Bacaan: Efesus 4:17-32
Tema: “Dibaharui Dalam Roh Dan Pikiranmu Serta Mengenakan Manusia Baru”
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, setiap orang tentu ingin menjadi lebih baik. Kita ingin keluarga kita lebih baik, hubungan dengan pasangan lebih baik, hubungan dengan anak-anak lebih baik, pelayanan lebih baik, pekerjaan lebih baik, dan kehidupan kita juga semakin baik. Tetapi sering kali kita ingin perubahan terjadi pada keadaan di luar diri kita, sementara Tuhan justru mulai bekerja dari dalam diri kita.
Kita sering berpikir, “Kalau keadaan berubah, saya akan lebih sabar.” “Kalau orang lain memperlakukan saya dengan baik, saya juga akan mengasihi.” “Kalau masalah selesai, saya akan tenang.” “Kalau kehidupan ekonomi lebih baik, saya akan bersyukur.” Padahal firman Tuhan hari ini mengajarkan sesuatu yang berbeda. Perubahan hidup yang sejati tidak pertama-tama dimulai dari keadaan di luar diri kita, tetapi dari roh dan pikiran kita.
Baca Juga: Renungan Efesus 4:17-32, Dibaharui Dalam Roh Dan Pikiranmu Serta Mengenakan Manusia Baru
Ada orang yang sudah bertahun-tahun menjadi orang Kristen, tetapi cara berpikirnya masih sama seperti dahulu. Masih mudah marah, masih suka menyimpan dendam, masih senang membicarakan kelemahan orang lain, masih sulit mengampuni, masih mudah iri ketika melihat orang lain berhasil, masih menggunakan kebohongan untuk menyelesaikan masalah, dan masih menjadikan kepentingan diri sendiri sebagai pusat kehidupan.
Karena itu, menjadi orang Kristen bukan hanya soal perubahan status. Kita bukan hanya berpindah dari orang yang tidak mengenal Kristus menjadi orang yang datang ke gereja. Tuhan menghendaki perubahan yang lebih dalam. Tuhan ingin membaharui hati, roh, pikiran, perkataan, dan perbuatan kita.
Paulus berkata dalam Efesus 4:23, supaya kita “dibaharui di dalam roh dan pikiranmu.” Kemudian pada ayat 24, kita diperintahkan untuk “mengenakan manusia baru.”
Baca Juga: Inilah Konsep Revisi Tata Gereja GMIM 2026 Bagian Tata Dasar
Ini berarti ada kehidupan lama yang harus kita tinggalkan dan ada kehidupan baru yang harus kita jalani. Kita tidak dipanggil untuk menjadi manusia lama yang hanya memakai pakaian agama. Kita dipanggil menjadi manusia baru di dalam Kristus.
Tema ini sangat penting bagi kehidupan kita sekarang. Kita hidup dalam zaman yang penuh perubahan. Teknologi berkembang sangat cepat, media sosial membuat informasi bergerak dalam hitungan detik, manusia semakin mudah berkomunikasi tetapi kadang semakin sulit memahami satu sama lain.
Orang dapat dengan mudah memberikan komentar, menghakimi, menghina, menyebarkan berita yang belum tentu benar, dan melampiaskan kemarahan melalui media sosial.
Karena itu, pertanyaan penting bagi kita adalah: Apakah perkembangan zaman juga diikuti dengan pembaruan hati dan pikiran kita?
Apakah kita semakin menyerupai Kristus? Apakah cara berpikir kita semakin sesuai dengan firman Tuhan? Apakah perkataan kita semakin membangun? Apakah kita semakin mudah mengampuni? Apakah kita semakin jujur? Apakah kita semakin mengasihi? Ataukah kita masih membawa manusia lama ke dalam kehidupan baru bersama Kristus?
Firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk berhenti sejenak, melihat ke dalam diri, dan membiarkan Tuhan memperbarui kehidupan kita.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Surat Efesus secara tradisional dikaitkan dengan Rasul Paulus dan ditujukan kepada jemaat di Efesus. Efesus merupakan salah satu kota penting di Asia Kecil, yang sekarang berada di wilayah Turki. Kota ini menjadi pusat perdagangan, kebudayaan, politik, dan kehidupan keagamaan.
