Bacaan: Keluaran 18:13-27
Tema: “Carilah Orang Yang Cakap Dan Takut Akan Allah”
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, salah satu persoalan yang sangat menentukan dalam kehidupan bersama adalah siapa yang kita percayakan untuk memegang tanggung jawab. Di dalam keluarga, gereja, pekerjaan, organisasi, maupun masyarakat, kualitas orang yang menerima tanggung jawab akan sangat memengaruhi hasil dari tugas yang dijalankan.
Karena itu, memilih orang tidak boleh hanya berdasarkan kedekatan, popularitas, kemampuan berbicara, kekayaan, hubungan keluarga, atau karena orang tersebut sudah lama berada dalam suatu lingkungan. Firman Tuhan dalam Keluaran 18:13-27 memberikan satu prinsip yang sangat penting: “Carilah orang yang cakap dan takut akan Allah.”
Nasihat ini diberikan Yitro kepada Musa ketika Musa memikul terlalu banyak tanggung jawab seorang diri. Dari pagi sampai petang bangsa Israel datang kepada Musa untuk meminta keputusan. Musa menjadi pusat semua perkara, dan pada akhirnya Yitro melihat bahwa sistem seperti itu tidak akan bertahan. Musa akan kelelahan dan bangsa pun akan terlalu lama menunggu. Karena itu, Yitro menyarankan supaya Musa membagi tanggung jawab kepada orang-orang yang tepat.
Namun menariknya, Yitro tidak berkata, “Carilah sebanyak mungkin orang.” Ia juga tidak berkata, “Carilah orang yang paling terkenal.” Ia memberikan kriteria yang jelas: mereka harus cakap, takut akan Allah, dapat dipercaya, dan tidak mengejar keuntungan yang tidak benar. Ini menunjukkan bahwa di hadapan Tuhan, kemampuan dan karakter harus berjalan bersama.
Pada zaman sekarang, banyak orang sangat menekankan kompetensi. Kita mencari orang yang pintar, berpengalaman, cepat bekerja, pandai berkomunikasi, mampu menggunakan teknologi, dan mempunyai jaringan luas. Semua itu memang penting, tetapi firman Tuhan mengingatkan bahwa kecakapan tanpa takut akan Allah dapat berubah menjadi kemampuan yang dipakai untuk kepentingan pribadi. Orang yang pintar tetapi tidak jujur dapat lebih berbahaya daripada orang yang sederhana. Sebaliknya, orang yang mempunyai hati baik tetapi tidak mau belajar dan meningkatkan kemampuan juga dapat mengalami kesulitan dalam menjalankan tanggung jawab.
Karena itu, renungan ini tidak hanya berbicara kepada kita tentang bagaimana memilih orang lain, tetapi juga mengajak kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah saya sedang menjadi orang yang cakap dan takut akan Allah? Apakah saya dapat dipercaya ketika menerima tanggung jawab? Apakah saya menjalankan tugas karena ingin melayani atau karena ingin dihormati?
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Kitab Keluaran menceritakan karya besar Allah yang membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir. Setelah keturunan Yakub berkembang menjadi bangsa yang besar, mereka mengalami penindasan yang berat. Tuhan mendengar jeritan mereka dan memanggil Musa untuk membawa mereka keluar dari Mesir.
Melalui Musa, Tuhan menunjukkan kuasa-Nya melalui berbagai tulah, membebaskan Israel dari tangan Firaun, membelah Laut Teberau, dan memimpin umat menuju padang gurun. Namun keluarnya bangsa Israel dari Mesir bukan berarti perjalanan mereka sudah selesai. Mereka memang telah bebas dari perbudakan, tetapi sekarang mereka harus belajar hidup sebagai umat Tuhan.
Bangsa yang dahulu hidup sebagai budak harus dibentuk menjadi komunitas yang tertib, bertanggung jawab, dan hidup berdasarkan kehendak Allah. Mereka harus belajar bagaimana menyelesaikan persoalan, bagaimana hidup bersama, bagaimana menjalankan hukum, dan bagaimana mengatur kehidupan sebagai suatu bangsa.
Keluaran pasal 18 berada dalam konteks pembentukan tersebut. Yitro, mertua Musa, datang menemui Musa dan melihat bagaimana Musa memimpin bangsa Israel. Ia menyaksikan sendiri bahwa seluruh rakyat datang kepada Musa dari pagi sampai petang untuk menyelesaikan berbagai persoalan. Melihat keadaan tersebut, Yitro memberikan nasihat yang sangat penting mengenai pembagian tanggung jawab dan pemilihan orang-orang yang tepat.
