Efesus 4:17-32
Tema: “Dibaharui Dalam Roh Dan Pikiranmu Serta Mengenakan Manusia Baru”
Saudari-saudari W/KI GMIM yang dikasihi dan diberkati Tuhan, kehidupan seorang perempuan sering dipenuhi begitu banyak peran dan tanggung jawab. Ada yang menjadi istri, ibu, oma, anak, saudari, pekerja, pelayan gereja, pengurus rumah tangga, pendamping keluarga, dan sekaligus menjadi tempat orang lain datang membawa cerita, beban, serta pergumulan.
Dalam banyak keadaan, perempuan terbiasa memberi perhatian kepada orang lain, tetapi justru sering lupa memperhatikan keadaan hati dan pikirannya sendiri. Kita dapat terlihat kuat dari luar, tetapi di dalam hati mungkin ada luka, kekecewaan, kelelahan, kepahitan, kekhawatiran, atau beban yang sudah lama disimpan.
Firman Tuhan dalam Efesus 4:17-32 mengajak kita untuk melihat bahwa kehidupan Kristen bukan hanya tentang perubahan di luar, melainkan pembaruan yang dimulai dari dalam. Tuhan tidak hanya ingin kita tampak baik di depan orang lain, tetapi ingin membaharui roh dan pikiran kita. Sebab dari pikiran yang diperbarui akan lahir perkataan yang baru, sikap yang baru, cara memperlakukan orang lain yang baru, dan kehidupan yang semakin mencerminkan Kristus.
Baca Juga: Renungan Efesus 4:17-32, Dibaharui Dalam Roh Dan Pikiranmu Serta Mengenakan Manusia Baru
Baca Juga: Materi Khotbah Efesus 4:17-32, Dibaharui Dalam Roh Dan Pikiranmu Serta Mengenakan Manusia Baru
Ada orang yang sudah lama menjadi Kristen, tetapi masih membawa pola hidup lama. Masih mudah tersinggung, masih sulit mengampuni, masih suka membicarakan orang lain, masih menyimpan luka, masih mudah iri, masih keras dalam perkataan, dan masih membiarkan emosi menguasai diri. Karena itu Paulus tidak hanya berkata supaya orang percaya mengetahui lebih banyak tentang Kristus, tetapi supaya mereka menanggalkan manusia lama, dibaharui dalam roh dan pikiran, lalu mengenakan manusia baru.
Tema kita hari ini, “Dibaharui Dalam Roh Dan Pikiranmu Serta Mengenakan Manusia Baru,” sangat penting bagi W/KI. Sebab seorang perempuan yang diperbarui oleh Tuhan akan membawa pembaruan ke dalam keluarganya. Seorang ibu yang pikirannya dibentuk oleh firman Tuhan akan lebih bijaksana dalam mendidik anak.
Seorang istri yang hatinya dibaharui akan belajar menghadapi konflik dengan kasih. Seorang oma yang hidupnya dipenuhi firman dapat menjadi sumber doa dan hikmat bagi anak serta cucu. Seorang pelayan W/KI yang dibaharui akan melayani bukan dengan iri hati, persaingan, atau keinginan dipuji, tetapi dengan ketulusan dan kasih.
Karena itu, pertanyaan firman hari ini bukan hanya, “Apakah saya aktif dalam pelayanan?” tetapi juga, “Apakah saya sungguh mengalami pembaruan?” Bukan hanya, “Apakah saya rajin beribadah?” tetapi, “Apakah cara saya berpikir sudah semakin sesuai dengan kehendak Tuhan?” Bukan hanya, “Apakah saya mengenal Kristus?” tetapi, “Apakah keluarga dan orang-orang di sekitar saya dapat melihat Kristus melalui hidup saya?”
