bahwa rencana Tuhan berjalan melalui sejarah yang panjang dan tidak selalu mudah. Mesir pada awalnya menjadi tempat pemeliharaan bagi keluarga Yakub pada masa kelaparan, tetapi kemudian berubah menjadi tempat perbudakan bagi keturunan mereka. Namun Tuhan tetap bekerja dalam sejarah itu.
Dalam kehidupan W/KI, ada masa ketika jalan hidup tidak mudah dipahami. Ada keluarga yang dulu penuh sukacita, tetapi kemudian mengalami pergumulan. Ada pekerjaan yang dulu menjadi berkat, tetapi kemudian menjadi beban. Ada relasi yang dulu hangat, tetapi kemudian menjadi tegang. Firman ini mengingatkan bahwa Tuhan tetap bekerja dalam sejarah hidup umat-Nya, bahkan ketika jalan yang dilalui tidak selalu mudah. Takut akan Tuhan berarti tetap percaya pada kesetiaan-Nya di tengah proses yang belum kita mengerti.
Pada ayat 5, Tuhan mengingatkan bahwa Ia mengutus Musa dan Harun, lalu menulahi Mesir dengan apa yang Ia lakukan di tengah-tengah mereka, kemudian membawa Israel keluar. Ini adalah pengingat bahwa pembebasan Israel dari Mesir adalah karya Tuhan. Musa dan Harun memang dipakai, tetapi Tuhanlah yang bertindak. Tuhan menunjukkan kuasa-Nya atas Firaun dan Mesir.
Bagi W/KI, ayat ini mengingatkan bahwa Tuhan adalah Allah yang membebaskan. Ia tidak membiarkan umat-Nya selamanya berada dalam penindasan. Dalam terang Kristus, pembebasan dari Mesir mengingatkan pada pembebasan dari dosa. Banyak perempuan bisa merasa terikat oleh kekhawatiran, luka masa lalu, rasa tidak berharga, kebiasaan mengeluh, iri hati, atau dosa tertentu. Tuhan sanggup membebaskan. Ibadah yang tulus lahir dari hati yang sadar bahwa Tuhan telah dan sedang membebaskan hidup kita.
Pada ayat 6, Tuhan berkata bahwa Ia membawa nenek moyang Israel keluar dari Mesir, lalu mereka sampai ke laut. Orang Mesir mengejar mereka dengan kereta dan pasukan berkuda sampai ke Laut Teberau. Ini adalah keadaan terjepit. Di depan ada laut. Di belakang ada tentara Mesir. Secara manusia, tidak ada jalan keluar.
Bagi W/KI, keadaan seperti ini mungkin terasa dekat. Ada saat kita merasa terjepit antara kebutuhan keluarga dan keterbatasan ekonomi. Terjepit antara tanggung jawab pelayanan dan keadaan tubuh yang lelah. Terjepit antara keinginan menjaga damai dan kenyataan konflik yang belum selesai. Namun firman ini mengingatkan bahwa jalan buntu bagi manusia bukan jalan buntu bagi Tuhan. Tuhan yang menuntun Israel sampai ke laut adalah Tuhan yang juga sanggup membuka jalan di laut itu.
Pada ayat 7, ketika umat berseru kepada Tuhan, Tuhan mengadakan gelap antara mereka dan orang Mesir, lalu mendatangkan air laut ke atas orang Mesir sehingga menutupi mereka. Tuhan mengingatkan bahwa mata umat sendiri telah melihat apa yang Ia lakukan terhadap Mesir. Lalu mereka tinggal lama di padang gurun. Tuhan mendengar seruan umat dan menyelamatkan mereka. Namun setelah keselamatan itu, umat masih harus melalui proses panjang di padang gurun.
Ini mengajarkan bahwa setelah Tuhan menolong, Ia juga membentuk. Pembebasan dari Mesir tidak langsung membawa Israel ke hidup tanpa tantangan. Mereka masih perlu belajar percaya, taat, dan bergantung kepada Tuhan. Bagi W/KI, setelah Tuhan menjawab satu doa, proses pembentukan masih berlanjut. Tuhan tidak hanya ingin mengubah keadaan luar, tetapi juga membentuk hati supaya semakin dewasa. Karena itu, jangan hanya mencari pertolongan Tuhan, tetapi juga bersedialah dibentuk oleh Tuhan.
