Khotbah Pdt Dr Stefanus Mawitjere MTh: MTPJ 30 Agustus-6 September 2026, Efesus 4:17-32

Aprilia Sahari • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 15:35 WIB
Pdt. Dr. Stefanus Mawitjere, M. Th
Pdt. Dr. Stefanus Mawitjere, M. Th

 

Pdt. Dr. Stefanus Mawitjere, M. Th
Pdt. Dr. Stefanus Mawitjere, M. Th

MTPJ 30 AGUSTUS - 05 SEPTEMBER 2026
EFESUS 4:17-32
TEMA : DIBAHARUI DALAM ROH DAN PIKIRANMU SERTA MENGENAKAN MANUSIA
BARU
Penulis : Pdt. Dr. Stefanus Mawitjere, M. Th

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, mari kita renungkan satu ilustrasi singkat tapi penuh makna berikut ini: ada seorang jemaat berkata kepada pendetanya, “Pak Pendeta, saya sudah menjadi manusia baru!”

Pendeta itu senang. “Puji Tuhan! Apa yang berubah?” 

Ia menjawab, “KTP saya sudah berubah. Dulu agamanya bukan Kristen, sekarang sudah Kristen.”

Pendeta tersenyum lalu bertanya, “Selain KTP, apa lagi yang berubah?”

Dia berpikir cukup lama, lalu berkata, “Yah… foto profil WhatsApp juga berubah, Pak. Sekarang pakai ayat Alkitab.” 
Foto profil Facebook saya juga sudah diganti dengan foto di dalam gedung gereja. Foto profil Instagram saya tak kalah luar biasa yaitu foto profil gambar Tuhan Yesus.

Pendeta bertanya lagi, “Bagaimana dengan hati, perkataan, cara memperlakukan orang lain, dan kebiasaan hidup, apakah itu sudah menjadi bagian dalam hidupmu?”

Ia terdiam.

Kemudian pendeta berkata, “Jangan-jangan KTP sudah baru, foto profil sudah rohani, tetapi manusianya masih versi lama!”

Jemaat itu tertawa tapi juga rasa sadar ternyata hidup sebagai manusia baru berbicara tentang sikap hidup yang sungguh-sungguh berkenan pada Tuhan, bukan tentang hal-hal yang bersifat lahiriah.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, surat Efesus ada tulisan rasul Paulus dan ditulis ketika ia berada dalam penjara (Ef. 3:1; 4:1; 6:20) sekitar 60–62 M. Surat ini ditujukan kepada jemaat di Efesus, sebuah kota penting di Asia Kecil yang menjadi pusat perdagangan, budaya, dan kehidupan keagamaan. Efesus juga terkenal dengan kuil Artemis (Kis. 19:23–41).

Efesus sangat terkenal dengan kuil Artemis, salah satu pusat penyembahan terbesar di dunia kuno. Kisah Para Rasul 19 menggambarkan bagaimana pemberitaan Paulus tentang Kristus berhadapan dengan kepentingan keagamaan dan ekonomi yang berkaitan dengan penyembahan Artemis. Karena itu, kehidupan jemaat Kristen berlangsung di tengah masyarakat yang kuat dipengaruhi penyembahan berhala dan nilai-nilai dunia Yunani-Romawi.

Jemaat Efesus hidup di tengah masyarakat yang memiliki nilai moral dan religius yang berbeda dari iman Kristen. 
Karena itu, Paulus menegaskan bahwa orang yang telah berada “di dalam Kristus” tidak boleh lagi hidup menurut pola kehidupan lama.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, mari kita terlebih dahulu belajar konteks Perikop Efesus 4:17–32. Efesus 4 menandai peralihan penting dalam surat ini. Pasal 1–3 terutama menjelaskan apa yang Allah telah kerjakan di dalam Kristus, sedangkan pasal 4–6 menekankan bagaimana orang percaya harus hidup sebagai respons terhadap anugerah tersebut.

Dalam Efesus 4:17–19, Paulus menggambarkan kehidupan bangsa-bangsa yang “hidup dalam kesia-siaan pikiran”, dengan hati yang telah menjadi keras dan jauh dari kehidupan Allah. Sebaliknya, orang percaya telah “belajar mengenal Kristus” (ay. 20) dan dipanggil untuk meninggalkan manusia lama serta mengenakan manusia baru (ay. 22–24).