Saudari-saudari W/KI GMIM yang dikasihi dan diberkati Tuhan,
Surat Efesus secara tradisional dikaitkan dengan Rasul Paulus dan ditujukan kepada jemaat di Efesus. Efesus adalah sebuah kota penting di Asia Kecil, wilayah yang sekarang termasuk bagian dari Turki. Kota ini merupakan pusat perdagangan, kebudayaan, politik, dan kehidupan keagamaan. Efesus juga dikenal sebagai pusat penyembahan kepada dewi Artemis, sehingga jemaat Kristen hidup di tengah lingkungan yang memiliki banyak nilai dan kebiasaan yang tidak sesuai dengan iman kepada Kristus.
Karena itu, jemaat Efesus menghadapi tantangan besar untuk hidup berbeda. Mereka tidak dipanggil untuk menjauh dari masyarakat, tetapi untuk hidup sebagai umat Allah di tengah masyarakat. Paulus mengingatkan bahwa mereka telah menerima identitas baru di dalam Kristus. Karena itu, cara hidup mereka juga harus berubah.
Dalam bagian awal Surat Efesus, Paulus banyak berbicara mengenai karya keselamatan Allah di dalam Kristus. Ia menjelaskan kasih karunia, penebusan, pengampunan, persatuan umat percaya, dan identitas baru sebagai tubuh Kristus. Setelah menjelaskan apa yang Allah telah lakukan, Paulus kemudian mengajak jemaat hidup sesuai dengan panggilan yang telah mereka terima.
Efesus pasal 4 menjadi bagian yang sangat penting karena Paulus mulai berbicara secara lebih praktis mengenai kehidupan orang percaya. Orang yang sudah mengenal Kristus tidak boleh lagi hidup seperti manusia lama. Mereka harus meninggalkan pola hidup lama dan mengenakan manusia baru. Jadi, Efesus 4:17-32 bukan hanya daftar perilaku yang harus dihindari, tetapi sebuah gambaran tentang transformasi hidup yang dimulai dari dalam dan kemudian terlihat secara nyata.
Saudari-saudari W/KI GMIM yang dikasihi dan diberkati Tuhan,
Tema “Dibaharui Dalam Roh Dan Pikiranmu Serta Mengenakan Manusia Baru” memiliki tiga gerakan penting. Pertama, ada sesuatu yang harus ditanggalkan, yaitu manusia lama. Kedua, ada sesuatu yang harus diperbarui, yaitu roh dan pikiran. Ketiga, ada sesuatu yang harus dikenakan, yaitu manusia baru.
Manusia lama menunjuk pada kehidupan yang dikuasai dosa, ego, iri hati, kemarahan, kebohongan, kepahitan, dan cara berpikir yang jauh dari Tuhan. Manusia baru adalah kehidupan yang semakin sesuai dengan kehendak Allah, hidup dalam kebenaran, kekudusan, kasih, pengampunan, kejujuran, dan kebaikan.
Pembaruan dimulai dari roh dan pikiran karena apa yang kita pikirkan akan memengaruhi apa yang kita rasakan, apa yang kita katakan, dan apa yang kita lakukan. Kalau pikiran kita dipenuhi kecurigaan, perkataan kita akan mudah menyakiti. Kalau hati dipenuhi iri, kita akan sulit bersukacita melihat orang lain diberkati. Kalau pikiran dipenuhi kekhawatiran, kita akan sulit mengalami damai. Tetapi ketika firman Tuhan memperbarui pikiran kita, respons kita terhadap kehidupan juga mulai berubah.
Bagi W/KI, pembaruan ini sangat penting karena perempuan sering membawa suasana hati ke dalam keluarga dan relasi. Ketika hati dipenuhi damai, rumah merasakan damai. Ketika hati dipenuhi kepahitan, keluarga pun merasakan dampaknya. Karena itu, Tuhan ingin terlebih dahulu menyentuh dan membaharui bagian dalam diri kita.
Pembahasan Ayat Demi Ayat
Ayat 17-19. Paulus dengan tegas mengingatkan jemaat supaya mereka tidak lagi hidup seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia. Ia berbicara tentang pengertian yang menjadi gelap, hati yang mengeras, dan kehidupan yang jauh dari Allah.