Efesus juga terkenal sebagai pusat penyembahan kepada dewi Artemis. Kehidupan masyarakat di kota itu sangat dipengaruhi oleh kepercayaan, kebiasaan, dan nilai-nilai yang tidak selalu sesuai dengan iman kepada Kristus.
Jemaat Kristen hidup di tengah lingkungan seperti itu. Karena itu, mereka menghadapi tantangan untuk tetap hidup sebagai pengikut Kristus. Mereka tidak dipanggil untuk melarikan diri dari masyarakat, tetapi untuk hidup berbeda di tengah masyarakat.
Surat Efesus menjelaskan terlebih dahulu mengenai karya keselamatan Allah di dalam Kristus. Paulus berbicara tentang kasih karunia, penebusan, pengampunan dosa, persatuan umat percaya, dan identitas baru yang diberikan kepada mereka yang percaya kepada Kristus.
Setelah menjelaskan siapa orang percaya di dalam Kristus, Paulus kemudian menjelaskan bagaimana seharusnya mereka hidup.
Dengan kata lain, Paulus tidak berkata, “Berubahlah supaya Allah menyelamatkan kamu.” Sebaliknya, karena Allah telah menyelamatkan dan memberikan kehidupan baru, maka orang percaya dipanggil untuk hidup sesuai dengan identitas baru tersebut.
Efesus pasal 4 menjadi bagian penting karena Paulus mulai berbicara mengenai perubahan kehidupan secara praktis.
Orang yang sudah mengenal Kristus tidak boleh lagi hidup seperti manusia lama. Mereka harus meninggalkan pola kehidupan lama dan mengenakan kehidupan baru.
Karena itu, Efesus 4:17-32 bukan hanya berbicara tentang perilaku, tetapi tentang transformasi kehidupan.
Pembaruan itu dimulai dari roh dan pikiran, kemudian terlihat dalam perkataan, pekerjaan, hubungan dengan sesama, cara menghadapi kemarahan, cara mengampuni, dan seluruh kehidupan.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Apa yang kita pikirkan akan memengaruhi apa yang kita katakan. Apa yang kita katakan akan memengaruhi tindakan kita. Tindakan yang terus dilakukan akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan kemudian membentuk karakter.
Karena itu, Tuhan tidak hanya berkata, “Ubahlah perilakumu,” tetapi terlebih dahulu berkata, “Dibaharui dalam roh dan pikiranmu.”
Pikiran perlu diperbarui oleh kebenaran Tuhan. Kalau dahulu kita berpikir bahwa membalas kejahatan adalah sesuatu yang wajar, sekarang kita belajar mengampuni.
Kalau dahulu kita berpikir bahwa kekayaan adalah ukuran keberhasilan, sekarang kita belajar bahwa hidup yang berkenan kepada Tuhan jauh lebih penting.
Kalau dahulu kita berpikir bahwa orang yang berbeda dengan kita harus dijauhi, sekarang kita belajar mengasihi dan menghargai.
Kalau dahulu kita berpikir bahwa masalah harus diselesaikan dengan kemarahan, sekarang kita belajar menghadapi masalah dengan doa, kesabaran, dan kasih.
Manusia baru berarti kehidupan yang semakin diarahkan kepada kehendak Allah.
Pembahasan Ayat Demi Ayat
Ayat 17-19. Paulus memulai bagian ini dengan sebuah penegasan yang serius supaya orang-orang percaya tidak lagi hidup seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah. Yang dimaksud bukan sekadar perubahan identitas dari orang yang dahulu belum percaya menjadi orang yang sekarang sudah percaya, tetapi perubahan cara hidup yang benar-benar terlihat dalam kehidupan sehari-hari.
Paulus mengatakan bahwa bangsa-bangsa hidup dengan pikiran yang sia-sia, pengertian mereka menjadi gelap, dan mereka jauh dari kehidupan yang berasal dari Allah karena kedegilan hati mereka. Ketika hati manusia terus menolak kebenaran Tuhan, lama-kelamaan kepekaan terhadap dosa dapat hilang. Sesuatu yang dahulu dianggap salah dapat menjadi biasa, bahkan sesuatu yang dahulu membuat hati merasa bersalah akhirnya tidak lagi dirasakan sebagai kesalahan. Inilah yang menjadi bahaya kehidupan manusia lama.
