Renungan Efesus 4:17-32 Untuk P/KB, Dibaharui Dalam Roh Dan Pikiranmu Serta Mengenakan Manusia Baru

Clavel Lukas • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:44 WIB
Ilustrasi Alkitab.
Ilustrasi Alkitab.

Efesus 4:17-32

Tema: “Dibaharui Dalam Roh Dan Pikiranmu Serta Mengenakan Manusia Baru”

Saudara-saudara P/KB yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, setiap orang tentu menginginkan perubahan yang baik dalam kehidupannya. Kita ingin keluarga menjadi lebih baik, hubungan suami istri semakin harmonis, anak-anak bertumbuh dengan baik, pekerjaan berjalan lancar, pelayanan semakin diberkati, dan kehidupan kita semakin dekat dengan Tuhan.

Tetapi sering kali ketika kita berbicara tentang perubahan, yang kita pikirkan adalah orang lain yang harus berubah. Kita berharap pasangan berubah, anak berubah, teman berubah, rekan kerja berubah, bahkan kita berharap keadaan berubah supaya kita dapat merasa lebih tenang dan bahagia. Padahal firman Tuhan hari ini mengajak kita melihat sesuatu yang lebih dalam, yaitu bahwa perubahan yang sejati harus dimulai dari diri kita sendiri.

Sebagai pria, suami, ayah, kepala keluarga, bahkan sebagai opa bagi yang sudah dipercayakan Tuhan menjadi kakek, kita mempunyai pengaruh yang besar dalam keluarga. Anak-anak tidak hanya mendengar apa yang kita katakan, tetapi mereka melihat bagaimana kita hidup. 

Baca Juga: Renungan Efesus 4:17-32, Dibaharui Dalam Roh Dan Pikiranmu Serta Mengenakan Manusia Baru

Baca Juga: Materi Khotbah Efesus 4:17-32, Dibaharui Dalam Roh Dan Pikiranmu Serta Mengenakan Manusia Baru

Mereka melihat bagaimana kita memperlakukan ibu mereka, bagaimana kita menghadapi masalah, bagaimana kita berbicara ketika sedang marah, bagaimana kita menggunakan uang, bagaimana kita memperlakukan orang lain, bagaimana kita meminta maaf, bagaimana kita mengampuni, dan bagaimana kita menjalani iman kita. Karena itu, seorang P/KB tidak cukup hanya menjadi orang yang dikenal aktif dalam gereja, tetapi harus menjadi pribadi yang menunjukkan pembaruan hidup di dalam Kristus.

Ada kalanya kita merasa bahwa karena sudah lama menjadi orang Kristen, berarti kehidupan kita otomatis sudah berubah. Tetapi lama menjadi Kristen tidak selalu berarti semakin dewasa dalam iman. Seseorang bisa puluhan tahun berada di gereja tetapi masih membawa kemarahan yang sama, kebiasaan yang sama, kesombongan yang sama, kepahitan yang sama, dan cara berpikir yang sama. Karena itu Paulus dalam Efesus 4 tidak hanya berbicara tentang menjadi orang percaya, tetapi tentang bagaimana orang yang sudah mengenal Kristus harus meninggalkan kehidupan lama dan mengenakan manusia baru.

Tema kita hari ini, “Dibaharui Dalam Roh Dan Pikiranmu Serta Mengenakan Manusia Baru,” merupakan panggilan untuk mengalami perubahan yang nyata. Tuhan tidak hanya ingin kita memperbaiki penampilan luar, tetapi memperbarui bagian terdalam dari kehidupan kita. Tuhan ingin memperbarui cara kita berpikir supaya cara kita berbicara berubah, cara kita bertindak berubah, cara kita memperlakukan keluarga berubah, dan akhirnya kehidupan kita menjadi kesaksian tentang Kristus.

Terlebih bagi P/KB, tema ini sangat penting karena seorang pria sering menjadi tempat keluarga melihat arah dan keteladanan. Anak-anak mungkin tidak mengingat semua nasihat yang kita berikan, tetapi mereka akan mengingat bagaimana ayahnya hidup.