Ini menunjukkan bahwa dosa bukan hanya masalah tindakan, tetapi juga masalah pikiran dan hati. Ketika seseorang terus-menerus menolak kebenaran, kepekaan terhadap dosa dapat berkurang. Sesuatu yang dahulu dianggap salah lama-kelamaan dapat dianggap biasa.
Dalam kehidupan sekarang, pikiran manusia sangat mudah dipengaruhi oleh media sosial, berita, budaya membandingkan diri, standar kecantikan, gengsi, dan keinginan untuk diakui. Seorang perempuan dapat merasa hidupnya kurang hanya karena terus membandingkan diri dengan orang lain. Ia bisa merasa tidak cukup cantik, tidak cukup berhasil, tidak cukup kaya, atau tidak cukup dihargai.
Firman Tuhan mengingatkan supaya pikiran kita tidak dibentuk terutama oleh dunia, tetapi oleh kebenaran Tuhan. Kita perlu berhati-hati terhadap apa yang kita lihat, dengar, dan izinkan tinggal dalam pikiran, sebab semua itu perlahan-lahan membentuk cara kita melihat diri sendiri dan orang lain.
Ayat 20-21. Paulus kemudian berkata bahwa bukan demikian yang dipelajari jemaat mengenai Kristus. Mereka telah mendengar tentang Kristus dan menerima pengajaran sesuai dengan kebenaran yang ada dalam Yesus. Artinya, mengenal Kristus seharusnya membawa perubahan yang nyata.
Kita tidak cukup hanya mengetahui banyak tentang Tuhan, rajin hadir dalam ibadah, atau aktif dalam pelayanan. Pengetahuan tentang Kristus harus menghasilkan kehidupan yang semakin serupa dengan Kristus. Bagi W/KI, pertanyaannya adalah apakah suami, anak-anak, cucu, saudari seiman, dan orang-orang di sekitar kita dapat melihat perubahan itu.
Apakah kita semakin sabar? Apakah kita semakin mampu mengampuni? Apakah kita semakin bijaksana dalam berbicara? Apakah kita semakin rendah hati? Kalau kita sudah lama mengenal Kristus tetapi masih terus mempertahankan pola hidup yang lama, firman Tuhan hari ini mengajak kita kembali belajar kepada Kristus dengan hati yang terbuka.
Ayat 22. Paulus berkata supaya manusia lama ditanggalkan. Gambaran ini seperti seseorang membuka pakaian lama yang tidak lagi layak dipakai. Manusia lama adalah pola kehidupan yang dikuasai keinginan dosa dan kebiasaan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.
Bagi W/KI, manusia lama bisa muncul dalam bentuk yang sangat nyata: kebiasaan menyimpan kepahitan, sulit meminta maaf, suka membicarakan orang lain, iri ketika melihat orang lain berhasil, mudah tersinggung, terlalu memikirkan penilaian orang, atau menggunakan kata-kata yang tajam ketika sedang marah. Firman Tuhan tidak hanya meminta kita mengurangi semua itu, tetapi menanggalkannya.
Kita tidak bisa terus membawa pola lama sambil mengaku sudah hidup dalam Kristus. Memang menanggalkan kebiasaan yang sudah bertahun-tahun ada tidak selalu mudah, tetapi Tuhan memanggil kita untuk berani mengakui apa yang salah dan membiarkan Roh Kudus memimpin kita keluar dari kehidupan lama.
Ayat 23. Paulus berkata supaya kita dibaharui dalam roh dan pikiran. Inilah pusat tema kita. Pembaruan bukan sekadar perubahan perilaku di luar, tetapi perubahan cara berpikir di dalam. Ketika pikiran diperbarui, kita mulai melihat diri sendiri, keluarga, pelayanan, dan masalah dari sudut pandang Tuhan.
