Bacaan dan Renungan untuk Orang Muda Katolik, Hari Jumat 4 September 2026

Fandy Gerungan • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 10:10 WIB
Perjamuan Malam Terakhir
Perjamuan Malam Terakhir

Pekan Biasa ke XXII (Warna Liturgi Hijau)

Bacaan I 1 Korintus 4:1-5

Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah.

Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai.

Bagiku sedikit sekali artinya entahkah aku dihakimi oleh kamu atau oleh suatu pengadilan manusia. Malahan diriku sendiripun tidak kuhakimi.

Sebab memang aku tidak sadar akan sesuatu, tetapi bukan karena itulah aku dibenarkan. Dia, yang menghakimi aku, ialah Tuhan.

Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Maka tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur kepada Allah

Mazmur 37:3-4.5-6.27-28.39-40

Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia,

dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.

Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;

Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang.

Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, maka engkau akan tetap tinggal untuk selama-lamanya;

sebab TUHAN mencintai hukum, dan Ia tidak meninggalkan orang-orang yang dikasihi-Nya. Sampai selama-lamanya mereka akan terpelihara, tetapi anak cucu orang-orang fasik akan dilenyapkan.

Orang-orang benar diselamatkan oleh TUHAN; Ia adalah tempat perlindungan mereka pada waktu kesesakan;

TUHAN menolong mereka dan meluputkan mereka, Ia meluputkan mereka dari tangan orang-orang fasik dan menyelamatkan mereka, sebab mereka berlindung pada-Nya.

Bacaan Injil Lukas 5:33-39

Orang-orang Farisi itu berkata pula kepada Yesus: "Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum."

Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka?

Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa."

Ia mengatakan juga suatu perumpamaan kepada mereka: "Tidak seorangpun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju yang tua. Jika demikian, yang baru itu juga akan koyak dan pada yang tua itu tidak akan cocok kain penambal yang dikoyakkan dari yang baru itu.

Demikian juga tidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itupun hancur.

Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula.

Dan tidak seorangpun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata: Anggur yang tua itu baik."

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

Renungan

Salve sahabat muda katolik, kita sering hidup dalam dunia yang penuh penilaian. Di media sosial, kita bisa dinilai dari penampilan, jumlah likes, komentar, prestasi, bahkan dari apa yang kita posting. 

Kadang kita akhirnya bertanya, “Apa kata orang tentang saya?” sampai lupa bertanya, “Apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup saya?”

Bacaan hari ini mengajak kita untuk melihat kembali siapa yang sebenarnya menjadi pusat hidup kita. Paulus menunjukkan bahwa seorang pengikut Kristus dipanggil untuk menjadi pribadi yang setia dan dapat dipercaya. 

Artinya, hidup kita tidak terutama ditentukan oleh penilaian manusia, tetapi oleh kesetiaan kita kepada Tuhan.

Tidak semua orang akan memahami pilihan hidup kita. Ketika kita memilih untuk tetap jujur, mungkin ada yang menganggap kita bodoh. Ketika kita menolak mengikuti pergaulan yang tidak baik, mungkin kita disebut sok suci. 

Ketika kita berusaha hidup sesuai iman, mungkin ada yang mengatakan bahwa kita terlalu serius. Tetapi menjadi murid Kristus memang tidak selalu berarti mengikuti apa yang sedang populer. Kadang-kadang justru kita dipanggil untuk berani berbeda.

Injil berbicara tentang anggur baru yang membutuhkan wadah yang baru. Bagi kita sebagai orang muda, gambaran ini sangat kuat. Tuhan sedang menawarkan sesuatu yang baru dalam hidup kita, tetapi kita juga harus bersedia menjadi pribadi yang baru.

Kita tidak mungkin meminta Tuhan memberikan masa depan yang baru kalau kita terus mempertahankan kebiasaan lama yang menghancurkan diri sendiri. Kita tidak bisa berharap memiliki relasi yang sehat kalau kita masih dikuasai ego. 

Kita tidak bisa meminta hidup kita dipenuhi damai kalau hati kita terus dipenuhi iri hati, dendam, dan keinginan untuk membuktikan diri kepada orang lain.

Menjadi muda berarti berada dalam proses bertumbuh. Kita boleh pernah salah. Kita boleh pernah jatuh. Kita boleh memiliki masa lalu yang tidak sempurna. Tetapi jangan menjadikan masa lalu sebagai alasan untuk berhenti berubah.

Tuhan tidak melihat kita hanya berdasarkan kesalahan yang pernah kita lakukan. Tuhan melihat kemungkinan besar yang masih dapat bertumbuh dalam diri kita.

Karena itu, jangan terlalu takut dengan penilaian orang. Orang lain hanya melihat sebagian kecil dari perjalanan hidup kita. Tuhan melihat seluruh perjuangan kita. 

Tuhan mengetahui air mata yang tidak pernah kita ceritakan, pergumulan yang kita sembunyikan, dan usaha kita untuk menjadi lebih baik.

Sebagai OMK, kita dipanggil bukan hanya menjadi orang muda yang aktif dalam kegiatan Gereja, tetapi juga menjadi pribadi yang sungguh-sungguh menghadirkan Kristus dalam kehidupan sehari-hari. 

Di kampus, di sekolah, di tempat kerja, dalam keluarga, dalam pertemanan, bahkan di media sosial. Pertanyaannya bukan hanya, “Apakah saya aktif di Gereja?” tetapi juga, “Apakah kehadiran saya membuat orang lain merasakan kasih Kristus?”

Mungkin hari ini Tuhan sedang mengajak kita menjadi anggur baru: meninggalkan cara hidup yang lama dan membuka hati terhadap pembaruan-Nya.

Jangan takut berubah. Jangan takut bertumbuh. Jangan takut menjadi berbeda karena iman. Sebab menjadi orang muda Katolik bukan tentang terlihat sempurna di hadapan manusia, tetapi tentang terus belajar menjadi pribadi yang setia di hadapan Tuhan. (*)

Editor : Fandy Gerungan
renungan katolik omk Renungan