Pada ayat 8, Tuhan berkata bahwa Ia membawa umat ke negeri orang Amori di seberang Yordan. Orang Amori berperang melawan Israel, tetapi Tuhan menyerahkan mereka ke tangan Israel sehingga mereka menduduki negeri itu. Masuk ke tanah perjanjian tidak berarti tanpa perjuangan. Ada musuh yang harus dihadapi. Namun Tuhanlah yang memberi kemenangan.
Dalam kehidupan W/KI, ada perjuangan rohani yang harus dijalani. Perjuangan melawan dosa perkataan, melawan iri hati, melawan kekhawatiran, melawan kepahitan, melawan kelelahan yang membuat hati menjadi dingin, dan melawan godaan untuk menyerah dalam doa. Tuhan tidak memanggil kita berjuang sendirian. Ia memberi kekuatan kepada umat yang berjalan dalam ketaatan. Kesetiaan bukan berarti hidup tanpa perjuangan, tetapi tetap berpegang kepada Tuhan di tengah perjuangan.
Pada ayat 9, Balak bin Zipor, raja Moab, bangkit berperang melawan Israel dan memanggil Bileam bin Beor untuk mengutuki Israel. Ancaman terhadap umat bukan hanya peperangan fisik, tetapi juga kutuk dan rencana jahat. Balak ingin melemahkan Israel dengan cara rohani yang salah. Namun Tuhan tidak membiarkan rencana itu berhasil.
Bagi W/KI, ayat ini mengingatkan bahwa ancaman terhadap iman tidak selalu datang dalam bentuk yang jelas. Ada ancaman melalui perkataan orang yang melemahkan, gosip yang melukai, ajaran yang membingungkan, pengaruh media sosial yang membuat hati iri dan tidak puas, atau kebiasaan buruk yang perlahan menjauhkan kita dari Tuhan. Namun orang yang takut akan Tuhan tidak perlu dikuasai ketakutan. Kita dipanggil tetap setia kepada Tuhan, sebab Dia menjaga umat-Nya.
Pada ayat 10, Tuhan berkata bahwa Ia tidak mau mendengarkan Bileam, sehingga Bileam justru memberkati Israel. Demikianlah Tuhan melepaskan umat dari tangan Balak. Ini menunjukkan bahwa Tuhan sanggup mengubah rencana jahat menjadi berkat. Apa yang dimaksudkan untuk menjatuhkan umat, Tuhan ubah menjadi kesaksian tentang kuasa-Nya.
Ayat ini memberi penghiburan bagi mereka yang pernah mengalami perkataan buruk, fitnah, atau rencana orang lain yang tidak baik. Tuhan tetap berdaulat. Ini bukan berarti kita tidak pernah terluka oleh perkataan manusia, tetapi firman ini mengingatkan bahwa hidup kita tidak ditentukan oleh kutuk manusia. Hidup kita berada dalam tangan Tuhan. Karena itu, jangan membalas kejahatan dengan kejahatan. Tetaplah takut akan Tuhan dan biarkan Dia menjadi pembela hidup kita.
Pada ayat 11, Tuhan mengingatkan bahwa umat menyeberangi Yordan dan sampai ke Yerikho. Orang-orang Yerikho dan berbagai bangsa lain berperang melawan mereka, tetapi Tuhan menyerahkan mereka ke tangan Israel. Yerikho adalah kota yang kuat, tetapi runtuh karena kuasa Tuhan dan ketaatan umat kepada perintah-Nya.
Bagi W/KI, Yerikho dapat menggambarkan tembok-tembok dalam hidup: tembok ketakutan, tembok konflik keluarga, tembok kepahitan, tembok kebiasaan dosa, tembok luka batin, atau tembok persoalan yang tampak mustahil. Tuhan sanggup meruntuhkan tembok, tetapi umat dipanggil taat. Kadang ketaatan itu terlihat sederhana: berdoa setiap hari, meminta maaf, berhenti bergosip, mengampuni, berbicara dengan lembut, atau setia melakukan hal yang benar. Dalam ketaatan sederhana, kuasa Tuhan bekerja.
Pada ayat 12, Tuhan berkata bahwa Ia mengirim tabuhan mendahului Israel sehingga menghalau dua raja orang Amori, bukan dengan pedang dan panah Israel. Kalimat “bukan dengan pedang dan panahmu” menegaskan bahwa kemenangan Israel bukan hasil kekuatan mereka sendiri. Tuhanlah yang memberi kemenangan.