Mereka mungkin lupa kata-kata yang pernah kita sampaikan, tetapi mereka akan mengingat bagaimana ayah menghadapi kesulitan, bagaimana ayah memperlakukan ibu, bagaimana ayah meminta maaf ketika salah, dan bagaimana ayah tetap percaya kepada Tuhan ketika kehidupan sedang berat.

Karena itu, hari ini Tuhan tidak pertama-tama bertanya apakah kita sudah menjadi kepala keluarga, tetapi apakah kita sudah menjadi manusia baru di dalam Kristus.

Saudara-saudara P/KB yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,

Surat Efesus secara tradisional dikaitkan dengan Rasul Paulus dan ditujukan kepada jemaat di Efesus. Efesus adalah kota penting di Asia Kecil, wilayah yang sekarang termasuk bagian dari Turki. Kota ini merupakan pusat perdagangan, kebudayaan, politik, dan kehidupan keagamaan. Jemaat Kristen hidup di tengah masyarakat yang mempunyai nilai-nilai kehidupan yang tidak semuanya sesuai dengan iman kepada Kristus.

Karena itu, orang-orang yang percaya kepada Kristus menghadapi tantangan untuk menjalani kehidupan yang berbeda. Mereka tidak dipanggil untuk melarikan diri dari masyarakat, tetapi dipanggil untuk hidup sebagai umat Allah di tengah masyarakat tersebut. Mereka harus menunjukkan bahwa iman kepada Kristus bukan hanya perubahan dalam nama atau identitas, tetapi perubahan seluruh kehidupan.

Surat Efesus secara umum menjelaskan karya keselamatan Allah di dalam Kristus, kasih karunia, penebusan, persatuan umat percaya, dan identitas baru orang-orang yang telah menerima Kristus. Setelah menjelaskan apa yang Allah telah lakukan, Paulus kemudian menjelaskan bagaimana orang percaya harus hidup sebagai respons terhadap kasih karunia tersebut.

Efesus pasal 4 menjadi sangat penting karena Paulus mulai memberikan nasihat yang konkret mengenai kehidupan baru. Orang yang telah mengenal Kristus tidak boleh kembali hidup seperti manusia lama. Mereka harus meninggalkan pola hidup lama dan mengenakan manusia baru.

Karena itu, Efesus 4:17-32 bukan sekadar daftar larangan dan perintah. Bagian ini menggambarkan sebuah proses perubahan: manusia lama ditanggalkan, roh dan pikiran diperbarui, kemudian manusia baru dikenakan.

Saudara-saudara P/KB yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,

“Dibaharui dalam roh dan pikiranmu serta mengenakan manusia baru” berarti bahwa kehidupan kita harus terus mengalami pembentukan oleh Tuhan. Manusia lama menunjuk kepada kehidupan yang dikuasai oleh dosa, ego, kebiasaan buruk, kemarahan, kebohongan, kepahitan, dan berbagai sikap yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Sedangkan manusia baru adalah kehidupan yang diarahkan kepada kebenaran, kekudusan, kasih, pengampunan, kejujuran, kemurahan hati, dan kehidupan yang semakin menyerupai Kristus.

Pembaruan dimulai dari roh dan pikiran karena apa yang ada di dalam diri kita akan memengaruhi apa yang keluar dari diri kita. Pikiran yang dipenuhi kemarahan akan melahirkan perkataan yang kasar. Hati yang dipenuhi kepahitan akan membuat kita sulit mengampuni. Pikiran yang dikuasai keserakahan akan membuat kita melihat segala sesuatu hanya dari keuntungan. Sebaliknya, ketika pikiran dibentuk oleh firman Tuhan, kita belajar melihat kehidupan dengan cara yang berbeda.

Seorang P/KB yang pikirannya diperbarui akan mulai melihat keluarganya bukan sebagai beban, tetapi sebagai tanggung jawab dan anugerah Tuhan. Ia tidak melihat istrinya hanya sebagai orang yang harus mengikuti kemauannya, tetapi sebagai pasangan yang harus dikasihi.

Ia tidak melihat anak-anak hanya sebagai orang yang harus menaati dirinya, tetapi sebagai pribadi-pribadi yang harus dibimbing dan diberi teladan. Ia tidak melihat pekerjaannya hanya sebagai tempat mencari uang, tetapi sebagai kesempatan untuk menjalankan tanggung jawab dan menjadi berkat.

