Bacaan dan Renungan untuk Umat Katolik, Hari Minggu 30 Agustus 2026, Hari Minggu Biasa ke XXII

Fandy Gerungan • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 15:08 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Hari Minggu Biasa ke XXII (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I Yeremia 20:7-9

Engkau telah membujuk aku, ya TUHAN, dan aku telah membiarkan diriku dibujuk; Engkau terlalu kuat bagiku dan Engkau menundukkan aku. Aku telah menjadi tertawaan sepanjang hari, semuanya mereka mengolok-olokkan aku.

Sebab setiap kali aku berbicara, terpaksa aku berteriak, terpaksa berseru: "Kelaliman! Aniaya!" Sebab firman TUHAN telah menjadi cela dan cemooh bagiku, sepanjang hari.

Tetapi apabila aku berpikir: "Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi nama-Nya", maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 63:2,3-4,5-6,8-9

Demikianlah aku memandang kepada-Mu di tempat kudus, sambil melihat kekuatan-Mu dan kemuliaan-Mu.

Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau.

Demikianlah aku mau memuji Engkau seumur hidupku dan menaikkan tanganku demi nama-Mu.

Seperti dengan lemak dan sumsum jiwaku dikenyangkan, dan dengan bibir yang bersorak-sorai mulutku memuji-muji.

Apabila aku ingat kepada-Mu di tempat tidurku, merenungkan Engkau sepanjang kawal malam, ?

Jiwaku melekat kepada-Mu, tangan kanan-Mu menopang aku.

Tetapi orang-orang yang berikhtiar mencabut nyawaku, akan masuk ke bagian-bagian bumi yang paling bawah.

Bacaan II Roma 12:1-2

Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Bacaan Injil Matius 16:21-27

Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.

Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau."

Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia."

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.

Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?

Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara-saudari terkasih, dalam hidup ini kita tentu pernah mengalami saat ketika melakukan sesuatu yang benar justru terasa berat. Kita sudah berusaha jujur, setia, membantu orang lain, dan menjalankan tanggung jawab dengan baik.

Tetapi ternyata tidak selalu mendapat penghargaan. Bahkan kadang kita justru disalahpahami, dicemooh, atau ditinggalkan.

Dalam situasi seperti itu, sangat manusiawi kalau kita bertanya, apakah perjuangan ini masih layak diteruskan? Mengapa saya harus tetap bertahan kalau menjadi orang baik justru membuat hidup saya semakin sulit?

Pengalaman Nabi Yeremia memperlihatkan kepada kita bahwa pergumulan seperti itu bukan sesuatu yang asing dalam kehidupan orang beriman. Yeremia mengalami tekanan dan penolakan karena kesetiaannya kepada Tuhan. 

Ia merasa lelah dan ingin berhenti. Namun, semakin ia mencoba menjauh, semakin kuat dorongan dalam dirinya untuk tetap menyampaikan kehendak Tuhan.

Di sinilah kita melihat bahwa iman bukan berarti kita tidak pernah lelah. Iman juga bukan berarti kita selalu kuat dan tidak pernah mengalami keraguan. Iman berarti ketika kita lelah, kita tetap memilih untuk kembali kepada Tuhan.

Kadang Tuhan tidak langsung mengubah keadaan yang sulit, tetapi Ia menguatkan hati kita supaya mampu melewatinya. Kadang Tuhan tidak menghilangkan salib kita, tetapi Ia memberikan kekuatan agar kita tidak berhenti di tengah jalan.

Bacaan kedua mengingatkan bahwa iman bukan hanya sesuatu yang kita lakukan di dalam gereja. Seluruh kehidupan kita dipanggil untuk menjadi persembahan kepada Tuhan. 

Cara kita bekerja, berbicara, menggunakan uang, memperlakukan pasangan, mendidik anak, berteman, menggunakan media sosial, bahkan cara kita menghadapi orang yang tidak menyukai kita, semuanya dapat menjadi ungkapan iman.

Karena itu, menjadi orang Katolik bukan hanya soal rajin datang ke gereja. Menjadi murid Kristus berarti membiarkan Tuhan mengubah cara kita berpikir dan bertindak.

Sebab dunia sering menawarkan ukuran kebahagiaan yang berbeda. Dunia berkata bahwa kita harus memiliki banyak supaya bahagia. Kita harus terkenal supaya dianggap berhasil. 