Bagi W/KI, ayat ini menegur kesombongan dan mengajar syukur. Ketika keluarga diberkati, jangan merasa semua karena kemampuan kita mengatur. Ketika anak-anak berhasil, jangan lupa bahwa Tuhan ikut bekerja. Ketika pelayanan berjalan baik, jangan merasa paling berjasa. Ketika kita mampu melewati masa sulit, jangan lupa Tuhan yang memberi kekuatan. Takut akan Tuhan berarti mengembalikan kemuliaan kepada-Nya.
Pada ayat 13, Tuhan berkata bahwa Ia memberikan kepada Israel negeri yang tidak mereka usahakan, kota-kota yang tidak mereka dirikan, dan kebun anggur serta kebun zaitun yang tidak mereka tanami, tetapi hasilnya mereka makan. Ini adalah gambaran anugerah. Israel menerima pemberian Tuhan. Mereka menikmati sesuatu yang bukan sepenuhnya hasil usaha mereka sendiri.
Dalam kehidupan W/KI, banyak hal juga adalah anugerah. Hidup, kesehatan, keluarga, makanan, pekerjaan, pelayanan, kemampuan mengasihi, kesempatan bertobat, dan keselamatan di dalam Kristus adalah pemberian Tuhan. Kesadaran bahwa semua adalah anugerah harus melahirkan ibadah yang tulus. Orang yang sadar menerima banyak dari Tuhan akan lebih mudah melayani dengan rendah hati dan tidak mudah mengeluh.
Pada ayat 14, Yosua berkata, “Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN.” Inilah pusat tema renungan. Setelah mengingatkan semua karya Tuhan, Yosua memanggil umat untuk memberi respons yang benar.
Takut akan Tuhan berarti hidup dalam hormat kepada Tuhan. Beribadah dengan tulus ikhlas berarti hati tidak berpura-pura. Beribadah dengan setia berarti tetap memilih Tuhan dalam segala keadaan. Yosua juga berkata supaya umat menjauhkan allah asing. Artinya, ibadah kepada Tuhan menuntut pembersihan hati. Tidak mungkin beribadah kepada Tuhan dengan tulus sambil terus menyimpan ilah lain.
Bagi W/KI, allah asing bisa berupa rasa takut berlebihan, keinginan dipuji, iri hati, kepahitan, kebiasaan membicarakan orang, cinta pada kenyamanan, ketergantungan pada penilaian manusia, atau hal apa pun yang lebih menguasai hati daripada Tuhan. Firman ini memanggil kita: jauhkanlah semua itu dan condongkanlah hati kepada Tuhan.
Pada ayat 15, Yosua berkata bahwa jika umat menganggap tidak baik beribadah kepada Tuhan, mereka harus memilih pada hari itu kepada siapa mereka akan beribadah. Lalu Yosua berkata, “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN.” Ini adalah pernyataan iman yang sangat kuat. Yosua tidak hanya menuntut umat memilih, tetapi memberi teladan melalui keluarganya.
Bagi W/KI, ayat ini sangat penting. Perempuan sering memiliki pengaruh besar dalam membentuk suasana iman di rumah. Seorang ibu dapat mengajar anak-anak berdoa. Seorang oma dapat menjadi pendoa bagi cucu-cucu. Seorang istri dapat menopang keluarga dengan kesabaran dan firman. Namun ayat ini juga mengingatkan bahwa keluarga harus memilih Tuhan secara nyata. Bukan hanya mengaku Kristen, tetapi membangun rumah yang menghormati Tuhan. Pertanyaannya: apakah rumah kita menjadi tempat yang mendorong orang lebih dekat kepada Tuhan?
Pada ayat 16, bangsa itu menjawab bahwa jauhlah dari mereka untuk meninggalkan Tuhan dan beribadah kepada allah lain. Jawaban ini terdengar baik. Mereka menyatakan tidak ingin meninggalkan Tuhan. Namun Yosua tidak langsung puas dengan kata-kata mereka, karena pengakuan lisan harus dibuktikan dengan kesetiaan nyata.
Dalam kehidupan gereja, kita juga mudah mengucapkan komitmen. Kita menyanyi dengan penuh semangat, berdoa, dan berkata bahwa kita mengasihi Tuhan. Tetapi apakah hidup kita membuktikannya? Apakah perkataan kita menunjukkan takut akan Tuhan? Apakah pelayanan kita tulus? Apakah hubungan dengan sesama mencerminkan kasih? Tuhan mencari hati yang sungguh, bukan hanya kata-kata indah.