Dosa bukan hanya memengaruhi tindakan, tetapi juga memengaruhi cara seseorang berpikir dan melihat kehidupan. Dalam keadaan sekarang, kita dapat melihat bagaimana manusia mudah dibentuk oleh lingkungan, media sosial, budaya konsumtif, persaingan, keinginan untuk mendapatkan pengakuan, dan berbagai informasi yang terus masuk ke dalam pikiran.
Karena itu, orang percaya harus berhati-hati terhadap apa yang membentuk pikirannya. Jangan sampai kita lebih banyak membiarkan dunia mengajar kita daripada membiarkan firman Tuhan membentuk kita. Bagi orang percaya, pembaruan harus dimulai dengan kesediaan untuk membuka hati kepada Tuhan dan mengakui bahwa masih ada bagian-bagian dalam kehidupan yang perlu diubah.
Jangan sampai kita sudah lama menjadi orang Kristen tetapi masih membawa pola pikir manusia lama, masih mudah marah, masih suka menghakimi, masih menyimpan iri hati, masih sulit mengampuni, dan masih mencari kepuasan diri sendiri. Kristus memanggil kita bukan hanya untuk mengetahui kebenaran, tetapi untuk hidup dalam kebenaran.
Ayat 20-21. Paulus kemudian mengingatkan bahwa kehidupan seperti itu bukanlah sesuatu yang dipelajari oleh jemaat ketika mereka mengenal Kristus. Mereka telah mendengar tentang Kristus dan menerima pengajaran di dalam Dia sesuai dengan kebenaran yang ada dalam Yesus. Ini menunjukkan bahwa mengenal Kristus seharusnya menghasilkan perubahan kehidupan.
Kekristenan bukan hanya pengetahuan mengenai Yesus, bukan hanya kemampuan menghafal ayat Alkitab, bukan hanya kehadiran dalam ibadah, dan bukan hanya keaktifan dalam pelayanan, tetapi sebuah kehidupan yang semakin diarahkan kepada kehendak Kristus. Seseorang dapat mengetahui banyak hal tentang Tuhan tetapi belum tentu membiarkan Tuhan menguasai hidupnya.
Karena itu, kita perlu bertanya kepada diri sendiri, apakah setelah sekian lama mengikuti Kristus ada perubahan yang dapat dilihat dalam kehidupan kita? Apakah cara kita berbicara kepada pasangan dan anak-anak sudah berubah? Apakah cara kita menghadapi masalah sudah berubah? Apakah kita semakin mudah mengampuni orang yang menyakiti kita? Apakah kita semakin jujur dalam pekerjaan? Apakah kita semakin mampu mengendalikan emosi? Semua itu menjadi bagian dari kesaksian iman.
Orang-orang yang hidup dekat dengan kita seharusnya dapat merasakan bahwa Kristus sedang bekerja dalam diri kita. Sebab ketika seseorang sungguh-sungguh belajar tentang Kristus, kebenaran Kristus tidak berhenti sebagai pengetahuan dalam kepala, tetapi masuk ke dalam hati dan kemudian terlihat melalui sikap serta tindakan.
Ayat 22. Paulus berkata bahwa jemaat harus menanggalkan manusia lama yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan. Gambaran “menanggalkan” dapat kita bayangkan seperti seseorang yang membuka pakaian lama yang sudah tidak layak dipakai.
Manusia lama menunjuk kepada kehidupan yang dikuasai oleh dosa, keinginan yang salah, kebiasaan buruk, dan pola pikir yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Karena itu, menjadi pengikut Kristus berarti ada sesuatu yang harus kita lepaskan. Kita tidak dapat terus mempertahankan kebiasaan lama sambil mengaku sedang hidup dalam Kristus.
Kalau dahulu kita terbiasa membalas ketika disakiti, sekarang kita harus belajar mengampuni; kalau dahulu kita mudah berkata kasar, sekarang kita harus belajar menjaga perkataan; kalau dahulu kita suka membicarakan kelemahan orang lain, sekarang kita harus belajar menutup aib dan membangun sesama; kalau dahulu kita hidup hanya untuk kepentingan diri sendiri, sekarang kita dipanggil memperhatikan kebutuhan orang lain. Menanggalkan manusia lama memang tidak selalu mudah karena ada kebiasaan yang sudah berlangsung bertahun-tahun dan bahkan sudah menjadi bagian dari karakter.