Pembahasan Ayat Demi Ayat

Ayat 17-19. Paulus dengan tegas mengingatkan jemaat supaya mereka tidak lagi hidup seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia. Paulus sedang berbicara mengenai perubahan pola kehidupan. Mereka memang masih tinggal di tengah dunia yang sama, tetapi mereka tidak boleh membiarkan nilai-nilai dunia menguasai kehidupan mereka.

Pikiran yang jauh dari Allah dapat membuat seseorang kehilangan arah dan akhirnya menganggap sesuatu yang salah sebagai sesuatu yang benar. Karena itu, persoalan manusia bukan hanya apa yang dilakukan, tetapi juga apa yang ada dalam pikirannya dan apa yang sedang menguasai hatinya. Dalam kehidupan sekarang kita melihat betapa mudahnya manusia dibentuk oleh lingkungan, media sosial, budaya konsumtif, persaingan, keinginan untuk mendapatkan pengakuan, dan berbagai informasi yang masuk setiap hari.

 Seorang P/KB harus berhati-hati karena apa yang terus-menerus masuk ke dalam pikiran akan memengaruhi cara kita melihat kehidupan. Jangan sampai kita lebih banyak dibentuk oleh media sosial daripada oleh firman Tuhan, lebih banyak mendengar suara dunia daripada suara Tuhan, dan lebih banyak mengikuti emosi daripada mengikuti kehendak Allah.

 Paulus juga mengingatkan bahwa ketika hati terus-menerus mengeras, manusia dapat kehilangan kepekaan terhadap dosa. Sesuatu yang dahulu kita anggap salah bisa menjadi biasa karena terus dilakukan. Karena itu, kita harus terus memeriksa hati dan bertanya kepada Tuhan apakah ada bagian dalam kehidupan kita yang sudah mulai jauh dari kehendak-Nya.

Ayat 20-21. Paulus kemudian mengingatkan bahwa jemaat telah belajar tentang Kristus dan menerima pengajaran di dalam Dia sesuai dengan kebenaran yang ada dalam Yesus. Artinya, mengenal Kristus harus menghasilkan perubahan. Kita tidak dipanggil hanya untuk mengetahui tentang Yesus, tetapi untuk hidup menurut kebenaran yang diajarkan Yesus.

 Ini menjadi pertanyaan yang penting bagi setiap P/KB: setelah sekian lama kita mengenal Kristus, apakah keluarga kita melihat perubahan dalam diri kita? Apakah istri kita merasakan bahwa kita semakin mengasihi? Apakah anak-anak kita melihat bahwa kita semakin sabar? Apakah orang-orang di tempat kerja melihat kejujuran kita? Apakah jemaat melihat kerendahan hati kita?

Jangan sampai kita memiliki banyak pengetahuan tentang Tuhan tetapi sedikit perubahan dalam karakter. Iman yang hidup seharusnya terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Ketika Kristus sungguh-sungguh menjadi pusat kehidupan, perubahan itu akan perlahan-lahan terlihat dalam cara kita berbicara, mengambil keputusan, menggunakan harta, memperlakukan keluarga, dan menghadapi persoalan.

Ayat 22. Paulus berkata supaya manusia lama ditanggalkan. Gambaran ini seperti seseorang membuka pakaian lama yang sudah tidak pantas dipakai. Manusia lama adalah kehidupan yang dikuasai oleh keinginan dosa dan pola hidup yang menjauh dari Tuhan. Bagi P/KB, ada banyak bentuk manusia lama yang harus ditanggalkan. Mungkin selama ini kita merasa bahwa sebagai laki-laki kita harus selalu keras dan tidak boleh meminta maaf. Mungkin kita merasa bahwa kepala keluarga harus selalu menang dalam setiap perdebatan.

Mungkin kita menganggap bahwa anak harus takut kepada ayah supaya menjadi anak yang baik. Mungkin kita terbiasa menyelesaikan masalah dengan suara keras. Mungkin kita membawa tekanan pekerjaan ke dalam rumah sehingga keluarga menjadi tempat pelampiasan emosi. Firman Tuhan mengajak kita menanggalkan semuanya itu apabila tidak sesuai dengan karakter Kristus. 

