Bacaan dan Renungan untuk Umat Katolik, Hari Sabtu 29 Agustus 2026

Fandy Gerungan • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:53 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Perayaan Wajib Wafatnya S. Yohanes Pembabtis (Warna Liturgi Merah)

Bacaan I Yeremia 1:17-19

Tetapi engkau ini, baiklah engkau bersiap, bangkitlah dan sampaikanlah kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadamu. Janganlah gentar terhadap mereka, supaya jangan Aku menggentarkan engkau di depan mereka!

Mengenai Aku, sesungguhnya pada hari ini Aku membuat engkau menjadi kota yang berkubu, menjadi tiang besi dan menjadi tembok tembaga melawan seluruh negeri ini, menentang raja-raja Yehuda dan pemuka-pemukanya, menentang para imamnya dan rakyat negeri ini.

Mereka akan memerangi engkau, tetapi tidak akan mengalahkan engkau, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN."

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 71:1-2,3-4a,5-6ab,15ab,17

Pada-Mu, ya TUHAN, aku berlindung, janganlah sekali-kali aku mendapat malu.

Lepaskanlah aku dan luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepadaku dan selamatkanlah aku!

Jadilah bagiku gunung batu, tempat berteduh, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku; sebab Engkaulah bukit batuku dan pertahananku.

Ya Allahku, luputkanlah aku dari tangan orang fasik, dari cengkeraman orang-orang lalim dan kejam.

Sebab Engkaulah harapanku, ya Tuhan, kepercayaanku sejak masa muda, ya ALLAH.

Kepada-Mulah aku bertopang mulai dari kandungan, Engkau telah mengeluarkan aku dari perut ibuku; Engkau yang selalu kupuji-puji.

mulutku akan menceritakan keadilan-Mu dan keselamatan yang dari pada-Mu sepanjang hari, sebab aku tidak dapat menghitungnya.

Ya Allah, Engkau telah mengajar aku sejak kecilku, dan sampai sekarang aku memberitakan perbuatan-Mu yang ajaib;

Bacaan Injil Markus 6:17-29

Sebab memang Herodeslah yang menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya, karena Herodes telah mengambilnya sebagai isteri.

Karena Yohanes pernah menegor Herodes: "Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!"

Karena itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes dan bermaksud untuk membunuh dia, tetapi tidak dapat,

sebab Herodes segan akan Yohanes karena ia tahu, bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Tetapi apabila ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia.

Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes pada hari ulang tahunnya mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesarny perwira-perwiranya dan orang-orang terkemuka di Galilea.

Pada waktu itu anak perempuan Herodias tampil lalu menari, dan ia menyukakan hati Herodes dan tamu-tamunya. Raja berkata kepada gadis itu: "Minta dari padaku apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu!",

lalu bersumpah kepadanya: "Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku!"

Anak itu pergi dan menanyakan ibunya: "Apa yang harus kuminta?" Jawabnya: "Kepala Yohanes Pembaptis!"

Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta: "Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam!"

Lalu sangat sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya ia tidak mau menolaknya.

Raja segera menyuruh seorang pengawal dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes. Orang itu pergi dan memenggal kepala Yohanes di penjara.

Ia membawa kepala itu di sebuah talam dan memberikannya kepada gadis itu dan gadis itu memberikannya pula kepada ibunya.

Ketika murid-murid Yohanes mendengar hal itu mereka datang dan mengambil mayatnya, lalu membaringkannya dalam kuburan.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan 

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, hari ini Gereja mengenangkan wafatnya Santo Yohanes Pembaptis. Kita tidak hanya mengenang seorang tokoh besar yang pernah tampil di hadapan banyak orang. 

Tetapi seorang manusia yang berani membayar mahal harga sebuah kebenaran. Yohanes tidak memilih jalan yang mudah. Ia memilih jalan kesetiaan kepada Allah, sekalipun jalan itu akhirnya membawanya kepada penderitaan dan kematian.

Ada sesuatu yang sangat kuat dari kehidupan Yohanes: ia tidak takut kehilangan kenyamanan demi mempertahankan kebenaran. Ia berani menyampaikan apa yang benar, bahkan ketika kebenaran itu harus disampaikan kepada seorang penguasa. 

Yohanes tidak mencari popularitas, tidak mengejar jabatan, dan tidak berusaha menyenangkan semua orang. Baginya, hidup bukan tentang bagaimana dirinya diterima, melainkan bagaimana ia tetap setia kepada kehendak Allah.

