Bacaan dan Renungan untuk Umat Katolik, Hari Jumat 28 Agustus 2026

Fandy Gerungan • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 15:58 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Perayaan Wajib St. Agustinus (Warna Liturgi Putih)

Bacaan I I Korintus 1:17-25

Sebab Kristus mengutus aku bukan untuk membaptis, tetapi untuk memberitakan Injil; dan itupun bukan dengan hikmat perkataan, supaya salib Kristus jangan menjadi sia-sia.

Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.

Karena ada tertulis: "Aku akan membinasakan hikmat orang-orang berhikmat dan kearifan orang-orang bijak akan Kulenyapkan."

Di manakah orang yang berhikmat? Di manakah ahli Taurat? Di manakah pembantah dari dunia ini? Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan?

Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil.

Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat,

tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan,

tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.

Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 33:1-2.4-5.10ab.11

Bersorak-sorailah, hai orang-orang benar, dalam TUHAN! Sebab memuji-muji itu layak bagi orang-orang jujur.

Bersyukurlah kepada TUHAN dengan kecapi, bermazmurlah bagi-Nya dengan gambus sepuluh tali!

Sebab firman TUHAN itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan.

Ia senang kepada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia TUHAN.

TUHAN menggagalkan rencana bangsa-bangsa; Ia meniadakan rancangan suku-suku bangsa;

tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hati-Nya turun-temurun.

Bacaan Injil Matius 25:1-13

"Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki.

Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana.

Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak,

sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka.

Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur.

Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia!

Gadis-gadis itupun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka.

Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam.

Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ.

Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup.

Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu!

Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu.

Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan 

Saudara-saudari terkasih, hari ini Gereja merayakan St. Agustinus, seorang kudus yang perjalanan hidupnya sangat menarik. Ia pernah berjalan jauh dari Tuhan. 

Mencari kepuasan dalam banyak hal, mengejar pengetahuan dan keinginan dirinya sendiri. Namun, pada akhirnya ia menemukan bahwa hati manusia tidak akan pernah benar-benar tenang sebelum menemukan Tuhan.

Kisah St. Agustinus mengingatkan kita bahwa perjalanan iman tidak selalu lurus. Ada saat ketika kita dekat dengan Tuhan, tetapi ada juga saat ketika kita menjauh. Ada masa ketika doa terasa hidup, tetapi ada pula masa ketika kita merasa kosong dan kehilangan arah.

Yang penting bukan apakah kita pernah jatuh, melainkan apakah kita mau kembali bangkit dan membuka hati bagi Tuhan.

Bacaan hari ini mengajak kita melihat bahwa ukuran kehidupan beriman bukan terutama seberapa hebat pengetahuan kita, seberapa banyak kita berbicara tentang Tuhan, atau seberapa baik kita terlihat di hadapan orang lain. 

Iman menjadi berarti ketika sungguh-sungguh mengubah cara kita menjalani kehidupan.

Kita bisa tahu banyak hal tentang Tuhan, tetapi belum tentu sungguh mengenal-Nya. Kita bisa aktif dalam kegiatan Gereja, tetapi hati kita belum tentu dekat dengan-Nya. 

Kita bisa rajin mengikuti misa, berdoa, dan terlibat dalam pelayanan, tetapi semuanya bisa menjadi rutinitas jika hati kita tidak lagi memiliki kerinduan kepada Tuhan.

Injil tentang sepuluh gadis mengingatkan kita akan sesuatu yang sederhana tetapi penting: jangan hanya memiliki pelita, tetapi pastikan minyaknya tetap ada.

Pelita dapat kita ibaratkan sebagai iman yang terlihat dari luar. Sedangkan minyak adalah kehidupan batin yang membuat iman itu tetap menyala: doa, kerendahan hati, pertobatan, kasih, kesetiaan, dan hubungan pribadi dengan Tuhan.

Masalahnya, kita sering lebih sibuk merawat pelita daripada mengisi minyaknya. Kita sibuk terlihat baik di depan orang lain, tetapi lupa memperhatikan keadaan hati sendiri.

Kita ingin dianggap sebagai orang beriman, tetapi malas berdoa. Kita ingin disebut aktif di Gereja, tetapi sulit mengampuni. Kita ingin melayani Tuhan, tetapi masih mudah mencari pujian.

St. Agustinus mengajarkan bahwa Tuhan tidak membutuhkan manusia yang kelihatan sempurna. Tuhan menghendaki hati yang jujur dan mau dibentuk.

Karena itu, jangan takut mengakui bahwa kita masih memiliki kelemahan. Jangan malu mengatakan bahwa iman kita sedang lemah. Jangan gengsi untuk kembali berdoa setelah sekian lama menjauh. 

Justru dari kerendahan hati itulah Tuhan dapat mulai bekerja dalam diri kita.
Kita juga tidak boleh menunda pertobatan. Sering kali kita berkata, “Nanti saja saya berubah.” 

Nanti kalau sudah tua saya akan lebih rajin berdoa. Nanti kalau sudah sukses saya akan lebih banyak melayani. Nanti kalau masalah sudah selesai saya akan kembali dekat dengan Tuhan.

Padahal kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok. Hari ini adalah kesempatan. Hari ini kita masih bisa memperbaiki hubungan yang rusak. Hari ini kita masih bisa meminta maaf. 

Hari ini kita masih bisa kembali berdoa. Hari ini kita masih bisa memilih untuk hidup lebih baik.

St. Agustinus akhirnya menemukan Tuhan bukan karena hidupnya sejak awal sempurna, tetapi karena ia berani membiarkan Tuhan mengubah hidupnya.

Maka, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah pelita iman kita masih menyala? Ataukah kita hanya sibuk membawa pelita tanpa pernah mengisinya dengan minyak?

Semoga melalui teladan St. Agustinus, kita belajar bahwa tidak pernah ada kata terlambat untuk kembali kepada Tuhan.

Jangan hanya terlihat memiliki iman. Milikilah iman yang benar-benar hidup. Jangan hanya membawa pelita. Jagalah agar cahayanya tetap menyala. (*)

Editor : Fandy Gerungan
renungan katolik