Menjadi laki-laki yang kuat bukan berarti tidak pernah menangis atau meminta maaf. Menjadi kepala keluarga bukan berarti harus selalu menang. Menjadi ayah bukan berarti anak-anak harus takut. Kekuatan seorang pria Kristen justru terlihat ketika ia mampu mengendalikan dirinya, merendahkan hati, meminta maaf ketika salah, mengampuni ketika disakiti, dan mengasihi keluarganya dengan tulus.

Ayat 23. Paulus berkata bahwa kita harus dibaharui dalam roh dan pikiran. Inilah pusat tema kita. Pembaruan tidak dimulai dari pakaian, jabatan, usia, atau posisi seseorang, tetapi dari bagian dalam dirinya. Seorang P/KB dapat memiliki jabatan tinggi, memiliki harta, memiliki pengalaman hidup, dan dikenal banyak orang, tetapi jika pikirannya tidak diperbarui oleh Tuhan, semua itu tidak otomatis membuatnya menjadi manusia baru.

Pembaruan pikiran berarti kita belajar melihat kehidupan dengan perspektif Tuhan. Ketika kita menghadapi masalah keluarga, kita tidak langsung berpikir untuk menyerah, tetapi mencari kehendak Tuhan. Ketika kita disakiti, kita tidak langsung berpikir bagaimana membalas, tetapi belajar mengampuni. 

Ketika melihat orang lain berhasil, kita tidak membiarkan iri hati menguasai diri, tetapi belajar bersyukur dan ikut bersukacita. Ketika mengalami kegagalan, kita tidak langsung menganggap diri tidak berharga, tetapi percaya bahwa Tuhan masih bekerja dalam proses kehidupan kita. Pikiran yang diperbarui akan menghasilkan respons yang berbeda. Karena itu, P/KB perlu menyediakan waktu untuk membaca firman, berdoa, merenung, dan membiarkan Tuhan berbicara kepada kehidupan kita.

Ayat 24. Paulus berkata supaya manusia baru dikenakan, yang diciptakan menurut kehendak Allah dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. Ini berarti kehidupan baru harus terlihat dalam karakter. Manusia baru bukan hanya orang yang berhenti melakukan beberapa dosa, tetapi orang yang mulai menunjukkan sifat-sifat yang sesuai dengan kehendak Allah.

 Sebagai suami, manusia baru terlihat ketika kita memperlakukan istri dengan kasih dan penghormatan. Sebagai ayah, manusia baru terlihat ketika kita tidak hanya menuntut anak-anak menjadi baik tetapi memberikan teladan kehidupan.

Sebagai kepala keluarga, manusia baru terlihat ketika kita menggunakan tanggung jawab bukan untuk menguasai tetapi untuk melayani. Sebagai anggota gereja, manusia baru terlihat ketika kita tidak mencari penghormatan tetapi bersedia bekerja dengan rendah hati. Jadi, mengenakan manusia baru berarti membawa Kristus masuk ke dalam seluruh peran kehidupan kita.

Ayat 25. Paulus berkata supaya setiap orang membuang dusta dan berkata benar kepada sesamanya karena kita adalah sesama anggota. Kejujuran merupakan bagian penting dari kehidupan manusia baru. Dalam keluarga, kejujuran membangun kepercayaan.

Seorang suami yang jujur kepada istrinya sedang membangun dasar hubungan yang sehat. Seorang ayah yang berani mengakui kesalahan kepada anak-anak sedang mengajarkan nilai yang jauh lebih kuat daripada sekadar nasihat. Kadang seorang ayah merasa bahwa mengakui kesalahan akan membuat wibawanya turun, padahal justru sebaliknya. 

Ketika seorang ayah berkata, “Ayah salah, maafkan Ayah,” anak belajar bahwa menjadi laki-laki bukan berarti tidak pernah salah, tetapi berani bertanggung jawab ketika melakukan kesalahan. Dalam pekerjaan dan pelayanan pun kejujuran harus menjadi karakter. Jangan mengambil keuntungan dengan cara yang tidak benar hanya karena tidak ada orang yang melihat, sebab Tuhan melihat kehidupan kita.