Di sinilah kita bisa bercermin. Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita berhadapan dengan pilihan antara kebenaran dan kenyamanan. Kita tahu apa yang benar, tetapi takut mengatakannya. 

Kita tahu sesuatu itu salah, tetapi memilih diam karena tidak ingin kehilangan teman. Kita melihat ketidakadilan, tetapi berpikir bahwa lebih aman jika tidak ikut campur.

Kadang-kadang kita juga tergoda untuk mengikuti arus. Kita ingin diterima oleh lingkungan, mendapatkan pengakuan, menjaga hubungan, atau mempertahankan posisi. 

Akhirnya, tanpa sadar kita mulai mengorbankan prinsip demi kenyamanan. Kita tahu hati kecil kita tidak tenang, tetapi kita tetap melakukannya karena takut pada penilaian orang lain.

Yohanes Pembaptis mengingatkan kita bahwa menjadi murid Kristus berarti memiliki keberanian untuk berdiri di pihak yang benar. Kesetiaan kepada Tuhan tidak selalu membuat hidup menjadi mudah. 

Ada kalanya kita disalahpahami, ditolak, bahkan dijauhi. Namun, iman yang sejati tidak diukur dari seberapa nyaman hidup kita, melainkan dari seberapa teguh kita tetap berdiri ketika iman itu diuji.

Yang menarik, kisah wafatnya Yohanes juga memperlihatkan betapa berbahayanya ketika manusia lebih takut pada penilaian orang daripada pada suara kebenaran. Herodes sebenarnya mengetahui bahwa Yohanes adalah orang benar. 

Hatinya tersentuh oleh perkataan Yohanes. Namun, pada akhirnya ia memilih mempertahankan gengsi dan kehormatan di depan orang banyak daripada mengikuti suara hati yang benar.

Bukankah hal seperti itu juga bisa terjadi dalam diri kita? Kita sebenarnya tahu apa yang harus dilakukan, tetapi kita takut mengatakan tidak. Kita tahu harus meminta maaf, tetapi gengsi menghalangi. 

Kita tahu harus berhenti dari kebiasaan buruk, tetapi takut kehilangan kesenangan. Kita tahu harus membela yang benar, tetapi takut tidak lagi diterima oleh kelompok.

Karena itu, wafatnya Yohanes Pembaptis bukan hanya kisah tentang seorang martir yang mati karena kebenaran. Kisah ini adalah undangan bagi kita untuk bertanya kepada diri sendiri: Apakah saya masih berani setia kepada Tuhan ketika kesetiaan itu membuat hidup saya tidak nyaman?.

Menjadi orang Katolik bukan hanya soal hadir di gereja, berdoa, atau mengikuti kegiatan rohani. Semua itu penting, tetapi iman juga harus terlihat dalam keberanian kita menjalani kehidupan. 

Di tempat kerja, di sekolah, dalam keluarga, dalam pergaulan, bahkan di media sosial, kita dipanggil untuk menjadi pribadi yang jujur, adil, berani, dan tidak mudah terbawa arus.

Santo Yohanes Pembaptis menunjukkan bahwa hidup yang singkat pun dapat menjadi hidup yang berarti ketika dijalani dengan kesetiaan. Ia mungkin kehilangan hidupnya, tetapi ia tidak kehilangan kebenaran. 

Ia mungkin kehilangan kebebasan secara jasmani, tetapi tidak pernah membiarkan hatinya diperbudak oleh ketakutan.

Hari ini kita memohon rahmat agar memiliki hati seperti Yohanes: teguh dalam iman, berani dalam kebenaran, rendah hati dalam pelayanan, dan setia sampai akhir.

Semoga kita tidak menjadi orang yang hanya berani melakukan yang benar ketika semuanya aman dan mudah.

Sebab terkadang Tuhan tidak meminta kita melakukan sesuatu yang besar. Tuhan hanya meminta kita berani mengatakan yang benar, memilih yang baik, menolak yang salah, dan tetap setia meskipun tidak ada seorang pun yang memuji.

Semoga melalui teladan Santo Yohanes Pembaptis, kita belajar bahwa hidup yang sungguh berarti bukanlah hidup yang selalu mencari keamanan, tetapi hidup yang berani dipersembahkan kepada Tuhan. 

Lebih baik kehilangan kenyamanan karena mempertahankan kebenaran daripada kehilangan kebenaran demi mempertahankan kenyamanan. (*)

Editor : Fandy Gerungan
renungan katolik Renungan