Dengan demikian, bagian ini tidak sekadar berbicara mengenai struktur organisasi. Bagian ini menunjukkan bahwa pekerjaan Tuhan membutuhkan ketertiban, hikmat, pembagian tugas, dan pemimpin-pemimpin yang berkarakter.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Tema ini berasal dari ayat 21. Nasihat Yitro mempunyai makna yang sangat dalam karena ia tidak memisahkan kemampuan dari kehidupan rohani.
Cakap berarti memiliki kemampuan yang diperlukan untuk menjalankan tugas. Seseorang yang menerima tanggung jawab harus mampu belajar, berpikir, mengambil keputusan, dan menyelesaikan tugas dengan baik. Dalam kehidupan iman, kerohanian tidak pernah menjadi alasan untuk tidak meningkatkan kemampuan.
Takut akan Allah bukan berarti hidup dalam ketakutan seperti seseorang yang takut dihukum, tetapi hidup dalam rasa hormat yang dalam kepada Tuhan, mengakui kedaulatan-Nya, dan menempatkan kehendak-Nya sebagai dasar keputusan.
Orang yang takut akan Allah tetap melakukan yang benar sekalipun tidak ada yang melihat. Ia sadar bahwa hidupnya selalu berada di hadapan Tuhan.
Yitro juga mengatakan bahwa mereka harus dapat dipercaya. Artinya, karakter mereka harus dapat diandalkan. Ucapan mereka dapat dipegang, keputusan mereka tidak mudah dibeli, dan mereka menjalankan tanggung jawab dengan setia.
Selain itu mereka harus membenci pengejaran keuntungan yang tidak benar. Ini berarti seseorang tidak boleh menjadikan jabatan dan kepercayaan sebagai kesempatan untuk mengambil keuntungan bagi diri sendiri.
Dengan demikian, orang yang tepat menurut firman Tuhan bukan hanya orang yang mampu, tetapi orang yang memiliki kemampuan, takut akan Allah, integritas, dan hati yang bersih.
Pembahasan Ayat Demi Ayat
Ayat 13. Musa duduk mengadili bangsa itu dan rakyat berdiri menghadapnya dari pagi sampai petang. Keadaan ini menunjukkan betapa besar tanggung jawab Musa. Ia menjadi tempat bangsa mencari keputusan dan penyelesaian. Secara sekilas, apa yang dilakukan Musa tampak sangat baik karena ia melayani kebutuhan bangsa. Namun, ada persoalan yang tersembunyi di dalamnya: seluruh sistem bergantung kepada satu orang. Ketika semua perkara harus melewati Musa, bukan hanya Musa yang kelelahan, tetapi bangsa juga harus menunggu.
Dalam kehidupan sekarang, kita sering menemukan pola yang sama. Ada pemimpin yang merasa bahwa semua pekerjaan harus dilakukan sendiri karena hanya dirinya yang dianggap mampu. Ada juga orang yang sulit mempercayakan tugas kepada orang lain karena takut hasilnya tidak sesuai harapan. Padahal firman Tuhan mengingatkan bahwa pekerjaan yang besar membutuhkan kerja bersama. Tuhan tidak menciptakan satu orang untuk mengerjakan semuanya sendiri.
Ayat 14. Yitro melihat apa yang Musa lakukan dan bertanya mengapa Musa bekerja seorang diri sementara bangsa berdiri menunggu sepanjang hari. Pertanyaan Yitro merupakan bentuk perhatian sekaligus koreksi. Musa sendiri mungkin sudah terlalu terbiasa dengan keadaan tersebut sehingga tidak menyadari bahwa sistem yang ia jalankan tidak sehat.
Ini mengajarkan bahwa kita membutuhkan orang-orang yang berani memberikan nasihat dengan jujur. Kadang Tuhan memakai orang lain untuk menunjukkan kelemahan yang tidak kita lihat. Karena itu, jangan menganggap setiap kritik sebagai serangan. Ada nasihat yang menjadi jalan bagi pertumbuhan. Pemimpin yang dewasa bukan orang yang tidak pernah dikritik, tetapi orang yang tahu membedakan mana kritik yang harus diabaikan dan mana nasihat yang perlu diterima.