Ayat 26-27. Paulus berkata bahwa apabila kita menjadi marah, jangan berbuat dosa dan jangan membiarkan matahari terbenam sebelum amarah padam. Bagi P/KB, nasihat ini sangat penting karena kemarahan sering menjadi salah satu tantangan dalam kehidupan keluarga. Seorang pria mungkin pulang dari pekerjaan dalam keadaan lelah dan menghadapi masalah di rumah, lalu emosi dengan mudah meledak.

Anak yang melakukan kesalahan sedikit langsung dimarahi, pasangan yang tidak sesuai harapan langsung disalahkan, dan masalah kecil berubah menjadi pertengkaran besar. Paulus tidak mengatakan bahwa kita tidak boleh marah, tetapi kita tidak boleh membiarkan kemarahan menguasai diri dan berubah menjadi dosa. Kekuatan seorang pria bukan diukur dari seberapa keras suaranya ketika marah, tetapi dari seberapa mampu ia mengendalikan dirinya ketika marah.

 Karena itu, ketika emosi mulai naik, belajar berhenti sejenak, berdoa, menenangkan diri, lalu berbicara dengan cara yang membangun. Jangan membawa kemarahan hari ini menjadi kebencian bertahun-tahun. Jangan biarkan ego membuat hubungan keluarga rusak. Paulus berkata agar jangan memberi kesempatan kepada Iblis, sebab kepahitan yang terus dipelihara dapat membuka ruang bagi kehancuran hubungan.

Ayat 28. Paulus memberikan contoh perubahan yang sangat konkret: orang yang dahulu mencuri harus berhenti mencuri, bekerja keras, melakukan pekerjaan yang baik, dan bahkan memiliki sesuatu untuk dibagikan kepada orang yang berkekurangan. Di sini kita melihat bahwa manusia baru bukan hanya berhenti melakukan kejahatan, tetapi menggantinya dengan kehidupan yang menghasilkan kebaikan.

 Tangan yang dahulu mengambil menjadi tangan yang bekerja dan memberi. Prinsip ini penting bagi seorang P/KB karena tanggung jawab terhadap keluarga tidak boleh membuat kita menghalalkan segala cara. Memenuhi kebutuhan keluarga memang penting, tetapi cara kita mendapatkan penghasilan juga harus benar. Jangan sampai kita memberikan makanan kepada keluarga tetapi sumbernya berasal dari ketidakjujuran.

Jangan sampai kita memberikan pendidikan kepada anak tetapi mengajarkan mereka bahwa keberhasilan boleh dicapai dengan cara apa saja. Tuhan memanggil kita bekerja dengan sungguh-sungguh, bertanggung jawab, dan menggunakan apa yang kita terima untuk menjadi berkat bagi orang lain.

Ayat 29. Paulus berkata supaya tidak ada perkataan kotor keluar dari mulut, tetapi perkataan yang baik untuk membangun sesuai kebutuhan. Ini merupakan panggilan yang sangat kuat bagi kehidupan keluarga. Seorang ayah memiliki perkataan yang sangat berpengaruh bagi anak-anaknya.

Satu kalimat yang baik dapat menjadi kekuatan bagi anak selama bertahun-tahun, tetapi satu kalimat yang merendahkan juga dapat meninggalkan luka yang panjang. Karena itu, jangan terlalu mudah mengatakan kepada anak, “Kamu tidak akan jadi apa-apa,” “Kamu bodoh,” atau “Kamu memang tidak bisa.” Sebaliknya, tegurlah ketika salah tetapi tetap berikan harapan. Katakan, “Kamu salah, tetapi kamu masih bisa memperbaikinya.” Katakan, “Ayah kecewa dengan tindakanmu, tetapi Ayah tetap mengasihimu.”

 Perkataan seperti ini membangun tanpa membenarkan kesalahan. Bahkan dalam hubungan suami istri, perkataan harus dijaga. Jangan gunakan kelemahan pasangan sebagai senjata ketika bertengkar. Jangan membuka kembali kesalahan masa lalu setiap kali terjadi konflik. Jadikan mulut kita sebagai alat untuk membangun rumah tangga, bukan menghancurkannya.