Jika dahulu kita mudah merasa rendah diri karena membandingkan diri dengan orang lain, sekarang kita belajar melihat bahwa nilai diri kita berasal dari Tuhan. Jika dahulu kita merasa harus membalas ketika disakiti, sekarang kita belajar mengampuni. Jika dahulu kita mudah iri ketika melihat orang lain diberkati, sekarang kita belajar bersyukur dan ikut bersukacita.
Jika dahulu masalah membuat kita merasa tidak berdaya, sekarang kita belajar percaya bahwa Tuhan tetap bekerja. Pembaruan pikiran adalah proses terus-menerus. Karena itu, W/KI perlu menyediakan waktu untuk membaca firman, berdoa, merenung, dan membiarkan Roh Kudus mengoreksi cara berpikir kita.
Ayat 24. Paulus berkata supaya kita mengenakan manusia baru yang diciptakan menurut kehendak Allah dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. Manusia baru bukan hanya orang yang berhenti melakukan hal buruk, tetapi orang yang mulai melakukan hal yang berkenan kepada Tuhan.
Kalau manusia lama suka menyimpan dendam, manusia baru belajar mengampuni. Kalau manusia lama suka berkata kasar, manusia baru belajar berbicara dengan kasih. Kalau manusia lama hidup hanya untuk diri sendiri, manusia baru belajar memberi dan melayani.
Bagi W/KI, mengenakan manusia baru berarti membawa karakter Kristus ke dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan kehidupan sosial. Kita tidak boleh hanya terlihat baik dalam persekutuan, tetapi menjadi pribadi berbeda ketika pulang ke rumah. Manusia baru berarti ada kesatuan antara iman yang kita ucapkan dan kehidupan yang kita jalani.
Ayat 25. Paulus berkata supaya setiap orang membuang dusta dan berkata benar kepada sesamanya. Kejujuran adalah bagian penting dari manusia baru. Dalam keluarga, kejujuran membangun kepercayaan antara suami dan istri, antara orang tua dan anak.
Dalam pelayanan, kejujuran menjaga hubungan dan kepercayaan antaranggota. Dalam kehidupan sehari-hari, kejujuran menunjukkan bahwa kita takut akan Tuhan. Kadang orang menganggap kebohongan kecil tidak berbahaya, tetapi kebohongan yang terus dipelihara dapat merusak hubungan.
Seorang W/KI yang diperbarui belajar berkata benar dengan kasih. Ia tidak memanipulasi cerita, tidak melebih-lebihkan kelemahan orang lain, tidak menyebarkan informasi yang belum jelas, dan tidak menggunakan perkataan untuk menciptakan kesan yang tidak sesuai kenyataan.
Ayat 26-27. Paulus berkata bahwa apabila kita menjadi marah, jangan berbuat dosa dan jangan membiarkan matahari terbenam sebelum amarah padam. Paulus tidak mengatakan bahwa orang percaya tidak boleh marah, tetapi kemarahan tidak boleh menjadi penguasa.
Bagi W/KI, kemarahan sering muncul karena kelelahan, kekecewaan, merasa tidak dihargai, atau karena banyak hal dipendam terlalu lama. Kadang seorang ibu terus menahan beban sampai suatu saat masalah kecil membuat emosi meledak. Karena itu, firman Tuhan mengajak kita belajar mengelola emosi dengan sehat. Jika ada masalah, bicarakan dengan kasih.
Jika lelah, jangan malu mengakui bahwa kita membutuhkan istirahat. Jika disakiti, jangan simpan luka bertahun-tahun. Jika kita bersalah, beranilah meminta maaf. Jangan membiarkan kepahitan menjadi pintu bagi kehancuran relasi, karena Paulus mengingatkan agar kita tidak memberi kesempatan kepada Iblis.
Ayat 28. Paulus berkata bahwa orang yang dahulu mencuri harus berhenti mencuri, bekerja keras, melakukan pekerjaan yang baik, dan bahkan membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan. Perubahan yang dimaksud Paulus sangat nyata. Manusia baru tidak hanya berhenti melakukan kejahatan, tetapi mulai menghasilkan kebaikan.
