Bacaan dan Renungan untuk Umat Katolik, Hari Kamis 3 September 2026

Fandy Gerungan • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 15:06 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Peringatan Wajib St. Gregorius Agung (Warna Liturgi Putih)

Bacaan I 1 Korintus 3:18-23

Janganlah ada orang yang menipu dirinya sendiri. Jika ada di antara kamu yang menyangka dirinya berhikmat menurut dunia ini, biarlah ia menjadi bodoh, supaya ia berhikmat.

Karena hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah. Sebab ada tertulis: "Ia yang menangkap orang berhikmat dalam kecerdikannya."

Dan di tempat lain: "Tuhan mengetahui rancangan-rancangan orang berhikmat; sesungguhnya semuanya sia-sia belaka."

Karena itu janganlah ada orang yang memegahkan dirinya atas manusia, sebab segala sesuatu adalah milikmu:

baik Paulus, Apolos, maupun Kefas, baik dunia, hidup, maupun mati, baik waktu sekarang, maupun waktu yang akan datang. Semuanya kamu punya.

Tetapi kamu adalah milik Kristus dan Kristus adalah milik Allah.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 24:1-2.3-4ab.5-6

Mazmur Daud. Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya.

Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai.

"Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?"

"Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu.

Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia.

Itulah angkatan orang-orang yang menanyakan Dia, yang mencari wajah-Mu, ya Allah Yakub." Sela

Bacaan Injil Lukas 5:1-11

Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah.

Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya.

Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu.

Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan."

Simon menjawab: "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga."

Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak.

Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam.

Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata: "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa."

Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap;

demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon: "Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia."

Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, merekapun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Saudara-saudari terkasih, sering kali kita merasa bahwa kita paling tahu apa yang terbaik bagi hidup kita. Kita sudah membuat rencana, menghitung kemungkinan, menggunakan pengalaman, bahkan berusaha sekuat tenaga. 

Namun, tidak jarang pada akhirnya kita tetap menemukan kegagalan. Ada saat-saat ketika kita sudah bekerja keras, tetapi hasilnya tidak sesuai harapan. Kita sudah berusaha mempertahankan keluarga, pekerjaan, pelayanan, persahabatan, atau cita-cita, tetapi semuanya seolah berjalan di tempat.

Dalam situasi seperti itu, kita mudah bertanya: Mengapa Tuhan membiarkan semua ini terjadi? Bacaan hari ini mengajak kita melihat bahwa tidak semua hal dalam hidup dapat diukur hanya dengan logika dan keberhasilan manusia. 

Ada saatnya kita perlu mengakui bahwa pengetahuan dan kekuatan kita terbatas. Kita tidak selalu memahami apa yang sedang Tuhan kerjakan.

Petrus mengalami hal itu secara nyata. Ia seorang nelayan yang tentu memahami danau, mengenal pekerjaannya, dan tahu bagaimana mencari ikan. Namun setelah bekerja keras semalaman, hasilnya justru kosong.

Menariknya, justru di tengah kegagalan itulah Tuhan datang kepadanya. Tuhan tidak menunggu sampai Petrus berhasil. Tuhan hadir ketika jala Petrus kosong.

Ini menjadi penghiburan besar bagi kita. Tuhan tidak hanya hadir ketika hidup kita sedang baik-baik saja. Tuhan juga hadir ketika kita kecewa, gagal, bingung, kehilangan arah, dan merasa tidak mempunyai apa-apa untuk dibanggakan.

Kadang-kadang kita berpikir bahwa kegagalan berarti Tuhan meninggalkan kita. Padahal bisa jadi, kegagalan sedang menjadi ruang tempat Tuhan mengajarkan sesuatu yang tidak dapat kita pelajari ketika semuanya berjalan sesuai keinginan kita.

Petrus akhirnya belajar bahwa hidup tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan sendiri. Ia perlu belajar percaya. Ia perlu berani melangkah meskipun tidak semuanya masuk akal menurut perhitungannya.

Dan ketika ia melihat karya Tuhan, Petrus justru menyadari keterbatasan dirinya. Ia tidak menjadi sombong karena memperoleh keberhasilan. Sebaliknya, ia semakin rendah hati.