Tetapi firman Tuhan mengingatkan bahwa kita tidak boleh menjadikan kebiasaan lama sebagai alasan untuk tidak berubah. Tuhan memanggil kita untuk berani mengatakan bahwa apa yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya harus ditinggalkan. Pertobatan bukan hanya merasa menyesal karena melakukan kesalahan, tetapi juga mengambil keputusan untuk meninggalkan kehidupan lama dan berjalan dalam kehidupan yang baru.
Ayat 23. Selanjutnya Paulus berkata bahwa kita harus dibaharui dalam roh dan pikiran. Inilah inti yang sangat penting dari perikop ini karena Paulus menunjukkan bahwa perubahan kehidupan harus dimulai dari dalam. Pikiran manusia perlu terus-menerus diperbarui oleh kebenaran Tuhan. Cara kita melihat diri sendiri, melihat keluarga, melihat pekerjaan, melihat keberhasilan, melihat kegagalan, dan melihat orang lain harus semakin sesuai dengan cara Tuhan melihat kehidupan.
Jika dahulu ketika seseorang menyakiti kita, kita berpikir bahwa satu-satunya jalan adalah membalas, maka pembaruan pikiran membuat kita belajar menyerahkan persoalan kepada Tuhan dan memilih mengampuni. Jika dahulu kita merasa iri ketika melihat orang lain berhasil, pembaruan pikiran membuat kita belajar bersyukur dan ikut bersukacita atas berkat yang diterima orang lain.
Jika dahulu masalah membuat kita langsung putus asa, pembaruan pikiran membuat kita belajar melihat bahwa Tuhan tetap bekerja sekalipun kita belum melihat jalan keluar. Inilah sebabnya kehidupan rohani tidak boleh berhenti pada aktivitas keagamaan. Kita membutuhkan firman Tuhan yang terus membentuk cara berpikir kita.
Kita membutuhkan doa yang membuat hati kita terbuka kepada Tuhan. Kita membutuhkan Roh Kudus yang menegur, menghibur, dan mengarahkan kita. Pembaruan pikiran adalah proses yang terus berlangsung sepanjang hidup. Kita tidak boleh merasa sudah selesai dibentuk oleh Tuhan, sebab setiap hari selalu ada bagian dalam diri kita yang perlu diperbarui.
Ayat 24. Setelah berbicara tentang menanggalkan manusia lama dan diperbarui dalam roh serta pikiran, Paulus berkata supaya orang percaya mengenakan manusia baru yang telah diciptakan menurut kehendak Allah dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.
Manusia baru bukan sekadar manusia yang berhenti melakukan beberapa kesalahan, tetapi manusia yang mulai menjalani kehidupan yang sesuai dengan kehendak Allah. Karena itu, pembaruan harus menghasilkan sesuatu yang nyata. Kalau manusia lama suka berkata kasar, manusia baru belajar menggunakan perkataan untuk membangun. Kalau manusia lama menyimpan dendam, manusia baru belajar mengampuni.
Kalau manusia lama hanya memikirkan kepentingan sendiri, manusia baru belajar berbagi. Kalau manusia lama hidup dalam kebohongan, manusia baru memilih kebenaran. Dengan demikian, manusia baru adalah kehidupan yang semakin menyerupai karakter Kristus. Hal ini juga berarti bahwa kehidupan kita tidak boleh terpecah antara kehidupan di gereja dan kehidupan di luar gereja.
Kita tidak boleh terlihat baik ketika berada di tengah jemaat tetapi menjadi pribadi yang berbeda ketika berada di rumah, di tempat kerja, atau ketika menggunakan media sosial. Manusia baru berarti ada kesatuan antara iman dan kehidupan. Apa yang kita percaya harus terlihat dalam cara kita hidup.
Ayat 25. Paulus kemudian memberikan contoh yang sangat konkret dengan berkata supaya setiap orang membuang dusta dan berkata benar kepada sesamanya karena kita adalah sesama anggota. Kejujuran menjadi salah satu tanda kehidupan baru. Kebohongan dapat merusak kepercayaan dalam keluarga, persahabatan, pekerjaan, bahkan dalam pelayanan gereja.