Ayat 30. Paulus mengingatkan agar kita tidak mendukakan Roh Kudus Allah yang telah memeteraikan kita. Ini berarti kehidupan orang percaya selalu berada dalam hubungan dengan karya Roh Kudus. Roh Kudus bekerja membentuk kita dan mengingatkan kita ketika kita menyimpang. Karena itu, ketika hati kita ditegur, jangan mengeraskan hati.

 Ketika kita sadar bahwa kita salah, jangan terus mencari pembenaran. Ketika Tuhan mengingatkan bahwa kita harus meminta maaf, jangan biarkan gengsi menguasai kita. Kadang yang menjadi penghalang terbesar bagi perubahan bukan karena kita tidak tahu apa yang benar, tetapi karena kita terlalu gengsi untuk melakukannya.

Seorang P/KB yang mau dibaharui adalah seorang pria yang bersedia berkata, “Tuhan, saya masih banyak kekurangan. Bentuklah saya.” Ia tidak merasa bahwa usia dan pengalaman membuat dirinya tidak perlu ditegur lagi. Ia tetap mau belajar, tetap mau berubah, dan tetap mau dibentuk Tuhan.

Ayat 31. Paulus kemudian menyebut kepahitan, kegeraman, pertikaian, fitnah, dan segala kejahatan sebagai hal-hal yang harus dibuang. Semua ini dapat merusak hubungan. Kepahitan membuat kita hidup terus dalam masa lalu. Kegeraman membuat emosi menjadi penguasa. Pertikaian membuat keluarga dan persekutuan kehilangan damai. Fitnah menghancurkan nama baik dan persaudaraan. Karena itu, semua ini harus dibuang.

Sebagai P/KB, kita harus berani memeriksa hati. Jangan sampai kita menyimpan sakit hati kepada seseorang selama bertahun-tahun. Jangan sampai masalah masa lalu terus kita bawa ke dalam hubungan hari ini. Jangan sampai kita lebih suka membicarakan orang daripada mendoakannya. Jangan sampai konflik pribadi membuat kita memecah persaudaraan dalam gereja. Tuhan memanggil kita menjadi pembawa damai, bukan pembawa konflik.

Ayat 32. Paulus kemudian memberikan jalan kehidupan manusia baru: ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra, dan saling mengampuni sebagaimana Allah dalam Kristus telah mengampuni kita.

 Dasar pengampunan kita bukan karena orang lain selalu layak menerima pengampunan, tetapi karena kita sendiri telah menerima pengampunan Tuhan. Sebagai P/KB, kita dipanggil menjadi teladan dalam hal ini. Kalau seorang ayah dapat meminta maaf dan mengampuni, anak-anak akan belajar.

Kalau seorang suami mampu mengendalikan diri dan memilih kasih daripada ego, keluarga akan merasakan damai. Kalau seorang anggota jemaat memilih berdamai daripada memperbesar konflik, gereja akan semakin kuat. Manusia baru bukan hanya manusia yang berhenti berbuat jahat, tetapi manusia yang mulai menghadirkan kasih Kristus dalam kehidupannya.

Penutup

Saudara-saudara P/KB yang dikasihi Tuhan, firman Tuhan hari ini membawa kita kepada sebuah panggilan yang sangat dalam: jangan terus hidup sebagai manusia lama ketika Kristus sudah memberikan kepada kita kehidupan yang baru.

Menjadi manusia baru bukan berarti kita tidak akan pernah jatuh lagi. Menjadi manusia baru bukan berarti kita tidak pernah marah, tidak pernah kecewa, tidak pernah salah, atau tidak pernah mengalami kelemahan. Manusia baru berarti ketika kita jatuh, kita mau bangkit dan kembali kepada Tuhan. Ketika kita salah, kita berani mengakui. Ketika kita menyakiti, kita berani meminta maaf. Ketika kita disakiti, kita belajar mengampuni. Ketika kita menghadapi masalah, kita memilih percaya kepada Tuhan daripada menyerah kepada keadaan.