Karena itu, ayat 25–32 memberikan bentuk praktis dari kehidupan baru tersebut: berkata benar, mengendalikan kemarahan, bekerja dengan jujur, menggunakan perkataan untuk membangun, tidak mendukakan Roh Kudus, serta membuang kepahitan, kegeraman, fitnah, dan kejahatan.

Efesus 4:17–32 mengajarkan bahwa identitas baru di dalam Kristus harus menghasilkan kehidupan baru. 

Perubahan moral bukan cara untuk mendapatkan keselamatan, melainkan buah dari keselamatan dan karya pembaruan Allah.

“Karena kita telah mengenakan manusia baru di dalam Kristus, maka kita dipanggil meninggalkan pola hidup lama dan memperlihatkan karakter Kristus dalam kehidupan sehari-hari.”

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, ketika kita membaca perikop ini ada beberapa hal penting yang dapat kita renungkan dan pelajari bersama-sama :

1. Tinggalkan pola hidup manusia lama — Efesus 4:17–19

Paulus berkata, “Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah.” Kata peripateō berarti “berjalan” dan secara figuratif menunjuk pada pola hidup. Sedangkan mataiotēs berarti “kesia-siaan atau kehampaan.” Kehidupan tanpa Allah bukan sekadar salah secara moral, tetapi kehilangan orientasi kepada Sang Pencipta. Secara Reformed, keadaan ini menunjukkan total depravity: dosa telah memengaruhi pikiran, kehendak, hati, dan seluruh orientasi manusia. Karena itu manusia membutuhkan regenerasi, bukan sekadar perbaikan moral.

Kesimpulan teologis: Hidup tanpa Allah mungkin terlihat penuh aktivitas, tetapi akhirnya kosong. Ketika hati kehilangan Tuhan sebagai tujuan, langkah yang panjang pun tidak akan pernah menemukan arah.

Ilustrasi praktis: Bayangkan seseorang mengendarai mobil dengan sangat cepat, tetapi tidak pernah memasukkan tujuan ke GPS. Ia bisa mengatakan, “Saya sudah berjalan jauh,” tetapi tidak dapat menjawab, “Saya sedang menuju ke mana?”
Demikian pula hidup tanpa Allah: banyak perjalanan, tetapi kehilangan tujuan.

2. Tanggalkan manusia lama dan kenakan manusia baru — Efesus 4:20–24

Paulus berkata, “Kamu telah belajar mengenal Kristus.” Kata emathete berarti “kamu telah belajar,” sedangkan apothesthai berarti “menanggalkan atau melepaskan.” Sebaliknya, manusia dipanggil untuk endusasthai, “mengenakan manusia baru.” Gambaran ini menunjukkan perubahan identitas dan arah kehidupan. Dalam teologi Reformed, hal ini berhubungan dengan union with Christ dan sanctification. Melalui persatuan dengan Kristus, orang percaya memiliki identitas baru; melalui pengudusan, Roh Kudus terus memperbarui hidupnya.

Kesimpulan teologis: Kita tidak hidup benar supaya menjadi milik Kristus; kita hidup benar karena telah menjadi milik Kristus. Jangan terus memakai pakaian masa lalu ketika Kristus telah mengenakan kepada kita identitas yang baru. Ilustrasi praktis: Seseorang yang baru keluar dari rumah sakit tidak mungkin terus memakai pakaian pasien ketika ia sudah kembali menjalani kehidupan normal. Ia berganti pakaian karena keadaannya telah berubah. Demikian orang percaya: karena Kristus telah mengubah identitas kita, kehidupan lama tidak lagi layak menjadi pakaian sehari-hari.