Pada ayat 17, umat berkata bahwa Tuhan Allah mereka telah menuntun mereka dan nenek moyang mereka dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan, melakukan tanda-tanda mujizat besar, dan melindungi mereka sepanjang jalan. Umat mengingat karya Tuhan. Mereka sadar bahwa Tuhan telah membebaskan, menuntun, dan melindungi.
Mengingat karya Tuhan sangat penting untuk memelihara kesetiaan. Dalam keluarga, W/KI dapat menjadi penjaga ingatan iman. Ceritakan kepada anak dan cucu bagaimana Tuhan menolong. Ingatkan keluarga tentang kebaikan Tuhan. Jangan hanya mengingat luka dan masalah, tetapi ingat juga pertolongan Tuhan. Hati yang ingat kebaikan Tuhan akan lebih kuat untuk tetap setia.
Pada ayat 18, umat berkata bahwa Tuhan telah menghalau semua bangsa dan orang Amori dari hadapan mereka, dan karena itu mereka akan beribadah kepada Tuhan, sebab Dialah Allah mereka. Mereka mengakui Tuhan berdasarkan pengalaman nyata akan karya-Nya. Mereka memilih Tuhan karena Tuhan telah membuktikan kesetiaan-Nya.
Namun pengalaman rohani harus dijaga. Banyak orang pernah ditolong Tuhan, tetapi setelah keadaan membaik, mulai lupa kepada Tuhan. Banyak keluarga rajin berdoa saat krisis, tetapi setelah diberkati, ibadah menjadi longgar. Firman ini mengingatkan bahwa pengalaman ditolong Tuhan harus menjadi dasar kesetiaan jangka panjang, bukan hanya emosi sesaat.
Pada ayat 19, Yosua berkata bahwa umat tidak akan sanggup beribadah kepada Tuhan, sebab Dialah Allah yang kudus dan cemburu. Ia tidak akan mengampuni kesalahan dan dosa mereka. Perkataan ini terdengar keras, tetapi Yosua ingin umat sadar bahwa beribadah kepada Tuhan bukan perkara ringan. Tuhan adalah Allah yang kudus. Ia tidak mau disembah dengan hati bercabang.
Allah yang cemburu berarti Allah menuntut kesetiaan perjanjian. Ia tidak mau hati umat dibagi dengan ilah lain. Bagi W/KI, ini menegur ibadah yang hanya rutinitas. Tuhan bukan pelengkap hidup. Tuhan adalah Allah yang kudus. Jika kita berkata mau beribadah kepada-Nya, maka kita harus bersedia meninggalkan dosa, berhala hati, dan kebiasaan yang tidak berkenan kepada-Nya.
Pada ayat 20, Yosua memperingatkan bahwa jika umat meninggalkan Tuhan dan beribadah kepada allah asing, Tuhan akan berbalik melakukan yang tidak baik kepada mereka dan membinasakan mereka setelah sebelumnya berbuat baik kepada mereka. Ini adalah peringatan serius. Anugerah Tuhan tidak boleh dipermainkan. Kebaikan Tuhan harus dijawab dengan kesetiaan.
Dalam kehidupan sekarang, kita tidak boleh berkata, “Tuhan pasti baik,” lalu sengaja hidup tidak taat. Jangan berkata, “Tuhan pasti mengampuni,” lalu terus memelihara dosa yang sama. Kasih Tuhan harus membawa kita kepada pertobatan. Jika kita meninggalkan Tuhan, kita sedang memilih jalan yang merusak hidup. Karena itu, tetaplah setia.
Pada ayat 21, bangsa itu berkata kepada Yosua, “Tidak, hanya kepada TUHAN saja kami akan beribadah.” Kata “hanya” sangat penting. Tuhan tidak mau menjadi salah satu dari banyak pusat hidup. Ia harus menjadi satu-satunya Allah yang disembah dan ditaati.
Bagi W/KI, ayat ini mengajak kita memeriksa hati. Apakah Tuhan benar-benar satu-satunya pusat hidup? Atau kita masih lebih dikuasai oleh penilaian orang, kecemasan, status sosial, kebanggaan keluarga, atau kepentingan diri? Ibadah sejati berkata, “Hanya kepada Tuhan.” Artinya, seluruh hidup diarahkan untuk memuliakan Dia.