Kadang orang menganggap kebohongan kecil tidak terlalu berbahaya, tetapi kebohongan yang terus dipelihara dapat menjadi kebiasaan dan akhirnya merusak karakter. Karena itu, manusia baru harus belajar hidup dalam kebenaran sekalipun terkadang berkata jujur membutuhkan keberanian dan mungkin membuat kita harus menerima konsekuensi tertentu. Dalam keluarga, kejujuran membangun kepercayaan antara suami dan istri, orang tua dan anak. Dalam pekerjaan, kejujuran menunjukkan bahwa kita takut akan Tuhan.
Dalam pelayanan, kejujuran menjaga hubungan dan kepercayaan antaranggota jemaat. Bahkan dalam dunia digital, kita dipanggil untuk tidak menyebarkan informasi yang belum tentu benar hanya karena informasi tersebut menarik atau sesuai dengan pendapat kita. Orang yang mengenakan manusia baru harus belajar mencintai kebenaran karena Kristus sendiri adalah kebenaran.
Ayat 26-27. Paulus kemudian berbicara mengenai kemarahan. Ia tidak mengatakan bahwa orang percaya sama sekali tidak boleh marah, sebab marah merupakan salah satu emosi manusia. Yang Paulus tekankan adalah jangan sampai kemarahan membawa kita kepada dosa dan jangan membiarkan kemarahan berlarut-larut.
Ada kemarahan yang muncul karena ketidakadilan, tetapi ada juga kemarahan yang lahir dari ego, gengsi, dan keinginan untuk menang sendiri. Dalam kehidupan keluarga, kemarahan sering kali membuat seseorang mengucapkan kata-kata yang sebenarnya tidak ingin ia ucapkan.
Setelah emosi reda, perkataan tersebut mungkin sudah meninggalkan luka yang sulit disembuhkan. Karena itu Paulus berkata, “Janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu.” Artinya, jangan memelihara kemarahan sampai berubah menjadi kepahitan. Kalau ada masalah, selesaikan dengan kasih. Kalau ada kesalahan, belajar menegur dengan cara yang benar. Kalau kita bersalah, beranilah meminta maaf. Kalau orang lain meminta maaf, belajarlah mengampuni.
Paulus kemudian menambahkan agar kita tidak memberikan kesempatan kepada Iblis. Ketika kemarahan, kebencian, dan kepahitan terus dipelihara, hubungan dapat rusak dan kehidupan rohani menjadi lemah. Karena itu, manusia baru bukan berarti tidak pernah mengalami konflik, tetapi manusia baru belajar menyelesaikan konflik dengan cara yang sesuai dengan kehendak Kristus.
Ayat 28. Paulus kemudian memberikan contoh lain mengenai perubahan hidup dengan mengatakan bahwa orang yang mencuri jangan mencuri lagi, tetapi hendaknya bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik supaya dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan. Perubahan yang dimaksud Paulus sangat jelas: bukan hanya berhenti melakukan kejahatan, tetapi menggantinya dengan kehidupan yang menghasilkan kebaikan. Tangan yang dahulu mengambil sekarang menjadi tangan yang bekerja dan memberi.
Prinsip ini sangat penting dalam kehidupan orang percaya karena berkat Tuhan tidak diberikan hanya untuk dinikmati sendiri. Tuhan memberkati kita supaya melalui kehidupan kita ada orang lain yang merasakan pertolongan. Karena itu, bekerja dengan sungguh-sungguh, menggunakan kemampuan dengan baik, membantu orang yang membutuhkan, dan berbagi dengan sesama merupakan bagian dari kehidupan manusia baru.
Dalam konteks sekarang, kita juga dipanggil untuk menggunakan pekerjaan, kemampuan, jabatan, dan sumber daya yang kita miliki secara bertanggung jawab. Jangan menggunakan kesempatan untuk mengambil keuntungan dengan cara yang tidak benar. Jangan memanfaatkan kelemahan orang lain. Sebaliknya, jadikan apa yang Tuhan percayakan kepada kita sebagai alat untuk membawa kebaikan.
