Bacaan dan Renungan untuk Orang Muda Katolik, Hari Rabu 2 September 2026

Fandy Gerungan • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 10:09 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Pekan Biasa ke XXII (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I 1 Korintus 2:10b-16

Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus.

Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarangpun kamu belum dapat menerimanya.

Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?

Karena jika yang seorang berkata: "Aku dari golongan Paulus," dan yang lain berkata: "Aku dari golongan Apolos," bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi yang bukan rohani?

Jadi, apakah Apolos? Apakah Paulus? Pelayan-pelayan Tuhan yang olehnya kamu menjadi percaya, masing-masing menurut jalan yang diberikan Tuhan kepadanya.

Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.

Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan.

Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri.

Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 33:12-13.14-15.20-21

Berbahagialah bangsa, yang Allahnya ialah TUHAN, suku bangsa yang dipilih-Nya menjadi milik-Nya sendiri!

TUHAN memandang dari sorga, Ia melihat semua anak manusia;

dari tempat kediaman-Nya Ia menilik semua penduduk bumi.

Dia yang membentuk hati mereka sekalian, yang memperhatikan segala pekerjaan mereka.

Jiwa kita menanti-nantikan TUHAN. Dialah penolong kita dan perisai kita!

Ya, karena Dia hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang kudus kita percaya.

Bacaan Injil Lukas 4:38-44

Kemudian Ia meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia.

Maka Ia berdiri di sisi perempuan itu, lalu menghardik demam itu, dan penyakit itupun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka.

Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Iapun meletakkan tangan-Nya atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka.

Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak: "Engkau adalah Anak Allah." Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia adalah Mesias.

Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka.

Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus."

Dan Ia memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Salve sahabat muda katolik! pernahkah kita merasa harus menjadi lebih hebat daripada orang lain supaya dianggap berharga?

Di zaman sekarang, kita mudah sekali membandingkan diri. Melihat teman yang lebih sukses, lebih cantik atau ganteng, lebih pintar, lebih populer, punya banyak teman, atau kelihatannya hidupnya lebih bahagia di media sosial.

Tanpa sadar, kita mulai bertanya dalam hati, Mengapa hidup saya tidak seperti dia? Dari sinilah iri hati bisa tumbuh. Kita mulai melihat orang lain sebagai saingan, bukan sebagai saudara. 

Bahkan dalam pelayanan di Gereja pun hal seperti ini bisa terjadi. Kita bisa merasa kecewa ketika tidak dipilih, ketika ide kita tidak diterima, atau ketika orang lain mendapat apresiasi lebih banyak daripada kita.

Bacaan hari ini mengajak kita untuk melihat bahwa dalam karya Tuhan, setiap orang memiliki tempat dan perannya masing-masing. Ada yang memulai, ada yang melanjutkan, ada yang mendukung dari belakang. Tidak semuanya harus menjadi pusat perhatian.

Yang sering menjadi masalah adalah kita ingin menjadi pusatnya. Kita ingin dikenal. Kita ingin dipuji. Kita ingin dianggap paling aktif. Kita ingin orang lain tahu bahwa tanpa kita kegiatan tidak akan berjalan.

Padahal, pelayanan bukan panggung untuk membuktikan bahwa kita hebat. Pelayanan adalah kesempatan untuk membiarkan Tuhan berkarya melalui diri kita.

Teman-teman, mungkin ada di antara kita yang sedang merasa tidak berguna karena melihat keberhasilan orang lain. Jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa hidupmu tidak berarti.

Biji yang baru ditanam memang belum langsung terlihat hasilnya. Ada proses yang membutuhkan waktu. Begitu juga dengan hidup kita. Tuhan sedang menumbuhkan sesuatu dalam diri kita, bahkan ketika kita sendiri belum dapat melihat hasilnya.

Karena itu, jangan membandingkan proses hidupmu dengan proses hidup orang lain. Kamu tidak harus menjadi seperti temanmu. Kamu tidak harus memiliki pencapaian yang sama. 

Kamu tidak harus mendapatkan perhatian sebanyak orang lain. Tuhan mempunyai jalan yang berbeda untuk setiap pribadi.

Injil hari ini juga memperlihatkan sesuatu yang menarik dari kehidupan Yesus. Setelah melakukan banyak pelayanan dan menolong begitu banyak orang, Yesus tetap mengambil waktu untuk menyendiri dan berdoa.

Yesus tidak membiarkan popularitas menentukan arah hidup-Nya. Ini penting bagi kita sebagai orang muda. Kadang-kadang kita terlalu sibuk mengejar banyak hal sampai lupa bertanya: Sebenarnya saya sedang berjalan ke mana?

Kita mengejar nilai, pekerjaan, hubungan, popularitas, jumlah pengikut, pengakuan, bahkan kesuksesan. Tetapi kalau semua itu tercapai, apakah kita semakin dekat dengan Tuhan?

Sebab tidak semua yang membuat kita terkenal membuat kita bahagia. Tidak semua yang membuat kita dikagumi membuat hidup kita berarti. Yesus menunjukkan bahwa hidup harus memiliki arah. 

Kita perlu tahu untuk apa kita hidup, apa yang Tuhan percayakan kepada kita, dan ke mana Tuhan sedang mengutus kita.

Maka menjadi orang muda Katolik bukan hanya soal rajin datang ke Gereja atau aktif dalam kegiatan OMK. Lebih dari itu, kita dipanggil untuk menjadi pribadi yang bertumbuh dalam iman dan kasih.

Kalau dulu kita mudah iri, sekarang belajar ikut bersukacita atas keberhasilan orang lain. Kalau dulu kita mudah tersinggung ketika tidak dihargai, sekarang belajar melayani dengan tulus.

Kalau dulu kita ingin selalu terlihat, sekarang belajar melakukan kebaikan meskipun tidak ada yang melihat. Kalau dulu kita terlalu sibuk mengejar pengakuan manusia, sekarang belajar mencari kehendak Tuhan.

Teman-teman, mungkin kita tidak selalu bisa menjadi orang yang paling hebat. Tetapi kita selalu bisa menjadi orang yang setia.

Mungkin nama kita tidak pernah disebut dalam banyak hal. Tetapi kebaikan yang kita lakukan dengan tulus tidak pernah sia-sia di hadapan Tuhan.

Mungkin hari ini kita belum melihat hasil dari perjuangan kita. Jangan menyerah. Tetaplah menanam kebaikan. Tetaplah menyiram dengan kesetiaan. Selebihnya, percayakan pertumbuhan itu kepada Tuhan.

Karena hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai. Hidup adalah tentang apakah kita tetap berjalan bersama Tuhan.

Jadi, teman-teman OMK, jangan habiskan hidup untuk membuktikan bahwa kita lebih hebat daripada orang lain.

Bertumbuhlah, belajarlah, layani dengan tulus, berdoalah dalam keheningan,
dan izinkan Tuhan membentuk hidup kita seturut rencana-Nya. Sebab ketika Tuhan menjadi pusat hidup kita, kita tidak lagi takut ketika orang lain lebih hebat dari kita. 

Kita justru mampu berkata dalam hati, Saya tidak harus menjadi seperti dia. Tuhan mempunyai jalan-Nya sendiri untuk saya. Dan di situlah kita mulai menjadi dewasa dalam iman. (*)

Editor : Fandy Gerungan
renungan katolik omk Renungan