Inilah salah satu tanda kedewasaan iman: semakin dekat dengan Tuhan, kita bukan semakin merasa hebat, tetapi semakin sadar bahwa hidup kita adalah anugerah.

Hari ini kita juga memperingati St. Gregorius Agung. Ia adalah seorang pemimpin Gereja yang besar, tetapi kebesarannya tidak membuatnya hidup untuk dirinya sendiri. 

Ia menggunakan pengetahuan, kemampuan, dan tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya untuk melayani Tuhan dan umat.

Gelar Agung tidak membuat Gregorius menjadi besar di hadapan dirinya sendiri. Justru kebesarannya terlihat dalam kerendahan hati dan kesediaannya menjadi pelayan.

Dari sini kita belajar bahwa Tuhan tidak mencari orang yang merasa dirinya sempurna. Tuhan mencari hati yang bersedia dibentuk dan digunakan-Nya.

Mungkin kita merasa tidak cukup pintar. Mungkin kita merasa tidak cukup baik. Mungkin kita pernah melakukan kesalahan besar. Mungkin kita merasa tidak layak melayani Tuhan.

Tetapi Tuhan dapat bekerja melalui orang yang menyadari keterbatasannya.
Yang Tuhan perlukan bukan manusia yang merasa mampu melakukan semuanya sendiri, melainkan manusia yang berani berkata dalam hati, Tuhan, saya mungkin tidak sempurna, tetapi saya bersedia Engkau gunakan.

Karena itu, jangan takut ketika Tuhan mengajak kita keluar dari zona nyaman.

Mungkin Tuhan memanggil kita untuk berdamai dengan seseorang. Mungkin Tuhan mengajak kita kembali aktif dalam kehidupan menggereja. Mungkin Tuhan mengutus kita untuk memperhatikan orang yang selama ini kita abaikan. 

Mungkin Tuhan sedang mengajak kita menggunakan kemampuan kita bukan hanya untuk mengejar keberhasilan pribadi, tetapi untuk menjadi berkat bagi orang lain.

Panggilan Tuhan sering kali datang melalui hal-hal sederhana. Menolong seseorang. Mendengarkan orang yang sedang terluka. Menguatkan teman yang kehilangan harapan. Melayani tanpa mencari pujian. 

Menggunakan pekerjaan kita dengan jujur. Menjadi pribadi yang membawa damai di tengah keluarga. Semua itu bisa menjadi tempat Tuhan memanggil kita.

Dan ketika Tuhan memanggil, kita tidak perlu menunggu sampai merasa sempurna. Petrus juga tidak menjadi sempurna terlebih dahulu baru kemudian dipanggil. Ia dipanggil dalam segala keterbatasannya. 

Tuhan kemudian berjalan bersamanya dan membentuknya sedikit demi sedikit. Begitu juga dengan kita. Jangan biarkan masa lalu membuat kita merasa tidak layak untuk masa depan.

Jangan biarkan kegagalan membuat kita berhenti melangkah. Jangan biarkan rasa takut membuat kita menolak panggilan Tuhan.

Bisa jadi, di balik jala yang kosong hari ini, Tuhan sedang menyiapkan perutusan yang baru. Maka marilah kita belajar dari Petrus dan St. Gregorius Agung: bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi tetap rendah hati. 

Menggunakan kemampuan yang kita miliki, tetapi tidak mengandalkan diri sendiri; berani melangkah, tetapi tetap menyerahkan hasilnya kepada Tuhan.

Sebab pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa hebat kita dapat melakukan sesuatu. Hidup adalah tentang seberapa rela kita membiarkan Tuhan bekerja melalui diri kita.

Dan mungkin hari ini Tuhan sedang berkata kepada kita masing-masing: Jangan takut. Tinggalkan rasa takutmu, percayalah, dan beranilah melangkah. Ada banyak orang yang menantikan kasih Tuhan yang dapat mereka temukan melalui hidupmu. (*)

Editor : Fandy Gerungan
renungan katolik Renungan