Ayat 29. Paulus kemudian berbicara mengenai perkataan dan berkata supaya tidak ada perkataan kotor keluar dari mulut, tetapi hanya perkataan yang baik untuk membangun sesuai kebutuhan supaya memberikan kasih karunia kepada mereka yang mendengarnya. Ini sangat relevan dengan kehidupan sekarang karena manusia memiliki begitu banyak kesempatan untuk berbicara, bukan hanya secara langsung tetapi juga melalui media sosial, pesan singkat, komentar, dan berbagai platform digital.
Satu kalimat yang ditulis dalam keadaan marah dapat menyebar kepada banyak orang dan meninggalkan luka yang panjang. Karena itu, manusia baru harus belajar mengendalikan perkataan. Sebelum berbicara, kita perlu bertanya apakah perkataan itu benar, apakah perlu disampaikan, apakah waktunya tepat, dan apakah perkataan itu dapat membangun. Bukan berarti kita tidak boleh menegur atau menyampaikan kritik, tetapi teguran pun harus dilakukan dengan kasih dan tujuan membangun.
Mulut orang percaya seharusnya menjadi alat untuk memberikan penguatan, penghiburan, nasihat, dan kasih karunia. Jangan sampai orang lain lebih sering terluka karena perkataan kita daripada dikuatkan oleh perkataan kita. Kalau Kristus sedang memperbarui hati kita, maka perubahan itu seharusnya juga terdengar melalui cara kita berbicara.
Ayat 30. Paulus kemudian berkata supaya jangan mendukakan Roh Kudus Allah yang telah memeteraikan kita menjelang hari penyelamatan. Ayat ini mengingatkan bahwa kehidupan orang percaya tidak berjalan tanpa kehadiran Tuhan. Roh Kudus bekerja di dalam diri orang percaya, membimbing, mengingatkan, menegur, dan membentuk kehidupan.
Karena itu, ketika hati kita ditegur oleh firman Tuhan, jangan mengeraskan hati. Ketika kita sadar bahwa ada kesalahan yang harus diperbaiki, jangan mencari alasan untuk membenarkan diri. Ketika kita tahu bahwa ada seseorang yang perlu kita ampuni, jangan terus mempertahankan ego.
Pembaruan hidup terjadi ketika kita memberi ruang kepada Roh Kudus untuk bekerja. Kita perlu belajar peka terhadap teguran Tuhan dan bersedia mengatakan, “Tuhan, saya mau berubah.” Jangan sampai hati kita begitu keras sehingga kita mendengar firman berkali-kali tetapi tidak pernah membiarkannya menyentuh kehidupan.
Ayat 31. Paulus kemudian menyebut beberapa hal yang harus dibuang dari kehidupan orang percaya, yaitu kepahitan, kegeraman, pertikaian, fitnah, dan segala kejahatan. Semua hal tersebut memiliki kemampuan merusak hubungan. Kepahitan membuat seseorang terus hidup dalam masa lalu. Kegeraman membuat emosi menguasai diri. Pertikaian membuat hubungan menjadi penuh konflik.
Fitnah menghancurkan nama baik orang lain dan merusak persaudaraan. Karena itu Paulus tidak meminta supaya semuanya sekadar dikurangi, tetapi supaya semuanya dibuang. Ini merupakan panggilan yang serius untuk membersihkan hati. Kadang kita ingin Tuhan mengubah orang lain, tetapi Tuhan justru mengajak kita terlebih dahulu melihat apa yang ada dalam hati kita.
Kita ingin orang lain meminta maaf, tetapi Tuhan mungkin sedang mengajar kita untuk mengampuni. Kita ingin orang lain berubah, tetapi Tuhan sedang mengubah cara kita merespons mereka. Manusia baru tidak berarti kita membenarkan kesalahan orang lain, tetapi kita tidak membiarkan kesalahan orang lain menjadi alasan untuk hidup dalam kebencian.
Ayat 32. Paulus menutup bagian ini dengan sebuah panggilan yang sangat indah: hendaklah kita ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kita. Di sinilah dasar kehidupan manusia baru terlihat dengan sangat jelas. Kita mengampuni bukan karena semua orang selalu layak menerima pengampunan kita, tetapi karena kita sendiri telah menerima pengampunan Allah.