Tangan yang dahulu mengambil sekarang menjadi tangan yang memberi. Prinsip ini sangat dekat dengan kehidupan W/KI, karena perempuan sering menjadi orang yang mengelola banyak kebutuhan dalam rumah. Firman ini mengingatkan bahwa berkat Tuhan bukan hanya untuk diri sendiri.
Apa yang kita miliki dapat dipakai untuk menolong orang lain. Kemurahan hati bukan soal besar kecilnya pemberian, tetapi soal hati yang mau berbagi. Seorang perempuan yang mengenakan manusia baru belajar melihat kebutuhan di sekitarnya dan bersedia menjadi saluran berkat.
Ayat 29. Paulus berkata supaya tidak ada perkataan kotor keluar dari mulut, tetapi hanya perkataan yang baik untuk membangun sesuai kebutuhan. Ini sangat penting bagi kehidupan perempuan karena perkataan memiliki pengaruh besar dalam keluarga dan persekutuan.
Seorang ibu dapat membangun kepercayaan diri anak melalui kata-kata, tetapi juga dapat melukai anak melalui perkataan yang merendahkan. Seorang istri dapat menguatkan suami dengan perkataan, tetapi juga dapat memperbesar konflik melalui kata-kata yang tajam. Dalam persekutuan W/KI, satu cerita yang tidak dijaga dapat berubah menjadi gosip dan menimbulkan luka.
Karena itu, manusia baru harus terlihat dari cara berbicara. Bahkan dalam media sosial dan grup pesan, kita dipanggil berhati-hati. Sebelum meneruskan informasi, periksa kebenarannya. Sebelum berkomentar, pikirkan apakah perkataan itu membangun atau merusak. Mulut yang dibaharui Tuhan dipakai untuk memberi kasih karunia kepada orang yang mendengarnya.
Ayat 30. Paulus berkata supaya kita tidak mendukakan Roh Kudus Allah yang telah memeteraikan kita. Ini mengingatkan bahwa Roh Kudus tinggal dan bekerja dalam kehidupan orang percaya. Karena itu, ketika hati kita ditegur, jangan mengeraskan hati.
Ketika firman menunjukkan bahwa kita salah, jangan langsung mencari alasan untuk membenarkan diri. Ketika Tuhan mendorong kita meminta maaf, jangan biarkan gengsi menghalangi. Ketika Roh Kudus mengingatkan kita supaya berhenti membicarakan orang lain, taatilah.
Seorang W/KI yang dibaharui adalah perempuan yang tetap mau belajar, tidak merasa sudah paling benar, dan bersedia berkata, “Tuhan, bentuklah saya.” Usia, pengalaman, atau jabatan pelayanan tidak pernah membuat seseorang selesai dibentuk oleh Tuhan.
Ayat 31. Paulus berkata supaya segala kepahitan, kegeraman, pertikaian, fitnah, dan segala kejahatan dibuang dari antara orang percaya. Semua ini adalah hal yang sangat merusak hubungan. Kepahitan membuat seseorang terus tinggal dalam luka masa lalu.
Kegeraman membuat emosi menguasai kehidupan. Pertikaian merusak persaudaraan. Fitnah menghancurkan nama baik orang lain. Dalam keluarga dan pelayanan W/KI, semua ini harus diwaspadai. Jangan menyimpan persoalan bertahun-tahun lalu dan terus membawanya ke dalam hubungan sekarang.
Jangan membuat kelompok-kelompok karena rasa tidak suka kepada seseorang. Jangan menggunakan persekutuan sebagai tempat membicarakan kelemahan orang lain. Firman Tuhan meminta semua itu dibuang, sebab manusia baru dipanggil menjadi pembawa damai, bukan sumber konflik.
Ayat 32. Paulus menutup bagian ini dengan berkata supaya kita ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra, dan saling mengampuni sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kita. Inilah puncak kehidupan manusia baru.