Ayat 15-16. Musa menjelaskan bahwa rakyat datang kepadanya untuk mencari keputusan Allah. Jika terjadi perkara, Musa mengadili dan memberitahukan ketetapan serta hukum Allah. Dari jawaban Musa terlihat bahwa apa yang dilakukannya sebenarnya adalah tugas yang baik. Ia membantu umat memahami kehendak Tuhan. Masalahnya bukan pada isi pelayanan, tetapi pada cara pelaksanaannya. Ini mengingatkan kita bahwa melakukan hal yang baik belum tentu berarti kita melakukannya dengan cara yang paling bijaksana.
Dalam pelayanan, seseorang dapat sangat sibuk melakukan pekerjaan yang baik sampai kehilangan keseimbangan dalam hidup. Ada yang aktif melayani tetapi tidak lagi mempunyai waktu untuk keluarga. Ada yang berusaha mengurus semuanya sampai kelelahan. Firman ini mengajar bahwa pelayanan kepada Tuhan juga membutuhkan hikmat, keteraturan, dan batas yang sehat.
Ayat 17-18. Yitro dengan tegas mengatakan bahwa apa yang dilakukan Musa tidak baik, sebab Musa dan bangsa itu akan sama-sama menjadi lelah. Tugas itu terlalu berat untuk dilakukan seorang diri. Pernyataan ini sangat penting karena menunjukkan bahwa bahkan pemimpin besar seperti Musa tetap memiliki keterbatasan. Musa dipanggil Tuhan, tetapi ia bukan manusia tanpa batas.
Kesadaran terhadap keterbatasan bukan tanda kegagalan, melainkan tanda kedewasaan. Dalam kehidupan sekarang, banyak orang merasa bahwa meminta bantuan berarti lemah. Padahal orang yang bijaksana tahu bahwa ada saatnya ia harus menerima pertolongan. Dalam keluarga, pekerjaan, maupun pelayanan, kita harus belajar membagi tanggung jawab. Tidak semua hal harus dipikul sendiri.
Ayat 19. Yitro kemudian mengajak Musa mendengarkan nasihatnya dan berkata bahwa Allah kiranya menyertai Musa. Ini menunjukkan bahwa Yitro bukan hanya menyampaikan kritik, tetapi memberikan solusi sekaligus menempatkan semuanya di bawah penyertaan Tuhan. Inilah pola nasihat yang sehat. Jangan hanya menunjukkan kesalahan orang lain tanpa memberikan jalan keluar.
Dan jangan merasa bahwa sistem yang baik dapat menggantikan Tuhan. Kita tetap membutuhkan penyertaan Allah. Struktur yang baik penting, tetapi tanpa hikmat Tuhan struktur dapat menjadi kosong. Karena itu, dalam menjalankan tanggung jawab kita harus menggabungkan doa dengan perencanaan, iman dengan keteraturan, dan ketergantungan kepada Tuhan dengan kesungguhan dalam bekerja.
Ayat 20. Yitro berkata kepada Musa supaya mengajarkan ketetapan dan hukum kepada bangsa serta menunjukkan jalan yang harus mereka tempuh dan pekerjaan yang harus mereka lakukan. Ini berarti Musa harus memusatkan perhatian pada tugas yang paling penting, yaitu mengajar dan memperlengkapi umat. Seorang pemimpin bukan orang yang melakukan segala sesuatu sendiri, tetapi orang yang membuat orang lain bertumbuh dan mampu melakukan tanggung jawab.
Prinsip ini juga sangat penting dalam keluarga. Orang tua tidak boleh selamanya mengambil semua keputusan untuk anak. Tugas orang tua adalah mengajarkan nilai-nilai yang benar supaya anak suatu hari mampu mengambil keputusan dengan bertanggung jawab. Dalam gereja, pemimpin bukan hanya menyelesaikan semua masalah jemaat, tetapi memperlengkapi jemaat supaya menjadi dewasa dalam iman.
Ayat 21. Inilah pusat dari tema kita. Yitro berkata supaya Musa mencari orang yang cakap dan takut akan Allah, orang yang dapat dipercaya serta membenci keuntungan yang tidak benar. Ayat ini menunjukkan standar kepemimpinan yang sangat tinggi. Kecakapan berbicara tentang kemampuan, takut akan Allah berbicara tentang kehidupan rohani, dapat dipercaya berbicara tentang integritas, dan membenci keuntungan tidak benar berbicara tentang kemurnian motivasi. Semua ini harus berjalan bersama.