Pada ayat 22, Yosua berkata bahwa umat menjadi saksi terhadap diri mereka sendiri bahwa mereka telah memilih Tuhan untuk beribadah kepada-Nya. Mereka menjawab, “Kamilah saksi!” Yosua menjadikan pengakuan mereka sebagai kesaksian. Mereka tidak bisa berkata bahwa mereka tidak tahu atau tidak pernah memilih. Mereka sendiri telah menyatakan komitmen.
Ini mengingatkan bahwa setiap pengakuan iman membawa tanggung jawab. Ketika kita berkata percaya kepada Tuhan, hidup kita harus menjadi saksi. Ketika W/KI berjanji melayani Tuhan, pelayanan itu harus dilakukan dengan tulus. Ketika kita berkata Tuhan adalah Allah kita, keputusan hidup harus menunjukkan bahwa kita mendengarkan Dia.
Pada ayat 23, Yosua berkata, “Maka sekarang, jauhkanlah allah asing yang ada di tengah-tengah kamu dan condongkanlah hatimu kepada TUHAN, Allah Israel.” Ini adalah panggilan konkret. Setelah berkata memilih Tuhan, umat harus menjauhkan allah asing. Tidak cukup berkata setia; harus ada tindakan nyata. Hati harus dicondongkan kepada Tuhan.
Bagi W/KI, ayat ini sangat praktis. Jika ada kebiasaan membicarakan orang, jauhkanlah. Jika ada iri hati yang menguasai, bawalah kepada Tuhan. Jika ada kepahitan yang terus dipelihara, mintalah Tuhan memulihkan.
Jika ada rasa takut yang lebih besar daripada iman, serahkan kepada Tuhan. Jika pelayanan dilakukan demi pujian, bertobatlah. Condongkan hati kepada Tuhan berarti mengarahkan kasih, kepercayaan, dan ketaatan kepada Dia.
Pada ayat 24, bangsa itu berkata kepada Yosua, “Kepada TUHAN, Allah kita, kami akan beribadah dan firman-Nya akan kami dengarkan.” Ini adalah pengakuan yang lengkap: beribadah dan mendengarkan firman. Ibadah kepada Tuhan tidak dapat dipisahkan dari ketaatan kepada firman. Mendengar firman bukan hanya mendengar dengan telinga, tetapi menaati dengan hidup.
Bagi W/KI, ini berarti jangan hanya rajin dalam kegiatan gereja tetapi menolak ditegur firman. Jangan hanya suka menyanyi dan berdoa tetapi tidak mau berubah dalam perkataan. Jangan hanya hadir dalam persekutuan tetapi tetap memelihara konflik. Ibadah yang benar harus menghasilkan ketaatan yang nyata di rumah, dalam pelayanan, dan dalam relasi dengan sesama.
Pada ayat 25, Yosua mengikat perjanjian dengan bangsa itu pada hari itu dan membuat ketetapan serta peraturan bagi mereka di Sikhem. Keputusan iman umat dinyatakan dalam perjanjian. Ini berarti komitmen kepada Tuhan bukan hanya perasaan sesaat, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan yang tertata.
Dalam kehidupan W/KI, komitmen kepada Tuhan perlu bentuk nyata. Jika kita berkata mau takut akan Tuhan, maka perlu ada waktu doa, membaca firman, menjaga perkataan, melayani dengan tulus, mengampuni, dan menolak dosa. Jika keluarga berkata mau beribadah kepada Tuhan, maka perlu ada kebiasaan rohani dalam rumah. Komitmen tanpa tindakan mudah hilang.
Pada ayat 26, Yosua menuliskan semuanya dalam kitab hukum Allah. Ia mengambil batu besar dan mendirikannya di bawah pohon besar di tempat kudus Tuhan. Tulisan dan batu menjadi tanda peringatan. Umat perlu pengingat supaya tidak lupa. Batu itu bukan untuk disembah, tetapi menjadi saksi bahwa perjanjian telah dibuat.
Manusia mudah lupa. Karena itu, iman membutuhkan pengingat. W/KI dapat menjadi penjaga ingatan iman dalam keluarga. Ajarkan anak dan cucu mengingat Tuhan. Bangun kebiasaan doa. Ceritakan kesaksian. Simpan firman dalam hati. Jangan biarkan keluarga hanya mengingat masalah, tetapi ajak mereka mengingat kebaikan Tuhan. Pengingat rohani menolong kesetiaan bertumbuh.