Dasar pengampunan bukan karena orang lain selalu layak diampuni, tetapi karena kita sendiri sudah lebih dahulu menerima pengampunan Allah. Bagi W/KI, ini sangat penting. Ada luka yang mungkin datang dari pasangan, anak, saudara, teman, atau sesama pelayan.
Mengampuni bukan berarti mengatakan bahwa kesalahan itu tidak penting, tetapi berarti kita tidak membiarkan kesalahan itu terus menguasai hati. Kita menyerahkan penghakiman kepada Tuhan dan memilih untuk tidak hidup dalam kebencian. Perempuan yang telah mengalami kasih Kristus dipanggil menjadi perempuan yang membawa kasih, pengampunan, dan damai kepada orang di sekitarnya.
Penutup
Saudari-saudari W/KI GMIM yang dikasihi Tuhan, firman Tuhan hari ini membawa kita kepada sebuah panggilan yang sangat dalam: jangan terus hidup sebagai manusia lama ketika Kristus sudah memanggil kita kepada kehidupan yang baru.
Menjadi orang percaya bukan sekadar mengganti identitas, bukan hanya aktif dalam gereja, dan bukan hanya rajin mengikuti kegiatan. Menjadi orang percaya berarti memberi ruang kepada Tuhan untuk terus memperbarui roh, pikiran, perkataan, sikap, dan seluruh kehidupan kita.
Tema “Dibaharui Dalam Roh Dan Pikiranmu Serta Mengenakan Manusia Baru” harus menjadi doa dan komitmen hidup kita. Ada bagian dalam diri yang harus ditanggalkan. Ada pikiran yang harus diperbarui. Ada karakter baru yang harus dikenakan.
Ada beberapa hal penting yang perlu kita pegang.
Pertama, manusia lama harus ditanggalkan. Jangan terus mempertahankan kepahitan, iri hati, kebohongan, kemarahan, kebiasaan menghakimi, atau kebiasaan membicarakan orang lain. Jika Tuhan sudah menunjukkan bahwa sesuatu salah, beranilah meninggalkannya.
Kedua, roh dan pikiran harus terus diperbarui. Jangan biarkan dunia menjadi sumber utama yang membentuk pikiran kita. Isi hati dengan firman. Isi pikiran dengan kebenaran. Belajar melihat diri, keluarga, masalah, dan sesama melalui cara pandang Tuhan.
Ketiga, manusia baru harus terlihat dalam perkataan. Gunakan mulut untuk membangun, bukan menghancurkan. Jadilah ibu yang menguatkan, istri yang berbicara dengan kasih, oma yang memberikan nasihat penuh hikmat, dan saudari seiman yang menjaga perkataan.
Keempat, manusia baru terlihat dalam cara menghadapi emosi. Jangan biarkan kemarahan menjadi kepahitan. Jangan simpan luka sampai bertahun-tahun. Belajarlah berbicara, meminta maaf, mengampuni, dan mencari damai.
Kelima, manusia baru terlihat dalam kejujuran dan integritas. Jangan menggunakan kebohongan untuk menjaga citra. Jangan memanipulasi cerita. Jangan menyebarkan informasi yang belum jelas. Jadilah perempuan yang dapat dipercaya.
Keenam, manusia baru terlihat dalam kemurahan hati. Gunakan waktu, kemampuan, tenaga, dan berkat yang Tuhan berikan untuk menolong orang lain. Kehidupan yang diperbarui tidak hanya memikirkan diri sendiri.
Ketujuh, manusia baru terlihat dalam pengampunan. Kita mengampuni karena Kristus telah lebih dahulu mengampuni kita. Jangan biarkan kesalahan orang lain menjadi penjara bagi hati kita sendiri.
Kedelapan, manusia baru harus membawa pembaruan ke dalam keluarga dan pelayanan. Keluarga harus merasakan bahwa kita semakin sabar, semakin bijaksana, semakin lembut, dan semakin dekat kepada Tuhan. Persekutuan harus merasakan bahwa kehadiran kita membawa damai dan penguatan.