Dalam kehidupan sekarang, banyak kesalahan terjadi karena orang dipilih hanya berdasarkan popularitas, kedekatan, hubungan keluarga, atau kepentingan kelompok. Firman Tuhan mengajak kita melihat lebih dalam. Ketika memilih orang untuk memegang tanggung jawab, kita harus melihat apakah ia mampu, apakah ia takut kepada Tuhan, apakah perkataannya dapat dipercaya, dan apakah ia bebas dari keinginan menggunakan jabatan untuk kepentingan diri sendiri. Ini menjadi prinsip penting dalam keluarga, gereja, organisasi, dan kehidupan masyarakat.
Ayat 22. Orang-orang yang dipilih kemudian bertugas mengadili bangsa setiap waktu. Perkara yang besar tetap dibawa kepada Musa, sedangkan perkara yang kecil dapat mereka selesaikan. Inilah bentuk pendelegasian yang sehat. Musa tetap menjadi pemimpin, tetapi ia tidak harus menangani semuanya sendiri. Membagi tanggung jawab bukan berarti kehilangan kuasa.
Justru pemimpin yang dewasa mampu mempercayai orang lain. Dalam pelayanan, kita kadang takut memberikan kesempatan karena khawatir orang lain akan lebih menonjol atau lebih disukai. Padahal keberhasilan seorang pemimpin dapat dilihat dari kemampuannya mempersiapkan orang lain untuk turut bertanggung jawab. Pemimpin yang sehat tidak membuat semua orang tergantung kepadanya, tetapi membangun orang supaya mampu berdiri dan melayani dengan baik.
Ayat 23. Yitro menjelaskan bahwa jika Musa melakukan hal itu dan Allah memerintahkannya demikian, Musa akan sanggup bertahan dan rakyat akan pulang dengan puas. Ada dua hasil dari sistem yang sehat: pemimpin tidak habis kelelahan dan orang yang dilayani mendapat pelayanan yang lebih baik. Ini penting dalam kehidupan gereja sekarang.
Jangan sampai kita menyebut sebuah pelayanan berhasil hanya karena banyak kegiatan dilaksanakan, sementara para pelayannya sudah kehilangan sukacita, kesehatan, dan waktu bersama keluarga. Tuhan tidak hanya memperhatikan hasil, tetapi juga cara kita menjalankan tanggung jawab. Sistem yang sehat membuat pelayanan dapat berlangsung dalam jangka panjang dan melibatkan banyak orang.
Ayat 24. Musa mendengarkan perkataan Yitro dan melakukan apa yang dinasihatkan kepadanya. Sikap Musa ini menunjukkan kerendahan hati yang luar biasa. Musa adalah orang yang dipanggil Tuhan secara langsung, mengalami banyak mujizat, dan memimpin bangsa keluar dari Mesir, tetapi ia tetap mau mendengar nasihat mertuanya.
Ia tidak merasa bahwa kedudukannya membuat dirinya tidak dapat dikoreksi. Inilah kualitas penting seorang pemimpin. Orang yang berhenti mendengar biasanya juga berhenti bertumbuh. Karena itu, siapa pun kita, berapa pun usia dan pengalaman kita, kita tetap membutuhkan kerendahan hati untuk mendengar nasihat yang benar.
Ayat 25. Musa kemudian memilih orang-orang yang cakap dari seluruh Israel dan mengangkat mereka sebagai pemimpin seribu orang, seratus orang, lima puluh orang, dan sepuluh orang. Pembagian ini menunjukkan bahwa tidak semua orang menerima tanggung jawab yang sama, tetapi semuanya mempunyai tempat. Ada yang memegang tanggung jawab besar dan ada yang lebih kecil.
Namun ukuran kesetiaan bukan seberapa besar posisi seseorang, melainkan bagaimana ia menjalankan apa yang dipercayakan kepadanya. Dalam gereja, kadang orang lebih tertarik kepada tugas yang terlihat daripada pekerjaan yang sederhana. Padahal di hadapan Tuhan, pelayanan kecil yang dilakukan dengan setia mempunyai nilai besar. Jangan merasa tidak berguna hanya karena tanggung jawab kita tidak besar. Yang Tuhan lihat adalah kesetiaan.
Ayat 26. Orang-orang yang telah dipilih menjalankan tugas mereka. Perkara yang sulit dibawa kepada Musa sedangkan perkara kecil mereka putuskan sendiri. Ini menunjukkan bahwa tanggung jawab harus disertai dengan batas yang jelas. Pendelegasian tidak berarti setiap orang bebas melakukan apa saja. Mereka harus tahu kapan dapat mengambil keputusan dan kapan harus meminta pertimbangan.