Pada ayat 27, Yosua berkata kepada seluruh bangsa bahwa batu itu akan menjadi saksi terhadap mereka, sebab batu itu telah mendengar segala firman Tuhan yang diucapkan kepada mereka. Batu itu menjadi saksi supaya mereka tidak menyangkal Allah mereka. Bahasa ini simbolis. Batu itu menjadi tanda bahwa umat telah mendengar firman dan membuat komitmen.
Ayat ini mengingatkan bahwa setiap firman yang kita dengar membawa tanggung jawab. Setelah mendengar firman, kita tidak bisa berkata tidak tahu. Karena itu, jangan anggap ringan renungan, khotbah, dan pembacaan Alkitab. Firman bukan hanya untuk menambah pengetahuan, tetapi untuk mengubah hidup.
Pada ayat 28, Yosua melepas bangsa itu pergi, masing-masing ke milik pusakanya. Setelah perjanjian diperbarui, umat kembali ke tempat hidup mereka masing-masing. Ini penting. Komitmen kepada Tuhan tidak berhenti di Sikhem. Mereka harus membawa keputusan itu ke rumah, tanah pusaka, keluarga, pekerjaan, dan kehidupan sehari-hari.
Demikian juga W/KI. Setelah ibadah selesai, kita kembali ke rumah. Setelah persekutuan selesai, kita kembali ke dapur, tempat kerja, keluarga, pelayanan, dan masyarakat. Di situlah kesetiaan diuji. Takut akan Tuhan harus nyata di rumah. Ibadah tulus harus nyata dalam perkataan. Kesetiaan harus nyata dalam cara kita mengasihi, mengampuni, melayani, dan mengambil keputusan.
Penutup
Saudari-saudari W/KI GMIM yang dikasihi Tuhan, setelah merenungkan Yosua 24:1–28, kita melihat bahwa tema “Takutlah Akan Tuhan Dan Beribadahlah Kepada-Nya Dengan Tulus Ikhlas Dan Setia” adalah panggilan yang sangat serius dan sangat indah. Yosua tidak sekadar mengajak umat rajin mengikuti ibadah. Ia mengajak umat mengingat seluruh karya Tuhan dan mengambil keputusan iman yang tegas. Tuhan telah memanggil, membebaskan, menuntun, melindungi, memberi kemenangan, dan memberikan tanah. Karena itu, umat harus takut kepada Tuhan dan beribadah kepada-Nya dengan hati yang utuh.
Renungan ini mengingatkan bahwa ibadah sejati selalu lahir dari ingatan akan anugerah Tuhan. Jika kita lupa kebaikan Tuhan, kita mudah hidup dengan hati yang bercabang. Jika kita lupa pertolongan Tuhan, kita mudah lebih takut kepada manusia daripada kepada Tuhan. Jika kita lupa bahwa hidup ini adalah pemberian, kita mudah sombong dan merasa semua karena kemampuan sendiri. Karena itu, W/KI dipanggil menjadi perempuan-perempuan yang mengingat dan menceritakan karya Tuhan, baik dalam keluarga maupun dalam persekutuan.
Ada beberapa poin penting yang perlu kita pegang.
Pertama, takut akan Tuhan berarti hidup dengan hormat kepada Allah yang kudus dan setia. Takut akan Tuhan bukan hanya sikap di dalam ibadah, tetapi cara hidup setiap hari. Perempuan yang takut akan Tuhan menjaga perkataan, sikap, keputusan, pelayanan, dan relasi karena sadar bahwa Tuhan melihat seluruh hidupnya.
Kedua, beribadah kepada Tuhan harus tulus ikhlas. Tuhan tidak mencari pelayanan yang hanya tampak baik di luar. Tuhan melihat hati. Karena itu, melayanilah bukan untuk dipuji, bukan untuk dilihat, bukan karena terpaksa, tetapi karena mengasihi Tuhan.
Ketiga, beribadah kepada Tuhan harus setia. Kesetiaan berarti tetap berpegang kepada Tuhan ketika hidup mudah maupun sulit, ketika dihargai maupun dilupakan, ketika doa cepat dijawab maupun ketika harus menunggu. Kesetiaan tidak dibuktikan hanya dalam satu hari, tetapi dalam perjalanan panjang.
Keempat, W/KI harus menjauhkan allah asing. Semua yang mengambil tempat Tuhan harus disingkirkan: iri hati, kepahitan, gengsi, keinginan dipuji, kecemasan berlebihan, kebiasaan membicarakan orang, cinta akan kenyamanan, atau dosa yang masih dipelihara.