Saudari-saudari, jangan menunggu orang lain berubah terlebih dahulu. Kita sering berkata, “Kalau suami saya berubah, saya akan lebih sabar.” “Kalau anak saya berubah, saya akan lebih tenang.” “Kalau orang itu meminta maaf, saya akan mengampuni.” “Kalau keadaan pelayanan berubah, saya akan lebih semangat.” Tetapi firman hari ini berkata: mulailah dari diri sendiri.
Kalau selama ini kita mudah tersinggung, mintalah Tuhan memperbarui hati.
Kalau selama ini kita suka menyimpan luka, bawalah luka itu kepada Kristus.
Kalau selama ini perkataan kita sering melukai, mintalah Tuhan menjaga mulut.
Kalau selama ini kita suka membandingkan diri dengan orang lain, belajar bersyukur atas apa yang Tuhan percayakan.
Kalau selama ini kita mudah iri, belajar bersukacita ketika orang lain diberkati.
Kalau selama ini kita sulit mengampuni, ingatlah betapa besar pengampunan yang kita sendiri telah terima dari Tuhan.
Kalau selama ini pelayanan kita masih bercampur dengan keinginan dipuji, mintalah Tuhan memurnikan motivasi.
Saudari-saudari, keluarga membutuhkan perempuan-perempuan yang diperbarui. Gereja membutuhkan perempuan-perempuan yang diperbarui. Masyarakat membutuhkan perempuan-perempuan yang pikirannya dibentuk oleh firman dan hatinya dipenuhi kasih Kristus.
Anak-anak membutuhkan ibu yang bukan hanya memberi nasihat, tetapi memberi teladan. Cucu-cucu membutuhkan oma yang bukan hanya bercerita tentang masa lalu, tetapi menunjukkan iman yang hidup. Gereja membutuhkan W/KI yang bukan hanya aktif, tetapi menjadi pembawa damai dan kasih.
Marilah kita belajar dari perempuan Samaria. Masa lalu tidak harus menentukan masa depan. Kristus dapat menyentuh bagian terdalam dari kehidupan kita dan memberi arah yang baru. Perempuan yang dahulu mungkin menghindari orang lain justru menjadi saksi yang membawa orang kepada Yesus.
Ketika Tuhan memperbarui hidup, luka dapat berubah menjadi kesaksian, kegagalan dapat menjadi pelajaran, dan masa lalu dapat dipakai Tuhan untuk menolong orang lain.
Karena itu, marilah kita datang kepada Tuhan dengan hati yang terbuka dan berkata:
“Tuhan, baharuilah roh dan pikiranku. Tanggalkan dari hidupku manusia lama. Jika ada kepahitan, pulihkan. Jika ada iri hati, bersihkan. Jika ada kemarahan, lembutkan. Jika ada kebiasaan berkata yang melukai, ubahlah. Jika ada luka masa lalu yang masih menguasai hidupku, sembuhkanlah. Ajarlah aku mengenakan manusia baru. Jadikan aku istri yang membawa kasih, ibu yang memberi teladan, oma yang menjadi sumber hikmat, dan perempuan yang membawa damai di tengah gereja serta masyarakat.”
Akhirnya, kiranya tema ini tidak hanya kita dengar sebagai judul khotbah, tetapi menjadi kenyataan dalam kehidupan kita setiap hari. Tanggalkan manusia lama, biarkan roh dan pikiran dibaharui, dan kenakan manusia baru yang hidup dalam kebenaran, kekudusan, kasih, pengampunan, kejujuran, dan damai.
Kiranya ketika keluarga melihat kehidupan kita, mereka melihat Kristus. Ketika jemaat bertemu dengan kita, mereka merasakan kasih. Ketika orang lain sedang terluka, mereka menemukan penghiburan. Ketika ada konflik, kehadiran kita membawa damai. Dan ketika dunia melihat hidup kita, kiranya mereka melihat bahwa Kristus sungguh-sungguh sanggup memperbarui kehidupan manusia.
Amin.
Editor : Clavel Lukas