Dalam kehidupan organisasi dan pelayanan sekarang, batas tanggung jawab sangat penting. Banyak konflik muncul karena orang tidak memahami perannya. Ada yang mengambil alih tanggung jawab orang lain, dan ada pula yang melemparkan tugas yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya sendiri. Keteraturan membantu setiap orang bekerja dengan baik.
Ayat 27. Bagian ini ditutup dengan Musa membiarkan Yitro pergi kembali ke negerinya. Kelihatannya sederhana, tetapi Yitro telah meninggalkan sesuatu yang sangat berharga, yaitu hikmat yang membuat sistem kepemimpinan Israel menjadi lebih sehat. Hal ini menunjukkan bahwa seseorang tidak harus tinggal lama untuk memberi dampak yang besar. Satu nasihat yang tepat, diberikan dengan tulus dan diterima dengan rendah hati, dapat mengubah banyak hal. Karena itu, jangan meremehkan orang yang Tuhan pakai untuk memberi nasihat kepada kita.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Kisah yang sangat sesuai dengan Keluaran 18:13-27 terdapat dalam Kisah Para Rasul 6:1-7. Ketika jumlah murid semakin bertambah, terjadi persoalan dalam pelayanan kepada para janda. Para rasul menyadari bahwa pelayanan semakin besar dan tidak mungkin semua tanggung jawab dilakukan oleh mereka sendiri.
Karena itu, jemaat diminta memilih tujuh orang yang terkenal baik, penuh dengan Roh dan hikmat. Sementara para rasul memusatkan perhatian pada doa dan pelayanan firman, tujuh orang tersebut dipercaya mengurus pelayanan yang lain.
Menariknya, kriteria yang digunakan juga menyentuh kemampuan dan karakter. Mereka tidak mencari sembarang orang hanya supaya tugas cepat terbagi. Mereka mencari orang yang mempunyai reputasi baik, dipenuhi Roh, dan memiliki hikmat.
Hasilnya, pelayanan menjadi lebih teratur dan firman Allah semakin tersebar. Jumlah murid semakin bertambah.
Kisah ini menguatkan prinsip yang kita temukan dalam Keluaran 18: ketika pekerjaan semakin besar, Tuhan memakai lebih banyak orang. Tetapi orang-orang yang dipakai harus dipilih dengan bijaksana.
Gereja tidak dibangun oleh satu orang yang melakukan semuanya. Gereja dibangun ketika banyak orang yang takut akan Tuhan menggunakan kemampuan dan karunia mereka dengan setia.
Penutup
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, tema renungan kita hari ini, “Carilah Orang Yang Cakap Dan Takut Akan Allah,” bukan hanya sebuah nasihat untuk memilih pemimpin, tetapi juga sebuah panggilan untuk membentuk diri kita menjadi pribadi yang layak dipercaya.
Sebelum kita bertanya siapa orang yang cakap, kita harus bertanya apakah kita sedang meningkatkan kecakapan kita. Sebelum kita menilai apakah orang lain takut akan Allah, kita harus bertanya apakah kehidupan kita sendiri sungguh takut kepada Tuhan. Sebelum kita mencari orang yang dapat dipercaya, kita harus bertanya apakah kita sendiri dapat dipercaya.
Jangan hanya meminta Tuhan memberikan orang-orang baik di sekitar kita. Mari meminta Tuhan menjadikan kita orang yang baik dan dapat dipakai-Nya.
Ada beberapa hal penting yang perlu kita ingat.
Pertama, kecakapan adalah tanggung jawab. Kalau Tuhan memberi kita tugas, kita harus belajar dan mempersiapkan diri dengan baik. Jangan menggunakan alasan rohani untuk menutupi kemalasan atau ketidaksiapan.
Kedua, takut akan Allah adalah dasar karakter. Lakukan yang benar bukan hanya ketika ada orang melihat, tetapi juga ketika tidak ada seorang pun yang mengetahui.
Ketiga, integritas membuat seseorang dapat dipercaya. Perkataan dan tindakan harus berjalan bersama. Jangan berkata satu hal tetapi melakukan hal yang lain.
Keempat, jangan menggunakan tanggung jawab untuk mencari keuntungan yang tidak benar. Jabatan adalah amanat, bukan kesempatan untuk mengambil keuntungan pribadi.
Kelima, pemimpin harus belajar mempercayai orang lain. Tidak semua pekerjaan harus kita lakukan sendiri. Berikan kesempatan kepada orang lain untuk bertumbuh dan mengambil tanggung jawab.