Kita mengasihi karena Kristus telah lebih dahulu mengasihi kita. Kita dapat bersikap ramah karena Tuhan telah menunjukkan kemurahan-Nya kepada kita. Dengan demikian, manusia baru bukan hanya manusia yang berhenti melakukan kejahatan, tetapi manusia yang mulai menghadirkan karakter Kristus dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika kita mengampuni, kita sedang menunjukkan Kristus. Ketika kita menolong, kita sedang menunjukkan Kristus. Ketika kita berbicara dengan kasih, kita sedang menunjukkan Kristus. Ketika kita berdamai dengan orang lain, kita sedang menunjukkan bahwa Injil benar-benar bekerja dalam hidup kita.
Penutup
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, firman Efesus 4:17-32 hari ini membawa kita kepada sebuah pertanyaan yang sangat sederhana tetapi sangat dalam: Apakah saya sudah benar-benar mengenakan manusia baru?
Mungkin secara usia kita sudah bertambah. Mungkin secara pengalaman kita sudah banyak. Mungkin secara pelayanan kita sudah lama. Mungkin secara pengetahuan Alkitab kita sudah cukup banyak.
Tetapi pertanyaannya bukan hanya berapa lama kita menjadi orang percaya. Pertanyaannya adalah: apakah hidup kita semakin menyerupai Kristus?
Apakah hati kita semakin lembut? Apakah kita semakin mudah mengampuni? Apakah perkataan kita semakin membangun? Apakah kita semakin jujur? Apakah kita semakin rendah hati? Apakah kita semakin mampu mengendalikan kemarahan?
Apakah kita semakin mengasihi orang yang berbeda dengan kita? Apakah kita semakin mampu bersyukur? Apakah keluarga kita dapat merasakan kehadiran Kristus melalui hidup kita?
Tema hari ini berkata, “Dibaharui Dalam Roh Dan Pikiranmu Serta Mengenakan Manusia Baru.”
Ada tiga hal penting yang harus kita lakukan.
Pertama, tanggalkan manusia lama.
Jangan terus membawa kebiasaan lama ke dalam kehidupan baru bersama Kristus. Ada sesuatu yang harus kita lepaskan. Mungkin kepahitan. Mungkin kebencian. Mungkin kebohongan. Mungkin amarah. Mungkin iri hati. Mungkin kesombongan. Mungkin kebiasaan menghakimi. Apa pun itu, jangan terus dipelihara.
Kedua, biarkan Tuhan memperbarui roh dan pikiran kita.
Pembaruan tidak dapat hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri. Kita membutuhkan Roh Kudus dan firman Tuhan.
Isi pikiran dengan firman. Isi hati dengan doa. Belajar melihat kehidupan dari perspektif Tuhan. Ketika dunia berkata, “Balas,” Tuhan berkata, “Ampuni.”
Ketika dunia berkata, “Utamakan dirimu,” Tuhan mengajar kita mengasihi. Ketika dunia berkata, “Kamu harus menang dengan cara apa pun,” Tuhan mengajar kita hidup dalam kebenaran. Ketika dunia berkata, “Jangan peduli kepada orang lain,” Tuhan mengajar kita berbagi.
Ketiga, kenakan manusia baru.
Jangan berhenti pada tahap meninggalkan dosa. Kenakan karakter Kristus. Jadilah pribadi yang ramah. Jadilah pribadi yang penuh kasih. Jadilah pribadi yang mau mengampuni. Jadilah pribadi yang jujur. Jadilah pribadi yang membangun. Jadilah pribadi yang membawa damai. Jadilah pribadi yang dapat menjadi kesaksian tentang Kristus.
Saudara-saudara, pembaruan itu harus dimulai dari diri sendiri. Jangan menunggu pasangan berubah terlebih dahulu. Jangan menunggu anak berubah terlebih dahulu. Jangan menunggu teman berubah terlebih dahulu. Jangan menunggu gereja berubah terlebih dahulu.
Jangan menunggu keadaan menjadi lebih baik terlebih dahulu. Mulailah dari diri sendiri. Kalau selama ini kita mudah marah, mintalah Tuhan mengubah kita. Kalau selama ini kita sulit mengampuni, mintalah Tuhan melembutkan hati. Kalau selama ini perkataan kita sering melukai, mintalah Tuhan menjaga mulut kita.