3. Hidup dalam kebenaran dan kekudusan — Efesus 4:25–28

Paulus berkata, “Buanglah dusta dan berkatalah benar.” Pseudos berarti “dusta,” sedangkan alētheuō berarti “mengatakan atau melakukan kebenaran.” Manusia baru tidak lagi membangun relasi melalui manipulasi, tetapi melalui kebenaran. Paulus kemudian berkata, “Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi,” tetapi bekerja agar dapat berbagi. Kata kleptō berarti “mencuri,” sedangkan ergazomai berarti “bekerja.” Dalam perspektif Reformed, sanctification mengubah bukan hanya perilaku tetapi orientasi hati: dari mengambil menjadi memberi. Pekerjaan juga merupakan vocation, panggilan untuk memuliakan Allah dan menjadi berkat bagi sesama.

Kesimpulan teologis: Injil mengubah cara kita berbicara, bekerja, menggunakan harta, dan memperlakukan sesama. 
Tangan yang dahulu mengambil dapat menjadi tangan yang memberi; bibir yang dahulu melukai dapat menjadi bibir yang
menyembuhkan.

Ilustrasi praktis: Sebuah keluarga memiliki seorang anak yang dahulu selalu mengambil makanan saudaranya tanpa izin. 
Setelah ditegur dan dibentuk, ia mulai membagi makanan miliknya kepada saudaranya. Perubahannya bukan sekadar “tidak mencuri lagi,” tetapi berubah menjadi orang yang memberi. Itulah gambaran Injil: bukan hanya berhenti melakukan dosa, tetapi mulai menghasilkan buah kebenaran.

4. Perkataan dan emosi harus ditaklukkan kepada Roh Kudus — Efesus 4:29–30

Paulus melarang perkataan sapros: yaitu “busuk atau merusak,” dan menggantinya dengan perkataan yang membangun. 
Perkataan orang percaya harus menjadi sarana oikodomē, “pembangunan.” Paulus kemudian berkata, “Janganlah kamu mendukakan Roh Kudus.” Dalam teologi Reformed, Roh Kudus adalah Pribadi ilahi yang bekerja dalam sanctification. 
Karena itu, kekudusan mencakup cara kita berbicara dan memperlakukan sesama.

Kesimpulan teologis: Mulut kita adalah cermin hati dan perkataan kita dapat menjadi jembatan atau tembok. Biarlah setiap kata yang keluar dari mulut kita membawa sedikit kasih Kristus kepada hati yang sedang terluka.

Ilustrasi praktis: Sebuah korek api kecil dapat menyalakan lilin, tetapi api yang sama dapat membakar rumah. Demikian perkataan: satu kalimat dapat membuat seseorang kembali memiliki harapan, tetapi satu kalimat yang kasar dapat menjadi luka yang diingat bertahun-tahun. Karena itu, sebelum berbicara, tanyakan: “Apakah kata-kata saya sedang membangun atau membakar?”

5. Gantikan kepahitan dengan kasih dan pengampunan — Efesus 4:31–32

Paulus meminta agar pikria: “kepahitan,” kegeraman, fitnah, dan kejahatan dibuang. Sebaliknya, orang percaya dipanggil untuk ramah, penuh kasih, dan mengampuni. Kata charizomai berarti “mengampuni atau memberikan sebagai kasih karunia,” dari akar charis, “anugerah.” Dasarnya adalah: “Sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” Inilah jantung teologi Reformed: sola gratia. Kita tidak mengampuni agar mendapatkan kasih karunia; kita mengampuni karena telah menerima kasih karunia. Justification melahirkan sanctification.

Kesimpulan teologis: Pengampunan bukan berarti luka itu tidak pernah ada. Pengampunan berarti kita menyerahkan luka itu kepada Allah dan menolak membiarkan luka menguasai hati kita. Karena Kristus telah mengampuni kita dengan kasih karunia, kita dipanggil menjadi saluran kasih karunia bagi orang lain.

Ilustrasi praktis: Ada orang yang menggenggam bara api karena ingin melemparkannya kepada orang yang menyakitinya. Tetapi semakin lama bara itu digenggam, semakin tangannya sendiri yang terbakar. Begitulah kepahitan. Kita mengira sedang menghukum orang lain, padahal sering kali kita sedang melukai diri sendiri. Pengampunan adalah keberanian melepaskan bara itu dan menyerahkan penghakiman kepada Tuhan.