Keenam, pemimpin yang baik harus mau menerima nasihat. Musa mau mendengar Yitro. Kerendahan hati membuat kita mampu belajar.
Ketujuh, besar kecilnya tanggung jawab bukan ukuran nilai seseorang. Ada pemimpin seribu, seratus, lima puluh, dan sepuluh. Yang Tuhan cari adalah kesetiaan pada tugas yang diberikan.
Kedelapan, kerja bersama adalah bagian dari rancangan Tuhan. Tuhan memberikan kemampuan yang berbeda kepada setiap orang supaya kita saling melengkapi, bukan saling bersaing.
Saudara-saudara, kita hidup dalam masa ketika dunia membutuhkan orang-orang yang bukan hanya pintar, tetapi juga benar. Kita membutuhkan orang yang tidak mudah dibeli, tidak mudah berubah karena kepentingan, tidak mengejar jabatan hanya untuk kehormatan, dan tidak memakai tanggung jawab sebagai jalan untuk keuntungan pribadi.
Keluarga membutuhkan orang tua yang cakap dan takut akan Allah. Gereja membutuhkan pelayan yang cakap dan takut akan Allah. Tempat kerja membutuhkan orang yang cakap dan takut akan Allah. Masyarakat membutuhkan pemimpin yang mampu dan berintegritas.
Tetapi semuanya harus dimulai dari diri kita.
Kalau dipercayakan pekerjaan kecil, lakukan dengan sungguh-sungguh. Kalau dipercayakan uang, kelola dengan jujur. Kalau diberi kesempatan memimpin, gunakan untuk melayani. Kalau melihat orang lain memiliki kemampuan, jangan merasa terancam, tetapi berikan ruang untuk bertumbuh. Kalau menerima nasihat, jangan langsung tersinggung. Dengarkan dan lihat apakah Tuhan sedang memakai nasihat itu untuk memperbaiki kehidupan kita.
Dan ketika kita harus memilih seseorang untuk memegang tanggung jawab, jangan hanya melihat siapa yang paling dekat dengan kita, siapa yang paling dikenal, siapa yang mempunyai hubungan keluarga, atau siapa yang paling pandai berbicara. Lihatlah karakter. Lihatlah kesetiaan. Lihatlah kemampuan. Lihatlah apakah ia takut kepada Tuhan dan dapat dipercaya.
Sebab kecakapan tanpa karakter dapat menghancurkan. Kuasa tanpa takut akan Tuhan dapat disalahgunakan. Jabatan tanpa integritas dapat menjadi kesempatan bagi dosa. Sebaliknya, kemampuan yang dipersembahkan kepada Tuhan dan dijalankan dalam takut akan Allah dapat menjadi berkat yang sangat besar.
Karena itu, marilah kita berdoa:
“Tuhan, bentuklah aku menjadi orang yang cakap dan takut akan Engkau. Ajarlah aku terus belajar dan bertumbuh. Jadikan aku pribadi yang dapat dipercaya, jujur, dan setia. Jauhkan aku dari keinginan menggunakan tanggung jawab demi keuntungan sendiri. Jika Engkau mempercayakan kepemimpinan, ajarlah aku melayani. Jika Engkau mempercayakan tugas kecil, ajarlah aku tetap setia. Berikan aku kerendahan hati untuk menerima nasihat dan kebijaksanaan untuk mempercayai orang lain. Pakailah hidupku menjadi berkat bagi keluarga, gereja, pekerjaan, dan masyarakat.”
Akhirnya, firman hari ini mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak hanya mencari orang yang memiliki kemampuan. Tuhan mencari orang yang cakap dan takut akan Allah, dapat dipercaya, serta bersih dalam motivasi.
Kiranya kita tidak hanya menjadi orang yang mencari pribadi-pribadi seperti itu, tetapi terlebih dahulu memberi diri kepada Tuhan untuk dibentuk menjadi pribadi seperti itu.
Jadilah cakap dalam tugas.
Takutlah akan Allah dalam seluruh kehidupan.
Jadilah dapat dipercaya dalam karakter.
Tetaplah jujur ketika tidak ada yang melihat.
Gunakan tanggung jawab untuk melayani, bukan untuk mencari keuntungan.
Dan lakukanlah setiap pekerjaan dengan setia sebagai bentuk ketaatan kepada Tuhan.
Kiranya melalui hidup kita, nama Tuhan dimuliakan, keluarga dikuatkan, gereja dibangun, dan sesama diberkati.
Amin.
Editor : Clavel Lukas