Kelima, keluarga harus dibawa kepada Tuhan. Yosua berkata, “Aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN.” W/KI memiliki peran penting dalam membangun suasana rohani di rumah. Doakan keluarga. Ajarkan anak dan cucu mengenal Tuhan. Jadikan rumah sebagai tempat kasih, doa, dan firman bertumbuh.
Keenam, pengakuan iman harus dibuktikan dalam ketaatan. Tidak cukup berkata, “Saya percaya.” Hidup harus menunjukkan bahwa kita mendengar firman Tuhan. Ketaatan terlihat dalam cara berbicara, mengampuni, melayani, mengelola rumah, dan memperlakukan sesama.
Ketujuh, berkat Tuhan harus melahirkan syukur dan kesetiaan. Israel menerima tanah, kota, dan kebun yang bukan hasil usaha mereka sendiri. Kita pun menerima banyak berkat dari Tuhan. Jangan lupa Tuhan setelah diberkati. Pakailah berkat untuk memuliakan Tuhan.
Kedelapan, komitmen kepada Tuhan harus dibawa ke kehidupan sehari-hari. Setelah umat pulang ke milik pusakanya masing-masing, mereka harus menjalani komitmen itu. Demikian juga kita harus membawa firman ke rumah, tempat kerja, pelayanan, dan masyarakat.
Implikasi firman ini sangat nyata. Dalam keluarga, jadilah perempuan yang membawa takut akan Tuhan. Jangan hanya menjaga rumah secara lahiriah, tetapi bangunlah kehidupan rohani di dalamnya. Dalam pelayanan W/KI, melayanilah dengan tulus. Jangan biarkan pelayanan dirusak oleh persaingan, iri hati, dan keinginan dipuji.
Dalam relasi dengan sesama, jadilah pembawa damai. Jangan memakai mulut untuk merusak, tetapi untuk menguatkan. Dalam kehidupan pribadi, periksalah hati: apakah masih ada ilah asing yang harus dijauhkan?
Saudari-saudari, mari kita bertanya dengan jujur: apakah Tuhan sungguh menjadi pusat hidup saya? Apakah ibadah saya tulus atau hanya kebiasaan? Apakah pelayanan saya setia atau hanya ketika dihargai? Apakah hati saya masih menyimpan kepahitan, iri hati, atau gengsi? Apakah keluarga saya melihat saya sebagai perempuan yang takut akan Tuhan? Apakah saya sedang membawa orang lain lebih dekat kepada Tuhan atau justru menjauh melalui perkataan dan sikap saya?
Firman Tuhan hari ini memanggil kita membuat keputusan yang jelas. Jangan hidup bercabang. Jangan berkata mengasihi Tuhan tetapi tetap memelihara berhala hati. Jangan rajin beribadah tetapi hati jauh dari Tuhan. Jangan aktif melayani tetapi tidak mau dibentuk oleh firman. Pilihlah pada hari ini kepada siapa kita akan beribadah.
Marilah belajar dari Yosua yang berkata, “Aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN.” Marilah belajar dari Rut yang berkata, “Allahmulah Allahku,” lalu menunjukkan kesetiaan dalam hidup sehari-hari. Jika Tuhan adalah Allah kita, maka ikutilah Dia. Jika Tuhan sudah menolong, setialah kepada-Nya. Jika Tuhan sudah memberkati, muliakanlah Dia. Jika Tuhan sudah memanggil, jangan kembali kepada ilah lama.
Akhirnya, kiranya tema ini menjadi komitmen hidup W/KI GMIM: “Takutlah Akan Tuhan Dan Beribadahlah Kepada-Nya Dengan Tulus Ikhlas Dan Setia.” Kiranya Tuhan membersihkan hati kita dari segala berhala. Kiranya Tuhan membentuk kita menjadi perempuan-perempuan yang takut akan Dia.
Kiranya keluarga kita menjadi rumah yang menyembah Tuhan. Kiranya pelayanan kita lahir dari ketulusan. Kiranya hidup kita menjadi kesaksian kesetiaan. Dan kiranya setiap hari, dalam perkataan, pekerjaan, keputusan, pelayanan, dan relasi, kita membuktikan bahwa hanya Tuhanlah Allah kita dan hanya kepada-Nya kita beribadah.
Amin.
Editor : Clavel Lukas