Pekan Biasa ke XXII (Warna Liturgi Hijau)
Bacaan I 1 Korintus 2:10b-16
Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus.
Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarangpun kamu belum dapat menerimanya.
Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?
Karena jika yang seorang berkata: "Aku dari golongan Paulus," dan yang lain berkata: "Aku dari golongan Apolos," bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi yang bukan rohani?
Jadi, apakah Apolos? Apakah Paulus? Pelayan-pelayan Tuhan yang olehnya kamu menjadi percaya, masing-masing menurut jalan yang diberikan Tuhan kepadanya.
Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.
Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan.
Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri.
Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.
Demikianlah Sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah
Mazmur 33:12-13.14-15.20-21
Berbahagialah bangsa, yang Allahnya ialah TUHAN, suku bangsa yang dipilih-Nya menjadi milik-Nya sendiri!
TUHAN memandang dari sorga, Ia melihat semua anak manusia;
dari tempat kediaman-Nya Ia menilik semua penduduk bumi.
Dia yang membentuk hati mereka sekalian, yang memperhatikan segala pekerjaan mereka.
Jiwa kita menanti-nantikan TUHAN. Dialah penolong kita dan perisai kita!
Ya, karena Dia hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang kudus kita percaya.
Bacaan Injil Lukas 4:38-44
Kemudian Ia meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia.
Maka Ia berdiri di sisi perempuan itu, lalu menghardik demam itu, dan penyakit itupun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka.
Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Iapun meletakkan tangan-Nya atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka.
Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak: "Engkau adalah Anak Allah." Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia adalah Mesias.
Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka.
Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus."
Dan Ia memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea.
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus
Renungan
Saudara-saudari terkasih, iman tidak hanya berbicara tentang seberapa lama kita menjadi orang Katolik, seberapa sering kita datang ke gereja, atau seberapa banyak kegiatan rohani yang kita ikuti.
Iman juga berbicara tentang bagaimana hidup kita berubah karena Tuhan.
Ada orang yang sudah lama mengikuti Tuhan, tetapi masih mudah iri ketika orang lain berhasil.
Ada yang aktif dalam pelayanan, tetapi mudah tersinggung ketika jasanya tidak dihargai. Ada pula yang rajin berbicara tentang Tuhan, tetapi masih sulit mengampuni dan berdamai dengan sesama.
Di sinilah kita diajak melihat kembali kedewasaan iman kita. Menjadi dewasa dalam iman bukan berarti kita mengetahui segala sesuatu tentang Tuhan.
Kedewasaan iman justru terlihat ketika hati kita semakin mampu mengasihi, mengampuni, rendah hati, dan menerima bahwa setiap orang mempunyai peran yang berbeda dalam karya Allah.
Kadang-kadang kita terlalu sibuk membandingkan diri dengan orang lain. Mengapa dia lebih dipercaya? Mengapa pelayanan dia lebih terlihat? Mengapa orang lain mendapat pujian sementara saya tidak?.
Tanpa sadar, pelayanan yang seharusnya menjadi persembahan kepada Tuhan berubah menjadi tempat untuk mencari pengakuan.
Bacaan hari ini mengingatkan bahwa dalam karya Tuhan, kita bukanlah pusatnya. Ada yang menanam, ada yang menyiram, ada yang merawat, tetapi Tuhanlah yang membuat semuanya bertumbuh.
Betapa indahnya jika kita memiliki hati seperti itu. Kita melakukan bagian kita dengan sungguh-sungguh, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Tuhan. Kita tidak perlu selalu menjadi yang paling dikenal.
Kita tidak harus selalu berada di depan. Yang penting adalah apa yang kita lakukan sungguh-sungguh membantu menghadirkan kebaikan Tuhan.
Hal yang sama tampak dalam kehidupan Yesus. Setelah melayani dan menyembuhkan banyak orang, Yesus tidak membiarkan diri-Nya terjebak dalam popularitas. Ia tetap mencari tempat yang sunyi untuk berdoa dan kembali menyadari arah perutusan-Nya.
Ini menjadi pelajaran penting bagi kita. Kesibukan pelayanan tidak boleh membuat kita kehilangan Tuhan. Bahkan ketika banyak orang membutuhkan kita, kita tetap membutuhkan waktu untuk berhenti, berdoa, dan kembali mendengarkan kehendak Allah.
Sebab ada perbedaan antara menjadi sibuk untuk Tuhan dan sungguh-sungguh hidup bersama Tuhan. Kita bisa sangat aktif dalam kegiatan Gereja, tetapi hati kita jauh dari Tuhan.
Sebaliknya, seseorang yang sederhana dan tidak banyak terlihat bisa memiliki iman yang sangat dalam karena seluruh hidupnya dijalani bersama Tuhan.
Karena itu, hari ini Tuhan mengajak kita bertumbuh. Jangan hanya bertambah usia dalam iman, tetapi bertambah dewasa dalam kasih. Jangan hanya bertambah banyak kegiatan rohani, tetapi bertambah dalam kerendahan hati.
Ketika ada keberhasilan, belajarlah bersyukur tanpa menyombongkan diri. Ketika orang lain lebih berhasil, belajarlah ikut bersukacita tanpa iri hati. Ketika pelayanan kita tidak dihargai, tetaplah setia karena yang kita cari bukan tepuk tangan manusia, melainkan kesetiaan kepada Tuhan.
Dan ketika kita merasa lelah, jangan hanya mencari tempat untuk beristirahat secara fisik. Carilah juga keheningan bersama Tuhan. Di sanalah kita kembali menemukan kekuatan, arah, dan alasan mengapa kita melayani.
Pada akhirnya, hidup kita bukan tentang siapa yang paling hebat, paling dikenal, atau paling banyak berjasa. Hidup kita adalah tentang bagaimana melalui diri kita, Tuhan dapat menghadirkan kasih, penghiburan, penyembuhan, dan harapan bagi orang lain.
Mari kita menjadi pribadi yang semakin dewasa dalam iman: rendah hati ketika dipuji, setia ketika tidak dilihat, mampu mengasihi ketika sulit, dan tetap percaya bahwa Tuhan sedang menumbuhkan sesuatu yang baik melalui setiap langkah kehidupan kita. (*)
Editor : Fandy Gerungan