Kalau selama ini kita mudah iri, mintalah Tuhan mengajar kita bersyukur. Kalau selama ini kita suka menghakimi, mintalah Tuhan memberi kita hati yang penuh kasih. Kalau selama ini kita hidup dalam kebiasaan lama, beranilah menanggalkannya. Jangan hanya meminta Tuhan mengubah keadaan. Mintalah Tuhan mengubah diri kita. Sebab terkadang kita berdoa, “Tuhan, ubahlah keluargaku,” padahal Tuhan berkata, “Aku ingin mulai mengubahmu.”
Kita berdoa, “Tuhan, ubahlah orang itu,” tetapi Tuhan berkata, “Biarkan Aku lebih dahulu mengubah hatimu.” Kita berdoa, “Tuhan, berikan aku kehidupan yang baru,” tetapi Tuhan berkata, “Tanggalkan manusia lama dan kenakan manusia baru.” Inilah pekerjaan Tuhan dalam kehidupan kita. Dan perubahan itu harus terlihat.
Terlihat dalam rumah. Terlihat dalam perkataan. Terlihat dalam pekerjaan. Terlihat dalam pelayanan. Terlihat dalam cara kita menggunakan media sosial. Terlihat dalam cara kita memperlakukan orang yang berbeda dengan kita. Terlihat dalam cara kita menghadapi masalah. Terlihat dalam cara kita mengampuni.
Terlihat dalam cara kita mengasihi. Kiranya ketika orang melihat kehidupan kita, mereka dapat berkata, “Ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya.” Bukan karena kita hebat. Bukan karena kita sempurna. Tetapi karena Kristus sedang bekerja dalam hidup kita.
Saudara-saudara, manusia lama selalu ingin kembali. Karena itu pembaruan bukan pekerjaan satu kali. Setiap hari kita harus kembali kepada Tuhan. Setiap hari kita harus membiarkan firman mengoreksi kita. Setiap hari kita harus membuka hati kepada Roh Kudus.
Hari ini mungkin kita masih jatuh dalam kesalahan yang sama. Jangan menyerah. Datang kembali kepada Tuhan. Hari ini mungkin hati kita masih penuh luka. Serahkan kepada Tuhan. Hari ini mungkin kita masih sulit mengampuni.
Minta pertolongan Tuhan. Hari ini mungkin kita masih mudah marah. Belajarlah menyerahkan emosi kepada Tuhan. Hari ini mungkin kita masih membawa banyak kebiasaan lama. Mulailah menanggalkannya satu demi satu.
Tuhan tidak memanggil kita untuk menjadi sempurna dengan kekuatan sendiri. Tuhan memanggil kita untuk terus dibentuk dan diperbarui di dalam Kristus. Karena itu, marilah kita menjadikan firman hari ini sebagai doa pribadi:
“Tuhan, baharuilah roh dan pikiranku. Tanggalkan dari hidupku manusia lama yang masih menguasai diriku. Buanglah kepahitan, kemarahan, kebencian, kebohongan, kesombongan, iri hati, dan segala sesuatu yang tidak berkenan kepada-Mu. Ajarlah aku mengenakan manusia baru. Jadikan perkataanku perkataan yang membangun. Jadikan tanganku tangan yang suka memberi. Jadikan hatiku hati yang mau mengampuni. Jadikan hidupku hidup yang benar dan kudus. Biarlah keluargaku melihat kasih-Mu melalui hidupku. Biarlah gereja melihat kesetiaan-Mu melalui pelayananku. Dan biarlah orang-orang yang bertemu denganku dapat melihat Kristus melalui kehidupanku.”
Akhirnya, marilah kita ingat bahwa manusia baru bukan sekadar manusia lama yang diperbaiki sedikit. Manusia baru adalah kehidupan yang terus-menerus dibentuk oleh Kristus.
Karena itu, tanggalkan manusia lama, biarkan Roh Tuhan membaharui roh dan pikiran kita, dan kenakan manusia baru yang hidup dalam kebenaran, kekudusan, kasih, pengampunan, kejujuran, dan damai.
Kiranya pembaruan itu bukan hanya menjadi tema khotbah hari ini, tetapi menjadi kenyataan dalam hidup kita mulai dari sekarang.
Dibaharui dalam roh dan pikiran. Tanggalkan manusia lama. Kenakan manusia baru. Hiduplah semakin menyerupai Kristus.
Amin.
Editor : Clavel Lukas