Sebagai P/KB, kita mempunyai tanggung jawab besar. Rumah tangga membutuhkan pria yang bukan hanya kuat secara fisik, tetapi kuat secara rohani. Anak-anak membutuhkan ayah yang bukan hanya mampu memenuhi kebutuhan materi, tetapi mampu memberikan teladan iman. Istri membutuhkan suami yang bukan hanya menjadi kepala keluarga secara status, tetapi menjadi pemimpin yang melayani dengan kasih. Gereja membutuhkan P/KB yang bukan hanya hadir dalam kegiatan, tetapi menjadi kesaksian hidup di tengah masyarakat.

Karena itu, mari kita mulai dengan diri sendiri. Jangan selalu menunggu orang lain berubah. Jangan berkata, “Kalau istri saya berubah, saya akan berubah.” Jangan berkata, “Kalau anak saya menghormati saya, baru saya akan sabar.” Jangan berkata, “Kalau orang itu meminta maaf, baru saya mau mengampuni.” Firman Tuhan hari ini berkata: mulailah dari dirimu sendiri.

Kalau ada kemarahan, serahkan kepada Tuhan. Kalau ada kepahitan, lepaskan. Kalau ada kesalahan, akui. Kalau ada orang yang perlu diampuni, belajarlah mengampuni. Kalau ada perkataan yang selama ini melukai keluarga, ubahlah cara berbicara.

Kalau ada kebiasaan lama yang tidak berkenan kepada Tuhan, tinggalkan. Kalau selama ini kita terlalu keras, mintalah Tuhan memberi kelembutan. Kalau selama ini kita terlalu egois, mintalah Tuhan mengajar kita mengasihi. Kalau selama ini kita terlalu banyak menuntut, belajarlah memberi teladan.

Ingatlah bahwa anak-anak kita sedang belajar dari kehidupan kita. Mereka sedang melihat bagaimana seorang ayah menghadapi kehidupan. Ketika kita marah, mereka belajar tentang kemarahan. Ketika kita mengampuni, mereka belajar tentang pengampunan. Ketika kita jujur, mereka belajar tentang kejujuran. Ketika kita berdoa, mereka belajar tentang iman. Ketika kita meminta maaf, mereka belajar tentang kerendahan hati. Ketika kita tetap percaya kepada Tuhan dalam kesulitan, mereka belajar bahwa Tuhan dapat diandalkan.

Karena itu, jangan hanya tinggalkan warisan harta kepada anak-anak. Tinggalkan juga warisan iman. Jangan hanya memberikan rumah, tanah, pendidikan, dan pekerjaan. Berikan kepada mereka contoh kehidupan yang menunjukkan bahwa Tuhan adalah pusat kehidupan.

Pada akhirnya, yang paling penting bukan apakah orang lain melihat kita sebagai pria yang sukses, tetapi apakah Tuhan melihat kita sebagai pria yang setia. Bukan hanya apakah kita memiliki banyak harta, tetapi apakah harta itu kita gunakan dengan benar. Bukan hanya apakah kita memiliki jabatan, tetapi apakah jabatan itu kita gunakan untuk melayani. Bukan hanya apakah anak-anak kita takut kepada kita, tetapi apakah mereka menghormati dan mengasihi kita karena melihat Kristus dalam kehidupan kita.

Karena itu, marilah kita sungguh-sungguh menghayati tema ini: “Dibaharui Dalam Roh Dan Pikiranmu Serta Mengenakan Manusia Baru.”

Dibaharui berarti kita bersedia Tuhan mengubah cara berpikir kita.

Dibaharui berarti kita tidak lagi membiarkan kemarahan menguasai kita.

Dibaharui berarti kita berani meninggalkan kebiasaan lama.

Dibaharui berarti kita belajar mengasihi ketika lebih mudah untuk membenci.

Dibaharui berarti kita belajar mengampuni ketika hati masih terluka.

Dibaharui berarti kita memilih kejujuran ketika kebohongan terasa lebih menguntungkan.

Dibaharui berarti kita menggunakan perkataan untuk membangun, bukan menghancurkan.

Dibaharui berarti kita menjadikan rumah kita tempat di mana kasih Kristus dapat dirasakan.

Dan mengenakan manusia baru berarti setiap hari kita memilih untuk hidup sesuai dengan karakter Kristus.