Kita harus menang supaya dihargai. Kita harus memiliki segala sesuatu supaya hidup terasa berarti. Tetapi Yesus mengajak kita melihat lebih dalam. Jangan sampai kita begitu sibuk memenangkan dunia tetapi kehilangan hati kita sendiri. 

Jangan sampai kita mengejar keberhasilan tetapi kehilangan keluarga. Jangan sampai kita mengejar uang tetapi kehilangan kedamaian. Jangan sampai kita mengejar pengakuan manusia tetapi kehilangan hubungan dengan Tuhan.

Injil hari ini menjadi semakin menarik ketika kita melihat reaksi Petrus. Petrus sebenarnya mencintai Yesus. Ia tidak ingin melihat Yesus menderita. Ia ingin Yesus selamat dan bebas dari penderitaan. 

Tetapi persoalannya, Petrus melihat jalan kehidupan dari sudut pandang manusia, sementara Yesus melihatnya dalam terang kehendak Bapa.

Bukankah kita juga sering seperti Petrus? Kita ingin Tuhan memberkati, tetapi kita tidak ingin berkorban. Kita ingin sukses, tetapi tidak mau melewati proses. 

Kita ingin keluarga bahagia, tetapi tidak selalu mau belajar mengampuni. Kita ingin menjadi orang baik, tetapi tidak ingin mengalami penolakan. Kita ingin mengikuti Yesus, tetapi berharap perjalanan itu selalu nyaman.

Padahal, mengikuti Kristus berarti siap berjalan di jalan yang tidak selalu mudah. Salib dalam kehidupan kita mungkin tidak selalu berbentuk penderitaan besar. 

Salib bisa hadir dalam tanggung jawab sederhana yang harus kita jalani setiap hari. Menjadi orang tua yang sabar adalah salib. Menjadi pasangan yang setia adalah salib. Merawat anggota keluarga yang membutuhkan perhatian adalah salib. 

Tetap jujur ketika kesempatan untuk berbuat curang terbuka lebar adalah salib.
Bagi orang muda, salib bisa berarti berani mengatakan tidak ketika lingkungan mengajak kepada sesuatu yang salah. 

Berani menjaga kemurnian diri ketika banyak orang menganggap semuanya biasa. Berani tetap beriman ketika teman-teman mulai menjauh dari Tuhan. Berani memilih jalan yang benar meskipun jalan itu tidak populer.

Bagi kita semua, salib juga bisa berarti mengampuni orang yang pernah melukai hati kita. Bukan karena luka itu tidak nyata, tetapi karena kita tidak mau membiarkan luka tersebut menguasai hidup kita.

Memikul salib bukan berarti mencari-cari penderitaan. Kekristenan tidak mengajarkan kita untuk menikmati penderitaan. Tetapi ketika penderitaan, pengorbanan, dan kesulitan datang sebagai konsekuensi dari kesetiaan kepada kebenaran dan kasih, kita tidak boleh langsung melarikan diri.

Yesus sendiri menunjukkan jalan itu. Ia tahu bahwa perjalanan menuju Yerusalem berarti menghadapi penderitaan. Namun Ia tidak membatalkan misi-Nya hanya karena jalan itu sulit. 

Ia tetap berjalan karena kasih-Nya kepada Bapa dan kepada manusia jauh lebih besar daripada ketakutan-Nya terhadap penderitaan.

Di sinilah letak kekuatan seorang murid Kristus. Bukan karena ia tidak takut, tetapi karena kasih kepada Tuhan lebih besar daripada rasa takutnya.

Mungkin hari ini ada di antara kita yang sedang memikul salib yang berat. Ada yang sedang menghadapi persoalan keluarga. Ada yang sedang berjuang dengan pekerjaan. 

Ada yang merasa gagal. Ada yang sedang kecewa karena doa yang belum terjawab. Ada yang sedang berusaha mempertahankan hubungan yang terasa semakin sulit.

Jangan merasa bahwa perjuanganmu sia-sia. Tuhan melihat setiap air mata yang tidak diketahui orang lain. Tuhan mengetahui setiap pengorbanan yang tidak mendapat penghargaan. 

Tuhan mengetahui ketika kita tetap memilih berbuat baik meskipun tidak diperlakukan dengan baik. (*)

Editor : Fandy Gerungan
renungan katolik Renungan