Kesimpulan teologis :
Efesus 4:17–32 memperlihatkan bahwa kehidupan baru di dalam Kristus harus terlihat nyata: meninggalkan manusia lama, diperbarui dalam pikiran, berkata benar, mengendalikan kemarahan, bekerja dan berbagi, membangun melalui perkataan,
serta hidup dalam kasih dan pengampunan.

“Kristus tidak menyelamatkan kita supaya kita tetap mengenakan pakaian manusia lama; Ia menyelamatkan kita supaya, oleh anugerah-Nya, kita setiap hari mengenakan kehidupan baru.” 

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, lewat firman Tuhan ini kita dapat belajar ada beberapa Implikasi Firman yang sangat penting bagi kita sebagai jemaat Kristen di zaman sekarang :

1. Bijak menggunakan media sosial — Efesus 4:23, 29

Paulus mengingatkan agar pikiran terus diperbarui dan perkataan dipakai untuk membangun. Di media sosial, jangan mudah menyebarkan berita yang belum benar, menghina orang, atau menulis sesuatu hanya karena emosi. Sebelum menekan “kirim”, tanyakan: apakah ini benar, membangun, dan memuliakan Kristus?

Jangan biarkan jari kita lebih cepat daripada hikmat dan kasih.

2. Berani hidup jujur meskipun kejujuran tidak selalu menguntungkan — Efesus 4:25

Paulus berkata, “Berkatalah benar seorang kepada yang lain.” Kejujuran harus terlihat dalam pekerjaan, pelayanan, keluarga, pendidikan, maupun penggunaan uang. Jangan memalsukan laporan, menyembunyikan kesalahan, mengambil yang bukan hak, atau mengatakan sesuatu yang tidak benar demi keuntungan pribadi. Iman yang dewasa bukan hanya terlihat ketika kita beribadah, tetapi ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

Integritas adalah tetap melakukan yang benar ketika melakukan yang salah terasa lebih menguntungkan.

3. Belajar menyelesaikan kemarahan sebelum menjadi kepahitan — Efesus 4:26–27

Paulus berkata, “Janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu.” Dalam keluarga, persahabatan, dan pelayanan, konflik tidak selalu dapat dihindari, tetapi kepahitan tidak boleh dipelihara. Belajarlah berbicara, meminta maaf, mengampuni, dan berdamai.
Jangan biarkan masalah yang kecil menjadi tembok besar karena terlalu lama disimpan dalam hati.

Orang yang dewasa secara rohani bukan orang yang tidak pernah marah, tetapi orang yang tahu bagaimana membawa kemarahannya kepada Kristus.

4. Gunakan pekerjaan dan berkat Tuhan untuk menjadi berkat — Efesus 4:28 

Paulus tidak hanya berkata, “jangan mencuri,” tetapi juga “bekerja keras” agar dapat berbagi dengan orang yang berkekurangan. Karena itu, pekerjaan, jabatan, usaha, kemampuan, dan penghasilan adalah kepercayaan Tuhan. Jangan hanya bertanya, “Apa yang bisa saya dapat?” tetapi juga, “Apa yang dapat saya berikan?”

Tuhan memberkati tangan kita bukan hanya supaya penuh, tetapi supaya dapat terbuka untuk memberkati orang lain.

5. Tinggalkan kebiasaan lama yang tidak sesuai dengan Kristus — Efesus 4:22–24
Manusia baru tidak hanya memiliki identitas baru, tetapi juga cara hidup yang baru.
Tinggalkan kebiasaan yang dahulu menguasai hidup: kebencian, kebohongan, iri hati, kesombongan, kecanduan, dan perilaku yang menjauhkan kita dari Tuhan.

Ganti kebohongan dengan kejujuran
Ganti kemarahan dan kepahitan dengan pengampunan
Ganti sikap mengambil/mencuri dengan sikap memberi
Ganti perkataan yang melukai dengan perkataan yang membangun

Jangan terus mengenakan pakaian lama ketika Kristus telah memberikan kehidupan yang baru. Manusia lama hidup di bawah kuasa dosa; manusia baru hidup oleh anugerah yang berdaulat di dalam Kristus.” Amin (SFM_777)

Editor : Aprilia Sahari
MTPJ GMIM Renungan GMIM