Saudara-saudara, mungkin hari ini ada di antara kita yang berkata dalam hati, “Saya sudah terlalu lama seperti ini. Saya sulit berubah.” Jangan menyerah. Tuhan sanggup memperbarui kehidupan kita. Mungkin ada yang berkata, “Saya sudah terlanjur banyak membuat kesalahan dalam keluarga.” Datanglah kepada Tuhan. Minta pengampunan. Datang kepada keluarga. Berani meminta maaf. Mulailah memperbaiki apa yang masih dapat diperbaiki.

Mungkin ada yang berkata, “Saya masih membawa luka dari masa lalu.” Serahkan kepada Tuhan. Jangan biarkan luka masa lalu menentukan seluruh masa depan. Mungkin ada yang berkata, “Saya sulit mengampuni.” Mintalah Tuhan memberikan kekuatan, sebab kita mengampuni bukan karena kita kuat, tetapi karena kita sendiri telah lebih dahulu menerima pengampunan dalam Kristus.

Kiranya mulai hari ini ada perubahan nyata dalam kehidupan kita sebagai P/KB. Ketika kita masuk ke rumah, biarlah keluarga merasakan damai. Ketika kita berbicara, biarlah perkataan kita membangun. Ketika kita menghadapi masalah, biarlah keluarga melihat iman. Ketika kita melakukan kesalahan, biarlah anak-anak melihat kerendahan hati. Ketika kita diberkati, biarlah orang lain merasakan berkat melalui kehidupan kita.

Jangan hanya menjadi pria yang dikenal kuat oleh dunia. Jadilah pria yang hatinya kuat karena Tuhan. Jangan hanya menjadi kepala keluarga yang memiliki kuasa, tetapi jadilah kepala keluarga yang memiliki kasih. Jangan hanya menjadi ayah yang mampu memberikan kebutuhan materi, tetapi jadilah ayah yang memberikan teladan iman. Jangan hanya menjadi anggota P/KB yang aktif dalam gereja, tetapi jadilah P/KB yang menghadirkan Kristus dalam keluarga dan masyarakat.

Mari kita berdoa dalam hati:

“Tuhan Yesus, baharuilah roh dan pikiranku. Tolong aku menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Jika selama ini aku terlalu keras, lembutkan hatiku. Jika selama ini aku mudah marah, ajarlah aku mengendalikan diri. Jika selama ini aku sulit mengampuni, ajarlah aku mengampuni.

 Jika perkataanku telah melukai keluargaku, berikan aku kerendahan hati untuk meminta maaf dan memperbaikinya. Jadikan aku suami yang mengasihi, ayah yang menjadi teladan, kepala keluarga yang melayani, dan pria yang hidup dalam kebenaran. Biarlah keluargaku melihat Kristus melalui kehidupanku.”

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, manusia lama harus ditanggalkan, roh dan pikiran harus terus dibaharui, dan manusia baru harus dikenakan setiap hari. Jangan biarkan kehidupan kita berhenti pada pengakuan iman. Biarlah iman itu terlihat dalam karakter, terdengar dalam perkataan, dan nyata dalam tindakan.

Kiranya ketika istri melihat kita, ia melihat kasih Kristus. Ketika anak-anak melihat kita, mereka melihat teladan iman. Ketika cucu-cucu melihat kita, mereka melihat warisan rohani. Ketika jemaat melihat kita, mereka melihat seorang pelayan yang rendah hati. Dan ketika masyarakat melihat kita, mereka dapat merasakan bahwa Kristus sungguh-sungguh mengubah kehidupan seseorang.

Tanggalkan manusia lama.
Dibaharui dalam roh dan pikiran.
Kenakan manusia baru.
Hiduplah dalam kebenaran, kasih, kekudusan, pengampunan, dan damai.

Kiranya Tuhan menolong kita untuk tidak hanya menjadi pendengar firman, tetapi menjadi pelaku firman, sehingga pembaruan yang Tuhan kerjakan dalam diri kita benar-benar menjadi berkat bagi keluarga, gereja, dan masyarakat.

Amin.

Editor : Clavel Lukas
mtpj hari ini PKB GMIM khotbah Renungan GMIM pelita